Dalil Shaum Senin Kamis

Bismillah, maaf mau tanya terkait shaum senin kamis. Yang baru saya temukan dalam Buluhgul Maram shaum senin saja. Kalau dalil shaum kamisnya yang mana, Ustadz? 08586304xxxx
Dalam Bulughul-Maram memang yang ada hanya dalil shaum Senin saja, tepatnya hadits nomor pertama dalam bab “shaum sunat dan shaum yang terlarang”. Akan tetapi bukan berarti tidak ada dalil shaum senin kamis. Dalil yang dimaksud diriwayatkan dalam Musnad Ahmad oleh Usamah ibn Zaid sebagai berikut:

قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah ibn Zaid bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda sering shaum sampai hampir tidak buka. Juga terkadang sering buka/tidak shaum, sampai hampir tidak pernah shaum lagi, kecuali dua hari. Jika dua hari itu ada di waktu-waktu anda shaum, maka anda shaum. Kalaupun ada di masa-masa anda tidak shaum, anda tetap shaum dua hari tersebut.” Rasul saw bertanya: “Dua hari yang mana?” Usamah menjawab: “Hari senin dan kamis.” Rasul saw menjawab: “Itu adalah dua hari yang amal-amal disetorkan kepada Allah Rabbul-‘alamin. Aku ingin ketika amal disetorkan itu aku sedang shaum.” Usamah bertanya lagi: Aku juga tidak melihat anda shaum pada satu bulan (setiap hari) sebagaimana shaum anda pada bulan Sya’ban?” Nabi saw menjawab: “Itu adalah bulan yang dilupakan oleh orang-orang, ada di antara Rajab dan Ramadlan, padahal pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabbul-‘alamin, maka aku sangat ingin ketika amalku diangkat aku sedang dalam keadaan shaum.” (Musnad Ahmad bab hadits Usamah ibn Zaid no. 20758).
Syaikh al-Albani dalam kitab Irwa`ul-Ghalil menilai sanad hadits di atas hasan. Hadits di atas diriwayatkan juga dalam Sunan Abi Dawud no. 2436, Sunan at-Tirmidzi no. 747, dan Sunan an-Nasa`i 4 : 201-204. Tetapi dalam sanadnya ada rawi majhul yakni maula Usamah. Sementara sanad hadits riwayat Ahmad di atas hasan. Jika digabungkan semuanya dan ditambah dengan hadits berikutnya yang shahih, maka kedudukan dalil shaum senin kamis bukan hasan lagi, melainkan shahih.

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا

“Amal-amal manusia disetorkan dalam satu jum’at (pekan) dua kali; yaitu hari Senin dan Kamis. Maka dosa setiap mukmin akan diampuni, kecuali seorang hamba yang di antara dia dan saudaranya ada permusuhan. Maka dikatakan: Tangguhkan mereka berdua ini, sampai mereka berdamai.” (Shahih Muslim bab an-nahy ‘anis-syahna wat-tahajur no. 6712)