Generasi Penikmat Makan, Generasi Rusak

Generasi Penikmat Makan, Generasi Rusak
Ada banyak tipologi generasi rusak dalam al-Qur`an, salah satunya mereka yang memperturutkan syahwat dalam hal kenikmatan makan. Generasi yang selalu memprioritaskan makan sebagai kenikmatan utamanya dinyatakan sebagai generasi durhaka dan menjiplak akhlaq orang-orang kafir. Mereka akan selalu mendahulukan kepentingan pribadinya dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.
Satu generasi yang memperturutkan syahwat pasti akan mengabaikan shalat dan ayat-ayat Allah swt. Ujung-ujungnya akan menjadi generasi yang sesat.
۞فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩
Maka datanglah sesudah mereka, generasi pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (QS. Maryam [19] : 59).
Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan akhlaq para Nabi as di mana mereka selalu sujud dan menangis ketika ayat-ayat Allah swt dilantunkan. Sementara generasi sesudahnya malah menjadi generasi yang memperturutkan syahwat sehingga abai dari shalat dan ayat-ayat Allah swt dan kemudian menjadi generasi rusak.
Generasi seperti ini akan menjadi seperti generasi Bani Israil atau Yahudi dan Kristen hari ini. Meski mereka mewarisi kitab dari para Nabi mereka, tetapi mereka menjauhinya karena lebih memilih keuntungan duniawi sesaat. Ajaran kitab mereka mayoritas ditinggalkan dan malah mengikuti nilai-nilai pragmatisme duniawi demi kesenangan yang sifatnya sesaat dan kemudian diyakini sebagai kebenaran. Syari’at Taurah dan Injil dirombak total disesuaikan dengan sekularisme dan liberalisme. Sebagian besarnya lagi sengaja ditinggalkan terang-terangan karena alasan menyesuaikan dengan tuntunan zaman mengikuti pendekatan khas hermeneutika (QS. al-A’raf [7] : 169).
Kedunguan generasi ini kemudian dihina oleh Allah swt sebagai generasi anjing (QS. al-A’raf [7] : 175-176) dan keledai (QS. al-Jumu’ah [62] : 5), karena benar-benar dungu; lebih memilih kesesatan dengan mengorbankan hidayah, lebih memilih siksa dibanding ampunan, dan lebih memiih dunia dengan mengorbankan akhirat (QS. al-Baqarah [2] : 86, 175).
Salah satu penyebabnya karena generasi pemuja syahwat itu mementingkan kenikmatan makan.
رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ كَانُواْ مُسۡلِمِينَ ٢ ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ٣
Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) (QS. al-Hijr [15] : 2-3).
وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡ ١٢
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka (QS. Muhammad [47] : 12).
كُلُواْ وَتَمَتَّعُواْ قَلِيلًا إِنَّكُم مُّجۡرِمُونَ ٤٦
(Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa” (QS. al-Mursalat [77] : 46).
Ketiga ayat di atas menyandingkan kebiasaan “makan” dan “senang-senang” sebagai kebiasaan orang-orang kafir dan durhaka. Makanya tidak heran jika generasi seperti ini mengabaikan shalat dan kitab Allah swt, malah selalu memilih nilai-nilai pragmatisme duniawi sesaat, karena yang ada dalam kepala mereka makan-makan, senang-senang, foya-foya.
Maka dari itu Nabi saw mengingatkan dengan tegas tentang kesesatan mementingkan makan dalam berbagai haditsnya:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ اِبْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Bangsa Adam (manusia) tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Bila tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya (Sunan at-Tirmidzi kitab az-zuhd bab karahiyah katsratil-akl no. 2380; Sunan Ibn Majah kitab al-ath’imah bab al-iqtishad fil-akl wa karahatis-syab’ no. 3349; Musnad Ahmad bab hadits al-Miqdam ibn Ma’dikarib no. 17225).
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ r فَقَالَ: كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ القِيَامَةِ
Dari Ibn ‘Umar, ia berkata: Ada seseorang yang berserdawa di sisi Nabi saw. Beliau lalu bersabda: “Tahanlah serdawamu dari kami. Sungguh, orang yang sering kenyang di dunia adalah orang yang paling lama kelaparan pada hari kiamat.” (Sunan at-Tirmidzi abwab shifat al-qiyamah war-raqa`iq wal-wara’ no. 2478. al-Albani: Hadits hasan)
خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku (shahabat), lalu generasi sesudahnya (tabi’in), lalu generasi sesudahnya (tabi’ tabi’in)—‘Imran berkata: Aku tidak ingat apakah ia menyebutkan sesudah generasinya dua atau tiga—Kemudian akan ada sesudah kalian satu kaum yang bersaksi padahal mereka tidak diminta bersaksi, berkhianat dan tidak bisa dipercaya, bernadzar rapi tidak memenuhinya, dan tampak di tengah-tengah mereka orang-orang yang kegemukan [obesitas] (Shahih al-Bukhari kitab al-manaqib bab fadla`il ashhab an-nabiy no. 3650; Shahih Muslim kitab fadla`il as-shahabah bab fadllis-shahabah tsummal-ladzina yalunahum no. 6638).
Para ulama kemudian menguatkan ajaran ini dalam berbagai nasihatnya:
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً لِأَنَّ الشَّبْعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ وَيُقْسِي الْقَلْبَ وَيُزِيْلُ الْفَطَنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةِ
Imam as-Syafi’i rahimahul-‘Llah berkata: “Sudah 16 tahun aku tidak pernah makan sampai kenyang, sebab makan sampai kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, menyebabkan tidur pulas, dan membuat seseorang malas dari ibadah (Ihya` ‘Ulumiddin bab al-‘ilm al-ladzi huwa fardlu kifayah).
Apalagi jika kaitannya dengan kegiatan menuntut ilmu yang mensyaratkan hati bersih dari nafsu duniawi.
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيَفْلَحَ وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذُلِّ النَّفْسِ وَضِيقِ الْعَيْشِ وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ: وَقَالَ أَيْضًا لَا يُدْرَكُ الْعِلْمُ إلَّا بِالصَّبْرِ عَلَى الذُّلِّ: وَقَالَ أَيْضًا لَا يَصْلُحُ طَلَبُ الْعِلْمِ إلَّا لِمُفْلِسٍ فَقِيلَ وَلَا الْغَنِيُّ الْمُكَفَّى فَقَالَ وَلَا الْغَنِيُّ الْمُكَفَّى
As-Syafi’i rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun yang mencari ilmu ini dengan kekuasaan dan ketinggian diri lalu ia sukses. Tetapi orang yang mencarinya dengan kerendahan diri, kesempitan hidup, dan berkhidmat kepada para ulama, ia akan sukses.” Beliau berkata juga: “Ilmu ini tidak akan diperoleh kecuali dengan sabar dalam keterbatasan.” Beliau berkata juga: “Tidak pantas mencari ilmu kecuali untuk orang yang bangkrut.” Ditanyakan kepada beliau: “Orang yang kaya dan cukup tidak pantas?” Beliau menjawab: “Orang yang kaya dan cukup tidak pantas.”
وَقَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ لَا يَبْلُغُ أَحَدٌ مِنْ هَذَا الْعِلْمِ مَا يُرِيدُ حَتَّى يَضْرِبَهُ الْفَقْرُ وَيُؤْثِرُهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
Malik ibn Anas rahimahullah berkata: “Seseorang tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan dari ilmu ini sehingga tertimpa kefakiran dan ia memprioritaskan ilmu di atas segala sesuatunya.”
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُسْتَعَانُ عَلَى الْفِقْهِ بِجَمْعِ الْهَمِّ وَيُسْتَعَانُ عَلَى حَذْفِ الْعَلَائِقِ بِأَخْذِ الْيَسِيرِ عِنْدَ الْحَاجَةِ وَلَا يَزِدْ
Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Akan terbantu untuk bisa memahami dengan menguatkan semangat. Akan terbantu untuk menghilangkan kesibukan dengan mengambil sedikit saja ketika butuh dan tidak berlebihan.” (dikutip dari Imam An-Nawawi, al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, bab adabul-muta’allim).
Generasi penikmat makan di Indonesia hari ini, sebagaimana diprotes oleh Aliansi Guru-guru di sidang Mahkamah Konstitusi, telah mengorbankan kesejahteraan guru, pendidikan gratis, dan hak makan bergizi serta layak bagi kalangan miskin. Mereka mementingkan makan untuk semua anak-anak bahkan yang tidak membutuhkan diberi makan sekalipun. Anggaran yang sampai untuk makanan anak-anak pun nyatanya hanya segelintir rupiah saja. Yang besarnya dinikmati oleh para pengusaha yang tidak ada basisnya sama sekali pada lembaga-lembaga pendidikan sehingga tidak menyejahterakan lembaga dan para praktisi pendidikan itu sendiri. Perilaku boros seperti ini sudah diperingatkan juga oleh Dewan Ekonomi Nasional yang mengakui sudah ada salah sistem dari sejak awal. Semoga bangsa ini cepat belajar dari kesalahan. Jangan sampai menjadi generasi rusak karena menjadi generasi penikmat makan. Generasi baik dan maju itu generasi penikmat pendidikan, bukan generasi penikmat makan. Generasi yang maju adalah generasi yang memberikan apresiasi layak pada layanan pendidikan, sarana pendidikan yang bermartabat, kesejahteraan guru dan tenaga pendidikan. Bukan malah berpesta pora dalam makan sementara layanan pendidikan itu sendiri masih jauh di bawah layak. Wal-‘Llahu a’lam.