Ramadlan

Saatnya Menikmati Keheningan Malam

Saatnya Menikmati Keheningan Malam

Keheningan malam identik dengan orang-orang bertaqwa. Mereka akan selalu memanfaatkannya untuk menyegarkan jiwa dan menyucikan hati. Apalagi sepuluh malam terakhir Ramadlan yang sarat nilai mulia lailatul-qadar. Kesempatan langka yang hanya datang selang setahun ini tidak akan disia-siakan begitu saja. Nabi H sendiri memberikan teladan selalu menyambutnya dengan terjaga tanpa tidur untuk menjaga asa kepada Sang Pengendali jiwa.

Terlalu banyak ayat yang mengidentikkan orang-orang bertaqwa dengan terjaga di waktu malam untuk beribadah; berdiri shalat, sujud, berdo’a, membaca al-Qur`an dengan tartil, bertasbih, dan beristighfar.

إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَعُيُونٍ  ١٥ ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُحۡسِنِينَ  ١٦ كَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ  ١٧ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ  ١٨

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (sebelum fajar) (QS. Adz-Dzariyat [51] : 15-18).

ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ  ١٦ ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ  ١٧

(Orang-orang bertaqwa yang dijanjikan surga itu adalah) orang-orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur (QS. Ali ‘Imran [3] : 16-17).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ  ١ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا  ٢ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا  ٣ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا  ٤

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan (QS. Al-Muzzammil [73] : 1-4).

أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدٗا وَقَآئِمٗا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ  ٩

 (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar [39] : 9).

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ  ١٦

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdo’a kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan (QS. As-Sajdah [32] : 16).

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَٱسۡجُدۡ لَهُۥ وَسَبِّحۡهُ لَيۡلٗا طَوِيلًا  ٢٦

Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari (QS. Al-Insan [76] : 26. Ayat semakna terdapat dalam QS. Qaf [50] : 40 dan at-Thur [52] : 49).

Semua ayat di atas meniscayakan ibadah di waktu malam—meski tidak sampai semalam suntuk—sebagai identitas yang melekat pada orang-orang bertaqwa. Bukan hanya diisi dengan tidur, orang-orang bertaqwa akan selalu mengisinya juga dengan shalat malam, do’a, dan istighfar. Ini dikarenakan pada waktu malam Allah swt selalu memanggil hamba-hamba-Nya dan mengumumkan janji ijabah do’a serta ampunan dosa.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit terendah (dari tujuh langit) setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: “Siapa yang ingin berdo’a kepada-Ku, lalu Aku pasti mengabulkannya? Siapa yang ingin meminta kepada-Ku lalu Aku pasti memberinya? Siapa yang ingin beristighfar kepada-Ku, lalu Aku pasti mengampuninya?” (Shahih al-Bukhari kitab at-tahajjud bab ad-du’a fis-shalat min akhiril-lail no. 1145).

Khusus di 10 malam terakhir Ramadlan, Nabi saw meneladankan dan menganjurkan untuk menghidupkan malam sampai semalam suntuk hingga terbit fajar.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Nabi saw apabila telah masuk 10 hari terakhir Ramadlan, mempererat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Shahih al-Bukhari kitab fadlli lailatil-qadri bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan no. 2024 dan Shahih Muslim kitab al-i’tikaf bab al-ijtihad fil-‘asyril-awakhir min syahri Ramadlan no. 2844).

Penyebabnya karena mendamba malam yang sangat mulia; lailatul-qadar.

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ

Sungguh aku i’tikaf dari 10 hari pertama untuk mencari malam itu (lailatul-qadar), lalu aku beri’tikaf lagi di 10 hari pertengahan. Kemudian aku diberitahu bahwasanya dia ada di 10 hari terakhir (Shahih Muslim kitab as-shaum bab fadlli lailatil-qadri no. 2828).

Zainab anak tiri Nabi saw, putri Ummu Salamah ra, menceritakan:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَانَ عَشْرَةُ أَيَّامٍ يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْلِهِ يُطِيقُ الْقِيَامَ إِلَّا أَقَامَهُ

“Nabi saw tidak pernah apabila tersisa sepuluh hari dari Ramadlan membiarkan seorang pun dari keluarganya yang mampu bangun untuk shalat kecuali beliau akan membangunkan dan menyuruhnya shalat.” (Fathul-Bari bab al-‘amal fi al-‘asyr al-awakhir min ramadlan  mengutip riwayat At-Tirmidzi dan Muhammad ibn Nashr dari hadits Zainab putri Ummu Salamah).

Hati yang sudah padu dengan keheningan malam akan menemukan kebahagiaan hakiki. Hal itulah yang dirasakan Nabi saw sebagaimana diceritakan istrinya ‘Aisyah ra ketika ditanya oleh seorang tabi’in, Ibn ‘Umair:

أَخْبِرِينَا بِأَعْجَبِ شَيْءٍ رَأَيْتِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَسَكَتَتْ ثُمَّ قَالَتْ: لَمَّا كَانَ لَيْلَةٌ مِنَ اللَّيَالِي، قَالَ: يَا عَائِشَةُ ذَرِينِي أَتَعَبَّدُ اللَّيْلَةَ لِرَبِّي قُلْتُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ قُرْبَكَ، وَأُحِبُّ مَا سَرَّكَ، قَالَتْ: فَقَامَ فَتَطَهَّرَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، قَالَتْ: فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ حِجْرَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ لِحْيَتَهُ، قَالَتْ: ثُمَّ بَكَى فَلَمْ يَزَلْ يَبْكِي حَتَّى بَلَّ الْأَرْضَ، فَجَاءَ بِلَالٌ يُؤْذِنُهُ بِالصَّلَاةِ، فَلَمَّا رَآهُ يَبْكِي، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لِمَ تَبْكِي وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرَ؟، قَالَ: أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيهَا {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ … } الْآيَةَ كُلَّهَا

“Beritahukanlah kepada kami hal yang paling engkau kenang dari Rasulullah saw.” ‘Aisyah terdiam sejenak, lalu berkata: Pada suatu malam Rasul saw bersabda:“Wahai ‘Aisyah izinkanlah aku untuk beribadah kepada Rabbku malam ini.” Aku jawab: “Demi Allah aku sangat ingin di dekatmu tetapi aku sangat ingin juga engkau bahagia.” Kata ‘Aisyah: Beliau lalu bangun, bersuci, dan shalat. Beliau kemudian menangis dan terus menangis sampai membasahi pangkuannya. Beliau terus menangis hingga membasahi janggutnya. Beliau masih terus menangis hingga membasahi tempat shalatnya. (Masuk waktu shubuh) Bilal menemui Nabi saw untuk memberitahukannya shalat akan segera dimulai. Tatkala Bilal melihat Nabi saw masih menangis, Bilal pun bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa anda menangis, padahal Allah swt sudah pasti mengampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Nabi saw pun menjawab: “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur!? Sungguh telah diturunkan kepadaku malam ini satu ayat, dan sungguh celaka orang yang membacanya tetapi tidak menafakkurinya/merenungkannya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Shahih Ibn Hibban kitab ar-raqa`iq bab at-taubah no. 620)

Kenikmatan shalat dan dzikir di keheningan malam terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja hanya karena dikalahkan rasa kantuk atau bercumbu dengan teman sekamar saja. Keintiman ibadah malam melebihi kesenangan dan kekayaan dunia yang paling digandrungi sekalipun, sebab semua yang bersifat duniawi pasti akan hangus pada waktunya; sementara ibadah malam nilainya akan terus abadi hingga kehidupan di alam selanjutnya. Wal-‘Llahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button