Hukum Lelaki Memakai Cincin Perak

Hukum Lelaki Memakai Cincin Perak

Ustadz bagaimana hukumnya lelaki memakai cincin perak? 08571866-xxx

Hukumnya halal karena cincin Nabi saw pun terbuat dari perak. Yang haram bagi lelaki itu cincin dari emas. Kalau dari perak hukumnya halal. Riwayat tentang cincin Nabi saw itu sendiri ditemukan dua:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ كَتَبَ النَّبِيُّ ﷺ كِتَابًا أَوْ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهُمْ لَا يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Dari Anas ibn Mali ra, ia berkata: Nabi saw menulis atau hendak menulis surat. Lalu dikatakan kepada beliau: “Mereka tidak akan membaca surat kecuali yang distempel.” Maka beliau pun membuat stemple cincin dari perak yang ukirannya ‘Muhammad Rasulullah’ (Shahih al-Bukhari bab ma yudzkaru fil-munawalah no.65).

كَانَ خَاتَمُ رَسُولِ اللهِ ﷺ مِنْ وَرِقٍ وَكَانَ فَصُّهُ حَبَشِيًّا

“Cincin Rasulullah saw terbuat dari perak. Dan mata cincinnya dari Habasyah (‘aqiq).” (Shahih Muslim kitab al-libas waz-zinah bab fi khatamil-wariq fashshuhu habasyiyyan no. 5607).

Terkait dua riwayat di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa bisa jadi Nabi saw memiliki dua cincin; cincin perak yang ada batu ‘aqiq-nya dari Habasyah dan cincin perak murni yang ada ukiran “Muhammad Rasulullah”.

Yang terlarang menggunakan perhiasan dari emas, karena itu khusus untuk perempuan. Status lelaki yang memakai perhiasan emas sama dengan lelaki yang memakai pakaian perempuan, yakni terlaknat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw: “Nabi saw melarang cincin dari emas.” (Shahih al-Bukhari kitab al-libas bab khawatim adz-dzahab no. 5863-5864).

حُرِّمَ لِبَاسُ الحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

Diharamkan pakaian sutera dan emas untuk kaum lelaki umatku dan dihalalkan untuk kaum perempuannya (Sunan at-Tirmidzi kitab abwab al-libas bab ma ja`a fil-harir wadz-dzahab no.1720).

Hal lainnya yang terlarang bagi laki-laki adalah makruh—tidak sampai haram—mengenakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah. Ini berdasarkan pernyataan ‘Ali ra:

نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِى إِصْبَعِى هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِى تَلِيهَا

 “Rasulullah saw melarangku mengenakan cincin di jari ini dan ini.” Kata Abu Burdah: ‘Ali berisyarat pada jari tengah dan yang di sampingnya (Shahih Muslim bab an-nahy ‘anit-takhattum fil-wustha wal-lati taliha no. 5614. Dalam riwayat an-Nasa`i disebutkan jelas jari yang di sampingnya itu jari telunjuk—Sunan an-Nasa`i bab an-nahy ‘anil-khatam fis-sababah no. 5211 dan bab maudli’ul-khatam no. 5286).

Anas ra menyebutkan bahwa Nabi saw biasa memakai cincin di jari manis tangan kirinya:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِىِّ ﷺ فِى هَذِهِ. وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Dari Anas, ia berkata: “Cincin Nabi saw itu dipakainya di sini,sambil berisyarat ke jari manis dari tangan kirinya (Shahih Muslim bab fi labsil-khatam fil-khinshir no. 5610).

Tetapi dalam riwayat lainnya menyebutkan kadang di tangan kanan. Menurut Imam an-Nawawi larangan menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk tidak sampai haram, hanya makruh, sebab larangannya tidak keras dan tidak ada ancaman siksa. Larangan ini jelasnya juga hanya berlaku bagi lelaki, sebab ‘Ali tegas menyebutkan “melarangku” tertuju pada dirinya yang laki-laki. Bagi perempuan ada keleluasaan untuk memakai cincin di jari mana saja (Syarah Shahih Muslim). Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *