Shalat Tidak Menoleransi Umpatan Kasar

Perkembangan media sosial yang semakin maju berdampak negatif pada semakin masifnya umpatan-umpatan kasar hadir di tengah-tengah masyarakat. Umumnya hal itu dilakukan oleh masyarakat yang rendah status sosialnya. Akan tetapi hari ini ditambah juga oleh pemimpin negeri ini dan selalu ditertawakan bahkan diberi tepuk tangan oleh para petinggi negeri yang hadir. Hal ini menjadi sebuah pembenaran atas akhlaq busuk yang semestinya dibenci dan dijauhi. Padahal Islam sudah menyediakan benteng untuk mencegah akhlaq-akhlaq busuk yakni shalat. Pembenaran atas umpatan-umpatan kasar pertanda yang jelas hilangnya nilai shalat dalam kehidupan.
Shalat Tidak Menoleransi Umpatan Kasar
Dari sejak bangku kelas SD setiap anak sudah diajarkan bahwa shalat mencegah perbuatan fahsya dan munkar. Ayat al-Qur`an yang menegaskan hal itu bahkan sudah sama-sama dihafal dari sejak dini.
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) fahsya dan munkar (QS. al-‘Ankabut [29] : 44).
Terkait ayat di atas, al-Hafizh Ibn Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya:
يَعْنِي: أَنَّ الصَّلَاةَ تَشْتَمِلُ عَلَى شَيْئَيْنِ: عَلَى تَرْكِ الْفَوَاحِشِ وَالْمُنْكَرَاتِ، أَيْ: إِنَّ مُوَاظَبَتَهَا تَحْمِلُ عَلَى تَرْكِ ذَلِكَ. وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ رِوَايَةِ عِمْرَانَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: “مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
Yakni bahwasanya shalat mencakup dua hal; menjauhkan perbuatan-perbuatan fahsya dan munkar, sebab sungguh merutinkan shalat akan menjadikan seseorang mampu meninggalkan perbuatan buruk itu. Sungguh telah ada dalam hadits dari riwayat ‘Imran dan Ibn ‘Abbas secara marfu’ (dari Nabi saw): “Siapa yang shalatnya tidak menjauhkannya dari fahsya dan munkar, maka tidak akan menambahnya dari Allah selain semakin jauh.” (Tafsir Ibn Katsir).
Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an menjelaskan:
الفُحْشُ والفَحْشَاءُ والفَاحِشَةُ: ما عظم قبحه من الأفعال والأقوال
Fuhsy, fahsya, dan fahisyah adalah perbuatan atau perkataan yang sangat buruk (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 626).
والمُنْكَرُ: كلُّ فِعْلٍ تحكُم العقولُ الصحيحةُ بقُبْحِهِ، أو تتوقَّفُ في استقباحِهِ واستحسانه العقولُ، فتحكم بقبحه الشّريعة
Munkar adalah setiap perbuatan yang dihukumi jelek oleh akal sehat, atau penentuan buruk dan baiknya didasarkan pada akal, sehingga syari’at pun menghukuminya buruk (al-Mufradat fi Gharibil-Qur`an, hlm. 823).
Jadi titik tekan fahsya di kadar “sangat” buruknya baik menurut syari’at atau akal sehat, sementara titik tekan munkar di pertimbangan buruk berdasarkan pertimbangan “akal sehat”-nya yang tentunya dinilai buruk juga oleh syari’at. Dengan kata lain fahsya dan munkar tidak perlu repot-repot merujuk pada syari’at, karena berdasarkan pertimbangan akal sehat pun sudah dinilai buruk, bahkan sangat buruk, dan sudah pasti harus dijauhi.
Imam al-Bukhari secara khusus menyoroti tema fahsya dalam kitab Shahihnya dengan merujuk hadits bahwa Nabi saw bukan seorang fahisy atau mutafahhisy.
عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ إِلَى الْكُوفَةِ فَذَكَرَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا
Dari Masruq, ia berkata: Kami masuk menemui ‘Abdullah ibn ‘Amr ketika ia datang bersama Mu’awiyah ke Kufah. Ia menceritakan Rasulullah saw dengan berkata: “Beliau bukan orang yang terbiasa dan memaksakan diri berkata kasar.” Ia juga berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sungguh di antara orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya.” (Shahih al-Bukhari kitab al-adab bab lam yakunin-Nabiy saw fahisyan wa la mutafahhisyan no. 6029. Ditulis juga dalam kitab al-manaqib bab shifatin-Nabiy saw no. 3559)
Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan:
وَالْفُحْش كُلّ مَا خَرَجَ عَنْ مِقْدَاره حَتَّى يُسْتَقْبَح، وَيَدْخُل فِي الْقَوْل وَالْفِعْل وَالصِّفَة، لَكِنْ اِسْتِعْمَاله فِي الْقَوْل أَكْثَر. وَالْمُتَفَحِّش بِالتَّشْدِيدِ الَّذِي يَتَعَمَّد ذَلِكَ وَيُكْثِر مِنْهُ وَيَتَكَلَّفهُ
Al-Fuhsy adalah semua yang keluar dari kadar yang wajar sehingga dinilai jelek. Berlaku untuk perkataan, perbuatan, dan sifat. Tetapi lebih banyak diberlakukan dalam perkataan. Sedangkan mutafahhisy—dengan tasydid huruf ha—adalah orang yang menyengajakan melakukan itu, menyeringkannya, dan memaksakan diri untuk berbuat itu.
Dalam bab shifatin-Nabiy saw yang dituliskan oleh Imam al-Bukhari di kitab al-manaqib, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan maksud hadits di atas sebagai berikut:
أَيْ نَاطِقًا بِالْفُحْشِ وَهُوَ الزِّيَادَة عَلَى الْحَدّ فِي الْكَلَام السَّيِّئ، وَالْمُتَفَحِّش الْمُتَكَلِّف لِذَلِكَ, أَيْ لَمْ يَكُنْ لَهُ الْفُحْش خُلُقًا وَلَا مُكْتَسِبًا
Yaitu orang yang berkata fuhsy, yakni yang melebihi batas dalam perkataan jelek. Sedangkan mutafahhisy yang memaksakan diri berbuat demikian. Jadi maksudnya, berkata kasar itu tidak menjadi kebiasaan, tidak juga diupayakan.
Lebih jelasnya, al-Hafizh ketika menjelaskan hadits di atas menukilkan riwayat-riwayat lain yang semakna untuk memperjelas maksud akhlaq Nabi saw tersebut. Di antaranya dari ‘Aisyah ra ketika ia ditanya tentang akhlaq Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:
لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا فِي الْأَسْوَاق وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَح
Beliau bukan orang yang terbiasa dan memaksakan diri berkata kasar, bukan orang yang suka berteriak keras di pasar, tidak pernah membalas dengan kejelekan, tetapi memaafkan dan membiarkan (Sunan at-Tirmidzi bab khuluqin-Nabi saw no. 2016).
‘Aisyah ra sendiri pernah mengalaminya, sebagaimana dituliskan riwayatnya dalam Shahih al-Bukhari masih dalam bab tentang Nabi saw bukan orang yang fahisy dan mutafahhisy:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ يَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ ﷺ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ عَلَيْكُمْ وَلَعَنَكُمْ اللَّهُ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ قَالَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ وَالْفُحْشَ قَالَتْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ
Dari ‘Aisyah ra: Sungguh ada beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi saw dan berkata: “as-Sam ‘alaikum (kebinasaan untukmu—bukan as-salamu ‘alaikum).” ‘Aisyah lalu menimpali: “Bagi kalian saja, dan Allah pasti melaknat kalian, juga murka kepada kalian.” Beliau malah menegurnya: “Tenang hai ‘Aisyah. Kamu harus tetap santun. Jauhi olehmu sikap kasar dan perkataan kotor.” ‘Aisyah menjawab: “Tidakkah anda dengar apa yang mereka katakan?” Beliau bersabda: “Tidakkah juga kamu mendengar apa yang aku katakan. Aku telah mengembalikannya kepada mereka—dengan menjawab: wa ‘alaikum. Maka pasti akan diijabah untukku do’a kepada mereka, dan tidak akan diijabah untuk mereka laknatnya kepadaku.” (Shahih al-Bukhari kitab al-adab bab lam yakunin-Nabiy saw fahisyan wa la mutafahhisyan no. 6030).
Masih dalam bab yang sama, ketika Nabi saw kedatangan tamu orang yang buruk akhlaqnya—ada riwayat yang menyebut ia adalah ‘Uyainah ibn Hishn, ada juga Makhramah ibn Naufal (Fathul-Bari)—Nabi saw di dalam rumahnya di hadapan ‘Aisyah mengatakan: “Bi`sa akhul-‘asyirah wa bi`sa ibnul-‘asyirah; sejelek-jeleknya saudara bagi satu keluarga dan sejelek-jeleknya anak sebuah keluarga.” Tetapi ketika Nabi saw menghadapinya beliau malah bertutur kata dengan lembut dan bermuka ceria. Selepas tamu itu pergi, ‘Aisyah langsung saja bertanya mengapa Nabi saw bersikap demikian. Nabi saw menjawab:
يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ
“Wahai ‘Aisyah, kapan kamu menemukan aku berkata kasar!? Sungguh orang yang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang orang lain meninggalkannya karena takut dari kejelekannya.” (Shahih al-Bukhari kitab al-adab bab lam yakunin-Nabiy saw fahisyan wa la mutafahhisyan no. 6032).
Catatan Nabi saw dalam hadits di atas: “Orang yang orang lain meninggalkannya karena takut dari kejelekannya” terkait akhlaq fahsya di atas sudah seharusnya diperhatikan oleh seluruh pejabat dan politisi negeri ini. Umpatan-umpatan kasar dari pemimpin negeri ini sudah seharusnya dikoreksi dan dinasihati agar dihentikan, bukannya ditertawakan bahagia apalagi ditambah tepuk tangan. Sudah serendah itukah standar akhlaq para petinggi negeri ini!? Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.



