Dari Rakyat Oleh Rakyat Untuk Rakyat

Dari Rakyat Oleh Rakyat Untuk Rakyat
Frasa ikonik “Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat” adalah jargon demokrasi. Menggambarkan pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Akan tetapi hari ini jargon demokrasi tersebut justru lebih cocok digunakan untuk menguatkan rakyat agar mengabaikan Pemerintahnya. Disebabkan rakyat selalu menjadi korban kebijakan Pemerintah yang menyengsarakan mereka, maka rakyat harus mampu saling menguatkan di antara mereka sendiri. Rakyat harus mampu hidup mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada kebijakan Pemerintah.
Islam mengajarkan ajaran “jama’ah” sampai dijadikan identitas aqidah oleh para shahabat: Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Tidak cukup memegang teguh sunnah saja, melainkan juga harus memegang teguh jama’ah. Salah satu ajaran utamanya adalah umat Islam harus mempertahankan kesatuan umat di bawah satu kepemimpinan khalifah/pemimpin meskipun pemimpin tersebut zhalim. Tentunya selama pemimpin tersebut tidak sampai kafir. Jika sudah kafir maka berhak untuk digulingkan, itupun jika memungkinkan.
Dalil-dalil Nabi saw yang mengajarkan ajaran “jama’ah” ini di antaranya:
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْراً فَمَاتَ، إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukainya, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memecah belah al-jama’ah (khilafah/kesatuan Negara) sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6531; Shahih Muslim bab wujub mulazamah jama’atil-muslimin no. 3438, 3439).
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa yang tidak menyukai dari pemimpinnya sesuatu hal, maka bersabarlah. Karena sesungguhnya orang yang memberontak kepada sulthan (pemerintah) meski sejengkal saja, lalu ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyyah (Shahih al-Bukhari kitab al-fitan bab satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7053; Shahih Muslim kitab al-imarah bab al-amr bi luzumil-jama’ah ‘inda zhuhuril-fitan no. 4879).
Dalam hadits Hudzaifah ibn al-Yaman ra, ketika ia minta nasihat dari Nabi saw agar siap menghadapi zaman yang sudah rusak, Nabi saw memberikan nasihat:
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Pertahankan kesatuan umat Islam dan imamnya.” Aku bertanya: “Kalau tidak ada jama’ah dan imamnya?” Beliau menjawab: “Tinggalkan semua kelompok yang sesat itu, walau kamu harus menggigit akar pohon sampai datangnya kematian kepadamu, kamu tetap dalam keadaan seperti itu.” (Shahih al-Bukhari bab kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam no. 6557).
Dalam riwayat at-Thabrani, nasihat dari Nabi saw kepada Hudzaifah itu redaksinya sebagai berikut:
فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب
Jika kamu menemukan khalifah, maka bergabunglah bersamanya, meski khalifah itu memukul punggungmu (zhalim). Tetapi jika tidak ada khalifah, maka larilah (Fathul-Bari kitab al-fitan bab kaifa al-amru idza lam takun jama’ah wala imam).
Lebih tegas lagi, ‘Ubadah ibn as-Shamit ra mriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah memerintah para shahabat berbai’at kepada beliau, yang salah satu poin pentingnya tidak boleh menggulingkan Pemerintah meski mereka zhalim.
قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ: دَعَانَا النَّبِيُّ ﷺ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ: فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بِوَاحاً، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ.
‘Ubadah ibn as-Shamit berkata: “Nabi saw memanggil kami lalu kami berbai’at kepadanya.” Ia melanjutkan: “Materi bai’at yang beliau ambil dari kami adalah kami berbai’at untuk senantiasa patuh dan taat, dalam keadaan senang dan benci, dalam keadaan sulit dan mudah, wajib mendahulukannya daripada kami, dan agar kami tidak mencabut urusan tersebut (kepemimpinan) dari yang berhaknya. Kecuali jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, dan kalian punya pegangan yang jelas dari Allah mengenainya.” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabiy saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 6533)
Ketika mayoritas penduduk Madinah bergabung di Harrah membawa senjata untuk melawan pemerintahan Yazid ibn Mu’awiyah ra yang zhalim, Ibn ‘Umar ra memberikan peringatan kepada mereka:
إِنِّى لَمْ آتِكَ لأَجْلِسَ أَتَيْتُكَ لأُحَدِّثَكَ حَدِيثًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِىَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Saya datang kepadamu (‘Abdullah ibn Muthi’, pemimpin pasukan Madinah) bukan untuk duduk. Saya datang untuk memberitahu kepadamu hadits yang dahulu aku dengar dari Rasulullah saw. Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang melepaskan tangan dari ketaatan (kepada khalifah), ia akan bertemu Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak mempunyai hujjah. Dan siapa yang mati dengan tidak ada bai’at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyyah.” (Shahih Muslim bab al-amr bi luzumil-jama’ah ‘inda zhuhuril-fitan no. 4899).
Sebagaimana sudah dibahas dalam edisi sebelumnya (https://attaubah-institute.com/bersabar-hidup-di-negeri-carut-marut/), kesabaran menghadapi pemimpin zhalim itu bukan berarti diam pasrah, melainkan tetap sabar mengingatkan mereka tanpa harus menggulingkan Pemerintahan. Di samping itu juga sabar hidup bertahan tanpa menggantungkan diri kepada Pemerintah, karena hidup masih dan harus bisa tetap dijalani bagaimanapun bejatnya Pemerintah.
Islam mengajarkan ajaran ta’awun (saling menolong dan kolaborasi) meski dengan kalangan kafir dan ukhuwwah imaniyyah yang sangat kuat berakar dalam dalil dan tradisi kehidupan setiap generasinya.
… وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَئَانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوكُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
… Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil-Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. al-Ma`idah [5] : 2).
Ayat ini jelas mengajarkan agar umat Islam mampu ta’awun bahkan dengan orang-orang kafir yang dahulu pernah mengusir mereka dari Makkah serta selalu menghalang-halangi mereka untuk masuk Masjidil-Haram. Ta’awun itu tentu dasarnya nilai kebaikan dan taqwa, bukan dosa dan permusuhan.
Secara khusus terhadap sesama mukmin:
تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Kamu melihat orang-orang beriman dalam hal saling menyayangi, saling mencintai, dan saling perhatian mereka seperti satu tubuh. Apabila ia merasakan satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam (Shahih al-Bukhari bab rahmatin-nas wal-baha`im no. 6011).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen. Sebagian besarnya dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga, bukan dari ekspor atau investasi. Artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat ditentukan oleh rakyat kecil dan menengah dalam wujud ekonomi riil atau transaksi harian di tengah-tengah masyarakat, bukan oleh Pemerintah dan pengusaha-pengusaha kelas kakap. Bahkan selorohnya, seandainya tidak ada Pemerintah pun, Indonesia akan tetap ada karena masyarakatnya sudah bisa hidup mandiri dalam menjalankan ekonominya.
Itu artinya ajaran Nabi saw agar umat Islam menguatkan “jama’ah” sudah sangat tepat. Sejarah mencatat, bahwa pergantian kekuasaan, baik itu secara normal atau prematur, tidak pernah menjadi solusi tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi dalam konteks hari ini, jika Prabowo harus digantikan oleh Gibran. Semua orang pasti sepakat bahwa kualitas Gibran sangat jauh di bawah rata-rata. Kalaupun Prabowo-Gibran diturunkan, penggantinya siapa? Bukankah kalangan elit kekuasaan yang masih memegang kekuasaan atas nama rakyat hari ini masih orang-orang yang sama karena satu oligarki?
Maka jargon “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” harus dijadikan pegangan harapan oleh umat dan bangsa Indonesia pada umumnya. Jangan terlalu menggantungkan harapan pada Pemerintah. Mereka sudah membiarkan rakyat hidup tanpa dijajah sebagaimana penjajah kolonial pun sudah cukup. Jangan berharap lebih.
Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab.



