Politik Dagang Sapi Merambah Santri

Politik Dagang Sapi Merambah Santri

Nabi ﷺ mengingatkan akan ada banyak atsarah (tawar menawar jabatan) dan umuran tunkirunaha (hal-hal yang ganjil) di tengah-tengah umat terkait dengan kekuasaan. Bukan hanya terjadi di kalangan politisi tetapi juga bisa merambah kalangan santri. Mereka sudah tidak malu lagi tawar menawar kedudukan kekuasaan sehingga hatinya terkunci mati dari kewajiban da’wah dan amar ma’ruf nahyi munkar. Nilai-nilai yang dijunjung tinggi bukan lagi idealisme Islam tetapi pragmatisme sekuler.

Ketika Nabi saw membagikan ghanimah perang Hunain kepada muallaf dari tokoh Quraisy, ada seorang Anshar yang mengkritik keras kebijakan Nabi saw tersebut. Dengan penuh kesabaran Nabi saw bersabda:

سَتَجِدُونَ أُثْرَةً شَدِيدَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ﷺ فَإِنِّي عَلَى الْحَوْضِ قَالَ أَنَسٌ فَلَمْ يَصْبِرُوا

“Kalian nanti akan menemukan nafsu egoisme duniawi yang sangat besar, maka bersabarlah kalian hingga bertemu Allah dan Rasul-Nya karena aku menunggu di telaga dekat surga.” Anas ra kemudian berkata: “Ternyata manusia tidak mampu bersabar.” (Shahih al-Bukhari bab ghazwatit-Tha`if no. 4331)

Ketika Nabi saw memberi jabatan kepada beberapa orang, ada seseorang yang kemudian berani mempertanyakan mengapa ia sendiri tidak diberikan jabatan:

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ  أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا وَلَمْ تَسْتَعْمِلْنِي قَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي

Dari Usaid ibn Hudlair ra, sesungguhnya ada seseorang yang datang kepada Nabi saw dan berkata: “Wahai Rasulullah saw kenapa anda memberi jabatan kepada fulan tetapi tidak memberiku jabatan?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sesudahku nafsu mementingkan diri sendiri maka bersabarlah hingga kalian menemuiku.” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7057).

Dalam riwayat lain, Nabi saw mengingatkan:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللَّهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sesudahku nafsu mementingkan diri sendiri dan hal-hal yang kalian nilai ganjil.” Para shahabat bertanya: “Apa yang akan kau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Berikanlah kepada mereka (pemimpin) hak mereka, dan mintalah kepada Allah hakmu.” (Hadits ‘Abdullah ibn Mas’ud dalam Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha no. 7052)

Hadits-hadits di atas mengingatkan bahwa umat Islam akan disibukkan dengan atsarah/utsrah yang berupa nafsu ingin mendapatkan pemberian dari penguasa atau mendapatkan pekerjaan atau jabatan. Makna asal atsarah adalah “mementingkan diri sendiri”. Maksudnya menurut al-Hafizh Ibn Hajar: al-ikhtishash bi hazhzhin dunyawi; mementingkan diri sendiri dalam bagian duniawi (Fathul-Bari bab qaulin-Nabi saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha). Akibatnya tampaklah umuran tunkirunaha; hal-hal yang ganjil, aneh, dan mengherankan. Dalam konteks politik istilahnya “politik dagang sapi”.

Cukup banyak pakar yang mengkritik perkembangan politik di Indonesia yang masih kental “politik dagang sapi”. Sebagaimana dijelaskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, politik dagang sapi adalah kiasan dari “tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi (lembaga dan sebagainya)”. Akibatnya perlombaan gagasan untuk mewujudkan pemerintahan yang adil dan makmur nyaris tidak ada karena para pemain politiknya tersandera oleh tawar menawar kekuasaan. Koalisi A bisa mendadak bubar seiring anggota koalisinya yang kemudian merapat pada koalisi lawannya sesudah deal akan mendapatkan bagian jatah kekuasaan tertentu. Dua partai yang semula berlawanan bisa mendadak menjadi kawan, demikian juga sebaliknya karena bujukan pembagian kekuasaan. Benar saja omongan orang-orang: “Dalam politik tidak ada lawan dan kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”.

Partai yang dasar ideologinya Islam, nasionalis, dan sosialis, tidak tampak pertarungan gagasan dan ideologi. Semuanya nyaris terlihat sama saja karena sama-sama memperjuangkan bagian jatah kekuasaan. Terserah apakah itu partai Islam, nasionalis, atau sosialis, mereka menjadi satu ideologi yang sama saja karena satu kepentingan yang sama. Sekularisasi politik pun kemudian menjadi sukses karena umat tidak lagi peduli dengan ideologi perjuangan selain pilihan pragmatis saluran mana yang bisa digunakan untuk meraih kekuasaan. Tidak peduli partai Islam, nasionalis, atau sosialis, semuanya dinilai sama saja, semuanya sama-sama haus kekuasaan, dan semuanya rela menghilangkan ideologinya demi meraih bagian kekuasaan. Dampak buruknya, idealisme perjuangan Islam menjadi hilang dalam kancah politik praktis. Kader-kader politisi muslim menjadi acuh tak acuh dengan ideologi Islam atau sekularisme; yang penting mana yang bisa mengantarkan pada kekuasaan. Maka idealisme politik Islam pun otomatis hilang. Yang tersisa hanya pragmatisme kekuasaan yang sekularistik.

Maka keganjilan pun banyak dan mudah ditemukan. Tokoh politik yang sudah berjanji dan bahkan menulis wasiat akan senantiasa bersama rakyat mengkritisi Pemerintah yang berkuasa, tiba-tiba saja bersedia menjadi bagian dari penguasa dan kemudian balik badan membela penguasa dengan sering menyalahkan rakyat. Dia yang dahulu sering ikut menjerit bersama-sama dengan rakyat yang menjerit karena tertindas, malah sibuk mengumpulkan aset dan kekuasaan dengan mengabaikan jeritan rakyat. Para pendukungnya pun tidak jauh beda. Mereka begitu mudah menjadi para pendusta yang semula mengatakan A tetapi sekarang mengatakan Z hanya karena ikut-ikutan ingin mendapatkan kekuasaan. Tokoh-tokoh muda yang sering menjadi penyambung lidah rakyat malah berbalik menjadi penyambung lidah penguasa dan turut menindas rakyat karena sudah mendapatkan bagian kekuasaan. Fakta ini sangat ganjil menurut syari’at, meski bagi para pedagang “politik dagang sapi” dianggap biasa saja karena rumusnya dalam politik itu hanya satu yang abadi yakni “kepentingan”.

Sangat ganjil pula jika kalangan santri yang seharusnya berkomitmen penuh dalam dakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar, malah kemudian sibuk dengan kisruh internal akibat cari-cari celah kekuasaan. Mereka yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme dakwah amar ma’ruf nahyi munkar menjadi terjebak pada pragmatisme kepentingan kekuasaan yang sesaat. Lidahnya selalu kelu karena pertimbangan menguntungkan kekuasaan dirinya ataukah tidak. Bukan lagi pertimbangan benar atau salah ketika ia menyuarakan pendapatnya, melainkan pertimbangan menguntungkan kekuasaan bagi dirinya ataukah tidak.

Al-Hafizh Ibn Hajar menuliskan riwayat yang menjadi syahid hadits ‘Abdullah ibn Mas’ud ra di atas yang mengkritik kaum santri pragmatis sebagai berikut:

أَتَانِي جِبْرِيل فَقَالَ: إِنَّ أُمَّتَك مُفْتَتَنَة مِنْ بَعْدِك. فَقُلْت: مِنْ أَيْنَ؟ قَالَ: مِنْ قِبَل أُمَرَائِهِمْ وَقُرَّائِهِمْ بِمَنْعِ الْأُمَرَاء النَّاس الْحُقُوق فَيَطْلُبُونَ حُقُوقهمْ فَيُفْتَنُونَ، وَيَتَّبِع الْقُرَّاء هَؤُلَاءِ الْأُمَرَاء فَيُفْتَنُونَ. قُلْت: فَكَيْفَ يَسْلَم مَنْ سَلِمَ مِنْهُمْ ؟ قَالَ بِالْكَفِّ وَالصَّبْر إِنْ أَعْطَوْا الَّذِي لَهُمْ أَخَذُوهُ وَإِنْ مَنَعُوهُ تَرَكُوه

Jibril tadi datang kepadaku dan berkata: “Sungguh umatmu akan terkena fitnah sesudahmu.” Aku bertanya: “Dari mana?” Jibril menjawab: “Dari para pemimpin dan qurra` (ahli al-Qur`an atau kaum santri) mereka. Yaitu para pemimpin yang menahan hak rakyat sehingga mereka menuntut (dengan kekerasan atau menjilat) kepadanya dan mereka pun terkena fitnah, dan para qurra` yang mengikuti (selalu membenarkan) para pemimpin tersebut sehingga mereka juga terkena fitnah.” Aku (‘Umar ra) bertanya: “Bagaimana caranya agar seseorang bisa selamat dari mereka?” Nabi saw menjawab: “Dengan menahan diri dan sabar. Jika mereka (penguasa) memberi apa yang jadi hak mereka (rakyat), silahkan ambil. Jika mereka (penguasa) menahan hak mereka (rakyat), maka tinggalkan (tidak perlu melawan dengan kekerasan atau menjilat).” (Hadits ‘Umar ra riwayat al-Isma’ili dalam Fathul-Bari bab qaulin-Nabi saw satarauna ba’di umuran tunkirunaha)

Sebagaimana Nabi saw ajarkan dalam hadits-hadits di atas, umat sudah seharusnya bersabar dan menahan diri tidak terbawa arus atsarah dan umuran tunkirunaha tersebut. Bukan berarti haram berpolitik praktis, tetapi yang haram itu berpolitik dagang sapi. Berpolitik dengan nurani, idealisme, dan ideologi tidak pernah berkurang kewajibannya meskipun harus dengan tidak mendapatkan jatah kekuasaan. Suara idealisme dan ideologis harus senantiasa abadi sampai kapan pun meski kekuasaan tidak digenggam dan di situlah letak kemenangannya. Justru ketika idealisme tergadaikan oleh pragmatisme kekuasaan, meski kemudian kekuasaan itu diraih, maka sebenarnya umat sudah kalah sebab suara-suara kebenaran menjadi harus mengekor tunduk pada kemauan para penguasa.

Nasta’in bil-‘Llah wa Huwal-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *