Balada Kader Muda Budak Dunia

Balada Kader Muda Budak Dunia

 

‘Ali ibn Abi Thalib I menyebut mereka abna`ud-dunya; anak-anak dunia. Generasi muda dan kader pelanjut yang menghamba dan menjadi budak dunia. Hidupnya penuh angan-angan duniawi dan mengabaikan akhirat. Demi meraih keuntungan duniawi, jangankan norma agama, norma masyarakat dan akal sehat pun dilabrak. Mereka mendadak menjadi generasi bodoh yang dibalut arogansi intelektual. Mendadak tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Daya intelektualnya hanya diabdikan untuk membela yang bayar.

 

‘Ali ibn Abi Thalib ra menyinggung “anak-anak dunia” (abna`ud-dunya) dalam salah satu nasihatnya kepada umat yang ditulis oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya secara ta’liq (tanpa sanad, sebagai isyarat bahwa itu adalah riwayat Imam yang lain tetapi beliau menyetujui keshahihannya):

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

Dunia itu bergerak pergi meninggalkan, sedang akhirat bergerak datang menghadap. Masing-masingnya mempunyai anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sungguh hari ini adalah amal tanpa hisab, sedang esok hisab tanpa amal (Shahih al-Bukhari bab fil-amal wa thulihi [angan-angan dan panjangnya angan-angan itu]).

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa atsar dari ‘Ali ra itu diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ibnul-Mubarak, dan Abu Nu’aim yang ditulis dalam kitab-kitab mereka dan merupakan potongan dari atsar lengkapnya yang bagian awalnya sebagai berikut:

إِنَّ أَخْوَف مَا أَخَاف عَلَيْكُمْ اِتِّبَاع الْهَوَى وَطُول الْأَمَل، فَأَمَّا اِتِّبَاع الْهَوَى فَيَصُدّ عَنْ الْحَقّ وَأَمَّا طُول الْأَمَل فَيُنْسِي الْآخِرَة. أَلَا وَإِنَّ الدُّنْيَا اِرْتَحَلَتْ مُدْبِرَة وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً…

Sungguh hal yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu itu akan menghalangi diri dari haq sementara panjang angan-angan itu akan melupakan akhirat. Ingatlah, sungguh dunia itu bergerak pergi meninggalkan, sedang akhirat bergerak datang menghadap(kelanjutannya yang ditulis di atas).

Dari pernyataan ‘Ali ra di atas, para ahli hikmah mengutarakan kalimat yang dikenal di kalangan para pengkaji ilmu:

الدُّنْيَا مُدْبِرَة وَالْآخِرَة مُقْبِلَة فَعَجَب لِمَنْ يُقْبِل عَلَى الْمُدْبِرَة وَيُدْبِر عَلَى الْمُقْبِلَة

Dunia itu pergi sedangkan akhirat datang. Sungguh aneh orang yang menghadap kepada sesuatu yang pergi dan membelakangi sesuatu yang datang (Fathul-Bari bab fil-amal wa thulihi).

Imam al-Bukhari menuliskan atsar ‘Ali ra di atas dalam bab tentang panjangnya angan-angan (bab fil-amal wa thulihi) karena sifat utama dari anak-anak dunia itu adalah panjangnya angan-angan dan hawa nafsu ingin kaya—yang berkorelasi erat dengan berkuasa—serta panjang umur atau semakin lama berkuasa, sehingga menjebak mereka pada melupakan akhirat dan menjauhi haq. Maka dari itu ‘Ali ra menekankan pentingnya untuk beramal (‘amal, pakai huruf ‘ain) di dunia, bukan berangan-angan (amal, pakai huruf hamzah). Boleh berangan-angan itu nanti di akhirat ketika hanya ada hisab dan tidak ada amal. Sementara di dunia wajib fokus pada ‘amal bukan pada amal.

Angan-angan itu sendiri dijelaskan oleh para ulama tidak sepenuhnya berbahaya. Yang berbahaya itu apabila memakai “panjang”. Jika terbatas dan masih bisa dikendalikan di bawah kesadaran akan akhirat maka angan-angan tidak haram. Al-Hafizh menjelaskan:

الْأَمَلُ بِفَتْحَتَيْنِ رَجَاء مَا تُحِبّهُ النَّفْس مِنْ طُولِ عُمُرٍ وَزِيَادَةِ غِنًى

Al-Amal—dengan dua fathah [pada hamzah dan mim]—adalah mengharapkan apa yang disenangi nafsu berupa panjang umur dan bertambah kaya (Fathul-Bari bab fil-amal wa thulihi).

وَفِي الْأَمَل سِرّ لَطِيف لِأَنَّهُ لَوْلَا الْأَمَل مَا تَهَنَّى أَحَد بِعَيْشٍ وَلَا طَابَتْ نَفْسه أَنْ يَشْرَع فِي عَمَل مِنْ أَعْمَال الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا الْمَذْمُوم مِنْهُ الِاسْتِرْسَال فِيهِ وَعَدَم الِاسْتِعْدَاد لِأَمْرِ الْآخِرَة، فَمَنْ سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ لَمْ يُكَلَّف بِإِزَالَتِهِ

Dalam hal angan-angan itu ada satu benang pemisah yang tipis, sebab jika tidak ada angan-angan seseorang tidak akan merasa betah hidup dan tidak akan bersemangat bekerja di dunia. Hanya yang tercela itu yang melepaskannya dengan bebas dan tidak mempersiapkan diri untuk akhirat. Siapa saja yang selamat dari hal itu maka ia tidak dituntut untuk menghilangkan angan-angan tersebut (Fathul-Bari bab fil-amal wa thulihi).

Artinya, sepanjang keinginan panjang umur itu diperuntukkan memperbanyak amal-amal akhirat dan memberi manfaat yang banyak kepada umat, demikian halnya bertambah kekayaan itu untuk memperbanyak derma kepada faqir miskin dan fi sabilillah, maka angan-angan yang seperti ini tidak tercela sama sekali. Hanya saja pada umumnya angan-angan duniawi itu senyawa dengan hawa nafsu, melupakan akhirat, dan mengabaikan haq (kebenaran) meski dibungkus dengan amal-amal akhirat dan berderma kepada umat. Itulah yang diingatkan ‘Ali ibn Abi Thalib dalam atsar di atas.

Maka dari itu Imam Ibnul-Jauzi menjelaskan:

الْأَمَل مَذْمُوم لِلنَّاسِ إِلَّا لِلْعُلَمَاءِ فَلَوْلَا أَمَلهمْ لَمَا صَنَّفُوا وَلَا أَلَّفُوا

Angan-angan itu tercela bagi manusia biasa tetapi tidak bagi ulama. Seandainya ulama tidak punya angan-angan pasti mereka tidak akan menulis karya-karya ilmiah (Fathul-Bari bab fil-amal wa thulihi).

Kuncinya terletak pada ilmu sehingga para ulama terbebas dari angan-angan yang tercela. Hanya memang masalahnya justru angan-angan ingin kaya, memiliki jabatan, pengaruh kekuasaan, panjang umur, dan lama berkuasa itu seringkali merusak ilmu yang dimiliki. Bahkan ilmu itu sendiri hampir selalu dijadikan dalih untuk membenarkan nafsu kekuasaan dan kekayaannya. Celakanya tragedi ini menimpa juga anak-anak muda kader pelanjut yang seharusnya mampu berpikir jernih, kritis, dan menggunakan akal sehat dalam menimbang baik dan buruk. Maka jadilah anak-anak muda kader pelanjut itu “anak-anak dunia” yang membudak pada dunia dan terpenjara nafsu kekuasaaan dan kekayaan.

Dalih yang diutarakannya selalu bahwa kekuasaan itu harus diraih demi pengabdian pada bangsa, negara, dan umat. Cara untuk meraihnya adalah dengan berpolitik; baik itu terjun langsung sebagai politisi praktis ataupun sebatas penggembira dan relawan tim sukses mengincar jatah staf ahli Kementerian atau BUMN. Meski pada kenyataannya ketika kekuasaan itu diraih, pengabdian pada bangsa dan negara berubah menjadi pengabdian kepada penguasa dan pengusaha. Pengabdian kepada rakyat hanya sebatas recehan berupa pemberian sumbangan dan bantuan karena yang ratusan juta dan miliarannya masuk kantong pribadi atau sebagai tabungan untuk modal meraih kekuasaan di periode berikutnya. Kebobrokan penguasa selalu ditutup-tutupi demi kemaslahatan bangsa dan negara. Ketertindasan rakyat oleh penguasa sengaja diabaikan karena rumusnya penguasa pasti benar dan selalu rakyat yang salah. Lidahnya kelu dari amar ma’ruf nahyi munkar atau minimalnya dalam menyuarakan kebenaran karena matanya sudah gelap tidak bisa membedakan yang ma’ruf dan munkar. Ilmunya selalu dijadikan sarana untuk membenarkan nafsu para penguasa yang seringkali tidak berpihak pada rakyat. Sifat alamiah ilmu yang selalu membela yang benar berubah drastis menjadi membela yang bayar dan memberinya jalan untuk berkuasa.

Sungguh terlihat kasatmata banyaknya kader-kader muda muslim dari berbagai partai Islam, ormas Islam, organisasi kemahasiswaan Islam, dan kepemudaan Islam yang semula aktif menyuarakan kebenaran yang banyak dimanipulasi oleh penguasa, tetapi kemudian berbalik menjadi pembela para penguasa dan turut memanipulasi kebenaran. Daya kritisnya tumpul akibat nafsu kekuasaan yang dibalut dalih pengabdian pada umat. Yang nyata buruknya dikemas sedemikian rupa agar terlihat baik. Yang nyata salahnya dicarikan pembenarannya dengan dalih-dalih ideologis yang menyesatkan kalangan awam tetapi membelalakkan mata kalangan yang bernalar jernih bahwa mereka benar-benar kader muda budak dunia.

Inilah bahaya nyata angan-angan kaya dan berkuasa yang pasti merusak ilmu para pemiliknya. Dan inilah balada serta prahara umat yang akan selalu terjadi sepanjang masa karena “anak-anak dunia” ini akan terus melahirkan penerusnya yang sama-sama bernafsu kaya, berkuasa, dan terus langgeng kekuasaan dan kekayaannya.

Na’udzu bil-‘Llah min dzalik wa Huwal-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *