Internasional

Malapetaka Obsesi Dunia Bangsa Arab

Malapetaka Obsesi Dunia Bangsa Arab

Nabi ﷺ menyebutkan bahwa kiamat ditandai dengan urusan umat yang diserahkan kepada pemimpin yang tidak cakap. Dalam konteks bangsa Arab, mereka adalah masyarakat yang semula hamba-hamba sahaya dan penggembala-penggembala miskin tetapi kemudian berubah menjadi pemimpin-pemimpin kaya yang hanya mementingkan kemegahan kehidupan dunia. Mereka bukannya menunaikan amanah kepemimpinan dan kekayaan untuk kemakmuran umat Islam, malah memanfaatkannya untuk kepuasan kemegahan pribadinya semata. Di sinilah malapetaka untuk bangsa Arab bermula dan bermuara.

Hadits-hadits tentang kerusakan umat menjelang kiamat merupakan satu mata rantai yang saling berkaitan. Kerusakan umat itu ditandakan dengan berkurang atau bahkan hilangnya ilmu sehingga masyarakat memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpin, atau dipaksa oleh kenyataan dipimpin orang-orang bodoh. Khusus dalam konteks bangsa Arab, Nabi saw menyebutkan mereka semula hamba-hamba sahaya atau penggembala-penggembala yang miskin tetapi kemudian menjadi pemimpin dan orang kaya yang bermegah-megahan dalam bangunan di dunia. Itu berarti sinyalemen dari Nabi saw bahwa bangsa Arab akan menjadi masyarakat yang terobsesi dengan materi duniawi. Yang mereka banggakan dan usahakan hanya menambah atau mempertahankan kemegahan dunia. Mereka terobsesi berlomba-lomba dalam materi duniawi, bukan dalam kebaikan ukhrawi. Obsesi mereka terhadap ilmu menjadi minim bahkan hilang. Dampaknya kebodohan merata di tengah-tengah umat sehingga yang menjadi pemimpin mereka pun orang-orang bodoh. Pemimpin yang hanya terobsesi untuk melanggengkan kekuasaan dan kemegahan duniawinya, bukan pemimpin yang berani berkorban untuk kejayaan Islam dan kemakmuran umat Islam.

Dalam satu hadits yang menceritakan dialog Nabi saw dengan malaikat Jibril as tentang iman, islam, ihsan, dan kiamat, diriwayatkan bahwa Jibril as berkata kepada Nabi saw:

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

Jibril berkata: “Beritahukan kepadaku tanda-tandanya (kiamat).” Nabi saw menjawab: “Hamba sahaya melahirkan majikannya dan kamu melihat orang-orang yang biasa tidak beralas kaki, tidak memakai baju, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan dalam bangunan.” (Shahih Muslim bab ma’rifatil-iman wal-islam no. 102 dari hadits ‘Umar ibn al-Khaththab ra)

Dalam riwayat lain, dari hadits Abu Hurairah ra jawaban Nabi saw terkait tanda-tanda kiamat itu adalah:

إِذَا وَلَدَتِ الأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِى الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

Apabila hamba sahaya melahirkan majikannya, itu di antara tanda-tandanya. Apabila orang-orang yang biasa tidak memakai baju dan beralas kaki menjadi pemimpin masyarakat, itu di antara tanda-tandanya. Apabila pengembala unta hitam saling bermegah-megahan dalam bangunan, itu di antara tanda-tandanya (Shahih Muslim bab al-iman ma huwa ba bayan khishalihi no. 106).

وَإِذَا رَأَيْتَ الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الصُّمَّ الْبُكْمَ مُلُوكَ الأَرْضِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا

Apabila kamu melihat orang-orang yang biasa tidak memakai baju dan beralas kaki serta tuli dan bisu menjadi raja-raja di bumi, itu di antara tanda-tandanya (Shahih Muslim bab al-iman ma huwa ba bayan khishalihi no. 108).

Terkait hadits di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan:

قَالَ الْأَكْثَرُونَ مِنْ الْعُلَمَاء هُوَ إِخْبَار عَنْ كَثْرَة السَّرَارِيّ وَأَوْلَادهنَّ ؛ فَإِنَّ وَلَدهَا مِنْ سَيِّدهَا بِمَنْزِلَةِ سَيِّدهَا ؛ … وَقِيلَ : مَعْنَاهُ أَنَّ الْإِمَاء يَلِدْنَ الْمُلُوكَ فَتَكُون أُمُّهُ مِنْ جُمْلَة رَعِيَّته وَهُوَ سَيِّدهَا وَسَيِّد غَيْرهَا مِنْ رَعِيَّته

Mayoritas ulama menjelaskan, itu adalah informasi akan banyaknya hamba sahaya dan anak-anak mereka (dari tuannya), karena anaknya dari tuannya berkedudukan sama dengan tuannya (tidak berstatus hamba sahaya)… Ada pendapat lain, maknanya hamba-hamba sahaya perempuan akan melahirkan raja-raja sehingga ibunya akan menjadi rakyatnya, sedangkan putranya menjadi tuan baginya dan juga bagi rakyat lainnya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab al-iman wal-islam wal-ihsan no. 9).

Sementara terkait penggembala-penggembala yang menjadi orang-orang kaya, Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَمَعْنَاهُ أَنَّ أَهْل الْبَادِيَة وَأَشْبَاههمْ مِنْ أَهْل الْحَاجَة وَالْفَاقَة تُبْسَط لَهُمْ الدُّنْيَا حَتَّى يَتَبَاهَوْنَ فِي الْبُنْيَان. وَاَللَّه أَعْلَمُ

Maknanya penduduk pedusunan dan orang-orang miskin dan papa yang serupa dengan mereka akan dihamparkan kepada mereka dunia sehingga mereka saling bermegah-megahan dalam bangunan. Wal-‘Llahu a’lam (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab al-iman wal-islam wal-ihsan no. 9).

Para ulama juga menjelaskan, penyebutan “penggembala unta hitam” itu sendiri menggambarkan kemiskinan karena unta hitam itu unta yang murah, sementara yang mahal unta merah. Tambahan sifat “tuli, bisu” itu adalah gambaran kedunguan dan kebebalan karena disamakan dengan orang yang tuli dan bisu; tidak senang mendengar masukan rakyat dan tidak pandai berkomunikasi dengan rakyat.

Meski frasa “orang yang tidak biasa memakai baju dan alas kaki serta miskin” dipisahkan dari frasa “penggembala unta hitam” dalam hadits Abu Hurairah ra, tetapi dalam hadits ‘Umar ibn al-Khaththab ra disebutkan dalam satu frasa yang sama. Artinya mereka satu hakikat yang sama; sama-sama orang-orang miskin yang profesi utamanya penggembala tetapi kemudian menjadi pemimpin-pemimpin masyarakat yang kaya dan senang bermegah-megahan dalam bangunan.

Sinyalemen Nabi saw di atas sudah menemukan faktanya sejak zaman ‘Utsman ibn ‘Affan ra hingga hari ini. Pasca kewafatan ‘Ali ibn Abi Thalib ra, bangsa Arab dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang kaya raya tetapi hanya mementingkan diri dan keluarganya saja. Banyak rakyat masih hidup dalam kemiskinan, tetapi mayoritas khalifah dan raja mereka hanya menjadi pemimpin yang senang berfoya-foya. Mereka tidak senang dengan kritikan para ulama, sehingga mereka bersikap bengis kepada para ulama yang oposisi. Perang saudara pun banyak menumpahkan darah sesama muslim akibat perebutan kekuasaan dan kekayaan negara.

Hari ini gambarannya tidak jauh berbeda. Bangsa Arab menjadi bangsa yang kaya. Negara-negara mereka menjadi negara-negara yang kaya dan saling bermegah-megahan dalam hal gedung-gedung pencakar langit. Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Saudi Arabia merupakan negara-negara Arab petrodolar. Mereka memiliki cadangan moneter yang berlimpah dalam bentuk dolar sebagai hasil penjualan minyak ke luar negeri.

Negara-negara itu tidak ada satu pun yang menerapkan syura; pengikutsertaan rakyat dalam suksesi kepemimpinan, selain sebatas mengukuhkan dinasti kerajaan yang otoriter. Persis sama dengan yang Nabi saw sebutkan sebagai orang-orang yang “tuli, bisu” dan selalu terobsesi untuk menjadi raja-raja di bumi selamanya.

Padahal di sekeliling mereka masih banyak umat Islam yang hidup miskin di negara-negara mereka, yang paling utama adalah Palestina. Jangankan harta benda, bahkan tanah air pun mereka tidak punya karena terus digusur oleh penjajah Israel. Akan tetapi kekayaan petrodolar yang dimiliki hanya digunakan untuk terus membangun kemewahan di negara-negara mereka, bukannya digunakan untuk menyejahterakan negara-negara muslim lainnya yang mayoritasnya masih berada dalam garis kemiskinan, terkhusus Palestina. Mereka lebih memilih memajukan industri pariwisata dan sepakbola di negeri-negeri mereka dengan menambah tempat-tempat mewah dan megah, bukannya diagunakan untuk mengadopsi rakyat-rakyat miskin di berbagai belahan dunia Islam.

Dalam kasus Board of Peace bentukan Donald Trump, Presiden AS, mereka malah memilih berkoalisi dengan AS dan Israel, bukannya membantu secara ril Palestina. Penyebabnya mudah diduga, karena pemimpin-pemimpin bangsa Arab itu takut kehilangan kekuasaan dan kekayaan mereka. Kepentingan bisnis dan politik mereka lebih penting daripada pilihan membantu sesama muslim yang membutuhkan. Di sini tampak nyata kebodohan para pemimpin bangsa Arab tersebut.

Bahkan perang AS-Israel vs Iran hari ini semakin membuka kedok kebodohan para pemimpin bangsa Arab tersebut. Petrodolar yang mereka miliki bukannya digunakan untuk mengembangkan teknologi pertahanan negara sebagaimana halnya Iran yang notabene lebih miskin dari mereka, sehingga bisa digunakan untuk jihad melawan musuh, malah lebih memilih jalur cepat berlindung di balik pangkalan-pangkalan militer AS untuk menjaga keamanan mereka. Pikiran bodoh mereka sudah tidak mungkin melintaskan dalam benak mereka semangat untuk berjihad melawan musuh, malah memilih berlindung kepada musuh agar tidak ikut diganggu oleh musuh dengan berlindung di balik ketiak AS dan Israel.

Maka sampai kapan pun umat Islam akan selamanya terpuruk di balik kesewenang-wenangan musuh-musuhnya ketika faktanya, hanya karena kepentingan politik dan bisnis, mereka lebih memilih berlindung kepada musuh, bukannya berjihad melawan musuh. Di sinilah malapetakanya tampak nyata. Allah swt dari sejak dahulu sudah mengingatkan:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  ٢٤

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya“. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (QS. at-Taubah [9] : 24).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button