Shalat

Mengapa Manusia Butuh Shalat?

Manusia butuh shalat, lebih dari sekadar kewajiban. Unsur ruh yang ada dalam diri manusia membutuhkan untuk senantiasa tersambung dengan Sang Pencipta ruh. Kebutuhan tersebut dapat tersalurkan lewat dialog intens dengan Sang Maha Kuasa. Hati manusia yang selalu rapuh butuh untuk selalu dikuatkan oleh Sang Mahakuat lewat obrolan spiritual rutin. Kelelahan yang sumber utamanya hati, butuh untuk selalu disegarkan lewat kedekatan dengan Sang Pemberi Ketenteraman.

Satu hal yang membedakan ajaran Islam dengan filosofi lainnya adalah keyakinan adanya unsur ruh yang ditiupkan Allah swt ke dalam jasad manusia. Unsur ruh itu sendiri menjadi unsur yang paling menentukan, bukan jasad. Maka baik tidaknya kehidupan seseorang sangat bergantung dari sejauh mana kebaikan ruhnya. Untuk menjaga kualitas ruh agar selalu baik, maka seseorang harus senantiasa terjalin hubungan dengan Sang Peniup ruh. Jalinan hubungan tersebut adanya dalam shalat.

فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ  ٢٩

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS. al-Hijr [15] : 29 dan Shad [38] : 72).

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

Sesungguhnya masing-masing dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu juga (40 hari). Kemudian Allah mengutus malaikat yang diberi perintah dengan empat hal. Difirmankan kepada malaikat itu: “Tulislah amalnya, rizkinya, ajalnya, dan celaka atau bahagianya.” Setelah itu ditiupkan kepadanya ruh (Shahih al-Bukhari kitab bad`il-khalqi bab dzikril-mala`ikat no. 3208; Shahih Muslim kitab al-qadr bab kaifiyyah al-khalqil-adamiy fi bathni ummihi no. 6893).

أَلاَ وَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila dia baik maka akan baik pula seluruh jasad itu, dan apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh jasad itu. Ingatlah, dia itu adalah hati (ruh) (Shahîh al-Bukhâri bab fadli man istabra`a li dinihi no.52 dan bab al-halal bayyinun wa al-haram bayyinun wa bainahuma musytabihatun no.1946; Shahîh Muslim bab akhdzi al-halal wa tarki asy-syubuhat no. 1599).

Hubungan ruh dengan Sang Pencipta ruh akan senantiasa terjalin dengan baik melalui shalat. Tanpa shalat, maka tidak akan ada ikatan ruh dengan Sang Pencipta ruh. Hidup pun akan terasa sempit dan berat.

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ  ١٥٢

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS. al-Baqarah [2] : 152).

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ  ١٤

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha [20] : 14).

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ  ١٢٤

Dan siapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha [20] : 124).

Karena hati manusia, siapa pun itu, sangat rapuh. Dalam kehidupan yang pastinya akan selalu menemukan benturan keras, hatinya tidak akan mungkin kuat menahannya selain harus dengan bergantung kepada Sang Mahakuat. Tetapi Allah swt Sang Mahakuat itu sendiri tidak ridla jika hubungan dengan-Nya hanya bersifat musiman; sewaktu-waktu ketika butuh, datang; kalau tidak sedang butuh, tidak datang. Hubungan yang sangat pragmatis seperti itu tidak mencerminkan kesetiaan dan ketulusan. Maka agar hubungan dengan Allah swt terasa tulus dan setia, mendatangi-Nya untuk mengobrol spiritual harus terjadwal rutin, tidak boleh musiman. Di sinilah maka manusia butuh shalat.

هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ وَفَرِحُواْ بِهَا جَآءَتۡهَا رِيحٌ عَاصِفٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ  ٢٢

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Yunus [10] : 22).

Ayat di atas menegaskan betapa rapuhnya hati manusia. Meski semula merasa bahagia, tetapi ketika tiba-tiba ada marabahaya yang datang, hatinya pasti menjerit membutuhkan perlindungan kepada Zat Mahakuasa. Namun sayang, umumnya manusia malah kemudian melupakan Zat Mahakuasa itu lagi ketika mereka sudah selamat. Itu karena hati mereka tidak tersambung lewat shalat. Di satu sisi fithrahnya pasti membutuhkan Allah swt, tetapi kelalaiannya menjauhkannya lagi dari Allah swt.

فَلَمَّآ أَنجَىٰهُمۡ إِذَا هُمۡ يَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۗ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا بَغۡيُكُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۖ مَّتَٰعَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُكُمۡ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ  ٢٣

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. Yunus [10] : 23).

Manusia sebejat Fir’aun pun hatinya tetap rapuh. Dalam situasi di luar kendalinya, ia tetap menjerit kepada Allah swt. Hanya tentunya model Fir’aun ini jangan ditiru, karena jeritan yang hanya musiman, apalagi di fase akhir kehidupan, tidak mungkin didengar Allah swt karena tidak ada ketulusan. Maka agar hati yang rapuh ini tidak kemudian bejat seperti Fir’aun, dibutuhkan kedekatan yang intens dengan Allah swt, dan itu lewat shalat.

۞وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتۡبَعَهُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَجُنُودُهُۥ بَغۡيٗا وَعَدۡوًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدۡرَكَهُ ٱلۡغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِيٓ ءَامَنَتۡ بِهِۦ بَنُوٓاْ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ  ٩٠ ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ عَصَيۡتَ قَبۡلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ  ٩١

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Yunus [10] : 90-91).

Hati manusia juga sering merasakan lelah dari beratnya menjalani kehidupan. Cara untuk menghilangkan lelah itu adalah dengan bersandar kepada Zat Mahakuat lewat dialog spiritual yang intens. Itulah shalat.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ  ١٥٣

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Baqarah [2] : 153).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw bertanya: “Bagaimana jika ada sungai jernih di dekat pintu rumah kalian lalu ia mandi di sana lima kali sehari, menurut kamu apakah masih akan ada noda di tubuhnya?” Mereka menjawab: “Ia tentu tidak akan menyisakan noda sedikit pun di tubuhnya.” Sabda Nabi saw: “Maka itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah akan menghapuskan dengannya dosa-dosa.” (Shahih al-Bukhari bab as-shalawatul-khams kaffarah no. 528; Shahih Muslim bab al-masyyu ilas-shalat tumhi bihil-khathaya no. 1554).

Hati lelah pasti karena selalu berlumuran dosa. Maka shalat akan membersihkan dan menyegarkannya. Dengan sendirinya hati akan dibuat tenteram, karena hubungan dengan Sang Pencipta ruh terjaga dengan baik. Dosa-dosa pun dipastikan tidak akan melelahkan badan lagi. Di sinilah nyatanya manusia butuh shalat. Wal-‘Llahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button