Obat Penyakit “Otak Busuk”

Orang yang berpenyakit brain rot (otak busuk) diibaratkan oleh al-Qur`an seperti orang mati atau binatang, karena telinga, mata, dan hatinya sudah mengalami disfungsi. Fokus perhatian menurun, daya ingat dan kritis mendangkal, mata cepat lelah, telinga selalu terasa bising sehingga susah tidur, dan hidupnya tersiksa oleh scrolling gadget. Ibarat orang mati yang tidak bisa merasakan kebermanfaatan hidup atau ibarat hewan yang hanya bisa mendengar dan melihat dengan kosong tanpa makna sama sekali. Obatnya hanya dengan memfungsikan kembali mata, telinga, hati, dan akal sesuai kodratnya untuk dzikir dan tafakkur.
Al-Qur`an banyak mengulas dalam ayat-ayatnya bahwa telinga, mata, dan hati/akal diciptakan Allah swt untuk digunakan dzikir dan tafakkur; selalu mengingat dan merenungkan Allah swt beserta seluruh ciptaan-Nya. Jangan pernah sekali-kali dialihfungsikan untuk menikmati hiburan dan konten-konten recehan dalam volume yang intens. Akibatnya organ-organ vital tersebut mengalami disfungsi dan rusak. Telinga, mata, dan hati/akal tidak bisa lagi difungsikan untuk dzikir dan tafakkur, melainkan tersiksa oleh hiburan yang mencandu. Ibarat orang yang kecanduan obat terlarang, hidupnya menjadi sakau ketika ia jauh dari gadget dan hiburan. Maka dirinya pun terpaksa menjerumuskan lagi dalam hiburan dan semakin intens lagi. Dampaknya telinga, mata, dan hati/akalnya semakin rusak lagi.
Orang-orang yang sudah rusak fungsi telinga, mata, dan hati/akalnya sehingga disamakan dengan hewan diingatkan Allah swt dalam berbagai ayat:
وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS. Al-An’am [6] : 179).
أَمۡ تَحۡسَبُ أَنَّ أَكۡثَرَهُمۡ يَسۡمَعُونَ أَوۡ يَعۡقِلُونَۚ إِنۡ هُمۡ إِلَّا كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ سَبِيلًا ٤٤
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu) (QS. al-Furqan [25] : 44).
وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِي يَنۡعِقُ بِمَا لَا يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءٗ وَنِدَآءٗۚ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ ١٧١
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti (QS. Al-Baqarah [2] : 171).
Ayat-ayat di atas ditujukan kepada orang-orang kafir. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan hiburan sebagai rutinitas wajib dalam kehidupan mereka. Akibatnya telinga, mata, dan hati/akalnya mengalami disfungsi. Maka orang Islam manapun yang memilih gaya hidup seperti mereka pasti akan bernasib sama dengan orang-orang kafir itu; hidup mereka seperti binatang dan bahkan lebih sesat daripada binatang. Ayat berikut menyebutkan dengan jelas gaya orang kafir tersebut.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ٦ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ٧
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang menghibur untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. (QS. Luqman [31] : 6-7).
Terlihat jelas dampak lahwul-hadits; hiburan yang hampa nilai terhadap keengganan dzikir ayat-ayat Allah swt. Telinganya seakan-akan sudah disumbat akibat terlalu overload dengan hiburan. Dalam rangkaian ayat lainnya di surat as-Syu’ara digambarkan juga hal yang sama.
هَلۡ أُنَبِّئُكُمۡ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَٰطِينُ ٢٢١ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ٢٢٢ يُلۡقُونَ ٱلسَّمۡعَ وَأَكۡثَرُهُمۡ كَٰذِبُونَ ٢٢٣ وَٱلشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ ٱلۡغَاوُۥنَ ٢٢٤ أَلَمۡ تَرَ أَنَّهُمۡ فِي كُلِّ وَادٖ يَهِيمُونَ ٢٢٥ وَأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ مَا لَا يَفۡعَلُونَ ٢٢٦ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَذَكَرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱنتَصَرُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْۗ وَسَيَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَيَّ مُنقَلَبٖ يَنقَلِبُونَ ٢٢٧
Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan (nya)?, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman. Dan orang-orang yang dzalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS. as-Syu’ara` [26] : 221-227)
Rangkaian ayat di atas menyoroti gaya hidup orang kafir yang lebih menggandrungi budak-budak setan, yakni para penyihir dan dukun, serta penyair-penyair penghibur. Dikecualikan jika para penyair itu sudah masuk Islam, amalnya shalih, dzikirnya banyak, dan digunakan untuk membela Islam, maka mereka tidak tercela sama sekali. Rangkaian ayat di atas juga menegaskan bahwa hiburan adalah lawan dari dzikir. Ketika hiburan lebih intens dalam kehidupan maka dzikir akan terpalingkan. Sebaliknya, bagi yang ingin melepaskan diri dari kecanduan hiburan, maka obatnya adalah menginteskan dzikir, khususnya dzikir al-Qur`an sebagaimana disinggung dua rangkaian ayat di surat as-Syu’ara dan Luqman di atas. Maka dari itu, Allah swt juga menegaskan dalam surat al-Furqan bahwa akhlaq mulia ‘Ibadurrahman itu ada pada dzikir dan keberanian mereka menjauhi hiburan yang kosong makna.
… وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا ٧٢ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِآيَٰتِ رَبِّهِمۡ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ٧٣
(‘Ibadurrahman/hamba-hamba pilihan Allah adalah)… dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (QS. al-Furqan [25] : 72-73).
Orang-orang yang sudah tuli dan buta dari ayat-ayat Allah swt itu, dalam ayat-ayat yang lain diibaratkan Allah swt seperti orang-orang yang sudah mati, karena memang penglihatan dan pendengarannya sudah tidak berfungsi dengan baik.
إِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَلَا تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا وَلَّوۡاْ مُدۡبِرِينَ ٨٠ وَمَآ أَنتَ بِهَٰدِي ٱلۡعُمۡيِ عَن ضَلَٰلَتِهِمۡۖ إِن تُسۡمِعُ إِلَّا مَن يُؤۡمِنُ بِآيَٰتِنَا فَهُم مُّسۡلِمُونَ ٨١
Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorang pun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri (QS. An-Naml [27] : 80-81. Ayat semakna terdapat juga dalam QS. Ar-Rum [30] : 52-53).
Dalam dua ayat di atas Allah swt jelas menyebutkan orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah swt dan tidak mau mendengarnya sebagai orang-orang yang mati, tuli, dan buta. Sampai kapan pun mereka akan senantiasa berpaling dari kebenaran. Dalam surat Fathir bahkan mereka sampai disebutkan ibarat orang yang sudah terbaring kaku di dalam kubur.
وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ٢٢
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar (QS. Fathir [35] : 22).
Maka obat dari penyakit “otak busuk” itu tidak ada lagi kecuali dzikir dan tafakkur khususnya terhadap al-Qur`an. Wahyu pertama sendiri sudah menitahkan dengan jelas iqra`; bacalah. Membaca tentunya harus dengan memahami isinya. Maka perintah membaca yang dimaksud harus dengan upaya untuk memahami kandungannya. Membaca al-Qur`an juga dituntut sampai tartil dibaca dalam shalat malam. Maka rutinkan kegiatan membaca al-Qur`an sebagai dzikir harian disambung dengan menghafalnya agar bisa dibaca rutin di setiap shalat malam. Perintah untuk shalat malam itu otomatis merupakan perintah untuk menjauhi candu hiburan di setiap malam, agar badan senantiasa segar untuk bangun malam dan beraktifitas di siang harinya. Waktu-waktu luang sisanya gunakan dengan mendalami al-Qur`an; melalui kajian tafsirnya, haditsnya, dan kegiatan keilmuan lainnya yang terkait al-Qur`an. Dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna ini maka telinga, mata, dan hati/akal seseorang pasti akan senantiasa sehat dan segar; jauh dari penyakit busuk. Wal-‘Llahul-Musta’an.



