Peringatan Gempa Bumi dalam al-Qur`an

Al-Qur`an banyak mengingatkan dalam berbagai ayatnya bahwa Allah swt sangat mudah mendatangkan adzab berupa gempa bumi tanpa bisa diprediksi sebelumnya oleh manusia. Gempa bumi itu adzab bagi orang-orang durhaka di sekitar area gempa. Tetapi bagi orang-orang beriman yang terkena dampaknya gempa bumi adalah ujian untuk menaikkan status keberimanan mereka. Sementara bagi orang-orang yang tidak terdampak menjadi peringatan untuk selalu takut kepada Allah swt sekaligus ujian sejauh mana kepekaan hati untuk membantu sesama.

Secara khusus al-Qur`an mengingatkan kemudahan Allah swt untuk mendatangkan gempa melalui ayat-ayat yang menyebut khasafa. Makna asal khasafa adalah menghilang, terbenam, atau tenggelam. Gerhana matahari dan bulan misalnya disebut khusuf oleh Nabi saw karena menghilang. Jika tertuju ke tanah atau bumi berarti menghilang dan tenggelam. Fenomena ini biasa disebut liquifaksi dimana tanah terasa seperti cairan (liquid) saking lunaknya dan menenggelamkan segala sesuatu yang ada di atasnya. Liquifaksi adalah dampak yang terjadi akibat gempa bumi. Meski bukan itu saja maknanya, sebab ayat yang menyebut khasafa bisa juga bermakna tenggelam ke dalam bumi akibat longsor atau tertutup semburan gunung meletus ataupun sebab yang lainnya.

أَفَأَمِنَ ٱلَّذِينَ مَكَرُواْ ٱلسَّيِّئَاتِ أَن يَخۡسِفَ ٱللَّهُ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضَ أَوۡ يَأۡتِيَهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَشۡعُرُونَ  ٤٥

Maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari? (QS. an-Nahl [16] : 45)

أَفَأَمِنتُمۡ أَن يَخۡسِفَ بِكُمۡ جَانِبَ ٱلۡبَرِّ أَوۡ يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗا ثُمَّ لَا تَجِدُواْ لَكُمۡ وَكِيلًا  ٦٨

Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kamu? (QS. al-Isra` [17] : 68. Ayat yang sama terdapat juga dalam QS. al-Mulk [67] : 16).

Di antara yang Allah swt tenggelamkan ke dalam bumi itu adalah Qarun dan segenap harta yang dimilikinya (QS. al-Qashash [28] : 81-82). Demikian juga kaum Nabi Luth as yang dikenal sebagai kaum homoseks. Bahkan kaum Nabi Luth as disiksa sekaligus dengan gempa dan hujan batu. Mungkin sebagaimana gunung meletus pada zaman sekarang (QS. Hud [11] : 82 dan al-Hijr [15] : 74). Bagi yang tidak terdampak sudah seyogianya semua peristiwa itu menjadi peringatan:

فَكُلًّا أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ  ٤٠

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS. al-‘Ankabut [29] : 40).

أَفَلَمۡ يَرَوۡاْ إِلَىٰ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِن نَّشَأۡ نَخۡسِفۡ بِهِمُ ٱلۡأَرۡضَ أَوۡ نُسۡقِطۡ عَلَيۡهِمۡ كِسَفٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ  ٩

Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya) (QS. Saba` [34] : 9. Ayat semakna terdapat dalam QS. al-‘Ankabut [29] : 40).

Dalam semua ayat di atas dan juga ayat-ayat lainnya yang menyinggung musibah secara umum, Allah swt konsisten menyebutkan bahwa itu semua Allah swt turunkan sebagai bentuk siksa atas perbuatan zhalim manusia. Akan tetapi tentu tidak semua orang zhalim akan mendapatkan siksa di dunia, karena Allah swt Maha Rahman dan Rahim sehingga masih mengampuni sebagian besarnya. Musibah itu diturunkan hanya sebagai peringatan agar manusia tidak sewenang-wenang. Seandainya semuanya disiksa akibat perbuatan dosanya tentu tidak akan tersisa satu makhluk pun yang hidup di dunia ini, dan Allah swt yang Maha Pengampun tidak menghendaki itu.

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٖ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٖ  ٣٠

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS. as-Syura` [42] : 30).

وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلۡمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيۡهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَئْخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ  ٦١

Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya (QS. an-Nahl [16] : 61. Ayat semakna terdapat dalam QS. al-Kahfi [18] : 58 dan Fathir [35] : 45).

Khusus untuk orang-orang beriman, musibah yang Allah swt turunkan bertujuan untuk mempertebal kesabaran mereka sehingga mereka berhak mendapatkan tiga anugerah sekaligus; shalawat (kesejahteraan), rahmat (anugerah kenikmatan dan ampunan), dan hidayah (kehidupan yang lurus).

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ  ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ  ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ  ١٥٧

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. al-Baqarah [2] : 155-157).

Para Nabi sendiri adalah orang-orang yang selalu mendapatkan musibah bahkan lebih besar daripada orang-orang biasa. Hal itu disebabkan status keimanan mereka yang lebih tinggi daripada orang-orang biasa. Nabi saw bersabda:

إِنَّا مَعَاشِر الْأَنْبِيَاء يُضَاعَف لَنَا الْبَلَاء كَمَا يُضَاعَف لَنَا الْأَجْر

Kami sekalian para Nabi dilipatgandakan cobaan bagi kami sebagaimana dilipatgandakan pahala bagi kami (Fathul-Bari mengutip riwayat Abu Ya’la dari Abu Sa’id).

Ketika Nabi saw sakit sangat parah, Ibn Mas’ud ra sempat menengok dan berdialog ringan:

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُوعَكُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قُلْتُ ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ ذَلِكَ كَذَلِكَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Aku masuk ke rumah Rasulullah saw ketika beliau sakit parah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh anda sakit parah sekali.” Beliau menjawab: “Benar, aku sakit parah dua kali lipat seperti sakitnya dua orang dari kalian.” Aku berkata: “Itu karena anda akan mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab: “Benar. Demikianlah, tidak ada seorang muslim pun yang terkena sakit baik itu tertusuk duri atau yang lebih kecil dari itu melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya sebagai pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (Shahih al-Bukhari bab asyaddun-nas bala`an al-anbiya no. 5648).

Maka dari itu tidak sepatutnya jika satu musibah menimpa orang-orang shalih kemudian muncul ucapan-ucapan kasar kepada mereka bahwa itu siksa buat mereka akibat kezhaliman mereka. Siksa atas kezhaliman itu cukup untuk menjadi peringatan bagi diri sendiri saja. Orang-orang shalih yang terdampak musibah justru sedang dinaikkan derajatnya menjadi orang-orang yang sabar dan akan mendapatkan shalawat, rahmat, dan hidayah Allah swt, sehingga layak mendapatkan simpati dan uluran bantuan dari orang-orang shalih lainnya. Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *