Bersabar Hidup di Negeri Carut-Marut

Bersabar Hidup di Negeri Carut-Marut
Akhir pekan silam, sekelompok masyarakat sipil di Yogyakarta menggelar aksi “Bunyikan Klakson Kalau Capek Jadi WNI” di Bundaran UGM. Ternyata aksi tersebut disambut ramai oleh mayoritas pengendara yang melintasi bundaran tersebut. Menurut para aktivis aksi tersebut, gerakan tersebut bukan untuk mengajak warga berputus asa, melainkan untuk saling menguatkan dan tenggang rasa, sekaligus memperingatkan Pemerintah bahwa masyarakat sudah banyak yang gelisah; bahwa Negara sedang carut-marut dan tidak baik-baik saja.
Pelemahan rupiah yang tidak kunjung bisa dikendalikan oleh Pemerintah RI merupakan pertanda yang jelas tidak adanya kepercayaan dari masyarakat ekonomi atas kebijakan ekonomi Pemerintah RI. Ditambah kenaikan pajak yang ugal-ugalan semakin menambah beban para pelaku usaha khususnya dari kalangan mikro, kecil, dan menengah. Kebijakan pembatasan anggaran yang menimpa seluruh Pemerintah Daerah juga melemahkan stimulus ekonomi di setiap daerah.
Koordinator aksi “Bunyikan Klakson Kalau Capek Jadi WNI” dari Suara Ibu Indonesia, Marsinah, mengatakan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini menjadi salah satu alasan utama digelarnya aksi tersebut. Menurutnya, kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi pihak yang paling merasakan dampak situasi ekonomi yang dinilai semakin memburuk.
Ia menilai masyarakat terus dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kebijakan perpajakan bagi UMKM, hingga tata kelola ekonomi yang dianggap sarat intervensi politik. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kesenjangan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan dasar yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam aksi tersebut, Suara Ibu Indonesia bersama sejumlah elemen masyarakat juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Mereka mendesak pemerintah melakukan stabilisasi ekonomi dan penguatan nilai rupiah, mengevaluasi program-program yang dinilai membebani anggaran negara, serta mengalihkan belanja negara untuk kebutuhan dasar masyarakat seperti subsidi pangan, pendidikan, modal usaha, dan bahan bakar.
Peserta aksi juga menuntut adanya perlindungan terhadap warga yang menyampaikan kritik kepada pemerintah. Mereka menilai ruang kebebasan sipil harus dijaga agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi tanpa rasa takut. Melalui aksi damai tersebut, mereka berharap suara keresahan warga dapat menjadi perhatian pemerintah sekaligus mendorong perbaikan tata kelola ekonomi dan pemerintahan.
Hadir dalam aksi ini, eks Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid. Menurutnya, aksi damai yang digelar berbagai elemen masyarakat di Bundaran UGM merupakan bagian dari upaya menjaga kewarasan publik di tengah berbagai persoalan yang masih perlu dibenahi di Indonesia. Ia juga menilai seluruh peserta aksi hadir dengan niat baik serta harapan agar berbagai kebijakan yang berjalan saat ini dapat dievaluasi demi kepentingan masyarakat luas.
Aksi-aksi yang dilakukan oleh para aktivis seperti yang dilaporkan di atas adalah salah satu bentuk aksi yang dibenarkan oleh Sunnah Nabi saw. Ketika umat hidup di tengah-tengah masyarakat yang kalangan elitnya zhalim, maka haram untuk diam berpangku tangan dan menyerah, apalagi menangisi dan meratapi nasib pertanda tidak bertawakkal pada taqdir. Terlebih lagi jika sampai menjadi penjilat-penjilat kekuasaan yang selalu membenarkan apapun yang faktanya tidak benar. Umat harus tetap bergerak amar ma’ruf nahyi munkar, tetapi dengan gerakan yang terukur dan adil, bukan dengan gerakan anarkis apalagi sampai makar menggulingkan pemerintahan.
سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
“Akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal tetapi kalian mengingkari mereka (karena zhalim). Siapa yang mengenali (dan tidak terbawa arus), maka ia terbebas dari dosa. Siapa yang mengingkari, maka ia selamat. Akan tetapi siapa yang simpati dan mengikuti, maka ia tidak selamat.” Para shahabat bertanya: “Apakah kita harus memerangi mereka?” Rasul saw menjawab: “Tidak boleh selama mereka shalat.” (Shahih Muslim kitab al-imarah bab wujubil-inkar ‘alal-umara` fima yukhalifus-syar’a no. 3445-3446).
Imam an-Nawawi menjelaskan maksud hadits di atas:
مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَسْتَطِعْ إِنْكَاراً بِيَدٍ وَلاَ لِسَانٍ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ الْإِثْمِ وَأَدَّى وَظِيْفَتَهُ، وَمَنْ أَنْكَرَ بِحَسْبِ طَاقَتِهِ فَقَدْ سَلِمَ مِنْ هَذِهِ الْمَعْصِيَةِ، وَمَنْ رَضِيَ بِفِعْلِهِمْ وَتَابَعَهُمْ، فَهُوَ الْعَاصِي
Siapa yang membenci (pemimpin) dengan hatinya, tetapi tidak mampu mengingkari dengan tangan atau lisannya, maka sungguh ia sudah bebas dari dosa dan sudah melaksanakan tugasnya sesuai kemampuannya. Siapa yang mengingkari (pemimpin) sesuai dengan kemampuannya (dengan tangan atau lisan—pen), maka ia pasti selamat dari maksiat ini. Tetapi siapa yang ridla dengan kebijakan bejat mereka dan mengikutinya, itulah orang maksiat (Riyadlus-Shalihin bab fil-amri bil-ma’ruf wan-nahyi ‘anil-munkar).
Artinya Nabi saw tetap mewajibkan umat untuk bergerak cerdas agar Pemerintah bisa berhenti dari berbuat zhalimnya, baik itu dengan lisan atau kekuatan. Akan tetapi tidak sampai memerangi mereka selama mereka masih mengamalkan shalat. Umat tidak boleh terjebak melakukan kekerasan yang sama melawan Pemerintah, karena dampak buruknya akan selalu mendatangkan korban-korban meninggal secara jahiliyyah, yakni meninggal karena peperangan atau kekerasan sesama muslim.
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْراً فَمَاتَ، إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memecah belah al-jama’ah (khilafah/kesatuan Negara) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6531; Shahih Muslim bab wujub mulazamah jama’atil-muslimin no. 3438, 3439).
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memberontak kepada sulthan (pemerintah) meski sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7053; Shahih Muslim kitab al-imarah bab al-amr bi luzumil-jama’ah ‘inda zhuhuril-fitan no. 4879).
Sabar yang dimaksud hadits ini tentu bukan hanya diam berpangku tangan, karena jika demikian berarti itu yang dilarang oleh Nabi saw dalam hadits sebelumnya. Sabar yang dimaksud hadits ini jangan sampai melawan, memberontak, dan menggunakan kekerasan dalam melawan Pemerintah, melainkan cukup dengan cara-cara tanpa kekerasan sesuai dengan kemampuan. Hadits Nabi saw yang lain mengharuskannya dengan kalimah ‘adl; seruan keadilan, atau kalimah haq; menyuarakan kebenaran.
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Sebaik-baiknya jihad adalah kalimat yang adil/benar kepada pemerintah yang zhalim (Sunan Abi Dawud kitab al-malahim bab al-amr wan-nahy no. 4346).
إِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
Sesungguhnya seutama-utamanya jihad adalah perkataan yang haq (benar) di hadapan penguasa yang sewenang-wenang (Musnad Ahmad bab musnad Abi Sa’id al-Khudri no. 11143).
Meski bersabar pastinya pahit dan berat, tetapi umat harus tetap bahagia menjalaninya, karena Allah swt sudah mengingatkan:
…وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lil-lahi wa inna ilaihi raji’uun; sungguh kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya” (pertanda tawakkal dan sabar). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. al-Baqarah [2] : 155-157).
Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.



