Menginap di Rumah Yang Memelihara Anjing

Menginap di Rumah Yang Memelihara Anjing
Ustadz mau tanya, apa hukumnya bertamu dan tinggal di rumah yang pemiliknya memelihara anjing? Kita agenda studi ke Australia selama sepekan, nyari tempat tinggal sudah pada penuh. Gimana baiknya Ustadz? 0838-2181-xxx
Hukum memelihara anjing itu haram. Kecuali untuk menjaga ladang, ternak, atau berburu, yang tidak bisa atau tidak biasa dilakukan oleh manusia. Untuk menjaga rumah pun berarti tidak boleh, karena bisa dilakukan oleh orang pemilik rumahnya. Siapa yang memeliharanya di rumah maka pahala semua penghuni rumah itu akan hilang satu qirath setiap harinya. Ukuran satu qirath itu sebesar gunung Uhud. Nabi saw bersabda:
مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ زَرْعٍ أَوْ غَنَمٍ أَوْ صَيْدٍ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ
Siapa yang memelihara anjing, kecuali anjing untuk menjaga sawah atau menjaga kambing atau berburu, maka akan berkurang pahalanya setiap hari satu qirath (Shahih Muslim bab al-amr bi qatlil-kilab no. 4112)
Malaikat rahmat dan pencatat amal juga tidak akan masuk rumah yang dipelihara anjing di rumah itu.
لَا تَدْخُلُ المَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ
Malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing atau gambar patung (Sunan Abi Dawud bab fis-shuwar no. 4154; Sunan at-Tirmidzi bab annal-mala`ikah la tadkhulu baitan fihi shuratun wa la kalbun no. 2804)
Meskipun anjing itu masuk rumah tidak disengaja karena dijadikan teman bermain anak-anak kecil yang belum baligh, tetap saja malaikat tidak akan masuk rumah tersebut. Hal ini dialami oleh Nabi saw sendiri ketika Jibril as sengaja tidak masuk rumah Nabi saw:
أَتَانِى جِبْرِيلُ u فَقَالَ لِى أَتَيْتُكَ الْبَارِحَةَ فَلَمْ يَمْنَعْنِى أَنْ أَكُونَ دَخَلْتُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ عَلَى الْبَابِ تَمَاثِيلُ وَكَانَ فِى الْبَيْتِ قِرَامُ سِتْرٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ وَكَانَ فِى الْبَيْتِ كَلْبٌ فَمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِى فِى الْبَيْتِ يُقْطَعُ فَيَصِيرُ كَهَيْئَةِ الشَّجَرَةِ وَمُرْ بِالسِّتْرِ فَلْيُقْطَعْ فَلْيُجْعَلْ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ مَنْبُوذَتَيْنِ تُوطَآنِ وَمُرْ بِالْكَلْبِ فَلْيُخْرَجْ. فَفَعَلَ رَسُولُ اللهِ r وَإِذَا الْكَلْبُ لِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ كَانَ تَحْتَ نَضَدٍ لَهُمْ فَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ.
Jibril as datang kepadaku, lalu ia berkata: “Aku sudah dari tadi datang kepadamu, tetapi tidak ada yang menghalangiku masuk rumahmu kecuali karena di pintu ada gambar/patung, di dalam rumah ada tirai yang bergambar makhluk hidup, dan di dalam rumah juga ada seekor anjing. Perintahkanlah agar memotong kepala patung yang ada di pintu rumah sehingga bentuknya seperti pohon. Perintahkan agar tirai itu juga dipotong dan dijadikan dua tempat duduk/bantal yang tidak diistimewakan tetapi diinjak/diduduki/ditiduri. Dan perintahkan juga agar anjing dikeluarkan.” Rasulullah saw pun melakukannya. Dan ternyata anjing yang ada di rumah itu milik Hasan dan Husain yang disimpan di sebuah keranjang milik mereka, dan beliau pun memerintahkannya untuk dikeluarkan (Sunan Abi Dawud bab fis-shuwar no. 4160; Sunan at-Tirmidzi bab annal-mala`ikah la tadkhulu baitan fihi shuratun wa la kalbun no. 2806).
Mempertimbangkan hadits-hadits di atas, tentunya jadi kerugian besar jika ikut menginap di rumah yang dipelihara anjing di sana. Maka harus diupayakan selalu memilih tempat penginapan yang tidak dipelihara anjing di sana. Jika sama sekali tidak ada, berarti sudah masuk kedaruratan. Dibolehkan karena kedaruratan, bukan karena kelonggaran yang diharapkan sejak awal ingin longgar. Wal-‘Llahu a’lam.