Kehidupan Ditentukan Kematian

Kehidupan Ditentukan Kematian

Kehidupan seorang manusia berpuluh-puluh tahun di dunia, demikian juga kehidupannya kelak selama-lamanya di akhirat, ditentukan oleh kondisinya sesaat sebelum kematian. Saat-saat sebelum kematian tersebut akan mewakili kualitas hidupnya selama di dunia sekaligus menjadi barometer akan nasib kehidupannya kelak di akhirat. Semuanya ditentukan oleh husnul-khatimah ataukah su`ul-khatimah.


Ada satu peristiwa yang mengagetkan para shahabat pada saat perang Khaibar, ketika ada seseorang yang berperang melawan musuh dengan gagah berani, tetapi Nabi saw berdasarkan wahyu khusus pada saat itu menyatakan bahwa orang tersebut akan menjadi penghuni neraka. Betapa tidak kagetnya para shahabat jika seseorang yang ikut berjihad saja bahkan dengan gagah berani divonis akan menjadi penghuni neraka; maka bagaimana dengan shahabat-shahabat lainnya yang juga sama ikut berperang; apakah itu tidak bisa menjadi bukti keseriusan mereka berkorban di jalan Allah swt; ataukah sama pengorbanan mereka akan dibalas dengan neraka?
Seorang shahabat lalu menguntit orang yang divonis Nabi saw akan menjadi penghuni neraka tersebut dari kejauhan. Ternyata ketika ia terluka parah, ia menusukkan pedangnya ke dadanya dan ia pun mati bunuh diri. Sebuah dosa besar dalam Islam yang memang dijanjikan neraka. Pada saat itulah Nabi saw menjelaskan:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal ahli neraka tapi sebenarnya ia termasuk ahli surga, dan ada yang beramal ahli surga tapi sebenarnya ia termasuk ahli neraka. Sungguh amal-amal itu ditentukan oleh penutupnya (Shahih al-Bukhari kitab al-qadr bab al-‘amal bil-khawatim no. 6607, kitab ar-riqaq bab al-a’mal bil-khawatim wa ma yukhafu minha no. 6493).
Dalam riwayat Ahmad, Nabi saw menjelaskan:

لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ

Janganlah kalian merasa kagum terhadap seseorang sehingga kalian melihat bagaimana penutup amalnya. Karena sungguh ada seseorang yang beramal shalih cukup lama, yang seandainya saja ia mati ketika itu ia pasti masuk surga, tapi kemudian ia beralih pada amal jelek. Ada juga seseorang yang beramal jelek cukup lama, yang seandainya saja ia mati ketika itu ia pasti masuk neraka, tapi kemudian ia beralih pada amal shalih. Dan sungguh apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya sebelum matinya. Ada yang bertanya kepada beliau: “Bagaimana Allah mempekerjakannya itu?” Beliau menjawab: “Dia akan memberinya taufiq untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.” (Musnad Ahmad musnad Anas ibn Malik no. 12214, Sunan at-Tirmidzi kitab al-qadr bab ma ja`a annal-‘Llah kataba kitaban no. 2292)
Hadits di atas mengajarkan kepada semua muslim dua hal: Pertama, amal penentuan setiap muslim itu ada di akhirnya atau menjelang kematiannya, apakah beramal shalih atau sedang beramal maksiat. Meski berdosa bertahun-tahun jika di akhir hidupnya ia mampu membuktikan keseriusan beramal shalih, maka yang dilihat Allah swt adalah akhirnya. Demikian juga sebaliknya. Maka tugas orang-orang yang sudah beramal shalih untuk istiqamah mempertahankan amal shalihnya sampai akhir hayat agar berakhir husnul-khatimah (akhir yang baik). Demikian juga bagi orang-orang yang masih berjuang meninggalkan amal maksiatnya untuk terus berjuang meninggalkan amal-amal maksiatnya sampai habis agar ketika kematian menjemput dirinya sudah bersih dari semua maksiat sehingga tidak berakhir su`ul-khatimah (akhir yang buruk).
Kedua, hamba yang dianugerahi kebaikan oleh Allah swt akan dikondisikan oleh-Nya agar akhir kehidupannya dalam amal shalih. Siapakah mereka yang dikehendaki kebaikan oleh Allah swt tersebut? Hadits yang sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya menjadi salah satu jawabannya:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah pasti Dia akan memahamkannya dalam urusan agama (Shahih al-Bukhari bab man yuridil-‘Llah bihi khairan no. 71; Shahih Muslim bab an-nahy ‘anil-mas`alah no. 2436 dari hadits Mu’awiyah).
Catatan: Sebagaimana dijelaskan al-Hafizh, mafhum hadits di atas adalah dorongan kepada setiap orang yang ingin anugerah kebaikan dari Allah swt untuk tafaqquh (belajar memahami) agama. Siapa yang tidak menjadi seorang faqih atau pembelajar fiqih maka haram baginya kebaikan (Fathul-Bari bab man yuridil-‘Llah bihi khairan).
Dalam hadits yang lain Nabi saw menegaskan:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

Setiap hamba akan dibangkitkan dalam keadaan seperti kematiannya (Shahih Muslim bab al-amr bi husniz-zhann bil-‘Llah ta’ala ‘indal-maut no. 7413).
Al-Qadli ‘Iyadl, sebagaimana dikutip al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa maksud hadits di atas erat kaitannya dengan hadits sebelum dan sesudahnya yang ditulis oleh Imam Muslim dalam bab tersebut, yaitu:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ ﷺ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ يَقُولُ لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

Dari Jabir ra, ia berkata: Aku mendengar Nabi saw tiga hari sebelum wafatnya bersabda: “Janganlah seseorang meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah.” (Shahih Muslim bab al-amr bi husniz-zhann bil-‘Llah ta’ala ‘indal-maut no. 7410-7412).
Maksud hadits di atas, dijelaskan oleh para ulama, berbaik sangka kepada Allah swt bahwa Dia akan memberinya rahmat dan mengampuni dosa-dosanya serta menjauhkan perasaan putus asa dari rahmat-Nya. Itu yang akan menentukan nasibnya kelak pada hari kebangkitan.
Sementara hadits sesudahnya adalah hadits tentang siksa Allah swt kepada satu kaum perusak yang kemudian siksa tersebut kena juga kepada masyarakat lainnya yang tidak ikut menjadi pembuat kerusakan. Ketika Nabi saw ditanya apakah mereka yang bukan perusak tetapi terkena siksa tersebut juga berarti di akhirat kelak akan mendapatkan siksa yang sama dengan para pembuat kerusakan itu, Nabi saw menjawab:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ

Apabila Allah berkehendak menimpakan siksa kepada satu kaum, maka siksa tersebut akan kena kepada semua orang yang ada bersama mereka, tetapi kelak mereka akan dibangkitkan sesuai amal-amal mereka (Shahih Muslim bab al-amr bi husniz-zhann bil-‘Llah ta’ala ‘indal-maut no. 7415 dari hadits ‘Abdullah ibn ‘Amr).
Dalam hadits ‘Aisyah ra, Nabi saw bersabda:

يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ

Yang ada di depan dan di akhir akan ditenggelamkan tetapi kemudian mereka akan dibangkitkan (pada hari akhir) sesuai niat mereka (Shahih al-Bukhari bab ma dzukira fil-aswaq no. 2118).
Dalam riwayat Muslim, sabda Nabi saw tersebut:

نَعَمْ فِيهِمُ الْمُسْتَبْصِرُ وَالْمَجْبُورُ وَابْنُ السَّبِيلِ يَهْلِكُونَ مَهْلَكًا وَاحِدًا وَيَصْدُرُونَ مَصَادِرَ شَتَّى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ عَلَى نِيَّاتِهِمْ

Ya, di tengah-tengah mereka ada yang memang berniat merusak, ada yang dipaksa untuk ikut, dan hanya sekedar lewat. Mereka binasa bersama-sama, tetapi kemudian akan bangkit (pada hari kiamat) di tempat yang berbeda-beda. Mereka akan dibangkitkan Allah sesuai niat mereka (Shahih Muslim bab al-khasf bil-jaisy alladzi yaummul-bait no. 7426).
Jadi sangat bergantung kondisi niat ketika manusia meninggal, apakah sedang dalam niat beramal buruk ataukah sedang berniat beramal shalih. Hal itu akan menentukan nilai kehidupannya di dunia dan nasib kehidupannya di akhirat. Wal-‘Llahul-Muwaffiq ilal-‘amalis-shalih.