Bahagia Bersama Bukti Iman Sempurna

Bahagia Bersama Bukti Iman Sempurna
Iman sempurna salah satunya terwujud dalam bahagia bersama-sama; bahagia ketika orang lain berbahagia, bahagia ketika orang lain tidak menderita. Sebuah pertanda bahwa hatinya sudah mengikuti irama Allah Sang Maha Pengasih yang selalu mengasihi dan menyayangi seluruh hamba-Nya. Mereka yang mengukur kebahagiaan sebatas pada keluarganya saja berarti memendam kebencian kepada sesama. Hidup yang diliputi kebencian dan kedengkian tidak akan pernah merasakan bahagia.
Mereka yang obsesinya hanya meraih bahagia untuk diri dan keluarganya dipastikan oleh al-Qur`an akan terjebak pada kebencian dan permusuhan dengan sesama. Hidupnya tidak mungkin bahagia karena selamanya akan berkutat dalam kebencian melihat orang lain bahagia. Baginya hanya dirinyalah yang harus bahagia, sementara orang lain harus tetap lebih sengsara dan menderita daripada dirinya dan keluarganya. Nafsu busuk seperti ini akan mendorongnya untuk berbuat aniaya kepada siapapun yang dirasanya akan menghalangi obsesi pribadinya ini. Jadilah ia terjebak pada permusuhan yang tiada ujung. Allah swt sudah mengingatkan:
وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ١ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ ٢ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ ٣
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya (QS. al-Humazah [104] : 1-3).
Sebaliknya, Islam justru menekankan bahwa bahagia itu akan dirasakan ketika seseorang bahagia melihat orang lain bahagia. Hatinya tidak pernah merasa berat untuk berbagi agar orang lain tidak menderita. Saking bahagianya ia bahkan siap mengorbankan semua yang dimilikinya asalkan orang lain tidak menderita dan turut merasakan bahagia.
وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩
Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. al-Hasyr [59] : 9).
Nabi saw menjelaskan dalam hadits bahwa rasa bahagia itu dirasakan karena hati yang sudah menjadikan Allah swt dan Rasul-Nya sebagai puncak cintanya. Allah swt yang selalu mengasihi, demikian juga Nabi saw yang selalu berbagi, dijadikan teladan utama dalam menjalani hidupnya. Orang yang masih berkutat dengan individualisme dalam nilai bahagia pertanda hati yang belum tunduk pada iman yang sempurna kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw. Selamanya hatinya tidak akan pernah merasakan ketenteraman. Melainkan hanya kegelisahan karena takut bahagianya berakhir singkat dan khawatir ada orang lain yang mengambil alih kebahagiaannya. Orang yang sudah menjadikan Allah swt dan Rasul-Nya sebagai tambatan utamanya akan bebas dari rasa takut dan gelisah, sebab ia sudah yakin Allah swt akan selalu membalasnya di dunia dan akhirat. Ketika musibah datang dan penderitaan dirasa pun hatinya akan tetap merasa tenang karena semuanya itu cobaan sesaat dari Allah swt untuk menaikkan level imannya serta membalasnya dengan yang lebih besar lagi.
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang ia akan merasakan manisnya iman, yaitu (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang selain keduanya, (2) mencintai seseorang karena Allah, (3) dan enggan kembali pada kekufuran sebagaimana enggan dimasukkan ke dalam neraka. (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab halawatil-iman no. 16)
Penegasan Allah swt dan Rasul-Nya sebagai pusat cinta, dan bukan dunia beserta gemerlapnya, ditegaskan lagi dalam hadits lain:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Tidak sempurna (terasa manis) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku (Nabi saw dan termasuk Allah swt) lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia secara keseluruhan (Shahih al-Bukhari bab hubbir-rasul minal-iman no. 14, 15; Shahih Muslim bab wujub mahabbah Rasulillah no. 177, 178).
Konsekuensi dari cinta yang terpusat kepada Allah swt, akan mencintai juga siapa pun yang dicintai Allah swt. Maka terhadap sesama saudaranya kecintaan itu otomatis akan tumbuh. Bahagia dengan apa yang membuatnya bahagia, dan sebaliknya menderita dengan apa yang membuat saudaranya menderita.
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sempurna (tidak terasa manis) iman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab minal-iman an yuhibba li akhihi ma yuhibbu li nafsihi no. 13; Shahih Muslim kitab al-iman bab ad-dalil anna min khishalil-iman an yuhibba li akhihil-muslim no. 179).
Maka hidupnya akan senantiasa mengikuti teladan kehidupan Nabi saw yang selalu mendahulukan berbagi dengan sesama karena di sanalah terletaknya kebahagiaan yang abadi.
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ
Saya dan yang mengurus anak yatim, baik itu milik (keluarga)-nya atau milik yang lainnya (bukan keluarganya), berada di surga seperti dua jari ini (as-Sunanul-Kubra al-Baihaqi no. 12665).
طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ
Makanan untuk dua orang harus cukup untuk tiga orang. Makanan untuk tiga orang harus cukup untuk empat orang (Shahih al-Bukhari bab tha’amul-wahid yakfil-itsnain no. 5392; Shahih Muslim bab fadllil-muwasah no. 5488).
طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ
Makanan untuk satu orang harus cukup untuk dua orang. Makanan untuk dua orang harus cukup untuk empat orang. Makanan untuk empat orang harus cukup untuk delapan orang (Shahih Muslim bab fadllil-muwasah fit-tha’amil-qalil no. 5489).
Dalam kadar minimal, melebihkan untuk satu orang miskin di luar keluarga inti yang wajib dinafkahi dari nafkah yang biasa dikeluarkan. Dalam kadar yang lebih, memberi nafkah kepada faqir miskin sejumlah keluarga inti yang wajib dinafkahi. Jika keluarga inti yang wajib dinafkahi semuanya enam orang misalkan, berarti harus ada enam orang miskin yang juga disantuni kebutuhan sehari-harinya.
مَنْ كَانَ لَنَا عَامِلاً فَلْيَكْتَسِبْ زَوْجَةً فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ خَادِمٌ فَلْيَكْتَسِبْ خَادِمًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَسْكَنٌ فَلْيَكْتَسِبْ مَسْكَنًا مَنِ اتَّخَذَ غَيْرَ ذَلِكَ فَهُوَ غَالٌّ أَوْ سَارِقٌ
Siapa yang jadi pekerja kami maka hendaklah ia memperoleh istri. Jika ia tidak punya pembantu, hendaklah ia memperoleh pembantu. Jika ia tidak punya rumah, hendaklah ia memperoleh rumah. Siapa yang memperkaya diri lebih dari itu maka itu termasuk menggelapkan atau mencuri (Sunan Abi Dawud bab fi arzaqil-‘ummal no. 2947).
إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ
Pembantumu adalah saudaramu. Allah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya ada di bawah tangan (kekuasaan)-nya hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan dan memberinya pakaian dari apa yang ia pakai. Janganlah menugasi mereka dengan apa yang mereka tidak mampu. Jika kamu memberi tugas kepada mereka yang mereka tidak mampu maka bantulah mereka (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw al-‘abid ikhwanukum no. 2545).
Penekanan Nabi saw dalam hadits “manisnya iman” di atas merasa benci kembali pada kekufuran, salah satunya enggan menjadi seperti orang kafir yang diidentikkan oleh Allah swt sebagai orang-orang yang gemar menumpuk-numpuk harta dan enggan membagikannya di jalan yang Allah swt ridlai.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡأَحۡبَارِ وَٱلرُّهۡبَانِ لَيَأۡكُلُونَ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۗ وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٖ ٣٤ يَوۡمَ يُحۡمَىٰ عَلَيۡهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكۡوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمۡ وَجُنُوبُهُمۡ وَظُهُورُهُمۡۖ هَٰذَا مَا كَنَزۡتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَكۡنِزُونَ ٣٥
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” (QS. At-Taubah [9] : 34-35).
Imam an-Nawawi memberikan penjelasan terkait hadits “manisnya iman” di atas:
هَذَا حَدِيث عَظِيمٌ أَصْل مِنْ أُصُول الْإِسْلَام. قَالَ الْعُلَمَاء رَحِمَهُمْ اللَّه: مَعْنَى حَلَاوَة الْإِيمَان اِسْتِلْذَاذ الطَّاعَات وَتَحَمُّلِ الْمَشَقَّات فِي رِضَا اللَّه وَرَسُوله ﷺ وَإِيثَار ذَلِكَ عَلَى عَرَضِ الدُّنْيَا
Ini adalah hadits agung yang menjadi salah satu asas Islam. Para ulama rihamahumullah menjelaskan bahwa makna manisnya iman itu adalah merasakan nikmat dalam menjalankan ketaatan dan melewati rintangan untuk meraih keridlaan Allah dan Rasul-Nya dan mendahulukannya di atas kesenangan duniawi (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab khishal man-ittashafa bihinna wajada halawatal-iman).



