Batasan Cinta dan Benci karena Allah

Cinta dan benci karena Allah swt adalah mencintai dan membenci mereka yang dicintai dan dibenci Allah, malaikat, dan semua hamba-Nya yang shalih. Mencintai mereka yang dicintai Allah swt bukti keimanan ada dalam hati dan membenci mereka bukti kemunafiqan ada dalam hati. Sebaliknya, membenci mereka yang dibenci Allah swt bukti keimanan ada dalam hati dan mencintai mereka bukti kemunafiqan ada dalam hati.


Shahabat Abu Dzar ra meriwayatkan sabda Nabi saw terkait keharusan mencintai dan membenci karena Allah swt sebagai berikut:

أَفْضَلُ الأَعْمَالِ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ

Seutama-utamanya amal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah (Sunan Abi Dawud bab mujanabah ahlil-ahwa wa bughdlihim no. 4601).
Wujud amalnya sebagaimana riwayat yang dituliskan oleh Imam al-Bukhari dari Anas ibn Malik ra dalam bab “cinta karena Allah” berikut ini:

لَا يَجِدُ أَحَدٌ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ وَحَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang dan ia tidak mencintainya melainkan karena Allah. Kemudian sehingga dicampakkan ke dalam neraka lebih ia cintai daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan Allah. Dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya (Shahih al-Bukhari bab al-hubb fil-‘Llah no. 6041).
Penyandaran cinta fil-‘Llah dijelaskan oleh Yahya ibn Mu’adz (w. 260 H, seorang ulama sufi):

حَقِيقَة الْحُبّ فِي اللَّه أَنْ لَا يَزِيد بِالْبِرِّ وَلَا يَنْقُص بِالْجَفَاءِ

“Hakikat cinta karena Allah itu tidak bertambah karena kebaikan dan tidak berkurang karena ketiadaan perhatian.” (Fathul-Bari bab halawatul-iman).
Artinya cinta yang tulus karena Allah swt tanpa ada prasyarat apapun. Meski seseorang tidak pernah memberi atau sekedar perhatian kepadanya atau bahkan mengenalinya pun tidak, ia tetap mencintainya karena Allah swt. Hati akan senantiasa tulus mencintai Allah dan Rasul-Nya meski sedang ditimpa musibah sekalipun, karena cintanya kepada Allah dan Rasul tidak menuntut persyaratan apapun.
Cinta karena Allah artinya juga mencintai mereka yang dicintai oleh Allah swt. Tandanya adalah mereka yang dicintai oleh hamba-hamba-Nya yang shalih, karena itu pertanda malaikat mencintai orang-orang tersebut, dan itu karena Allah swt sudah memaklumatkan bahwa Dia telah mencintai mereka serta memerintahkan malaikat untuk mencintai mereka. Shahabat Abu Hurairah ra meriwayatkan sabda Nabi saw berikut:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ

Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menyeru Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia.” Jibril pun kemudian mencintainya. Jibril kemudian menyeru penghuni langit: “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia oleh kalian.” Maka penghuni langit pun mencintainya. Kemudian ditetapkan untuknya penerimaan (cinta) di penghuni bumi (Shahih al-Bukhari bab al-miqah minal-‘Llah no. 6040).
Dalam riwayat al-Bazzar dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda:

مَا مِنْ عَبْد إِلَّا وَلَهُ صِيت فِي السَّمَاء فَإِنْ كَانَ حَسَنًا وُضِعَ فِي الْأَرْض وَإِنْ كَانَ سَيِّئًا وُضِعَ فِي الْأَرْض

Tidak ada seorang hamba pun melainkan memiliki penyebutan di langit. Jika itu baik, maka akan diturunkan ke bumi. Jika itu jelek, maka juga akan diturunkan ke bumi (Fathul-Bari).
Penghuni bumi yang dimaksud dalam hadits-hadits di atas tentu bermakna khusus. Mereka adalah hamba-hamba yang diridlai Allah dan malaikat yakni orang-orang shalih. Kecintaan orang-orang shalih kepada seseorang menunjukkan bahwa Allah swt dan malaikat mencintai orang tersebut. Maka tidak ada lagi alasan bagi siapapun yang beriman untuk turut juga mencintai orang-orang yang dicintai Allah, malaikat, dan hamba-hamba yang shalih tersebut, terlepas dari kategori madzhab, suku bangsa, perbedaan usia, parpol, ormas, dan sekat-sekat lainnya yang menjadi pembeda di antara manusia.
Demikian halnya, siapapun orangnya yang dibenci Allah, malaikat, dan hamba-hamba-Nya yang shalih, maka seorang mukmin harus juga ikut membeci mereka terlepas dari adanya persamaan madzhab, golongan, suku bangsa, usia, parpol, ormas, dan aspek-aspek lainnya yang mempersamakan di antara manusia. Hanya tentu kebencian tersebut tidak menyebabkan seorang mukmin menebarkan permusuhan kepada pihak-pihak yang dibenci, melainkan sebatas tidak ada cinta untuk mereka. Hidup rukun meski dengan orang-orang yang dibenci Allah swt itu sudah menjadi bagian dari ajaran Allah swt itu sendiri sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Mumtahanah [60] : 8-9.
Maksud cinta Allah, malaikat, dan manusia kepada seseorang yang dicintai itu dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar sebagai berikut:

وَالْمُرَاد بِمَحَبَّةِ اللَّه إِرَادَة الْخَيْر لِلْعَبْدِ وَحُصُول الثَّوَاب لَهُ، وَبِمَحَبَّةِ الْمَلَائِكَة اِسْتِغْفَارهمْ لَهُ وَإِرَادَتهمْ خَيْر الدَّارَيْنِ لَهُ وَمَيْل قُلُوبهمْ إِلَيْهِ لِكَوْنِهِ مُطِيعًا لِلَّهِ مُحِبًّا لَهُ، وَمَحَبَّة الْعِبَاد لَهُ اِعْتِقَادهمْ فِيهِ الْخَيْر وَإِرَادَتهمْ دَفْع الشَّرّ عَنْهُ مَا أَمْكَنَ

Yang dimaksud cinta Allah adalah menghendaki kebaikan untuk hamba tersebut dan memberinya pahala; cinta malaikat adalah istighfar mereka untuknya dan permohonan untuk kebaikan di dua negeri untuknya, termasuk kecondongan hati malaikat kepadanya karena hamba tersebut taat dan cinta kepada Allah; dan cinta manusia adalah keyakinan mereka yang selalu baik kepadanya dan upaya mereka untuk menghilangkan gangguan darinya semaksimal mungkin (Fathul-Bari).
Membenci mereka yang dicintai Allah, malaikat, dan hamba-hamba-Nya yang shalih termasuk kemunafiqan sebagaimana disinggung Allah swt dalam surat al-Munafiqun [63] : 7-8. Orang-orang munafiq disebut oleh Allah swt sebagai orang-orang yang menghasut kaum muslimin untuk membenci kaum Muhajirin karena mereka sudah menyusahkan orang-orang Madinah. Hasutan dan kebencian itu menyebabkan mereka divonis sebagai munafiq oleh Allah swt dan menjadi sababun-nuzul turunnya surat al-Munafiqun secara utuh.
Dalam ayat lain Allah swt menjelaskan:

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيْئاًۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ 

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan (QS. Ali ‘Imran [3] : 120).
Maka siapa pun orangnya yang senang menebar kebencian atau hasutan untuk membenci kaum muslimin yang berbeda madzhab, ormas, parpol, atau lainnya padahal jelas mereka adalah orang-orang yang shalih dan ahli ibadah, berarti orang tersebut sudah tidak mencintai dan membenci karena Allah swt. Orang tersebut masih bersemayam dalam hatinya sifat-sifat munafiq. Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.