Orang Baik Pasti Terkena Musibah

Nabi mengibaratkan seorang mukmin satu tangkai pohon yang kadang terkena angin sehingga bergoyang. Sementara orang durhaka ibarat pohon besar di hutan yang tidak akan bergoyang tertiup angin selain tumbang sekaligus pada waktunya. Angin itu perumpamaan dari musibah yang akan selalu datang kepada orang-orang shalih dan menggoyang kehidupan mereka. Sementara orang durhaka akan tetap kokoh di dunia hingga jatuh sekaligus pada saat waktunya tiba.

Imam al-Bukhari menuliskan tema pembahasan: Bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl; riwayat tentang sakit sebagai kifarat dosa dalam kitab Shahihnya. Di antara hadits yang dituliskannya adalah hadits Ka’ab ibn Malik dan Abu Hurairah ra yang meriwayatkan sabda Nabi saw tentang perumpamaan orang mukmin dan durhaka dengan sebuah pohon:

عَنْ كَعْبِ بنِ مَالِكٍ  عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَالْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفَيِّئُهَا الرِّيحُ مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا مَرَّةً وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَالْأَرْزَةِ لَا تَزَالُ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

Dari Ka’ab ibn Malik ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin itu ibarat tangkai satu tanaman. Angin terkadang memiringkannya dan terkadang meluruskannya kembali. Sementara perumpamaan orang munafiq itu seperti pohon Aras (pohon besar di hutan belantara) yang senantiasa kokoh hingga tercabut dari akarnya sekaligus.” (Shahih al-Bukhari bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl [riwayat tentang sakit sebagai kifarat dosa] no. 5643)

Sementara itu dalam hadits Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيحُ كَفَأَتْهَا فَإِذَا اعْتَدَلَتْ تَكَفَّأُ بِالْبَلَاءِ وَالْفَاجِرُ كَالْأَرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حَتَّى يَقْصِمَهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin itu ibarat tangkai satu tanaman. Ketika datang kepadanya angin maka akan membuatnya miring tetapi kemudian lurus kembali, ia bergoyang karena ada gangguan. Sementara orang durhaka seperti pohon Aras (pohon besar di hutan belantara) yang keras dan tegak lurus, hingga Allah menghancurkannya ketika Dia berkehendak.” (Shahih al-Bukhari bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl [riwayat tentang sakit sebagai kifarat dosa] no. 5644).

Al-Hafizh Ibn Hajar mengutip penjelaskan Imam al-Muhallab ibn Ahmad ibn Abi Shufrah (w. 435 H, penulis kitab al-Mukhtasharun-Nashih fi Tahdzibil-Kitabil-Jami’is-Shahih) terkait hadits di atas sebagai berikut:

قَالَ الْمُهَلَّب: مَعْنَى الْحَدِيث أَنَّ الْمُؤْمِن حَيْثُ جَاءَهُ أَمْر اللَّه اِنْطَاعَ لَهُ، فَإِنْ وَقَعَ لَهُ خَيْر فَرِحَ بِهِ وَشَكَرَ، وَإِنْ وَقَعَ لَهُ مَكْرُوه صَبر وَرَجَا فِيهِ الْخَيْر وَالْأَجْر، فَإِذَا اِنْدَفَعَ عَنْهُ اِعْتَدل شَاكِرًا. وَالْكَافِر لَا يَتَفَقَّد اللَّه بِاخْتِيَارِهِ بَلْ يَحْصُل لَهُ التَّيْسِير فِي الدُّنْيَا لِيَتَعَسَّر عَلَيْهِ الْحَال فِي الْمَعَاد، حَتَّى إِذَا أَرَادَ اللَّه إِهْلَاكه قَصَمَهُ فَيَكُون مَوْته أَشَدّ عَذَابًا عَلَيْهِ وَأَكْثَر أَلَمًا فِي خُرُوج نَفْسه

Al-Muhallab menjelaskan: “Makna hadits di atas adalah seorang mukmin itu ketika datang keputusan Allah akan selalu tunduk kepada-Nya. Jika mendapatkan kebaikan maka ia akan bahagia dan bersyukur, dan jika mendapatkan sesuatu yang jelek ia akan bersabar dengan mengharapkan kebaikan dan pahala. Jika hilang hal yang jelek itu ia kembali tegak lurus dalam bersyukur. Sementara orang kafir, Allah tidak akan memperhatikan usahanya, bahkan ia akan selalu memperoleh kemudahan di dunia agar ia merasakan kesulitan di akhirat. Sampai ketika Allah menghendaki kebinasaannya maka kematiannya akan menjadi siksa yang paling berat baginya dan paling sakit ketika dicabut nyawanya.” (Fathul-Bari bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl).

Terkait orang-orang durhaka yang ditangguhkan siksanya hingga datang di akhir sekaligus banyak disinggung dalam al-Qur`an, di antaranya QS. al-A’raf [7] : 182-183, ar-Ra’d [13] : 32, Ibrahim [14] : 42, al-Hajj [22] : 44, 48, al-Qalam [68] : 44-45. Sementara itu, orang-orang baik akan selalu dihinggapi musibah dan itu baik untuknya agar senantiasa dalam ketundukan kepada Allah swt. Dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah pasti Dia akan memberinya musibah (jika dibaca yushab: dijadikan selalu tepat) (Shahih al-Bukhari bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl [riwayat tentang sakit sebagai kifarat dosa] no. 5645).

Lafazh yushib bisa dibaca yushib (memberi musibah) atau yushab (dijadikan tepat). Maknanya sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar:

قَالَ أَبُو عُبَيْد الْهَرَوِيُّ: مَعْنَاهُ يَبْتَلِيه بِالْمَصَائِبِ لِيُثِيبَهُ عَلَيْهَا. وَقَالَ غَيْره: مَعْنَاهُ يُوَجِّه إِلَيْهِ الْبَلَاء فَيُصِيبهُ

Abu ‘Ubaid al-Harawi (w. 401 H, penulis kitab al-Gharibain; Gharibul-Qur`an Gharibul-Hadits) menjelaskan: “Maknanya Allah akan mengujinya dengan musibah agar Dia memberi pahala kepadanya atas musibah itu.” Ulama lainnya menjelaskan: “Maknanya Allah akan mengirimkan cobaan kepadanya lalu ia bisa tepat dalam menyikapinya.” (Fathul-Bari bab ma ja`a fi kaffaratil-maradl).

Sisi kebaikannya sebagaimana dijelaskan dalam dialog Ibn Mas’ud ra dengan Nabi saw ketika beliau sakit parah.

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُوعَكُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قُلْتُ ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ ذَلِكَ كَذَلِكَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Aku masuk ke rumah Rasulullah saw ketika beliau sakit parah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh anda sakit parah sekali.” Beliau menjawab: “Benar, aku sakit parah dua kali lipat seperti sakitnya dua orang dari kalian.” Aku berkata: “Itu karena anda akan mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab: “Benar. Demikianlah, tidak ada seorang muslim pun yang terkena sakit baik itu tertusuk duri atau yang lebih kecil dari itu melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya sebagai pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (Shahih al-Bukhari bab asyaddun-nas bala`an al-anbiya [manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi] no. 5648).

Sisi kebaikan musibah yang disebutkan dalam hadits di atas adalah mendapatkan pahala seukuran beratnya musibah yang diterima. Semakin berat musibah maka semakin besar pahalanya. Oleh sebab itu para Nabi pasti mendapatkan cobaan yang paling berat karena memang mereka akan memperoleh pahala yang paling besar, sebagaimana sakitnya Nabi saw yang lebih parah dua kali lipat daripada sakitnya orang-orang pada umumnya. Sementara sabda Nabi saw tentang musibah akan menghapus dosa, itu berlaku untuk standar umum masyarakat yang memang pasti akan memiliki dosa. Jika tidak ada atau sedikit dosanya, maka musibah yang besar itu akan semakin meninggikan nilai pahala yang akan diterima. Para Nabi tentu ada di posisi ini sebab mereka manusia-manusia yang terjaga dari dosa.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya besarnya pahala itu seukuran dengan besarnya cobaan. Dan sungguh Allah jika mencintai satu kaum, Dia akan memberi cobaan kepada mereka. Siapa yang ridla maka akan mendapatkan ridla Allah, dan siapa yang murka maka akan mendapatkan murka Allah (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fis-shabr ‘alal-bala`i [riwayat tentang sabar atas cobaan] no. 2396).

عَنْ سَعْدٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Sa’ad (ibn Abi Waqqash) ra ia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi, kemudian yang mendekatinya, lalu yang mendekatinya. Seseorang akan diberi cobaan seukuran agamanya. Jika agamanya kuat maka akan berat cobaannya, dan jika agamanya lembek maka ia akan diberi cobaan seukuran agamanya. Cobaan akan terus mengenai seorang hamba sehingga meninggalkannya berjalan di muka bumi tanpa ada dosa.” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fis-shabr ‘alal-bala`i [riwayat tentang sabar atas cobaan] no. 2397).

Dalam hadits Abu Sa’id ra disebutkan urutan sesudah para Nabi yang akan diberi cobaan berat adalah para ulama dan kemudian orang-orang shalih.

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: الْعُلَمَاءُ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ الصَّالِحُونَ.

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para Nabi.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Para ulama.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian orang-orang shalih.” (al-Mustadrak al-Hakim kitab al-iman no. 119. Al-Hafizh menilainya hasan dalam Fathul-Bari bab asyaddun-nas bala`an al-anbiya).

Mereka inilah orang-orang baik yang pasti akan terkena musibah untuk semakin memantapkan status baik mereka. wal-‘iyadzu bil-‘Llah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *