Haji dan Qurban

Haji Harus Meruntuhkan Niat Duniawi

Haji Harus Meruntuhkan Niat Duniawi

Haji artinya al-qashdu; maksud, tujuan, niat, cita-cita; karena ibadah inti dalam haji adalah meluruskan niat untuk hanya berada dalam keridlaan Allah SWT. Al-Qur`an mengkritik keras mereka yang beribadah haji dan sampai selesai manasiknya masih saja berdo’a memohon dunia saja. Semestinya, titah al-Qur`an, memohon hasanah di dunia dan akhirat serta dijauhkan dari siksa neraka. Sebuah tamparan keras agar haji bisa meruntuhkan niat duniawi dan hanya fokus pada hasanah dunia akhirat.

Kritikan al-Qur`an kepada mereka yang sampai selesai manasik haji masih diselimuti niat duniawi, tertuang dalam ayat-ayat yang menjelaskan manasik haji di surat al-Baqarah:

فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ  ٢٠٠

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat (QS. Al-Baqarah [2] : 200).

Ukuran selesai manasik haji itu adalah tahallul yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Maka dari itu ayat di atas diletakkan setelah perintah wuquf di ‘Arafah dan mabit di Muzdalifah, serta sebelum perintah memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq; 11-13 Dzulhijjah. Dari sejak awal Dzulhijjah, manusia sudah disuruh Allah swt untuk memperbanyak dzikir dan istighfar (QS. Al-Hajj [22] : 28). Demikian halnya ketika di ‘Arafah, beranjak ke Muzdalifah, bahkan sampai hari-hari tasyriq (QS. Al-Baqarah [2] : 197-203). Dengan amal ini seyogianya manusia sudah terhubung hatinya dengan Allah swt dan harapan keridlaan-Nya. Akan tetapi sampai beres manasik di tanggal 10, masih saja ada yang berdo’a hanya berharap dunia saja. Itu pertanda bahwa orientasi ibadah hajinya hanya dunia saja, bukan berorientasi pada Allah swt dan akhirat sepenuhnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ L: كَانَ قَوْمٌ مِنَ الْأَعْرَابِ يَجِيئُونَ إِلَى الْمَوْقِفِ، فَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ عَامَ غَيث وَعَامَ خصْب وَعَامَ وَلَادٍ حَسَنٍ. لَا يَذْكُرُونَ مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ شَيْئًا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِمْ: {فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖ} وَكَانَ يَجِيءُ بَعَدَهُمْ آخَرُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَيَقُولُونَ: { رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ} فَأَنْزَلَ اللَّهُ: { أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ نَصِيبٞ مِّمَّا كَسَبُواْۚ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ}

Dari Ibn ‘Abbas ra: Ada satu kaum dari orang-orang Arab pedusunan yang datang ke tempat wuquf lalu berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah tahun ini tahun turunnya hujan, tahun subur makmur, dan tahun keturunan yang baik.” Mereka tidak menyebutkan permintaan akhirat sedikit pun. Maka Allah menurunkan ayat terkait mereka {Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat} Kemudian datang sesudah mereka kaum lain dari orang-orang beriman yang berdo’a: {Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka}. Maka Allah menurunkan ayat: {Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya} (Tafsir Ibn Katsir QS. Al-Baqarah [2] : 201-202).

Tidak haram memiliki niat duniawi, tetapi jangan memakai “saja”, harus disertai niat ukhrawi dan menjadikan ukhrawi ini sebagai niat utamanya. Ketika niat duniawi dipadu dengan niat ukhrawi sebagai niat utamanya maka akan terjadi kolaborasi hasanah. ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an menjelaskan, hasanah itu dalam al-Qur`an digunakan untuk kebaikan yang dasar pertimbangannya bashirah; mata hati, bukan bashar; mata kepala yang hanya terbatas melihat materi duniawi. Bashirah itu mampu menyelami ke balik materi sehingga selalu akan menemukan hasanah di dunia dan akhirat.

وَالْحَسَنُ أَكْثَرُ مَا يُقَالُ فِي تَعَارُفِ الْعَامَّةِ فِي الْمُسْتَحْسَنِ بِالْبَصَرِ… وَأَكْثَرُ مَا جَاءَ فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْحَسَنِ فَلِلْمُسْتَحْسَنِ مِنْ جِهَةِ الْبَصِيْرَةِ

Hasan banyak digunakan dalam istilah masyarakat umum untuk sesuatu yang dinilai baik oleh pandangan mata (bashar)… sementara dalam al-Qur`an banyak digunakan istilah hasan itu untuk sesuatu yang dinilai baik oleh mata hati (bashirah) (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an).

Bashirah tidak akan melihat materi duniawi sebagai sesuatu yang membanggakan, memuaskan diri, apalagi menjadi ajang pamer status sosial. Bagi seseorang yang bashirah-nya sudah kuat, semua hal yang keduniaan itu tidak akan dinilai sebagai sesuatu yang hasanah kecuali jika itu semua diperuntukkan hasanah di akhirat juga. Maka dunia akan selalu disikapinya dengan tawakkal; menyerahkan sepenuhnya kepada Allah swt. Jika Allah swt menghendaki ada al-hamdu lil-‘Llah. Jika Allah swt menghendaki tidak ada pun al-hamdu lil-‘Llah juga. Antara ada dan tiada, kedua-duanya sama ketika dihadapkan di hadapan Allah swt, karena ke-“ada”-an dunia itu tidak akan menentukan hasanah di dunia atau akhirat. Sebagaimana tercermin dalam dzikir di setiap selepas shalat wajib:

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

Wahai Allah, tiada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Serta tiada bermanfaat bagi orang yang memiliki kekayaan/kekuasaan dari (siksa)-Mu, kekayaan/kekuasaannya (Shahih al-Bukhari bab adz-dzikr ba’das-shalat no. 844; Shahih Muslim bab istihbabidz-dzikr ba’das-shalat no. 1366-1370).

Bagi seseorang yang hidupnya sudah dipandu bashirah dan menjadikan hasanah sebagai standar kehidupannya, maka dunia akan dinilai sebagai sesuatu yang murah saja, seberapa mahalnya pun ia di mata para pengagum dunia. Dunia akan dipandang sebagai sesuatu yang remeh temeh, rendah, dan tiada berharga. Tidak sampai mengharamkan dunia tentunya—karena jika demikian maka haram hukumnya—tetapi sebatas menilainya rendah, remeh temeh, tidak berharga, dan tidak istimewa. Maka kebanggaan dan kepuasan diri akan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, popularitas yang dimiliki tidak mungkin bersemayam dalam hatinya, sebab semua itu tidak ada hasanah-nya sama sekali. Sesuatu yang bernilai hasanah di dunia itu jika ia juga hasanah di akhirat. Harta yang banyak jadi hasanah jika banyak derma dan wakafnya. Jabatan tinggi jadi hasanah jika diraih dengan cara yang benar dan kemudian dijalankan dengan amanah untuk kemakmuran rakyat. Popularitas yang dimiliki jadi hasanah ketika digunakan untuk memperbesar peran amar ma’ruf nahyi munkar. Kepuasannya bukan di harta yang banyaknya, tetapi di derma dan wakafnya. Kebanggaannya bukan di jabatan yang tingginya, tetapi di efek manfaat yang dirasakan rakyat. Keistimewaannya bukan di popularitasnya, tetapi di besarnya dampak amar ma’ruf nahyi munkar-nya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ. فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ: أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ. قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

Dari Jabir ibn ‘Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw lewat ke pasar masuk dari salah satu sisinya, sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Lalu beliau lewat ke seekor anak kambing yang telinganya kecil (pertanda tuli) dan sudah jadi bangkai. Beliau kemudian mendekatinya dan memegang telinga anak kambing itu sambil bertanya: “Siapa dari kalian yang berani membeli bangkai anak kambing ini satu dirham (3 gram perak/+ Rp. 120.000,-) saja?” Para shahabat menjawab: “Kami tidak berminat meski dengan harga murah karena apa yang bisa kami manfaatkan darinya?” Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian berminat jika itu diberikan saja untuk kalian?” Para shahabat berkata: “Demi Allah, seandainya hidup pun ada cacatnya yakni tuli, apalagi sudah menjadi bangkai.” Beliau bersabda: “Demi Allah, sungguh dunia lebih hina bagi Allah daripada hewan ini bagi kalian.” (Shahih Muslim kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 7607)

Dalam hadits Mustaurid ra, diceritakan bahwa Nabi saw pernah bersabda:

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ini—Yahya seorang periwayat berisyarat dengan telunjuk—ke dalam air laut. Hendaklah ia memperhatikan seberapa banyak yang kembali menempel di telunjuknya? (Shahih Muslim bab fana`id-dunya wa bayanil-hasyr no. 7376).

Al-Qur`an sendiri sering menekankan bahwa kesenangan dunia itu kesenangan yang bohong dan menipu (QS. Ali ‘Imran [3] : 185 dan al-Hadid [57] : 20) dan sangat sedikit (QS. an-Nisa` [4] : 77; at-Taubah [9] : 38; al-Qashash [28] : 60; as-Syura [42] : 36). Sebesar-besarnya nilai dunia di mata para pengagumnya sehingga dijadikan pilihan utama mengalahkan agama, dalam penilaian Allah swt tetap saja sebagai sesuatu yang murahan yakni tsamanan qalilan saking tidak berharganya (QS. al-Baqarah [2] : 41, 79, 174; Ali ‘Imran [3] : 77, 187, 199; al-Ma`idah [5] : 44; at-Taubah [9] : 9; an-Nahl [16] : 95). Maka dari itu salah kaprah jika seseorang yang beribadah haji memohon dunia yang rendah ini. Dunia yang murah tidak layak dipanjatkan dalam do’a. Mau ada atau tiada, kedua-duanya sama saja, tiada bedanya. Yang seyogianya dimohonkan itu segala hal yang hasanah untuk dunia dan akhirat sekaligus.

Kesadaran akan rendahnya dunia merupakan kesadaran tingkat tinggi yang sulit dicapai oleh manusia. Diperlukan ibadah tingkat tinggi untuk mencapainya. Haji dan ‘umrah adalah ibadah tingkat tinggi tersebut yang seyogianya mengantarkan pengamalnya pada kesadaran ini. Maka siapapun yang akan ibadah haji dan ‘umrah sepatutnya bersiap-siap menaiki kesadaran ini agar tidak gagal. Apalagi yang sudah ibadah haji dan ‘umrah, maka sudah sepatutnya tertanam kesadaran tingkat tinggi ini. Jika tidak ada, berarti ibadah haji dan ‘umrahnya gagal dan tidak diterima. Demikian halnya bagi mereka yang belum haji dan ‘umrah, sebab intinya ada di niatnya. Selama tertanam niat dan itu terwujud dalam kesadaran rendahnya dunia, maka pahalanya akan memperoleh sama dengan yang haji dan ‘umrah. Wal-‘Llahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button