Haram Bernafsu Ingin Menjadi Orang Kaya

Kaya dan miskin adalah taqdir Allah yang tidak bisa diinginkan dengan nafsu. Jika sudah taqdirnya, seseorang pasti akan kaya atau malah sebaliknya. Tidak boleh disertai nafsu karena akan melupakan akhirat bahkan mendorong seseorang memilih jalan haram. Maka dari itu sekadar bernafsu ingin kaya pun hukumnya haram.

Tidak ada celah dalam ajaran Islam yang membolehkan seseorang bernafsu menjadi orang kaya. Islam malah selalu mengarahkan bahwa kaya dalam kacamata manusia pada umumnya bukan kaya yang sebenarnya. Kaya yang sebenarnya dan bernilai kebaikan adalah kaya yang tidak terlihat kaya dalam kacamata manusia pada umumnya. Nabi saw sering mengingatkan:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya itu bukan banyak harta, tetapi kaya itu adalah kaya hati (Shahih Muslim kitab az-zakat bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl no. 2467)

Secara tidak langsung hadits di atas menyalahkan orang kaya yang banyak harta, karena orang kaya seperti itu tidak akan pernah kaya hatinya. Maka dari itu Nabi saw menegaskan bahwa kaya yang benar itu kaya hati. Imam an-Nawawi menjelaskan maksudnya sebagai berikut:

وَمَعْنَى الْحَدِيث الْغِنَى الْمَحْمُود غِنَى النَّفْس وَشِبَعُهَا وَقِلَّة حِرْصهَا، لَا كَثْرَة الْمَال مَعَ الْحِرْص عَلَى الزِّيَادَة؛ لِأَنَّ مَنْ كَانَ طَالِبًا لِلزِّيَادَةِ لَمْ يَسْتَغْنِ بِمَا مَعَهُ فَلَيْسَ لَهُ غِنًى

Makna hadits di atas adalah kaya yang terpuji itu kaya hati, selalu merasa kenyang, dan sedikit obsesinya, bukan banyak harta dan selalu terobsesi untuk menambah harta, karena orang yang selalu ingin menambah harta tidak akan pernah merasa kaya dengan yang sudah dimiliki, maka hakikatnya tidak ada kaya baginya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl).

Dalam bab lain, Imam an-Nawawi menjelaskan singkat:

الِاسْتِغْنَاء عَنْ النَّاس وَعَمَّا فِي أَيْدِيهمْ

Tidak membutuhkan pemberian orang lain dan tidak tertarik dengan harta yang orang lain miliki (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab at-ta’awwudz min syarri ma ‘amila).

Dalam hadits lain Nabi saw memang menganjurkan untuk menjadi kaya, tetapi bukan kaya untuk terlihat status sosialnya sebagai orang kaya, melainkan kaya agar banyak berderma dalam kebaikan.

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ، رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ، وَآخَرُ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak ada hasud kecuali kepada dua orang; seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia mengerahkan tenaganya untuk menghabiskannya dalam kebenaran dan seseorang yang diberi hikmah oleh Allah lalu ia memutuskan dengannya dan mengajarkannya (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab al-ightibath fil-‘ilm no. 73).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud fa sallathahu artinya ia benar-benar mengeluarkan kemampuan maksimalnya. Halakatihi maksudnya sampai habis. Artinya, setiap muslim dianjurkan untuk berminat menjadi orang kaya, tetapi bukan orang kaya yang banyak harta, melainkan orang kaya yang tetap memilih hidup sederhana karena kekayaannya dihabiskan dalam al-haqq.

Dalam al-Qur`an Allah membenarkan penilaian “celaka” dari orang-orang berilmu untuk mereka yang bernafsu ingin menjadi kaya seperti Qarun. Mereka pantas dinilai celaka karena akan mengabaikan kehidupan akhirat yang lebih baik.

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ فِي زِينَتِهِۦۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا يَٰلَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٖ  ٧٩ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَيۡلَكُمۡ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لِّمَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗاۚ وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ  ٨٠

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash [28] : 79-80)

Nabi saw juga mengingatkan dalam hadits bahwa nafsu untuk menjadi kaya itu dosa dan harus diatasi dengan taubat.

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلْئًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya anak Adam diberi satu lembah yang penuh dengan emas, ia pasti ingin memiliki yang kedua. Seandainya ia diberi yang kedua, ia pasti ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi rongga anak Adam kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat (Shahih al-Bukhari bab ma yuttaqa min fitnatil-mal no. 6438).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan dalam Fathul-Bari bahwa maksud “tidak ada yang dapat memenuhi rongga anak Adam kecuali tanah” adalah mati. Sementara sabda Nabi saw: “Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat” menunjukkan bahwa nafsu harta itu adalah dosa. Orang yang meninggalkan nafsu pada harta disebut oleh Nabi saw sebagai orang yang bertaubat dari dosa tersebut.

Shahabat Ibn ‘Abbas dan Ubay semula mengira sabda Nabi saw di atas adalah ayat al-Qur`an saking berbobot kandungan nasihatnya. Terlebih temanya juga mirip dengan al-Qur`an yang selalu mengingatkan bahaya dunia. Perkiraan Ubay itu hilang setelah turun surat at-Takatsur yang mengingatkan bahwa manusia selalu baru ingat dari kelalaian bernafsu dunia setelah mati (Fathul-Bari).

عَنْ أُبَيٍّ قَالَ كُنَّا نَرَى هَذَا مِنْ الْقُرْآنِ حَتَّى نَزَلَتْ أَلْهَاكُمْ التَّكَاثُرُ

Dari Ubay, ia berkata: “Kami semula mengira bahwa hadits ini termasuk al-Qur`an, hingga turun firman Allah: ‘Memperbanyak harta telah melalaikan kamu’.” (Shahih al-Bukhari bab ma yuttaqa min fitnatil-mal no. 6440. Penilaian Ibn ‘Abbas ditulis dalam riwayat no. 6437).

Al-Qur`an menyebutkan nafsu menjadi orang kaya itu dengan istilah syuhh. Tidak akan ada orang yang bahagia dengan memendam syuhh dalam dirinya. Hanya orang-orang yang mampu merdeka dari syuhh sajalah yang bisa menjadi orang bahagia. Caranya adalah dengan banyak berderma bahkan kalau mampu sampai sang penderma hidup susah sekalipun sebagaimana sunnah para shahabat, khususnya kaum Anshar.

…وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ١٦

…dan nafkahkanlah nafkah yang baik (kebaikannya pasti) untuk dirimu. Dan siapa yang dipelihara dari syuhh (nafsu harta/kekikiran) dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. at-Taghabun [64] : 16).

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  ٩

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari syuhh (nafsu harta/kekikiran) dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS. Al-Hasyr [59] : 9).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *