Menerima Upah dari Membaca al-Waqi’ah dan al-Mulk

Ada seseorang yang sakit meminta dibacakan surat al-Waqi’ah dan al-Mulk. Orang itu kemudian memberikan upah kepada orang yang membacakannya dua surat tersebut. Bagaimana hukum membacakan dua surat tersebut dan bagaimana hukum menerima upahnya? 0813-2446-xxx

Permintaan orang yang sakit itu tentunya didasarkan pada pengetahuannya tentang fadlilah surat al-Waqi’ah dan al-Mulk. Surat al-Mulk disebutkan dalam beberapa hadits dla’if sebagai surat al-munjiyah (yang menyelematkan) karena akan menyelamatkan orang yang hafal surat tersebut dari siksa kubur. Imam at-Tirmidzi yang meriwayatkan hadits tersebut menyebutnya hadits gharib (asing). Imam Ibn Katsir juga menilainya dlla’if dan munkar ketika menjelaskan fadlilah surat ini di pengantar tafsir surat al-Mulk dalam kitab Tafsir Ibn Katsir. Akan tetapi sesuai madzhab yang dianut beliau, menurutnya hadits-hadits tersebut dikuatkan oleh hadits-hadits shahih dan atsar mauquf dari shahabat, di antaranya hadits berikut:

إِنَّ سُورَةً مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ

Sungguh ada satu surat dalam al-Qur`an berjumlah 30 ayat yang akan memberi syafa’at kepada seseorang sampai ia diampuni, yaitu surat Tabarakal-’Lladzi bi yadihil-mulk (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fi fadlli surat al-Mulk no. 2891; Sunan Abi Dawud bab fi ‘adadil-ay no. 1400. Imam at-Tirmidzi, al-Albani, al-Arnauth: Hadits hasan).

Jika untuk surat al-Mulk, al-Hafizh Ibn Katsir ada menyebutkan status dla’if untuk beberapa haditsnya, hal tersebut tidak ditemukan ketika beliau meyajikan hadits-hadits tentang fadlilah al-Waqi’ah yang jika dibaca setiap malam akan membebaskan pembacanya dari kemiskinan. Itu disebabkan beliau menyetujui kehujjahan hadits-hadits tersebut. Meski diketahui ada beberapa cacat dalam sanadnya, madzhab yang dipilih Ibn Katsir adalah hadits-hadits dla’if bisa saling menguatkan terlebih dalam tema fadla`ilul-a’mal; amal-amal tambahan/sunat. Salah seorang pentahqiq Tafsir Ibn Katsir, Syaikh Sami ibn Muhammad Salamah mengutip hasil penelitian Imam az-Zaila’i yang menyimpulkan ada empat cacat dalam sanad-sanad hadits fadlilah surat al-Waqi’ah. Demikian halnya Syaikh Ahmad Syakir yang tidak menilai shahih hadits-hadits keutamaan surat al-Waqi’ah dalam kitab ‘Umdatut-Tafsir.

Hemat kami dalam keadaan seperti yang ditanyakan oleh penanya, tidak salah memenuhi permintaan orang yang sakit untuk membacakan surat al-Waqi’ah dan al-Mulk dengan pertimbangan: Pertama, menghormati pilihannya untuk mengikuti ijtihad madzhab Syafi’i dan secara khusus Imam Ibn Katsir. Kedua, niat pembaca cukup sebatas membacakan al-Qur`an sesuai permintaan pemohon, sebab membacakan al-Qur`an surat apapun, termasuk al-Waqi’ah dan al-Mulk, tetap dihitung amal baik yang dari setiap hurufnya akan dihitung 10 kali lipat.

Perihal mendapatkan upah dari membacakan al-Qur`an dan secara khusus kepada orang sakit sehingga menjadi semacam ruqyah (jampi syar’i) untuk yang sakit, maka hukumnya halal. Kesimpulan ini merujuk pada hadits Abu Sa’id al-Khudri ra yang menceritakan bahwa ketika para shahabat istirahat dari satu perjalanan di satu perkampungan, tiba-tiba ada penduduk kampung itu yang meminta agar pemimpin mereka yang tersengat ular diruqyah. Seorang shahabat kemudian menyanggupinya dan ia meruqyah dengan al-Fatihah. Dengan kehendak Allah swt ternyata orang yang tersengat ular itu sembuh, dan ia kemudian memberi 30 ekor kambing kepada yang membacakan al-Fatihah tersebut. Sesampainya di Madinah para shahabat yang satu rombongan dengannya melaporkan kepada Nabi saw apakah halal upah tersebut, dan ternyata Nabi saw malah bersabda:

وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ

“Darimana ia tahu bahwa al-Fatihah itu ruqyah. Silahkan bagikan (kambing-kambing itu), dan beri aku satu bagian.” (Shahih al-Bukhari bab fadlli fatihatil-kitab no. 5007).

Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *