Pendidikan Bukan Untuk Menaikkan Status Sosial

Sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa mayoritas masyarakat menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk menaikkan status sosial; dari yang semula bodoh menjadi pintar, dari miskin menjadi kaya, dari rakyat jelata menjadi pejabat, dari rendah menjadi tinggi, dan dari tidak terpandang menjadi terpandang. Dampaknya fokus pendidikan menjadi duniawi. Bukan untuk menjadikan orang shalih, berakhlaq mulia, dan berilmu yang menjadi perantara takut kepada Allah swt.
Nabi Muhammad saw sebagai figur manusia paling mulia disebutkan Al-Qur’an tidak memiliki status sosial yang tinggi di kalangan masyarakatnya. Bukan orang kaya, tokoh politik, atau orang terpandang karena kepintarannya, melainkan hanya seorang rakyat jelata, meski mapan secara ekonomi tetapi tidak sampai kaya, dan tidak terpandang sebagai orang pintar atau berpengaruh besar sebagaimana tokoh politik dan figur publik pada umumnya.
Maka dari itu banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan protes dari masyarakat Arab mengapa harus Muhammad saw yang menjadi Nabi, bukan orang lain yang secara status sosial lebih baik daripada beliau.
وَقَالُوا۟ لَوۡلَا نُزِّلَ هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلࣲ مِّنَ ٱلۡقَرۡیَتَیۡنِ عَظِیمٍ
Dan mereka (juga) berkata: “Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Makkah dan Tha’if)?” (QS. az-Zukhruf [43] : 31)
Ibn ‘Abbas ra, sebagaimana dikutip riwayat-riwayatnya oleh al-Hafizh Ibn Katsir, menjelaskan bahwa yang masyarakat Arab inginkan untuk menjadi Nabi harusnya al-Walid Ibn al-Mughirah (ayah Khalid Ibn al-Walid), orang yang secara status sosial paling tinggi di Makkah waktu itu mencakup kekayaan, kepintaran, ketenaran, dan kecakapan dalam kepemimpinan politik. Atau tokoh terpandang dari Tha’if seperti Urwah ibn Mas’ud atau Mas’ud ibn ‘Amr ats-Tsaqafi. Mereka kecewa yang menjadi Nabi adalah Muhammad saw karena menilai beliau tidak memiliki status sosial yang layak untuk itu.
Maka dari itu Allah swt membantah balik logika salah mereka:
{ أَهُمۡ یَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَهُم مَّعِیشَتَهُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضࣲ دَرَجَـٰتࣲ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضࣰا سُخۡرِیࣰّاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَیۡرࣱ مِّمَّا یَجۡمَعُونَ }
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (QS. az-Zukhruf [43] : 32).
وَلَوۡلَاۤ أَن یَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةࣰ وَ ٰحِدَةࣰ لَّجَعَلۡنَا لِمَن یَكۡفُرُ بِٱلرَّحۡمَـٰنِ لِبُیُوتِهِمۡ سُقُفࣰا مِّن فِضَّةࣲ وَمَعَارِجَ عَلَیۡهَا یَظۡهَرُونَ
وَلِبُیُوتِهِمۡ أَبۡوَ ٰبࣰا وَسُرُرًا عَلَیۡهَا یَتَّكِـُٔونَ (٣٤) وَزُخۡرُفࣰاۚ وَإِن كُلُّ ذَ ٰلِكَ لَمَّا مَتَـٰعُ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۚ وَٱلۡـَٔاخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُتَّقِینَ (٣٥)
Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), pastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, loteng-loteng rumah mereka dari perak, demikian pula tangga-tangga yang mereka naiki, dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka, dan (begitu pula) dipan-dipan tempat mereka bersandar, dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan dari emas. Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (QS. az-Zukhruf 43 : 33-35)
Ayat-ayat di atas membantah dengan tegas bahwa status sosial yang berbeda-beda itu bukan hasil upaya manusia, melainkan murni atas kehendak Allah swt. Dalam konteks pendidikan, tidak bisa serta merta pendidikan menaikkan status sosial, jika Allah swt tidak berkehendak. Manusia itu hanya ditugaskan untuk beribadah dan mengejar akhirat. Kegiatan pendidikan termasuk beribadah itu sendiri, tujuannya harus akhirat. Hanya rumus sederhananya, jika akhirat yang dikejar maka dunia otomatis akan mengikuti. Bukan mengejar dunia yang otomatis akan melupakan akhirat. Tetapi kejar akhirat sehingga otomatis dunia itu diraih, meski tentunya tetap akan mengikuti kehendak Allah swt. Itulah mengapa Allah swt menyebutkan dalam ayat-ayat di atas bukan rumah mewah dan perhiasannya yang harus dijadikan standar kemuliaan sosial seseorang, melainkan sejauh mana kepeduliannya terhadap akhirat. Meskipun Allah swt sangat mungkin menjadikan semua manusia memiliki rumah mewah dengan segenap perhiasannya agar semuanya kafir sekalian, tetapi itu tidak Allah swt kehendaki, karena sebagiannya pasti ada yang akan tunduk dengan lebih mementingkan akhirat. Penegasan Allah swt: “Sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa,” inilah yang harus menjadi target; menjadi orang bertaqwa dengan menempatkan akhirat sebagai tujuan utama.
Protes atas status sosial rendah Nabi Muhammad saw itu merupakan akhlaq umum orang-orang kafir kepada para Nabi mereka, sebab selain Nabi Sulaiman as, mayoritas Nabi lahir dalam status sosial yang rendah dan tidak pernah menjadi tinggi secara duniawi. Dikecualikan Nabi Dawud as yang asalnya seorang rakyat biasa sebagaimana pemimpinnya, Thalut, tetapi kemudian menjadi raja Bani Israil.
وَقَالُوا۟ مَالِ هَـٰذَا ٱلرَّسُولِ یَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ وَیَمۡشِی فِی ٱلۡأَسۡوَاقِ لَوۡلَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مَلَكࣱ فَیَكُونَ مَعَهُۥ نَذِیرًا (٧) أَوۡ یُلۡقَىٰۤ إِلَیۡهِ كَنزٌ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةࣱ یَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ وَقَالَ ٱلظَّـٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلࣰا مَّسۡحُورًا (٨)
Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia, atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau (mengapa tidak ada) kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari(hasil)nya?” Dan orang-orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (QS. Al-Furqan [25] : 7-8).
أَءُنزِلَ عَلَیۡهِ ٱلذِّكۡرُ مِنۢ بَیۡنِنَاۚ بَلۡ هُمۡ فِی شَكࣲّ مِّن ذِكۡرِیۚ بَل لَّمَّا یَذُوقُوا۟ عَذَابِ
“Mengapa Alquran itu diturunkan kepada Dia di antara kita? Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Alquran-Ku, tetapi mereka belum merasakan azab(-Ku).” (QS. Shad [38] : 8)
وَنَادَىٰ فِرۡعَوۡنُ فِی قَوۡمِهِۦ قَالَ یَـٰقَوۡمِ أَلَیۡسَ لِی مُلۡكُ مِصۡرَ وَهَـٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَـٰرُ تَجۡرِی مِن تَحۡتِیۤۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ (٥١) أَمۡ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡ هَـٰذَا ٱلَّذِی هُوَ مَهِینࣱ وَلَا یَكَادُ یُبِینُ (٥٢) فَلَوۡلَاۤ أُلۡقِیَ عَلَیۡهِ أَسۡوِرَةࣱ مِّن ذَهَبٍ أَوۡ جَاۤءَ مَعَهُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ مُقۡتَرِنِینَ (٥٣)
Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat? Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” (QS. az-Zukhruf [43] : 51-53).
Berkaca dari ayat-ayat di atas, maka jika masih ada obsesi menaikkan status sosial dalam diri, itu pertanda masih ada sifat orang kafir dalam hati. Status sosial itu tidak perlu dinaikkan karena tidak penting untuk dinaikkan. Naik dan tidaknya status sosial diserahkan kepada Allah swt semata. Yang harus dinaikkan itu status diri dari yang semula bodoh terhadap Allah swt dan syari’at-Nya menjadi berilmu dan memahami Allah swt dan syari’at-Nya. Yang harus dinaikkan itu status jiwa yang semula tidak beradab menjadi beradab dalam segala halnya. Yang harus dinaikkan itu status hati yang semula tidak takut kepada Allah swt menjadi sangat takut kepada Allah swt. Yang harus dinaikkan itu status amal dari yang semula abai dari keshalihan menjadi rajin beramal shalih dan berbakti kepada keluarga serta masyarakat. Terlepas dari status sosial yang masih miskin, bodoh (tidak berpendidikan tinggi), rakyat jelata, dan tidak terpandang.
Maka dari itu Nabi saw sendiri mengutuk keras orang-orang yang memalingkan niat pendidikan yang semestinya untuk meraih kemuliaan menjadi diperuntukkan meraih bagian duniawi yang rendah.
من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضًا من الدنيا لم يجد عرف الجنة
Barang siapa yang mempelajari ilmu, yang semestinya diniatkan mengharap wajah Allah, tetapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan bagian dunia, maka ia tidak akan mencium wangi surga pada hari kiamat (Al-Mustadrak al-Hakim kitab al-‘ilm bab man ta’allama ‘ilman mimma yabtaghi bihi wajhal-‘Llah no. 264-265)
Tujuan mencari ilmu itu untuk lebih mengenal Allah swt dan semakin takut kepada-Nya sehingga semakin banyak istighfar, bukan agar semakin kaya dan mendapatkan jabatan penting.
فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu (QS. Muhammad [47] : 19).
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ ثَمَرَ ٰتࣲ مُّخۡتَلِفًا أَلۡوَ ٰنُهَاۚ وَمِنَ ٱلۡجِبَالِ جُدَدُۢ بِیضࣱ وَحُمۡرࣱ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَ ٰنُهَا وَغَرَابِیبُ سُودࣱ (٢٧) وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَاۤبِّ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَ ٰنُهُۥ كَذَ ٰلِكَۗ إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ غَفُورٌ (٢٨) إِنَّ ٱلَّذِینَ یَتۡلُونَ كِتَـٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ سِرࣰّا وَعَلَانِیَةࣰ یَرۡجُونَ تِجَـٰرَةࣰ لَّن تَبُورَ (٢٩)
Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi (QS. Fathir [35] : 27-29).
Ayat-ayat terakhir di atas menekankan betapa pentingnya penelitian sains, tetapi tujuannya bukan untuk mengeksploitasi alam atau memperkaya diri dan korporasi, melainkan untuk semakin takut kepada Allah swt; menjadikan semua yang ada di alam ini tunduk pada kehendak-Nya. Orang-orang berilmu (ulama) seperti ini akan terlihat dalam amal tilawah Al-Qur’an, shalat, dan infaq yang semakin meningkat. Meski secara status sosial, tidak dijamin meningkat, tetapi mereka dijamin Allah swt tidak akan menjadi orang-orang yang rugi dalam kehidupan di dunianya.
Siapapun orangnya pasti akan berurusan dengan pendidikan. Maka setiap orang sudah harus berani bertanya kepada dirinya: “Untuk apa saya memilih pendidikan?”. Wal-‘Llahu a’lam.



