Berilmu Lebih Mulia daripada Sekadar Beribadah

Umat Islam masih lebih banyak yang malas beribadah daripada yang sebaliknya. Dari yang sedikit rajin beribadah tersebut masih lebih sedikit lagi yang bersemangat dalam kegiatan keilmuan. Sangat kasat mata terlihat jumlah jama’ah ahli pengajian masih lebih sedikit daripada jama’ah shalat Jum’at, shalat ‘Id, yang mengamalkan shaum Ramadlan, ‘umrah, haji, atau bahkan dari jama’ah shalat berjama’ah sekalipun. Padahal wahyu pertama menekankan lebih pentingnya ilmu. Derajat orang berilmu jauh lebih tinggi daripada yang sekadar beribadah. Seyogianya mereka yang sudah mau dan rajin beribadah meningkatkan derajatnya dengan berkegiatan ilmu.
Kegiatan keilmuan yang paling utama adalah membaca, sebagaimana difirmankan Allah swt dalam wahyu pertama; iqra`. Kegiatan membaca itu menunjukkan kuriositas (rasa ingin tahu) yang tinggi. Artinya Allah swt memerintahkan manusia untuk senantiasa haus ilmu. Dari wahyu pertama tersebut juga tersirat perintah Allah swt untuk menyebarkan ilmu lewat tulisan; bil-qalam. Kegiatan pencarian dan penyebaran ilmu dijadikan tema utama wahyu pertama untuk menunjukkan fokus utama manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah dan beribadah kepada Allah swt, yakni dengan berkegiatan ilmu.
Dari perintah membaca tersebut, maka Allah swt kemudian memerintahkan manusia untuk bertanya (2 : 43, 21 : 7), bermajelis ilmu (58 : 11), selalu merujukkan masalah kepada Rasul dan orang-orang yang berwenang ilmu (4 : 83), mengecek ulang fakta; tabayyun (4 : 94, 49 : 6), meneliti sejarah kehidupan manusia (12 : 109-111), dan merenungkan serta meneliti alam semesta secara luas (3 : 190-191). Semuanya itu penting untuk dilakukan karena hanya dengan ilmu seseorang bisa mencapai puncak ketaatan dan ibadah dengan merasa takut dan dekat kepada Allah swt.
…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang berilmu)…(QS. Fathir [35] : 27-28).
Jika orang yang paling mulia di mata Allah swt adalah orang yang paling takut (taqwa) kepada-Nya, maka kesimpulannya seseorang tidak mungkin mencapai derajat puncak kemuliaan tersebut melainkan harus dengan ilmu.
… اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اْتْقٰىكُمْ ؕ …
… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa…(QS. al-Hujurat [49] : 13)
Maka dari itu Nabi saw menegaskan keterkaitan erat ilmu dan takut kepada Allah swt ini dalam salah satu sabdanya:
إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا
Sesungguhnya orang yang paling taqwa dan paling mengetahui kepada Allah adalah aku (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw ana a’lamukum bil-‘Llah no. 20).
Hal inilah yang Nabi saw tekankan dalam hadits bahwa menjadi ahli ibadah saja tidak cukup, melainkan juga harus ahli ilmu. Kemuliaan yang paripurna itu ketika seseorang menjadi ahli ilmu, bukan hanya sekadar ahli ibadah tetapi kurang ilmu. Seseorang yang ahli ibadah kurang ilmu tidak mungkin mencapai derajat tinggi setinggi mereka yang berilmu dan tentunya ahli ibadah juga. Orang yang berilmu tetapi tidak ahli ibadah sebenarnya adalah orang yang tidak berilmu, sebab ilmu akan memastikan kepada pemiliknya bahwa dirinya harus menjadi ahli ibadah. Jika masih malas, berarti hakikatnya ia tidak berilmu. Sementara orang yang ahli ibadah pastinya punya ilmu tetapi masih kurang, karena ilmunya baru terbatas pada ibadah-ibadah yang sudah diamalkannya. Sementara beribadah lewat kegiatan keilmuan yang itu bagian terbesar dari ibadah itu sendiri masih diabaikannya.
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
Dan sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang (Sunan Abi Dawud bab al-hatsts ‘ala thalabil-‘ilm no. 3643).
Dengan logika sederhana bisa dipahami bahwa berkegiatan ilmu itu bagian dari ibadah juga. Maka ketika seseorang hanya mementingkan kegiatan ibadah shalat, shadaqah, shaum, haji, dan umrah saja, tetapi tidak mementingkan kegiatan keilmuan, hakikatnya ia sudah meninggalkan sebagian ibadah, bahkan bagian yang paling besarnya. Nabi saw sendiri menyabdakannya hazh wafir; bagian terbesar, dalam kelanjutan hadits di atas. Seseorang bisa mencapai level kenabian itu dengan ilmu, tidak cukup hanya dengan ibadah kurang ilmu.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya orang-orang berilmu itu pewaris para Nabi. Karena sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang paling banyak (Sunan Abi Dawud bab al-hatsts ‘ala thalabil-‘ilm no. 3643).
Oleh sebab itu, Nabi saw menyamakan orang berilmu dengan dirinya sendiri sebagai Nabi, sementara yang hanya ahli ibadah tetapi kurang ilmu dengan orang yang paling rendah status sosialnya.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ قَالَ: ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالآخَرُ عَالِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ
Dari Abu Umamah al-Bahili ra, ia berkata: Diceritakan kepada Rasulullah saw dua orang; yang satunya ahli ibadah (kurang ilmu) dan yang satunya ahli ilmu (di samping ahli ibadah). Maka Rasulullah saw bersabda: “Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah seperti keutamaanku di atas orang yang paling rendah dari kalian.” Kemudian Rasulullah saw bersabda lagi: “Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya, semua penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada di sarangnya dan ikan-ikan, benar-benar bershalawat (mendo’akan kesejahteraan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada masyarakat” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi fadllil-fiqh ‘alal-‘ibadah no. 2682).
Maka dari itu generasi salaf memberikan teladan bagaimana harus dipentingkannya kegiatan keilmuan, meski dengan menempuh perjalanan darat selama dua bulan pulang pergi. Cuplikan hadits di atas disampaikan oleh shahabat Abud-Darda` ra kepada seseorang yang sengaja datang ke Damaskus dari Madinah untuk menemuinya dalam rangka mencari ilmu, bukan untuk keperluan lainnya. Jarak antara Madinah dan Damaskus itu sendiri dengan perjalanan unta pada zaman itu memerlukan waktu satu bulan lamanya. Abud-Darda` ra menyampaikan hadits Nabi saw tentang pentingnya mengambil bagian dalam kegiatan keilmuan kepada pendatang dari Madinah tersebut untuk memuliakannya karena ia telah memuliakan ilmu.
عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ ﷺ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Dari Katsir ibn Qais, ia berkata: Ketika aku duduk bersama Abud-Darda` di masjid Damaskus, datang kepadanya seseorang dan berkata: “Wahai Abud-Darda`, aku datang kepada anda dari Madinah Rasul saw karena satu hadits yang sampai kepadaku bahwa anda meriwayatkannya dari Rasulullah saw. Aku datang bukan karena kebutuhan lainnya.” Abud-Darda` berkata: Sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Sungguh malaikat merendahkan sayapnya karena ridla kepada pencari ilmu. Sungguh orang berilmu didoakan ampunan oleh semua makhluk di langit, bumi, hingga ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Karena sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang paling banyak (Sunan Abi Dawud bab al-hatsts ‘ala thalabil-‘ilm no. 3643).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abud-Darda` ra sempat memastikan apakah benar orang itu datang ke Damaskus hanya untuk ilmu, bukan untuk bisnis atau kepentingan lainnya.
قَالَ: أَمَا جِئْتَ لِحَاجَةٍ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: أَمَا قَدِمْتَ لِتِجَارَةٍ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: مَا جِئْتَ إِلَّا فِي طَلَبِ هَذَا الحَدِيثِ؟
Abud-Darda` bertanya: “Kamu tidak datang untuk keperluan lain?” Ia menjawab: “Tidak.” Abud-Darda` bertanya: “Kamu tidak datang untuk berdagang?” Ia menjawab: “Tidak.” Abud-Darda` konfirmasi: “Benar kamu tidak datang melainkan untuk meneliti hadits ini?” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi fadllil-fiqh ‘alal-‘ibadah no. 2682).
Saking menyadari keutamaan ilmu, seorang tabi’in di atas rela menempuh perjalanan dua bulan pulang pergi hanya untuk mengetahui hadits langsung dari sumbernya. Ia tentunya mengorbankan terlebih dahulu kepentingan keluarga dan mencari nafkahnya karena sadar bahwa berilmu lebih mulia daripada sekadar beribadah. Suatu tradisi yang memang sudah berlaku umum di kalangan salaf hingga hari ini di kalangan khalaf yang meneladani mereka (uraian lebih lengkapnya bisa dirujuk: https://attaubah-institute.com/semangat-salaf-belajar-hadits/). Wal-‘Llahu a’lam.
