Binasa karena Pemimpin Muda Bodoh

Binasa karena Pemimpin Muda Bodoh

Imam al-Bukhari menuliskan satu bab khusus dalam Shahih al-Bukhari kitab al-fitan (berkecamuknya fitnah): Halaku ummati ‘ala yadai ughailimah sufaha`; Binasanya umatku di tangan anak kecil yang bodoh. Maksud “anak kecil” dalam kutipan hadits tersebut dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar adalah pemimpin muda yang dipaksakan oleh penguasa tetapi lemah intelektualnya (‘aql), manajemen kepemimpinannya (tadbir), dan agamanya (din). Para penyokongnya pun dibuat tidak mempunyai pilihan selain pasrah menerima daripada hidup mereka jadi sengsara.

Judul bab yang ditulis Imam al-Bukhari tersebut sejatinya adalah kutipan sabda Nabi saw. Ditelusuri dari sanad-sanad yang meriwayatkannya, semuanya memakai tambahan keterangan “Quraisy”. Artinya anak-anak kecil dan bodoh yang dimaksud oleh Nabi saw akan membinasakan umat ini dari keturunan Quraisy. Akan tetapi pilihan Imam al-Bukhari untuk tidak menuliskan “Quraisy” menunjukkan bahwa kebinasaan umat tersebut tidak dibatasi oleh keturunan Quraisy saja, melainkan oleh siapa pun yang modelnya seperti keturunan Quraisy yang Nabi saw sebutkan dalam hadits; muda tetapi bodoh dan tidak cakap.

Imam al-Bukhari sendiri meriwayatkan hadits yang menyebutkan jelas “Quraisy” tetapi tidak menyebutkan “bodoh”. Mengingat jelas diriwayatkan lafazh “bodoh” dalam periwayatan lain dan Imam al-Bukhari sendiri setuju dengannya sebagaimana tercermin dari judul bab yang ditulisnya, maka yang dimaksud pemimpin anak kecil itu adalah pemimpin anak kecil yang bodoh. Lengkapnya riwayat Imam al-Bukhari sebagai berikut:

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَدِّي قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ ﷺ بِالْمَدِينَةِ وَمَعَنَا مَرْوَانُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ الصَّادِقَ الْمَصْدُوقَ يَقُولُ هَلَكَةُ أُمَّتِي عَلَى يَدَيْ غِلْمَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَقَالَ مَرْوَانُ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ غِلْمَةً فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ لَوْ شِئْتُ أَنْ أَقُولَ بَنِي فُلَانٍ وَبَنِي فُلَانٍ لَفَعَلْتُ

Dari ‘Amr ibn Yahya ibn Sa’id ibn ‘Amr ibn Sa’id (tabi’-tabi’in) ia berkata: Kakekku (Sa’id ibn ‘Amr ibn Sa’id ibn al-‘Ash—tabi’in w. 120 H) memberitahuku, ia berkata: Dahulu ketika aku duduk bersama Abu Hurairah di Masjid Nabi saw di Madinah dan saat itu ada Marwan (Gubernur Madinah—tabi’in w. 65 H), Abu Hurairah ra berkata: Aku mendengar orang jujur dan diyakini kejujurannya (Nabi saw) bersabda: “Binasanya umatku di tangan anak-anak kecil dari Quraisy.” Marwan berkata: “Laknat Allah untuk mereka, anak-anak itu.” Abu Hurairah ra berkata: “Seandainya aku mau menyebutkan Bani Fulan dan Bani Fulan pasti akan aku lakukan (tetapi aku tidak mau).”

فَكُنْتُ أَخْرُجُ مَعَ جَدِّي إِلَى بَنِي مَرْوَانَ حِينَ مُلِّكُوا بِالشَّامِ فَإِذَا رَآهُمْ غِلْمَانًا أَحْدَاثًا قَالَ لَنَا عَسَى هَؤُلَاءِ أَنْ يَكُونُوا مِنْهُمْ قُلْنَا أَنْتَ أَعْلَمُ

‘Amr berkata: Lalu aku keluar bersama kakekku (Sa’id ibn ‘Amr) ke Bani Marwan ketika mereka diberi kekuasaan di Syam, ternyata ia melihat mereka sebagai anak-anak kecil dan belia. Kakekku berkata: “Bisa jadi mereka ini termasuk mereka (pemimpin anak-anak yang bodoh).” Kami berkata: “Anda lebih tahu.” (Shahih al-Bukhari bab halaku ummati ‘ala yadai ughailimah sufaha` no. 7058).

Wujud kebinasaannya itu dijelaskan dalam riwayat lain sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رَفَعَهُ: أَعُوذ بِاَللَّهِ مِنْ إِمَارَة الصِّبْيَان. قَالُوا وَمَا إِمَارَة الصِّبْيَان؟ قَالَ: إِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ هَلَكْتُمْ – أَيْ فِي دِينكُمْ – وَإِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ أَهْلَكُوكُمْ -أَيْ فِي دُنْيَاكُمْ بِإِزْهَاقِ النَّفْس أَوْ بِإِذْهَابِ الْمَال أَوْ بِهِمَا

Dari Abu Hurairah ra—ia merafa’kannya (menyebutkan riwayat ini dari Rasulullah saw): “Aku berlindung kepada Allah dari pemerintahan anak-anak.” Para shahabat bertanya: “Apa pemerintahan anak-anak itu?” Beliau menjawab: “Jika kalian mengikuti mereka kalian akan binasa (al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan: binasa agama kalian), tetapi jika kalian menyalahi mereka maka mereka akan membinasakan kalian (al-Hafizh: dalam hal dunia dengan membunuh jiwa atau merampas harta atau kedua-duanya).” (Fathul-Bari mengutip riwayat ‘Ali ibn Ma’bad dan Ibn Abi Syaibah).

Maka dari itu dalam riwayat lain al-Bukhari dan Muslim, Nabi saw mengajarkan umat Islam untuk menjauhi mereka; tidak mengikuti dan tidak melawan mereka, melainkan jaga jarak dari kekuasaan mereka. Jangan menjadi orang-orang yang terpenjara oleh mereka sebab pilihannya binasa agama atau binasa duniawi.

يُهْلِكُ النَّاسَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ قُرَيْشٍ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ لَوْ أَنَّ النَّاسَ اعْتَزَلُوهُمْ

“Akan membinasan manusia kelompok Quraisy yang ini.” Mereka bertanya: “Apa yang anda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Seandainya saja manusia menjauhi mereka.” (Shahih al-Bukhari bab ‘alamatin-nubuwwah fil-Islam no. 3604).

Perihal mengapa Abu Hurairah ra tidak menyebutkan pasti kelompok mana dari Quraisy yang akan membinasakan tersebut, menurut al-Hafizh Ibn Hajar, ini merujuk pada pengakuannya dalam hadits tentang ia sengaja menyembunyikan ilmu:

حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وِعَاءَيْنِ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ قُطِعَ هَذَا الْبُلْعُومُ

Aku hafal dari Rasulullah saw dua wadah ilmu. Yang pertama aku menyebarkannya (melalui hadits-hadits yang diriwayatkannya—pen). Sementara yang kedua, seandainya aku menyebarkannya pasti akan dipotong urat kerongkongan ini (Shahih al-Bukhari bab hifzhil-‘ilm no. 120).

Akan tetapi isyaratnya sudah disampaikan oleh Abu Hurairah ra dalam riwayat lain, yaitu do’anya untuk tidak dipanjangkan umur sampai tahun 60 H dan kemudian diijabah karena beliau wafat sebelum tahun 60 H.

اللَّهُمَّ لَا تُدْرِكنِي سَنَة سِتِّينَ وَلَا إِمَارَة الصِّبْيَان

Ya Allah, jangan Engkau sampaikan aku pada tahun 60 dan jangan juga pemerintahan anak-anak kecil (Fathul-Bari mengutip riwayat Ibn Abi Syaibah).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan, tahun 60 H itu dimulainya kepemimpinan Yazid ibn Mu’awiyah yang berlangsung selama 4 tahun, lalu dilanjutkan oleh putranya, Mu’awiyah ibn Yazid ibn Mu’awiyah yang hanya beberapa bulan saja dan tidak memiliki keturunan lagi. Sesudah itu dilanjutkan oleh sepupu Mu’awiyah, yakni Marwan ibn al-Hakam (2-65 H) dan keturunannya sampai berakhir Dinasti Umayyah pada tahun 130 H/750 M.

Keterangan Sa’id ibn ‘Amr dalam riwayat al-Bukhari di atas menguatkan kesimpulan bahwa yang dimaksud pemimpin muda bodoh dari Quraisy itu tepatnya dari Bani Umayyah. Tentunya tidak semuanya dikategorikan bodoh, sebab di antara mereka ada ‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz (61-101 H/681-720 M) yang terkenal dengan keluhuran ilmunya, keadilan, dan kebijaksanaannya. Yang dikritik oleh Nabi saw adalah pemimpin-pemimpin muda Bani Umayyah yang bodoh dan menyebabkan kebinasaan umat. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar:

وَقَدْ يُطْلَق الصَّبِيّ وَالْغُلَيِّم بِالتَّصْغِيرِ عَلَى الضَّعِيف الْعَقْل وَالتَّدْبِير وَالدِّين وَلَوْ كَانَ مُحْتَلِمًا وَهُوَ الْمُرَاد هُنَا ، فَإِنَّ الْخُلَفَاء مِنْ بَنِي أُمَيَّة لَمْ يَكُنْ فِيهِمْ مَنْ اُسْتُخْلِفَ وَهُوَ دُونَ الْبُلُوغ وَكَذَلِكَ مَنْ أَمَّرُوهُ عَلَى الْأَعْمَال

Terkadang pemaknaan anak kecil (shabiy dan ghulayyim dengan shighah tashghir) ditujukan kepada orang yang lemah kecerdasannya, kemampuan manajerialnya, dan agamanya, meskipun ia sudah dewasa, dan itulah yang dimaksud dalam hadits ini, sebab khalifah-khalifah dari Bani Umayyah tidak ada yang diangkat di bawah usia baligh, demikian juga para pejabat yang diangkatnya (Fathul-Bari).

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan juga:

وَأَنَّ أَوَّلهمْ يَزِيد كَمَا دَلَّ عَلَيْهِ قَوْل أَبِي هُرَيْرَة رَأْس السِّتِّينَ وَإِمَارَة الصِّبْيَان فَإِنَّ يَزِيد كَانَ غَالِبًا يَنْتَزِع الشُّيُوخ مِنْ إِمَارَة الْبُلْدَان الْكِبَار وَيُوَلِّيهَا الْأَصَاغِر مِنْ أَقَارِبه

Yang pertama dari mereka adalah Yazid sebagaimana ditunjukkan oleh pernyataan Abu Hurairah tentang tahun 60 dan pemerintahan anak kecil, sebab Yazid secara umum memberhentikan tokoh-tokoh senior dari jabatan pemerintahan di berbagai wilayah dan menggantikannya dengan anak-anak muda dari kerabatnya (Fathul-Bari).

Seperti inilah potret kebinasaan umat Islam di masa awal yang di antaranya disebabkan oleh pemimpin-pemimpin muda bodoh dan tidak cakap. Mereka dipaksakan untuk dijadikan pejabat-pejabat pemerintahan tetapi kemampuannya lemah, baik secara kecerdasan, kemampuan manajerial, ataupun pemahaman agama. Orang-orang di sekitarnya terpaksa untuk menerimanya karena sudah terancam keselamatan nyawa dan hartanya. Ketika mereka mengikutinya pun agama mereka ikut binasa juga. Sebuah peringatan untuk generasi berikutnya agar tidak terbawa binasa seperti umat di masa pemerintahan Bani Umayyah. Nasihat Rasul saw untuk i’tazaluhum; menjauhi mereka, menjadi satu-satunya solusi konkrit untuk menjamin keselamatan agama dan dunia.

Al-Hafizh Ibn Hajar memberikan catatan akhir: Tidak ada sedikit pun petunjuk dari Nabi saw untuk melawan pemerintahan yang bodoh sebab memang mafsadatnya akan jauh lebih besar. Para shahabat pun tidak ada yang melawan pemerintahan bodoh itu dengan kekerasan. Cukup sebagaimana dinasihatkan Nabi saw saja: i’tazaluhum; menjauhi mereka dan jaga jarak dari mereka.

Nasta’in bil-‘Llah wa Huwal-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *