Bekerja Membuat Wig dan Bulu Mata Palsu

Bekerja Membuat Wig dan Bulu Mata Palsu

Maaf mau bertanya, bekerja membuat wig dan bulu mata palsu berdosa atau tidak? 08231788-xxx

Bekerja membuat sesuatu yang diharamkan syari’at tentunya haram karena berarti telah saling bantu membantu dalam dosa. Allah swt tegas melarang seseorang saling membantu dalam dosa:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ  ٢

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. al-Ma`idah [5] : 2).

Wig dan bulu mata palsu termasuk barang yang haram dikenakan kepada manusia. Maka bekerja membuat wig dan bulu mata termasuk membantu dalam hal haram dan dosa sehingga termasuk berdosa.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لُعِنَتِ الْوَاصِلَةُ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ وَالنَّامِصَةُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ وَالْوَاشِمَةُ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ مِنْ غَيْرِ دَاءٍ

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Dilaknat wanita yang menyambung dan minta disambungkan (rambut/bulu matanya), wanita yang mencabut dan dicabut bulu-bulunya, dan wanita yang bertato dan minta ditato, bukan karena penyakit.” (Sunan Abi Dawud kitab at-tarajjul bab fi shilatis-sya’ri no. 4172).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْوَاصِلاَتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ فَبَلَغَ ذَلِكَ امْرَأَةً مِنْ بَنِي أَسَدٍ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ فَجَاءَتْ فَقَالَتْ إِنَّهُ بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ لَعَنْتَ كَيْتَ وَكَيْتَ فَقَالَ وَمَا لِي أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَمَنْ هُوَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَقَالَتْ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ فَمَا وَجَدْتُ فِيهِ مَا تَقُولُ قَالَ لَئِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ لَقَدْ وَجَدْتِيهِ أَمَا قَرَأْتِ {وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا} قَالَتْ بَلَى قَالَ فَإِنَّهُ قَدْ نَهَى عَنْهُ

Dari ‘Abdullah (ibn Mas’ud), ia berkata: “Allah melaknat wanita yang bertato dan minta ditato, wanita yang menyambung (rambut/bulu mata), wanita yang dicabut bulu-bulunya, wanita yang diubah bentuk giginya agar indah, wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.” Pernyataan ini lalu sampai pada seorang wanita dari Bani Asad yang dipanggil Ummu Ya’qub. Ia lalu datang dan berkata: “Telah sampai kepadaku bahwasanya kamu melaknat begini dan begitu.” Jawab Ibn Mas’ud: “Kenapa aku tidak melaknat yang dilaknat Rasulullah saw dan orang yang ada dalam kitab Allah?” Ummu Ya’qub berkata: “Aku telah baca apa yang ada di dua lauh (lembaran, maksudnya al-Qur`an), tetapi aku tidak temukan apa yang kamu katakan.” Kata Ibn Mas’ud: “Kalau engkau membacanya pasti engkau menemukannya. Tidakkah engkau membaca: Apa yang Rasul bawa maka ambillah, dan apa yang Rasul larang maka berhentilah (QS. Al-Hasyr [59] : 7).” Ummu Ya’qub berkata: “Ya benar.” Kata Ibn Mas’ud: “Sungguh beliau (Rasul) telah melarangnya.” (Shahih al-Bukhari kitab al-libas bab al-mutafallijat lil-husni no. 5931, bab al-mutanammishat no. 5939, bab al-maushulah no. 5943, bab al-mustausyimah no. 5948; Shahih Muslim kitab al-libas waz-zinah bab tahrim fi’lil-washilah wal-mustaushilah no. 5695; Sunan Abi Dawud bab fi shilatis-sya’r no. 4171).

Dua hadits di atas menegaskan keharaman karena lil-husni; untuk kecantikan dan min ghairi da`in; bukan karena penyakit. Dalam konteks wig dan bulu mata palsu belum ditemukan alasan pembenaran untuk mengobati penyakit selain untuk mempercantik diri saja, maka dari itu tetap terlarang dan haram.

Allah Maha Pemberi rizki dan itu dari jalan yang halal. Maka carilah rizki Allah swt yang halal, pasti ada dan diperoleh, jangan bergantung hidup pada hal yang haram. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *