Istimewa karena Bersahaja

Uwais ibn ‘Amir al-Qarani (w. 37 H) I disebut Nabi ﷺ sebagai seorang tabi’in istimewa karena do’anya pasti diijabah. Para shahabat pun dianjurkan untuk memohon do’a darinya. Ternyata ia bukan seorang ulama, pejabat, ataupun tentara inti, melainkan hanya seorang relawan dan pembantu para mujahidin. Hidupnya sudah tentu bersahaja dan tidak bergelimang harta. Meski sempat ditawari untuk mendapatkan fasilitas Negara, ia tetap memilih untuk hidup bersahaja.

Hadits tentang Uwais al-Qarani termasuk salah satu bukti mukjizat kenabian Muhammad saw, sebab ketika Nabi saw menyabdakannya Uwaisnya belum diketahui ada. Meski ada yang menyebutkan bahwa Uwais ini seorang mukhadlram; sezaman dengan Nabi saw tetapi tidak sempat bertemu, Nabi saw sendiri tegas menyatakannya sebagai seorang tabi’in:

إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ

Sesungguhnya sebaik-baiknya tabi’in adalah seorang lelaki yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan pernah berpenyakit putih di kulitnya. Mintalah kepadanya untuk beristighfar bagi kalian (Shahih Muslim bab min fadla`il Uwais al-Qarani no. 6655).

Menurut Imam an-Nawawi, pernyataan Nabi saw ini tidak berarti ditentang oleh Imam Ahmad ibn Hanbal yang menyatakan: “Tabi’in terbaik adalah Sa’id ibn al-Musayyab.” Maksud Imam Ahmad adalah terbaik dalam hal keilmuannya. Sementara menurut Nabi saw terbaik dalam kesederhanannya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim).

Saking sederhananya, orang-orang terdekatnya sendiri dari Kufah—karena Uwais kemudian berpindah dari Yaman ke Kufah—menyangsikan keistimewaan Uwais ini. Hal itu karena Khalifah ‘Umar ibn al-Khaththab ra jika ada rombongan para relawan dari Yaman selalu saja bertanya: “Di sini ada yang bernama Uwais?” Mereka yang mengenal Uwais pun merasa keheranan, kenapa ia begitu istimewa hingga selalu ditanyakan oleh Khalifah.

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ أَنَّ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَفَدُوا إِلَى عُمَرَ وَفِيهِمْ رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ يَسْخَرُ بِأُوَيْسٍ فَقَالَ عُمَرُ هَلْ هَا هُنَا أَحَدٌ مِنَ الْقَرَنِيِّينَ فَجَاءَ ذَلِكَ الرَّجُلُ…

Dari Usair ibn Jabir, bahwasanya penduduk Kufah mengirim utusan kepada ‘Umar, lalu di antara mereka ada yang menganggap rendah Uwais. ‘Umar ra pun bertanya: “Apakah di sini ada orang Qaran?” Orang itu pun datang… (Shahih Muslim bab min fadla`il Uwais al-Qarani no. 6654).

Dalam sanad lain Usair ibn Jabir menceritakan lebih detail:

عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ  إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ. فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ.

Dari Usair bin Jabir, ia berkata: ‘Umar ibn al-Khaththab apabila datang kepada beliau rombongan relawan dari Yaman, ia selalu bertanya kepada mereka: “Apakah ada Uwais ibn ‘Amir bersama kalian?” Hingga suatu hari bertemu dengan Uwais: “Apakah anda Uwais ibn ‘Amir?” Uwais menjawab: “Ya.” ‘Umar bertanya lagi: “Anda dari Murad kemudian pindah ke Qaran?” Uwais menjawab: “Ya.” ‘Umar bertanya lagi: “Anda pernah berpenyakit lepra lalu sembuh dan menyisakan sebesar uang dirham?” Uwais menjawab: “Ya.” ‘Umar bertanya lagi: “Ibu anda masih hidup?” Uwais menjawab: “Ya.” ‘Umar berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Uwais ibn ‘Amir akan datang kepadamu bersama relawan Yaman, berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia beristighfar untuk kalian, lakukanlah.” Maka mohonkanlah ampunan untukku. Lalu Uwais pun beristighfar untuk ‘Umar. ‘Umar bertanya: “Anda akan pergi ke mana?” Uwais menjawab: “Kufah.” ‘Umar bertanya: “Maukah aku perlu buatkan surat khusus kepada pejabat Kufah?” Uwais menjawab: “Saya bersama rakyat biasa lebih saya sukai.”

قَالَ فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ حَجَّ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِهِمْ فَوَافَقَ عُمَرَ فَسَأَلَهُ عَنْ أُوَيْسٍ قَالَ تَرَكْتُهُ رَثَّ الْبَيْتِ قَلِيلَ الْمَتَاعِ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ. فَأَتَى أُوَيْسًا فَقَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ أَحْدَثُ عَهْدًا بِسَفَرٍ صَالِحٍ فَاسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ لَقِيتَ عُمَرَ قَالَ نَعَمْ. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَفَطِنَ لَهُ النَّاسُ فَانْطَلَقَ عَلَى وَجْهِهِ

Pada tahun berikutnya, seorang pejabat tinggi Kufah beribadah haji. Ia pun bertemu ‘Umar, dan beliau bertanya kepadanya tentang Uwais. Pejabat itu menjawab: “Saya membiarkannya tinggal di rumah jelek dan sedikit hartanya.” ‘Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Akan datang kepada kalian Uwais ibn ‘Amir bersama relawan Yaman, berasal dari Murad kemudian dari Qaran. Ia pernah terserang penyakit kusta lalu sembuh kecuali tinggal sebesar uang dirham. Ibunya masih hidup dan ia selalu berbakti kepadanya. Kalau ia bersumpah atas nama Allah maka akan dikabulkan sumpahnya itu, maka jika kamu dapat memohon agar dia beristighfar untuk kalian, lakukanlah.” Maka pejabat itu pun datang kepada Uwais dan berkata: “Beristighfarlah untukku.” Uwais menjawab: “Anda baru saja pulang dari safar shalih, anda yang seharusnya beristighfar untukku.” Pejabat itu berkata: “Pokoknya bersitighfarlah untukku.” Uwais bertanya: “Anda bertemu ‘Umar ya?” Ia menjawab: “Ya.” Uwais pun beristighfar untuknya. Masyarakat pun baru tahu keistimewaan Uwais, mereka pun banyak menemuinya (Shahih Muslim bab min fadla`il Uwais al-Qarani no. 6656).

Pengertian amdad yang Uwais merupakan salah satu dari mereka, dijelaskan Imam an-Nawawi sebagai berikut:

هُمْ الْجَمَاعَة الْغُزَاة الَّذِينَ يَمُدُّونَ جُيُوش الْإِسْلَام فِي الْغَزْو، وَاحِدهمْ مَدَد

Mereka satu kelompok dari pasukan perang yang melayani tentara-tentara Islam dalam peperangan. Bentuk tunggalnya madad.

Status Uwais yang dianggap biasa-biasa saja oleh orang-orang sekitarnya, menurut Imam an-Nawawi, justru menjadi bukti jelas keistimewaannya.

وَهَذَا دَلِيل عَلَى أَنَّهُ يُخْفِي حَاله ، وَيَكْتُم السِّرّ الَّذِي بَيْنه وَبَيْن اللَّه عَزَّ وَجَلَّ ، وَلَا يَظْهَر مِنْهُ شَيْء يَدُلّ لِذَلِكَ ، وَهَذِهِ طَرِيق الْعَارِفِينَ وَخَوَاصّ الْأَوْلِيَاء رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ

Ini menjadi dalil bahwasanya Uwais menyembunyikan statusnya dan merahasiakan hubungannya dengan Allah awj, sehingga tidak tampak sedikit pun petunjuk atas keistimewaannya. Ini adalah jalannya orang-orang Arif dan para wali yang istimewa, semoga Allah meridlai mereka semua.

Pilihannya untuk menolak tawaran ‘Umar ra agar dilayani oleh pejabat Kufah juga menunjukkan keistimewaannya. Ia menyadari status dirinya yang hanya sekedar relawan sehingga tidak pantas dihormat seperti halnya para pejabat dan orang-orang penting lainnya.

Perintah Nabi saw kepada para shahabat agar memohon dido’akan istighfar kepada Uwais menunjukkan keistimewaan Uwais dalam hal ijabah do’a. Imam an-Nawawi memberikan catatan khusus:

هَذِهِ مَنْقَبَة ظَاهِرَة لِأُوَيْسٍ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ . وَفِيهِ اِسْتِحْبَاب طَلَب الدُّعَاء وَالِاسْتِغْفَار مِنْ أَهْل الصَّلَاح ، وَإِنْ كَانَ الطَّالِب أَفْضَل مِنْهُمْ

Ini adalah keistimewaan yang nyata bagi Uwais ra. Hadits ini juga merupakan anjuran untuk memohon do’a dan istighfar dari orang-orang shalih, meskipun yang memohon kedudukannya lebih mulia daripada yang dimohon.

Sudah barang tentu shahabat kedudukannya lebih mulia daripada tabi’in. Apalagi seorang ‘Umar ibn al-Khaththab yang disepakati oleh umat sebagai manusia termulia sesudah Nabi saw dan Abu Bakar ra. Meski demikian Nabi saw menganjurkan para shahabat untuk memohon do’a dari Uwais karena kedudukannya sebagai orang yang akan diijabah do’anya.

Keistimewaan lainnya dari Uwais sebagaimana terlihat dalam hadits di atas, kesabarannya dalam menderita penyakit sekaligus terus berbakti mengurus ibunya yang sudah tua.

Yang paling mencolok dari itu semua adalah kesadarannya atas status sosialnya yang bukan seorang ulama, pejabat, atau orang penting lainnya, melainkan sekedar seorang relawan dan pembantu semata, sehingga sadar untuk memilih hidup bersahaja saja. Meski ada kesempatan untuk memanfaatkan fasilitas negara, ia sengaja menolaknya karena baginya hidup dalam kebersahajaan sesuai status sosialnya lebih baik daripada hidup dalam kegelimangan harta padahal ia tidak pantas untuk memilikinya.

Sebuah petunjuk yang jelas bahwa orang yang bukan orang penting pun dapat menjadi orang istimewa asalkan ia tetap hidup bersahaja, tidak gila hormat, harta, ataupun kedudukan. Wal-‘Llahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *