Hidup Thayyib Sampai Mati

Di antara ciri taqwa yang harus diraih oleh setiap muslim adalah hidup thayyib sampai mati. Sebab di antara ciri orang bertaqwa adalah orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan thayyib. Itu artinya ia sudah membiasakan thayyib dari sejak hidupnya.


Shaum Ramadlan secara jelas disebutkan Allah swt agar orang-orang beriman menjadi orang-orang yang senantiasa bertaqwa (QS. al-Baqarah [2] : 183). Di antara sekian ciri taqwa tersebut salah satunya disebutkan Allah swt dalam QS. an-Nahl sebagai orang-orang yang hidupnya thayyibin (dalam keadaan baik dan bersih) hingga diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan thayyibin juga.

جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ لَهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَۚ كَذَٰلِكَ يَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلۡمُتَّقِينَ  ٣١ ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ  ٣٢

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) Orang-orang yang diwafatkan “dalam keadaan baik” oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. an-Nahl [16] : 31-32).

Imam at-Thabari (w. 310 H) dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut: Allah ta’ala yang Mahatinggi dzikir-Nya berfirman: Demikianlah Allah membalas kepada orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang dicabut ruh mereka oleh malaikat Allah dalam keadaan thayyib (baik dan bersih) berkat pembersihan Allah kepada mereka dengan kebersihan iman dan kesucian Islam, baik di waktu mereka hidup atau ketika mereka mati (Tafsir at-Thabari QS. an-Nahl [16] : 31-32).

Imam Ibn Katsir (w. 774 H) menjelaskan makna thayyibin dengan ringkas:Thayyibun: Bersih dari syirik, kotoran, dan semua kejelekan (Tafsir Ibn Katsir QS. an-Nahl [16] : 31-32)
Sementara itu Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam kitab tafsirnya, Mafatihul-Ghaib, menjelaskan: Firman-Nya: “Orang-orang yang diwafatkan malaikat” adalah sifat bagi orang-orang bertaqwa dalam firman-Nya: “Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertaqwa”. Dan firman-Nya: “thayyibin” adalah satu kalimat ringkas yang mencakup banyak makna. (Mafatihul-Ghaib QS. an-Nahl [16] : 31-32).

Tidak jauh berbeda, Imam as-Sa’di (w. 1376 H) dalam kitab tafsirnya menjelaskan:
{Orang-orang yang diwafatkan malaikat} dalam keadaan istiqamah pada ketaqwaan mereka {thayyibin} yakni suci bersih dan disucikan dari setiap kekurangan dan kotoran yang mendatangi mereka dan dapat merusak keimanan mereka. Sehingga bersihlah hati mereka dengan ma’rifah kepada Allah dan mencintai-Nya, demikian juga lisan mereka bersih dengan berdzikir kepada-Nya dan menyanjung-Nya, dan tubuh mereka juga bersih dengan ta’at kepada-Nya dan selalu menghadap kepada-Nya (Taisirul-Karimir-Rahman QS. an-Nahl [16] : 31-32).

Harus Istiqamah Sejak di Dunia
Dari empat penjelasan ulama tafsir di atas diketahui bahwa maksud thayyibin yang itu adalah ciri orang bertaqwa adalah orang-orang yang baik dan bersih secara sempurna, mencakup bersih hati, lisan, dan amal. Bersih dari semua kotoran dan noda yang akan merusak keimanannya. Keempat ulama tafsir di atas juga menegaskan keistiqamahan orang-orang yang thayyibin dari sejak hidup sampai mati. Imam Ibn Katsir sendiri mengaitkan ayat dalam QS. an-Nahl ini dengan firman Allah swt dalam QS. Fushshilat sebagai berikut:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ  ٣٠

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat [41] : 30).

Mufassir tabi’in seperti Mujahid, as-Sudi, dan Zaid ibn Aslam menjelaskan bahwa turunnya malaikat dalam ayat di atas adalah ketika mencabut nyawa manusia. Ijtihad dari Imam Ibn Katsir sendiri yang mengaitkannya dengan ayat dalam QS. an-Nahl di atas juga menunjukkan bahwa turunnya malaikat di sini adalah ketika mewafatkan manusia.

Maka dua ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa karakter thayyibin adalah buah istiqamah dari sejak hidup, bukan tiba-tiba datang begitu saja ketika malaikat maut datang hendak mencabut nyawa. Thayyibin itu cerminan dari kebulatan tauhid “Rabbunal-‘Llah” yang kemudian dipertahankan dengan istiqamah. Maka mustahil seseorang diwafatkan malaikat dalam keadaan thayyibin jika tauhidnya belum bulat dan ia sendiri belum istiqamah. Karakter taqwa dalam wujud thayyibin mutlak memerlukan kebulatan tauhid dan istiqamah.

Sambutan di Surga Hanya Bagi Yang Thayyib
Sementara itu ‘Allamah Ibnul-Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya, Zadul-Ma’ad, mengaitkan QS. an-Nahl [16] : 31-32 di atas dengan firman Allah swt tentang sambutan malaikat di surga kepada orang-orang bertaqwa:

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ  ٧٣

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya” (QS. az-Zumar [39] : 73).

Sambutan malaikat “thibtum” yang diterjemahkan oleh al-Qur`an Kemenag RI “berbahagilah kamu” berasal dari kata thayyib. Ibnul-Qayyim sendiri menjelaskan: Huruf ‘fa’ ini (dalam firman: maka masukilah) memastikan sebab, yakni: Dengan sebab thayyib kalian maka masuklah surga (Zadul-Ma’ad 1 : 66 fashl fi ma ikhtarahul-‘Llah minal-a’mal wa ghairiha).

Jadi menurut Ibnul-Qayyim lafazh thibtum lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai sebab dari masuk surga, yakni “dengan sebab kalian dahulu thayyib”. Penafsiran yang sama dikemukakan juga oleh al-Hafizh Ibn Katsir sebagai berikut: Firman-Nya: “Dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, kamu telah thayyib,” maksudnya yaitu amal dan perkataan kalian sudah thayyib, usaha kalian juga sudah thayyib, maka tahyyib pula balasan untuk kalian (Tafsir Ibn Katsir QS. az-Zumar [39] : 73).

Artinya ayat di atas selaras dengan QS. an-Nahl [16] : 31-32 sebelumnya yang menjelaskan karakter taqwa tercermin dalam kehidupan yang thayyib. Orang-orang yang layak masuk surga dan kelak disambut malaikat adalah orang-orang bertaqwa yang hidupnya sejak di dunia sudah thayyib.
 
Thayyib secara Paripurna
‘Allamah Ibnul-Qayyim menjelaskan bahwa kebersihan tauhid dari orang-orang yang thayyibin itu termanifestasikan juga dalam kebersihan hidup secara fisiknya dari semua yang haram dan kotor. Sebab memang sebuah anomali jika hatinya tulus bertauhid, lidahnya bersih berdzikir kalimah thayyibah, tetapi hidupnya malah bergelimang haram dan kotoran. Yang seperti ini hanya akan menodai kebersihan tauhid dan kalimah thayyibah-nya. Allah swt sendiri menegaskan bahwa tauhid atau kalim thayyib hanya bisa sampai kepada Allah swt jika ditopang oleh amal shalih. Jika amalnya malah kotor maka berarti batallah semua tauhid dan kalim thayyib-nya.

إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ

Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal shaleh yang menaikkannya (QS. Fathir [35] : 10).

Kalim thayyib di antaranya adalah dzikir, do’a, dan tilawah. Shahabat Ibn ‘Abbas menyatakan: “Siapa yang berdzikir kepada Allah tetapi tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya, maka apa yang diucapkannya akan dikembalikan pada amalnya.” Para mufassir salaf dari kalangan tabi’in menyatakan: “Amal shalih itulah yang mengangkat kalim thayyib (perkataan-perkataan yang baik).” Iyas ibn Mu’awiyah menyatakan: “Seandainya tidak ada amal shalih, pasti kalim thayyib tidak akan terangkat”. Al-Hasan menyatakan: “Tidak akan diterima perkataan tanpa amal”.

Semuanya ini menguatkan apa yang dinyatakan oleh Ibnul-Qayyim bahwa orang-orang thayyibin itu bukan hanya bersih aqidah dan ibadahnya saja, tetapi juga bersih secara fisiknya dari hal-hal yang haram. Ibnul-Qayyim menyatakan:
Maka ruhnya thayyib, badannya thayyib, akhlaqnya thayyib, amalnya thayyib, perkataannya thayyib, makanannya thayyib, minumannya thayyib, pakaiannya thayyib, pernikahannya thayyib, tempat masuk dan keluarnya thayyib, tempat pulangnya thayyib, dan tempat tinggalnya semuanya thayyib. Ini di antara yang Allah firmankan tentang orang ini: “Orang-orang yang diwafatkan “dalam keadaan baik” oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” [QS. an-Nahl [16] : 31-32]. Dan termasuk juga orang-orang yang disambut oleh malaikat penjaga surga: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, kamu telah thayyib, maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” [QS. az-Zumar [39] : 73] (Zadul-Ma’ad 1 : 66 fashl fi ma ikhtarahul-‘Llah minal-a’mal wa ghairiha)

Apa yang dinyatakan Ibnul-Qayyim di atas sudah dari sejak awal diingatkan oleh Nabi saw melalui sebuah haditsnya yang terkenal tentang keharusan hidup dengan thayyib sebab itu semua akan menentukan diterima atau tidaknya seluruh amal shalih seseorang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ  ٥١ وَقَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu`min (seperti) apa yang telah Dia perintahkan kepada para rasul. Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Mahatahu apa yang kalian kerjakan [QS. Al-Mu`minun [23]: 51] Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu [QS. Al-Baqarah [2] : 172]. Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan haram. Maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan do’anya (Shahih Muslim kitab az-zakat bab qabulis-shadaqah minal-kasbit-thayyib wa tarbiyatiha no. 2393).

Secara jelas Nabi saw mengingatkan setiap muslim agar hidupnya selalu berinteraksi dengan yang thayyib, yakni yang tidak haram. Khususnya dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan semua yang dikonsumsi. Jika tidak demikian, meski berdo’a dengan khusyu’ sekalipun tidak mungkin diijabah. Meski berdo’a dengan menyebut asma Allah swt dalam keadaan tidak berdaya yang umumnya menunjang diijabahnya do’a, tetap tidak akan diterima jika apa yang dikonsumsi masih ada yang haram, Bahkan sebagaimana dinyatakan Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ul-‘Ulum wal-Hikam ketika mensyarah hadits di atas, pernyataan Nabi saw: Allah itu Mahabaik, tidak menerima kecuali yang baik, dengan tanpa menyebutkan objek (maf’ul bih)-nya apa yang tidak diterima itu, menunjukkan bahwa yang tidak akan diterima itu bukan hanya do’a atau shadaqah sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain, melainkan semua amal shalihnya. Jadinya sia-sia saja semua amal shalihnya karena ia masih hidup dengan hal-hal yang tidak thayyib.

Dalam hal ini maka menjadi sangat penting untuk memastikan dari sejak dini agar hidup sepenuhnya thayyib, tidak ada satu pun yang haram melekat dalam kehidupan. Ibadah Ramadlan yang diperuntukkan Allah swt sebagai diklat untuk mencapai taqwa juga mengajarkan setiap muslim untuk disiplin dalam mengkonsumsi yang thayyib. Maka dari itu mari jadikan bulan Ramadlan untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan kadar thayyib dalam kehidupan. Semoga setiap muslim dari antara kita mampu hidup dengan thayyibin sampai diwafatkan Alllah swt dalam thayyibin.