Nabi Yusuf as Hampir Terjerat Cinta Haram

Sebagai anak muda yang tampan, gagah, dan hidup di lingkaran ibu-ibu pejabat, Nabi Yusuf as tidak bisa menolak hatinya untuk terjebak dalam cinta haram. Akan tetapi mata hatinya yang masih tajam melihat burhan (dalil-dalil yang kuat) mampu menyelamatkannya dari jeratan cinta haram istri-istri pejabat terjebut. Sebuah teladan mulia untuk kaum lelaki agar mampu mengendalikan hatinya dari cinta haram, sekaligus peringatan bagi kaum perempuan untuk tidak mudah membuka hati kepada setiap lelaki pujaan hati.

Cinta memang buta. Seringkali tidak memperhatikan halal-haram, baik-buruk, dan pantas-tidak pantas. Ukurannya hanya cinta, senang, suka, dan memuja. Faktor agama dan norma seringkali diabaikan. Tayangan-tayangan drama online yang membanjiri kehidupan masyarakat turut mengubah budaya masyarakat untuk tidak mengikatkan diri dengan norma dan agama dalam hal mencintai. Mayoritas drama yang mudah diakses lewat gadget tersebut mendidik penontonnya untuk berani melawan norma dan agama, pokoknya mencintai saja. Titik.

Al-Qur`an sudah menggugah kaum beriman untuk tidak menurut begitu saja pada cinta. Harus ada rem hati dengan mata hati yang tajam melihat burhan (dalil yang kuat). Kaum lelaki ataupun perempuan tidak sepantasnya berdalih dengan “mencintai” saja dan berkilah dengan hati yang tidak bisa direm dari mencintai. Yang benar tentu bisa dan harus direm dengan mata hati yang tajam melihat burhan Allah swt.

Secara khusus untuk kaum ibu-ibu yang potensi untuk mencintai lelaki muda, tampan, gagah, apalagi terkenal, sangat besar, mata hatinya harus semakin tajam. Apalagi ibu-ibu tersebut sudah mapan secara ekonomi sehingga selalu merasa mampu mewujudkan apa yang dikehendaki. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya bagi kaum lelaki yang sudah mapan secara ekonomi dan kedudukan dari mencintai perempuan muda dan cantik di luar istrinya. Demikian halnya secara khusus kepada kaum lelaki muda yang hidup di lingkungan kaum perempuan yang mapan, cantik, dan sudah bersuami. Potensi untuk terjerat cinta haramnya akan sangat besar. Hal yang sama berlaku sebaliknya bagi kaum perempuan muda dan cantik yang hidup di dekat kaum lelaki mapan, potensi untuk terjebak cinta haram di luar nikahnya sangat besar. Ungkapannya pun sudah cukup populer: “Selingkuh itu indah.” Untuk itulah Allah swt mengabadikan kisah “cinta haram” Nabi Yusuf as dengan cukup detail dalam al-Qur`an.

وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ  ٢٣

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini“. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik“. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS. Yusuf [12] : 23).

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ  ٢٤

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (burhan) dari Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (QS. Yusuf [12] : 24).

Ayat terakhir jelas menyebutkan bahwa Nabi Yusuf as juga lelaki normal. Ia tidak memungkiri nafsunya sendiri bahwa ia juga tertarik oleh rayuan perempuan majikannya tersebut. Akan tetapi mata hatinya masih kuat melihat burhan dari Allah swt sehingga ia mampu berpaling dari perbuatan asusila. Demikianlah akhlaq hamba-hamba Allah yang terpilih. Mereka bukan orang-orang yang tidak ada nafsu kepada lawan jenis sama sekali. Nafsu itu pastinya ada, tetapi mata hati mereka selalu tajam melihat burhan dari Allah swt sehingga tetap mampu mengendalikan diri.

Burhan sebagaimana dijelaskan ar-Raghib al-Ashfahani bermakna: bayan lil-hujjah; penjelasan argumentatif. Kedudukannya menurut ar-Raghib: aukadul-adillah; dalil yang paling kuat. Imam Ibn Katsir dengan mengutip penjelasan Ibn Jarir at-Thabari menjelaskan maksud burhan dalam ayat surat Yusuf di atas:

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَالصَّوَابُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ رَأَى مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَا زَجَرَهُ عَمَّا كَانَ هَمَّ بِهِ، وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ صُورَةَ يَعْقُوبَ، وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ صُورَةَ الْمَلِكِ، وَجَائِزٌ أَنْ يَكُونَ مَا رَآهُ مَكْتُوبًا مِنَ الزَّجْرِ عَنْ ذَلِكَ. وَلَا حُجَّةَ قَاطِعَةٌ عَلَى تَعْيِينِ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، فَالصَّوَابُ أَنْ يُطْلَقَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى

Ibn Jarir berkata: “Yang benar kesimpulannya, ia (Yusuf) melihat ayat-ayat Allah yang menegurnya dari apa yang ia inginkan. Mungkin itu gambaran Nabi Ya’qub as, malaikat, atau ayat-ayat yang melarang asusila. Tidak ada argumentasi untuk memastikan salah satunya. Yang benar mencakup semuanya sebagaimana difirmankan Allah swt secara muthlaq (tidak spesifik) (Tafsir Ibn Katsir).

Ketika godaan tersebut datang lagi, kali ini dengan ancaman dihukum penjara, Nabi Yusuf as yang sudah tajam melihat burhan Allah swt pun lebih memilih sengsara hidup di penjara daripada harus melayani nafsu wanita-wanita bejat moral dan asusila.

۞وَقَالَ نِسۡوَةٞ فِي ٱلۡمَدِينَةِ ٱمۡرَأَتُ ٱلۡعَزِيزِ تُرَٰوِدُ فَتَىٰهَا عَن نَّفۡسِهِۦۖ قَدۡ شَغَفَهَا حُبًّاۖ إِنَّا لَنَرَىٰهَا فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ  ٣٠ 

Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri Al Aziz (pejabat negara) menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata” (QS. Yusuf [12] : 30).

 

فَلَمَّا سَمِعَتۡ بِمَكۡرِهِنَّ أَرۡسَلَتۡ إِلَيۡهِنَّ وَأَعۡتَدَتۡ لَهُنَّ مُتَّكَئًا وَءَاتَتۡ كُلَّ وَٰحِدَةٖ مِّنۡهُنَّ سِكِّينٗا وَقَالَتِ ٱخۡرُجۡ عَلَيۡهِنَّۖ فَلَمَّا رَأَيۡنَهُۥٓ أَكۡبَرۡنَهُۥ وَقَطَّعۡنَ أَيۡدِيَهُنَّ وَقُلۡنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٞ كَرِيمٞ  ٣١

Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka“. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” (QS. Yusuf [12] : 31).

 

قَالَتۡ فَذَٰلِكُنَّ ٱلَّذِي لُمۡتُنَّنِي فِيهِۖ وَلَقَدۡ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفۡسِهِۦ فَٱسۡتَعۡصَمَۖ وَلَئِن لَّمۡ يَفۡعَلۡ مَآ ءَامُرُهُۥ لَيُسۡجَنَنَّ وَلَيَكُونٗا مِّنَ ٱلصَّٰغِرِينَ  ٣٢

Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina” (QS. Yusuf [12] : 32).

 

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجۡنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِۖ وَإِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّي كَيۡدَهُنَّ أَصۡبُ إِلَيۡهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ  ٣٣

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. Yusuf [12] : 33).

 

Sebuah teladan bahwa adakalanya hidup akan disengsarakan akibat tidak memilih jalan asusila. Akan tetapi itu harus menjadi pilihan siapa pun yang masih memiliki mata hati agar tetap menjadi hamba-Nya yang terpilih. Hidup sengsara menahan nafsu lebih baik karena nantinya akan berujung dengan kebaikan, daripada hidup nikmat dengan mengumbar nafsu yang hanya akan berujung pada keburukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.