Larangan Shaum Sunat sebelum Ramadlan

Bagaimana mendudukkan hadits larangan shaum sunat sehari atau dua hari sebelum Ramadlan dalam kaitannya dengan shaum Sya’ban. Apakah itu berarti wajib buka dari shaum Sya’ban? 08966377xxxx
Hadits larangan shaum sunat yang anda maksud adalah sebagai berikut:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Janganlah salah seorang di antara kalian sengaja mendahului Ramadlan dengan shaum satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang sedang shaum satu shaum (yang biasa/harus dilakukannya), hendaklah ia tetap shaum pada hari itu (Shahih al-Bukhari kitab as-shaum bab la yataqaddam Ramadlan bi shaum yaum wa la yaumain no. 1914).
Jadi jelas, Nabi saw mengecualikan shaum sunat yang masyru’ (disyari’atkan) semisal shaum senin kamis, shaum Dawud, shaum qadla, termasuk shaum Sya’ban. Sebab shaum Sya’ban adalah sunnah yang jelas, bahkan dianjurkan diamalkan di masa-masa akhir Sya’ban atau yang Nabi saw sebut surar Sya’ban. Terhadap shahabat yang biasa shaum sunat, tetapi di masa-masa akhir Sya’ban ia malah tidak shaum, Nabi saw memerintahnya untuk mengqadlanya dua hari selepas ‘Idul-Fithri. Ini jadi isyarat bahwa dua hari terakhir dari surar Sya’ban itu dianjurkan shaum, tentunya shaum sunat.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ لَهُ أَوْ لآخَرَ أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ. قَالَ لاَ. قَالَ فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ

Dari ‘Imran ibn Hushain ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya atau kepada orang lain (keraguan muncul dari perawi hadits. Dalam sanad lain disebut dengan tegas: kepada orang lain dan ‘Imran mendengarnya): “Apakah kamu shaum pada surar (akhir) Sya’ban?” Ia menjawab: “Tidak.” Sabda Nabi saw: “Jika kamu sudah selesai (dari shaum Ramadlan), maka shaumlah dua hari (dalam sanad lain disebutkan dengan tegas ‘sebagai gantinya’).” (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shaum surar Sya’ban no. 2808-2810).
Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, hadits larangan shaum di atas berlaku bagi orang yang terlalu ihtiyath (berhati-hati) karena takut sudah masuk Ramadlan, maka ia shaum sehari atau dua hari sebelumnya. Artinya ia sengaja shaum di waktu itu dengan motif “takut sudah masuk Ramadlan”. Jadi larangan shaum dalam hadits di atas itu hakikatnya larangan shaum Ramadlan sebelum masuk Ramadlan. Padahal semestinya, jika masih meragukan, jangan shaum Ramadlan. Hari yang meragukan tersebut harus dihitung akhir Sya’ban, bukan awal Ramadlan dengan niat ihtiyath. Dalam hal ini shahabat ‘Ammar ibn Yasir berkata:

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ

“Siapa yang shaum pada hari yang diragukan, maka sungguh ia telah maksiat kepada Abul-Qasim (Ayahnya Qasim, yakni Nabi Muhammad)—semoga shalawat dan salam tercurah untuknya—.” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw idza ra`aitumul-hilal secara ta’liq; Sunan Abi Dawud no. 2336; Sunan at-Tirmidzi no. 686; Sunan an-Nasa`i no. 2188; Sunan Ibn Majah no. 1645; Musnad Ahmad no. 18915).
Pernyataan ‘Ammar ibn Yasir di atas didasarkan pada perintah Nabi saw agar shaum Ramadlan dimulai ketika hilal terlihat. Jika belum terlihat, meski sudah lewat ijtima’/konjungsi, maka shaum jangan dimulai, tetapi bulatkan dahulu bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Wal-‘Llahu a’lam.