Wujud Hasanah di Dunia

Wujud Hasanah di Dunia
Hasanah di dunia akan dimiliki oleh orang-orang yang siap bertahan dalam penderitaan dan kesulitan, sebab faktanya tidak mungkin ada kehidupan yang mulus di dunia. Semuanya pasti harus melalui lika-liku kehidupan sebelum meraih kesuksesan. Para hujjaj diajarkan al-Qur`an untuk hanya memohon hasanah di dunia karena sudah sesuai dengan rangkaian manasik ‘umrah dan hajinya yang penuh penderitaan dan kesulitan. Sungguh sayang rangkaian manasik yang sudah baik untuk mengondisikan jiwa tersebut malah sempat-sempatnya dirusak oleh obsesi dunia yang serba instan.
Ayat-ayat al-Qur`an yang menjelaskan hasanah di dunia mayoritasnya menjelaskan syarat harus sudah sabar melalui kesulitan hidup, sebab kehidupan di dunia tidak ada yang instan, semuanya harus berproses dengan benar dan melewati seabreg tantangan. Mereka yang hidup di dunianya ingin serba instan pasti akan berujung dengan kegagalan. Kalaupun mereka sempat jadi pengusaha warisan orang tuanya, pasti akan berujung dengan pengusaha yang gagal. Mereka yang jadi pejabat juga karena melanjutkan orang tuanya, pasti akan berujung dengan pejabat yang gagal. Itu karena mereka menjadi pengusaha dan pejabat hanya dengan instan, tidak melalui proses yang membuat mereka matang dan siap untuk mengemban amanah pengusaha atau pejabat.
Ayat-ayat al-Qur`an yang menjelaskan konsep hasanah di dunia adalah:
وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗۖ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٤١ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٤٢
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus (hasanah) kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal (QS. An-Nahl [16] : 41-42).
Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan, orang-orang yang hijrah dan disebutkan dalam ayat di atas adalah para muhajirin yang hijrah ke Habasyah di masa awal Islam dan muhajirin yang berhijrah ke Madinah. Mereka harus menanggung hidup perih meninggalkan kampung halaman, rumah, pekerjaan, sanak saudara, teman, kolega, dan memulai hidup dari nol lagi karena menjadi pengungsi demi membela agama Allah swt. Balasan hasanah di dunia bagi mereka adalah dianugerahkan kehidupan yang lebih baik di Madinah, mereka menjadi para pemimpin di kota dan peradaban baru, juga menjadi imam/teladan bagi kaum muttaqin secara keseluruhan. Kehidupan yang mereka jalani di Madinah penuh dengan keadilan, berbeda jauh dengan yang dialami di Makkah yang penuh ketimpangan sosial dan penindasan. Di samping itu pahala akhirat yang lebih besar bagi mereka juga sudah menanti. Mereka layak mendapatkan semuanya karena mereka sudah mampu sabar dan tawakkal dalam menjalani kesulitan hidup.
قُلۡ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertaqwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik, di dunia ini memperoleh kebaikan (hasanah). Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS. Az-Zumar [39] : 10).
Kata kunci hasanah di dunia dalam ayat ini adalah sabar, sama dengan ayat sebelumnya di atas. Para mufassir juga menjelaskan “bumi Allah itu luas” dengan mengaitkannya pada ayat:
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ …
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (terbunuh ketika dipaksa membantu pasukan kafir dalam perang Badar—pen), (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”… (QS. An-Nisa` [4] : 97).
Maka dari itu, Mujahid (w. 104 H/722 M) menafsirkannya dengan: “Maka berhijrahlah, berjihadlah, dan tinggalkan penyembahan berhala.” Sementara ‘Atha` (w. 126 H/744 M) menjelaskan: “Jika kalian dipaksa untuk maksiat, maka larilah.” Artinya Allah swt menitahkan manusia untuk tidak menyerah menyikapi keadaan yang tidak ideal, tetapi berusahalah untuk mengubahnya sehingga menjadi lebih ideal. Dari sini terlihat jelas makna ihsan sebagai sifat orang-orang yang akan mendapatkan hasanah di dunia. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha mencari dan menempuh cara terbaik meski dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Mental seperti ini adalah mentalnya orang-orang yang sabar. Ini juga salah satu manifestasi taqwa sebagaimana diperintahkan di bagian awal ayatnya.
Dua ayat di atas masih erat berkorelasi dengan ayat berikut:
۞وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمۡۚ قَالُواْ خَيۡرٗاۗ لِّلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٞۚ وَلَدَارُ ٱلۡأٓخِرَةِ خَيۡرٞۚ وَلَنِعۡمَ دَارُ ٱلۡمُتَّقِينَ ٣٠
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan“. Orang-orang yang berbuat baik, di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik (hasanah). Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertaqwa (QS. An-Nahl [16] : 30).
Taqwa yang dimaksud ayat di atas tentunya orang yang sangat patuh kepada Allah swt. Itu terlihat dari prinsip yang ia anut, yakni: (1) Meyakini bahwa wahyu Allah itu terbaik, dan (2) meyakini bahwa negeri akhirat itu lebih baik. Atas dasar dua prinsip yang dianut itu maka seseorang akan selalu memperjuangkannya di dunia meski pastinya akan ada banyak rintangan yang dihadapi. Allah swt sudah memaklumatkan dari sejak menurunkan Nabi Adam as ke dunia bahwa selamanya akan selalu ada musuh yang memandang hina ilmu yang Allah swt turunkan, yakni wahyu, sekaligus memandang bohong kehidupan akhirat. Musuh itu adalah Iblis dan setan-setan pengekornya. Mereka akan berjuang menjadi musuh setia yang akan merendahkan ilmu Allah swt sekaligus menyesatkan manusia dari kehidupan yang terbaik, yakni akhirat, dengan cara mengiming-imingi manusia dengan kehidupan dunia yang penuh fatamorgana. Maka dari itu cukup sering Allah swt mengingatkan:
إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ٣٣
Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah (QS. Luqman [31] : 33 dan Fathir [35] : 5).
Faktanya sampai hari ini mereka yang berpegang teguh pada ilmu-ilmu syari’at banyak yang direndahkan hanya karena kelas mereka dianggap lebih rendah daripada ilmu sains, sosial, humaniora, hingga teknologi. Segala penemuan ilmiah dalam ilmu-ilmu duniawi itu dianggap lebih baik daripada ilmu yang berbasis syari’at. Konsekuensinya segala yang berbasis syari’at dianggap kuno, sementara yang berbasis sains, sosial, humaniora, hingga teknologi dianggap maju dan modern meski faktanya terang-terangan bertentangan dengan syari’at. Maka kehidupan masyarakat pun menjadi sangat sekularistik. Mereka yang selalu berpegang teguh pada syari’at, baik dalam wilayah politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan lainnya selalu “ditindas” dan “direndahkan”. Dalam hal ini ketaqwaan dan keihsanan diuji dalam menyikapi semua hal tersebut. Mereka yang tetap teguh dengan prinsip kebenaran yang dianutnya serta mampu ihsan melewati semua tantangannya, akan memperoleh hasanah di dunia. Sebagaimana sudah dialami oleh Rasulullah saw, para shahabat, dan semua generasi terbaik sesudahnya yang mengikuti mereka.
Jalan kehidupan generasi terbaik itu mengikuti teladan Nabi Ibrahim as yang dalam al-Qur`an ditegaskan memperoleh hasanah di dunia, dan itu semua setelah beliau berhasil melewati semua cobaan hidup dalam mempertahankan prinsip kebenaran yang dianutnya, sehingga ditahbiskan Allah swt sebagai imam (QS. Al-Baqarah [2] : 124).
إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٠ شَاكِرٗا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٢١ وَءَاتَيۡنَٰهُ فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗۖ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٢٢ ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٢٣
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan (hasanah) di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (QS. An-Nahl [16] : 120-123).
Manasik haji, ‘umrah, dan qurban semuanya menapaktilasi perjalanan hidup Nabi Ibrahim as. Mereka yang menjalankan nusuk tersebut sudah sepatutnya juga meneladani kehidupan Ibrahim as yang berorientasi hasanah di dunia; mementingkan aqidah dan syari’at meski banyak cobaan dan rintangan, dan selalu menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, bukan dunia yang serba instan. Jika obsesi dunia selalu bersemayam di jiwa, hingga terpanjatkan dalam do’a-do’a, itu pertanda masih jauh dari nilai-nilai yang diajarkan Ibrahim, jauh juga dari nilai-nilai hasanah di dunia. Wal-‘Llahu a’lam



