Profil Ideal Keluarga Abu Zar’

Profil Ideal Keluarga Abu Zar’

Ibu-ibu pada zaman Nabi ﷺ menyebutkan satu tokoh fiktif Abu Zar’ sebagai profil suami ideal sehingga keluarganya pun jadi profil keluarga ideal. Meski Abu Zar’ disebutkan menikah dua kali dan meninggalkan istri pertamanya, tetapi karena kebaikannya kepada keluarganya, Abu Zar’ tetap dikenang sebagai profil keluarga ideal di alam khayalan ibu-ibu pada zaman itu. Nabi ﷺ menegaskan bahwa beliau dan para suami muslim sudah barang tentu lebih baik dan harus lebih baik lagi daripada keluarga Abu Zar’.

‘Aisyah ra menceritakan bahwa pada suatu hari ada 11 orang ibu-ibu yang duduk berbincang-bincang. Imam an-Nawawi menegaskan, tidak ada satu riwayat shahih pun yang menyebutkan siapa dan orang mana kesebelas ibu-ibu tersebut. Tetapi riwayat dari ‘Aisyah ra jelas shahihnya; diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka (Shahih al-Bukhari bab husnil-mu’asyarah ma’al-ahl no. 5189; Shahih Muslim bab dzikr hadits Ummi Zar’ no. 6458). ‘Aisyah ra menceritakan bahwa kesebelas ibu-ibu tersebut bersepakat untuk menceritakan kebaikan dan kekurangan suami masing-masingnya apa adanya tanpa ada dusta di antara mereka. Maka mulailah mereka membincangkan kebaikan dan kekurangan suami-suami mereka. Dari kesebelas ibu-ibu itu yang lima membicarakan secara jujur bahwa suaminya baik kepada mereka, dan yang enam mengeluhkan kekurangan suami mereka (haditsnya sangat panjang dan tidak mungkin ditulis semua dalam tulisan ini).

Dari kesebelas ibu-ibu itu, yang kesebelas membicarakan kebaikan suaminya dengan lebih rinci seraya menggambarkannya dengan tokoh fiktif Abu Zar’ sebagai suami dan Ummu Zar’ sebagai istrinya:

قَالَتِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ زَوْجِى أَبُو زَرْعٍ فَمَا أَبُو زَرْعٍ أَنَاسَ مِنْ حُلِىٍّ أُذُنَىَّ وَمَلأَ مِنْ شَحْمٍ عَضُدَىَّ وَبَجَّحَنِى فَبَجِحَتْ إِلَىَّ نَفْسِى وَجَدَنِى فِى أَهْلِ غُنَيْمَةٍ بِشَقٍّ فَجَعَلَنِى فِى أَهْلِ صَهِيلٍ وَأَطِيطٍ وَدَائِسٍ وَمُنَقٍّ فَعِنْدَهُ أَقُولُ فَلاَ أُقَبَّحُ وَأَرْقُدُ فَأَتَصَبَّحُ وَأَشْرَبُ فَأَتَقَنَّحُ.

Perempuan yang kesebelas berkata: “Suamiku, Abu Zar’. Siapakah Abu Zar’? Ia aktif karena perhiasan di telingaku (sudah mapan), dan ia sudah merasa cukup dari lemak tanganku (tubuh sehat sampai tangan pun berlemak). Ia membahagiakanku sehingga hatiku pun sangat mencintainya. Ia menemukanku di kalangan penggembala kambing di pelosok lalu ia membawaku ke daerah yang banyak kuda, unta, peternak, dan hewan-hewan ternak (dari miskin menjadi kaya). Selama bersamanya aku berkata tanpa pernah dicaci, aku tidur pulas sampai shubuh, dan aku minum sampai puas.

أُمُّ أَبِى زَرْعٍ فَمَا أُمُّ أَبِى زَرْعٍ عُكُومُهَا رَدَاحٌ وَبَيْتُهَا فَسَاحٌ. ابْنُ أَبِى زَرْعٍ فَمَا ابْنُ أَبِى زَرْعٍ مَضْجِعُهُ كَمَسَلِّ شَطْبَةٍ وَيُشْبِعُهُ ذِرَاعُ الْجَفْرَةِ. بِنْتُ أَبِى زَرْعٍ فَمَا بِنْتُ أَبِى زَرْعٍ طَوْعُ أَبِيهَا وَطَوْعُ أُمِّهَا وَمِلْءُ كِسَائِهَا وَغَيْظُ جَارَتِهَا. جَارِيَةُ أَبِى زَرْعٍ فَمَا جَارِيَةُ أَبِى زَرْعٍ لاَ تَبُثُّ حَدِيثَنَا تَبْثِيثًا وَلاَ تُنَقِّثُ مِيرَتَنَا تَنْقِيثًا وَلاَ تَمْلأُ بَيْتَنَا تَعْشِيشًا.

Ummu Abi Zar’ (istrinya, meski dipanggil Ummu), maka siapakah Ummu Abi Zar’? Wadah-wadahnya selalu penuh dan rumahnya luas. Lalu putra Abu Zar’. Siapakah putra Abu Zar’? Tempat tidurnya seperti kilatan pedang dan ia kenyang makan daging kambing muda (simbol kemapanan). Lalu putri Abu Zar’. Siapakah putri Abu Zar’? Patuh kepada ayah dan ibunya, pakaiannya selalu tertutup dan membuat cemburu tetangganya. Kemudian hamba sahaya Abu Zar’. Siapakah hamba sahaya Abu Zar’? Ia tidak pernah menyebarkan rahasia kami, tidak pernah menghambur-hamburkan makanan kami, dan tidak pernah memenuhi rumah kami dengan sampah.”

قَالَتْ خَرَجَ أَبُو زَرْعٍ وَالأَوْطَابُ تُمْخَضُ فَلَقِىَ امْرَأَةً مَعَهَا وَلَدَانِ لَهَا كَالْفَهْدَيْنِ يَلْعَبَانِ مِنْ تَحْتِ خَصْرِهَا بِرُمَّانَتَيْنِ فَطَلَّقَنِى وَنَكَحَهَا فَنَكَحْتُ بَعْدَهُ رَجُلاً سَرِيًّا رَكِبَ شَرِيًّا وَأَخَذَ خَطِّيًّا وَأَرَاحَ عَلَىَّ نَعَمًا ثَرِيًّا وَأَعْطَانِى مِنْ كُلِّ رَائِحَةٍ زَوْجًا. قَالَ كُلِى أُمَّ زَرْعٍ وَمِيرِى أَهْلَكِ فَلَوْ جَمَعْتُ كُلَّ شَىْءٍ أَعْطَانِى مَا بَلَغَ أَصْغَرَ آنِيَةِ أَبِى زَرْعٍ.

‘Aisyah ra menceritakan juga: “Abu Zar’ pergi dan wadah-wadah susu telah dipenuhi. Ia lalu bertemu seorang perempuan yang memiliki dua anak laki-laki seperti anak-anak singa yang sedang bermain di bawah pinggangnya dengan dua buah delima (kiasan dari kecantikan perempuan tersebut dan dua anaknya menggemaskan). Ia lalu menceraikanku dan menikahinya. Aku pun kemudian menikah lagi sesudah diceraikan olehnya dengan lelaki terpandang, mengendarai kuda yang gagah, ahli memainkan tombak, membahagiakanku dengan kenikmatan yang banyak, ia memberiku dari setiap hal yang menyenangkan (dalam riwayat lain disebutkan hewan-hewan ternak) satu pasang. Ia berkata: ‘Silahkan makan Ummu Zar’ dan berilah keluargamu.’ Tetapi seandainya aku kumpulkan semua yang ia berikan kepadaku belum bisa menyamai wadah Abu Zar’ yang paling kecil sekalipun (belum sebanding dengan yang pernah diberikan oleh Abu Zar’ sebelumnya).”

قَالَتْ عَائِشَةُ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كُنْتُ لَكِ كَأَبِى زَرْعٍ لأُمِّ زَرْعٍ

‘Aisyah berkata: Lalu Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Aku untukmu seperti Abu Zar’ kepada Ummu Zar’.”

Dalam riwayat lain, Nabi saw menambahkan:

إِلَّا أَنَّهُ طَلَّقَهَا وَإِنِّي لَا أُطَلِّقُكِ

“Kecuali bedanya ia menceraikan istrinya sementara aku sungguh tidak akan menceraikanmu.” (Fathul-Bari)

‘Aisyah ra pun kemudian menimpali:

يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

“Wahai Rasulullah, tidak demikian, anda justru lebih baik daripada Abu Zar’.” (Fathul-Bari).

Hadits ini menunjukkan profil ideal seorang Abu Zar’ yang sangat maksimal berbakti kepada keluarganya; istri, anak, sampai pembantunya, hingga mereka semua menjadi orang-orang yang hidup berkecukupan serta menjadi orang-orang yang baik dan patuh. Istrinya tidak pernah merasa lelah karena semuanya sudah tercukupi dengan banyak harta, perkakas, dan pembantu. Ia pun tidak pernah merasa sakit hati dengan ujaran buruk dari suaminya sehingga ia pun tidak pernah berkata buruk tentang suaminya. Anak-anaknya tidak pernah merasakan hidup susah karena ayahnya selalu maksimal dalam memenuhi kebutuhan mereka, sehingga mereka pun patuh sepenuhnya kepada orang tuanya. Pembantunya pun demikian, hidupnya sudah sangat baik sehingga tidak pernah bisa menceritakan keburukan keluarga majikannya. Pekerjaannya pun selalu dilakukan dengan baik.

Pernyataan Nabi saw: “Aku untukmu seperti Abu Zar’ kepada Ummu Zar’.” menunjukkan sebuah ajaran dan teladan dari Nabi saw bahwa semua kaum suami harus meniru kebaikan Abu Zar’ kepada keluarganya, tetapi tentu tidak sampai menceraikan istrinya. Seorang suami harus siap bekerja keras banting tulang demi kebahagiaan keluarganya semaksimal mungkin.

Usaha yang tulus dan maksimal dari suami itu bahkan tetap dikenang oleh istrinya meski ia sudah menjadi mantan sekalipun. Padahal pada umumnya satu pasangan yang bercerai pasti karena keburukan yang dialami oleh masing-masingnya lalu mereka trauma dengan mantannya. Nyaris tidak akan ada kebaikan yang dikenang karena akan terhapus oleh keburukan yang terjadi di antara mereka berdua. Akan tetapi Ummu Zar’ faktanya masih tetap memuji kebaikan Abu Zar’. Ini menjadi pertanda bahwa perceraian di antara keduanya pun akibat satu kedaruratan yang tidak bisa dihindari lalu kemudian dijalankan prosesnya dengan cara yang sangat baik. Maka dari itu tidak membekas kebencian pada diri Ummu Zar’. Padahal ia menceritakan Abu Zar’ sebagaimana diutarakan di atas ketika ia sudah bercerai dari Abu Zar’.

Para ulama menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah ra di atas bukan termasuk ghibah yang dilarang, sebab ghibah itu kuncinya menyakitkan hati yang dibicarakan, sementara itu tidak ada seorang pun yang akan sakit hati dengan cerita ‘Aisyah ra itu karena beliau sendiri tidak menyebutkan siapa-siapa namanya ibu-ibu yang mengobrol itu. Kalaupun ibu-ibu yang mengobrol itu tahu dengan riwayat dari ‘Aisyah ra ini tetap saja mereka tidak akan sakit hati karena ‘Aisyah ra tidak menyebutkan identitas ibu-ibu yang pertama sampai kesebelasnya. Maksud ‘Aisyah ra sendiri adalah mengharapkan arahan dari Nabi saw, dan ternyata Nabi saw mengarahkan dari obrolan itu diambil saja teladan terbaiknya yaitu Abu Zar’.

Perihal perbincangan ibu-ibu itu yang membahas kebaikan dan keburukan suami mereka—jika perbincangan ini bukan fiktif wal-‘Llahu a’lam—pastinya dalam konteks saling meminta nasihat, dan ghibah dalam hal tersebut diperbolehkan. Ibu-ibu yang suaminya tidak baik sedang diberi teladan oleh ibu-ibu yang suaminya baik. Puncaknya oleh ibu yang kesebelas bahwa keluarga ideal itu harusnya seperti keluarga Abu Zar’. Jadi posisi ‘Aisyah ra yang tidak menegur perbincangan ibu-ibu tersebut karena masih dalam koridor yang dibolehkan syari’at.

Pernyataan ‘Aisyah ra: “Anda justru lebih baik daripada Abu Zar’.” faktanya memang demikian. Meski secara lahir kehidupan keluarga Nabi saw tidak semewah Abu Zar’ tetapi Nabi saw sendiri sudah memberikan yang banyak kepada keluarganya. Hanya Nabi saw kemudian juga mengajarkan dan meneladankan bahwa apa yang ditabung di akhirat lebih baik daripada yang digunakan di dunia, maka dari itu kedermawanan Nabi saw dan keluarganya menjadi satu prinsip hidup yang mulia bagi rumah tangga Nabi saw. Inilah yang tentunya jauh lebih baik daripada keluarga Abu Zar’. Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *