Orang Shalih Tidak Akan Baperan

Orang shalih pasti sudah menjadikan Allahus-Shamad menyerap ke dalam urat nadinya. Apapun rintangannya, gangguannya, dan hinaannya, semuanya akan disikapi dengan sabar dan tawakkal, karena yakin Allahus-Shamad; Allah selalu hadir dan selalu bisa dijadikan tempat untuk menggantungkan asa dan harapan. Maka orang shalih tidak akan baperan, tantrum, atau bahkan jatuh ketika rintangan dan hinaan datang kepadanya. Mereka akan menyerahkan semua urusannya kepada Allah E dengan tetap istiqamah mencari ridla-Nya.
Ayat-ayat al-Qur`an banyak memotret karakter kuat orang-orang shalih di tengah-tengah situasi yang terhimpit dan tertekan. Mereka bukannya jatuh dan baperan, melainkan tetap kuat dan bertahan dalam berjihad di jalan Allah swt.
أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ
… yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela (QS. Al-Ma`idah [5] : 54).
Dalam perang Uhud (3 H), ketika syuhada sudah banyak jumlahnya, kaum muslimin yang tersisa pun banyak yang terluka parah, lalu pasukan kafir bersiap-siap akan menyerang kembali untuk memusnahkan kaum muslimin, di saat yang sama banyak orang munafiq yang menakut-nakuti para mujahidin, mereka ini bukannya baperan, melainkan semakin bertambah kuat untuk terus melawan meski tubuh mereka penuh dengan luka.
ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُۚ لِلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ مِنۡهُمۡ وَٱتَّقَوۡاْ أَجۡرٌ عَظِيمٌ ١٧٢ ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ ١٧٣
(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertaqwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka“, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS. Ali ‘Imran [3] : 172-173).
Allah swt menegaskan bahwa orang-orang yang selalu menakut-nakuti itu hakikatnya setan, dan yang kemudian malah takut berarti budak-budak setan.
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ١٧٥
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali ‘Imran [3] : 172-173).
Hal yang sama terjadi pada saat perang Khandaq/Al-Ahzab (5 H) di saat Madinah dikepung oleh koalisi besar pasukan kafir di seantero Arab.
وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا ٢٢
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat pasukan-pasukan musuh yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS. Al-Ahzab [33] : 22).
Menyikapi hinaan dan cacian yang selalu datang dari orang-orang yang bodoh, orang-orang yang disebut Allah swt ‘Ibadur-Rahman malah selalu menjawab dengan baik; tetap berhusnuzhan atas ketidaktahuan mereka, berkata santun, dan malah mendo’akan mereka semoga menjadi orang-orang yang baik.
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil merendahkan mereka, mereka membalas dengan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS. al-Furqan [25] : 63).
Al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa maksud ayat di atas adalah apabila orang-orang bodoh memperlakukan mereka semena-mena dengan buruk, mereka tidak membalasnya dengan keburukan lagi, tetapi malah memaafkan dan membiarkan, mereka tidak menjawabnya kecuali dengan kebaikan. Sebagaimana halnya Rasulullah saw ketika diperlakukan dengan sangat bodoh oleh orang lain tidak menambah apapun selain kelembutan. Hal ini menurutnya sebagaimana diarahkan juga dalam ayat lain:
وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan berkata: Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, semoga keselamatan atas dirimu, kami tidak akan terbawa orang-orang jahil (QS. al-Qashash [28] : 55).
Nabi saw menjelaskannya juga dalam hadits:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ مُقَرِّنٍ الْمُزَنِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: وَسَبَّ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الرَّجُلُ الْمَسْبُوبُ يَقُولُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ” أَمَا إِنَّ مَلَكًا بَيْنَكُمَا يَذُبُّ عَنْكَ كُلَّمَا يَشْتُمُكَ هَذَا، قَالَ لَهُ: بَلْ أَنْتَ وَأَنْتَ أَحَقُّ بِهِ، وَإِذَا قَالَ لَهُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، قَالَ: لَا بَلْ لَكَ أَنْتَ، أَنْتَ أَحَقُّ بِهِ
Dari an-Nu’man ibn Muqarrin al-Muzanni, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ada seseorang yang mencaci orang lain di sisi beliau. Tetapi orang yang dicaci itu malah berkata: “Semoga keselamatan tercurah untukmu.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Sungguh seorang malaikat ada di antara kalian berdua dan membela kamu setiap kali orang itu menghinamu. Malaikat berkata kepadanya: “Tidak, melainkan kamu yang buruk, kamu lebih berhak dengan itu.” Dan ketika ia membalas dengan: “Semoga keselamatan tercurah untukmu,” malaikat itu berkata: “Tidak, melainkan untuk kamu keselamatan itu, kamu lebih berhak dengannya.” (Musnad Ahmad bab hadits an-Nu’man ibn Muqarrin no. 23745)
Pernah suatu ketika Nabi saw dihadang oleh seorang Arab pedusunan, ia menarik sorban Nabi saw hingga membekas merah di kulit beliau dan meminta dengan memaksa. Nabi saw malah membalas dengan senyuman dan memerintahkan Anas ra untuk memberinya pemberian yang diinginkan.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ ﷺ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ ﷺ قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ
Dari Anas ibn Malik ra, ia berkata: Dahulu pernah ketika aku berjalan bersama Nabi saw dan beliau saat itu memakai sorban buatan Najran (Yaman) yang tebal jahitan pinggirnya, tiba-tiba dihadang oleh seorang Arab pedusunan dan menarik sorbannya dengan keras. Sampai aku melihat leher Nabi saw membekas merah dari jahitan pinggir sorban yang ditarik dengan keras itu. Orang Arab itu berkata: “Perintahkan (bawahanmu) agar aku mendapatkan bagian harta Allah (ghanimah/zakat) yang ada padamu.” Nabi saw hanya menoleh kepadanya dengan tersenyum, lalu memerintah Anas untuk memberinya (Shahih al-Bukhari bab ma kanan-Nabiy saw yu’thil-muallafah qulubuhum no. 3149).
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ ﷺ هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya ia bertanya kepada Nabi saw: “Apakah anda pernah mengalami satu hari yang lebih berat dari hari Uhud (perang yang terjadi pada tahun 3 H. Nabi saw terluka parah hingga pingsan pada perang Uhud dan pasukan kaum muslimin sempat kalah—pen)?” Beliau menjawab: “Aku sudah sering mengalami seperti yang biasa aku alami dari kaummu. Yang paling terasa berat bagiku adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menyodorkan diriku (berda’wah dan memohon bantuan) kepada Ibn ‘Abdi Yalil ibn ‘Abd Kulal (pemimpin Tha`if [Fathul-Bari]. Berjarak 89 km dari Makkah) tetapi ia tidak memberikan jawaban seperti yang aku inginkan. Aku pun pergi dengan berwajah murung, hingga tidak sadar aku sudah sampai di Qarnuts-Tsa’alib (daerah Qarnul-Manazil [Syarah an-Nawawi]. Berjarak 77 km dari Makkah). Ketika aku menengadahkan kepala, ternyata ada awan yang menaungiku. Aku melihatnya dan ternyata di sana ada Jibril yang menyeruku. Ia berkata: ‘Sungguh Allah telah mendengar jawaban kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu. Dan sungguh Dia telah mengutus kepadamu malaikat gunung menunggu perintahmu sesuai yang kamu inginkan untuk mereka.’ Malaikat gunung kemudian menyeruku, salam kepadaku, lalu berkata: ‘Wahai Muhammad. Hal ini sesuai yang kamu inginkan. Jika berkenan aku akan jatuhkan kepada mereka dua gunung besar (Abu Qubais dan yang bersebalahan dengannya [Syarah an-Nawawi]).’ Nabi saw malah menjawab: “Justru yang aku inginkan Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang beribadah kepada Allah Yang Esa tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (Shahih al-Bukhari bab idza qala ahadukum amin no. 3231; Shahih Muslim bab ma laqiyan-Nabi saw min adza no. 1795).
Tentunya lebih terasa berat oleh Nabi saw karena saat itu Nabi saw sedang tertekan dan diharuskan memilih antara menjatuhkan siksa untuk penduduk Tha`if dan Makkah ataukah tetap mendo’akan kebaikan untuk mereka. Ternyata Nabi saw memilih untuk tetap mendo’akan yang terbaik untuk mereka. Nabi saw tidak baperan apalagi tantrum. Wal-‘Llahu a’lam



