Al-Qur`an adalah Ilmu

Al-Qur`an adalah Ilmu
Di dunia pendidikan umumnya, yang disebut ilmu itu adalah ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya. Anak-anak yang mencari ilmu pasti mementingkan belajar di sekolah formal atau Perguruan Tinggi untuk memperdalam ilmu-ilmu tersebut. Sementara al-Qur`an dan ilmu turunannya tidak dianggap ilmu yang harus dipelajari serius sebagaimana halnya sekolah dan kuliah. Yang jadi kebanggaan itu kalau kuliah di jurusan ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya, sementara kuliah di jurusan ilmu al-Qur`an dan turunannya tidak dianggap sebagai sebuah kebanggaan.
Tentunya tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya jangan dikategorikan ilmu. Ketiga-tiganya masuk kategori ilmu juga. Akan tetapi karena Allah swt sudah membatasi definisi ilmu dalam wahyu pertama lima ayat surat al-‘Alaq dengan batasan bersumber dari Allah swt, maka keabsahan ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya itu sebagai ilmu tergantung pada apakah ketiganya bersesuaian dengan ilmu yang diturunkan Allah swt, yakni wahyu, ataukah tidak. Jika bersesuaian, maka absah dinilai sebagai ilmu; tetapi jika tidak bersesuaian maka berarti tidak absah dikategorikan ilmu. Ilmu itu harus mengandung kebenaran, dan kebenaran itu yang bersumber dan diajarkan oleh Allah swt melalui wahyu kepada Nabi Muhammad saw.
Masalahnya dunia keilmuan hari ini dipenuhi oleh orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya, tetapi mereka minim pengetahuan al-Qur`annya. Jadinya banyak dari ilmu itu yang sebenarnya bukan ilmu, melainkan sebuah pengetahuan yang sesat belaka karena mengandung nilai-nilai ateisme, skeptisisme, sophisme, gnostisisme, sekularisme, liberalisme, atau pluralisme. Jika isme-isme sesatnya itu bisa dibersihkan dan ketiga rumpun ilmu itu dikembalikan pada nilai-nilai al-Qur`an maka ketiga rumpun ilmu itu bisa absah kembali sebagai ilmu. Namun masalahnya tidak banyak ilmuwan yang bisa melakukannya, karena umumnya mereka belajar ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya, tetapi mereka tidak belajar ilmu-ilmu wahyunya. Itu disebabkan al-Qur`an tidak dinilai sebagai ilmu yang harus dipelajari serius bersamaan dengan ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya ketika para ilmuwan itu ada di masa usia belajar mereka.
Inilah fakta kebodohan yang sudah diperingatkan Nabi saw dalam hadits-hadits tentang tanda kiamat. Bukan berarti bodoh dari ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya, sebab faktanya justru ketiga rumpun ilmu itu dipelajari dan dikembangkan dengan sangat masif, melainkan kebodohan dari ilmu wahyu yang berasas pada al-Qur`an. Jadinya ketiga rumpun ilmu tersebut tidak dikategorikan “ilmu” oleh Nabi saw dan malah beliau dengan tegas menyatakan bahwa kebodohan merata. Dengan kata lain, merata ilmu pengetahuan yang membodohkan, atau merata ilmuwan-ilmuwan yang dinilai pintar tetapi mereka sebenarnya bodoh. Penyebabnya karena mereka bodoh dari ilmu-ilmu wahyu yang berasas pada al-Qur`an.
Dalam wahyu pertama, Allah swt sudah menegaskan bahwa ilmu itu yang diajarkan Allah swt. Dalam makna lebih luas, ilmu itu yang sesuai dengan ajaran-ajaran Allah swt yang diajarkan melalui para Nabi:
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-‘Alaq [96] : 1-5).
Maka mereka yang dikategorikan ilmuwan/ulama itu adalah orang-orang dengan ketakutan yang tinggi kepada Allah swt. Artinya ilmu yang dimiliki semakin membuat mereka takut dan mendekat kepada Allah swt. Bukan malah membuat Allah swt murka dengan pembangkangan terhadap nilai-nilai yang Allah swt ajarkan melalui isme-isme sesat yang diyakini oleh para ilmuwan tersebut.
إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (QS. Fathir [35] : 28).
Nabi saw kemudian menegaskan dalam hadits bahwa al-Qur`an itu adalah ilmu dan harus dipelajari serius sehingga sampai pada level mampu mengajarkannya kembali. Artinya harus dipelajari serius dalam masa kehidupan khususnya di masa-masa usia belajar produktif.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya (Shahih al-Bukhari bab khairukum man ta’allamal-Qur`an wa ‘allamahu no. 5027).
Mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya tentunya tidak sebatas membaca, menghafal, memahami makna, dan mengamalkan akhlaq-akhlaq al-Qur`an saja, tetapi juga mencakup semua ilmu yang dikandung oleh al-Qur`an. Membaca, menghafal, memahami makna, dan mengamalkan akhlaq-akhlaq al-Qur`an adalah kewajiban setiap individu muslim (fardlu ‘ain) apapun kecenderungan minat dan bakatnya. Sementara mempelajari dan mengajarkan ilmu-ilmu lainnya itu disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing orangnya. Yang jelas, ilmu-ilmu yang dipelajari dan bahkan sampai diajarkan tidak akan diaktegorikan “ilmu” jika tidak bersumber dan atau selaras dengan yang diajarkan al-Qur`an.
Prioritas utama untuk belajar ilmu-ilmu dari al-Qur`an itu sudah ditegurkan al-Qur`an dalam surat al-‘Ankabut. Siapa saja yang tidak memprioritaskan belajar dan mengajar ilmu-ilmu dari al-Qur`an maka dinyatakan sebagai orang-orang sesat. Status mereka, meskipun faktanya masih sebagai umat Islam, disamakan oleh al-Qur`an dengan orang-orang kafir dan bathil yang menentang al-Qur`an. Nabi saw sendiri menyebut mereka sebagai laisa minna; bukan umat kami, karena sudah menjadi orang-orang fasiq atau zhalim.
Teguran Allah swt dalam surat al-‘Ankabut yang dimaksud adalah:
أَوَ لَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥١
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman (QS. Al-‘Ankabut [29] : 51).
Berdasarkan sabab nuzul (latar belakang kronologis)-nya, ayat di atas ditujukan kepada beberapa umat Nabi saw yang masih dangkal imannya dan selalu mempertentangan apa yang Nabi saw jelaskan dari al-Qur`an dengan ilmu-ilmu yang mereka peroleh dari Yahudi, Kristen, dan peradaban lainnya selain Islam. Terhadap mereka Nabi saw bersabda:
كَفَى بِقَوْمٍ ضَلَالَة أَنْ يَرْغَبُوا عَمَّا جَاءَ بِهِ نَبِيّهمْ إِلَيْهِمْ إِلَى مَا جَاءَ بِهِ غَيْره إِلَى غَيْرهمْ، فَنَزَلَ
“Satu kaum cukup dinyatakan sesat ketika mereka tidak mementingkan apa yang dibawa Nabi mereka karena mementingkan apa yang dibawa orang selainnya kepada mereka.” Lalu turunlah ayat di atas (Fathul-Bari).
Pihak “mereka” yang dikritik al-Qur`an sebagai orang-orang yang tidak merasa cukup dengan al-Qur`an dan malah memprioritaskan luar al-Qur`an sehingga selalu menyepelekan ayat-ayat al-Qur`an adalah orang-orang kafir dan zhalim.
وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَۚ فَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ وَمِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ مَن يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِآيَٰتِنَآ إِلَّا ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٧
Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka al-Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (al-Qur`an); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir (QS. Al-‘Ankabut [29] : 47).
بَلۡ هُوَ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ فِي صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِآيَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٩
Sebenarnya, al-Qur`an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim (QS. Al-‘Ankabut [29] : 49).
Maka dosen dan pendidik yang serius menekuni ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya tetapi tidak tekun terhadap ilmu-ilmu al-Qur`an, mereka berarti dikategorikan orang-orang zhalim. Mahasiswa, orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat yang bangga dengan keberhasilan belajar di Perguruan Tinggi dalam ilmu pengetahuan alam, sosial, dan budaya, tetapi masih bodoh dari ilmu-ilmu al-Qur`an, maka mereka sebenarnya orang-orang bodoh dan zhalim. Termasuk mereka yang sebatas mendekati al-Qur`an sebagai kitab dzikir, tetapi abai dari status al-Qur`an sebagai kitab ilmu sehingga tidak dipelajari dengan serius, mereka pun dikategorikan orang-orang zhalim. Mereka yang menguasai bahasa Inggris tetapi bodoh dari bahasa al-Qur`an, sama dikategorikan orang-orang zhalim. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.



