Tetap Shalat Berjama’ah Meski Sedang Safar

Tetap Shalat Berjama’ah Meski Sedang Safar
Umumnya sabda Nabi ﷺ : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat,” diberlakukan dalam praktik dan bacaan shalat yang harus presisi seperti Nabi ﷺ. Pemahaman tersebut tidak salah. Akan tetapi sejatinya sabda Nabi ﷺ tersebut ditujukan juga kepada rombongan safar agar mereka meneladani Nabi ﷺ yang tetap menjalankan shalat berjama’ah lengkap dengan adzannya meski sedang dalam perjalanan safar. Satu hal yang umumnya sengaja diabaikan oleh mereka yang safar.
Hadits Nabi saw yang memerintahkan shalat sebagaimana dicontohkan Nabi saw diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Malik ibn al-Huwairits ra sebagai berikut:
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ I قَالَ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لَا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Dari Malik ibn al-Huwairits ra ia berkata: Kami datang kepada Nabi saw sebagai sekumpulan pemuda yang sebaya. Kami tinggal di Madinah selama 20 hari dan malam. Rasulullah saw orang yang penyayang dan perhatian. Ketika beliau menduga kuat kami sudah rindu keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang apa yang kami tinggalkan di keluarga kami, lalu kami pun memberitahukannya kepada beliau. Beliau lalu bersabda: “Silahkan pulang ke keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan sampaikan perintah agama kepada mereka.” Beliau mengatakan beberapa hal lainnya yang aku tidak ingat. Kata beliau lagi: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. Apabila datang waktu shalat hendaklah adzan salah seorang di antara kalian untuk kalian dan hendaklah yang paling tua di antara kalian menjadi imam.” (Shahih al-Bukhari bab al-adzan lil-musafir idza kanu jama’ah wal-iqamah wa kadzalika bi ‘Arafah wa jam’ no. 631).
Imam al-Bukhari sendiri memberikan tarjamah untuk hadits di atas:
بَاب الْأَذَانِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا كَانُوا جَمَاعَةً وَالْإِقَامَةِ وَكَذَلِكَ بِعَرَفَةَ وَجَمْعٍ
Bab: Adzan dan iqamah bagi musafir apabila mereka berjama’ah, demikian juga di ‘Arafah dan Jam’ (Muzdalifah).
Artinya beliau memberikan penekanan terkait hadits di atas dalam hal mengumandangkan adzannya dan tentunya sebagaimana disabdakan Nabi saw di atas disambung dengan shalat berjama’ah diimami seorang imam, sebab adzan itu fungsi utamanya untuk mengajak shalat berjama’ah. Perintah adzan dan shalat berjama’ah itu sendiri dibatasi oleh Nabi saw dengan sabdanya: “Apabila datang waktu shalat…” Artinya dikumandangkan pada awal waktunya. Jadi meskipun sedang dalam perjalanan safar, tetap diupayakan shalat seperti Nabi saw, yakni ketika tiba awal waktu shalat, maka bergegas untuk adzan dan shalat berjama’ah. Dalam konteks perjalanan safar hari ini di Indonesia atau negara-negara mayoritas muslim di mana adzan akan mudah terdengar dan masjid tempat shalat mudah ditemukan, maka harus diupayakan shalat berjama’ah di masjid-masjid terdekat yang terjangkau sekaligus menjawab adzannya.
Pernyataan Imam al-Bukhari di atas “demikian juga di ‘Arafah dan Jam’ (Muzdalifah)” merujuk pada hadits-hadits yang menjelaskan manasik haji wada’ Nabi saw, di mana beliau tetap memerintahkan mengumandangkan adzan dan shalat berjama’ah meskipun situasi di ‘Arafah dan Muzdalifah sedang padat oleh jama’ah haji.
Pernyataan Imam al-Bukhari di atas “apabila mereka berjama’ah” tentunya sebatas penjelasan keumuman saja, bukan pembatasan bahwa adzan itu harus ketika safar berjama’ah saja, sementara ketika safar sendirian tidak perlu. Hadits Abu Sa’id ra berikut ini menjelaskan tuntunan sunnahnya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الْمَازِنِيِّ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ I قَالَ لَهُ إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Dari ‘Abdullah ibn ‘Abdirrahman ibn Abi Sha’sha’ah al-Anshari al-Mazini, bahwasanya Abu Sa’id al-Khudri ra berkata kepadanya: “Aku lihat kamu senang menggembala kambing dan tinggal di pedesaan. Jika kamu sedang menggembala kambing atau tinggal di pedesaan, lalu kamu adzan untuk shalat, maka keraskanlah suaramu ketika menyeru, karena sungguh tidak ada seorang jin pun, manusia, atau bahkan apapun yang mendengar sejauh suara muadzdzin melainkan akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata: “Aku mendengar nasihat ini dari Rasulullah saw.” (Shahih al-Bukhari bab raf’is-shaut bin-nida no. 609).
Jadi meskipun sedang menggembala kambing dan sedang berada di pedesaan, artinya sedang menyendiri karena hanya bersama gembalaannya atau di ladangnya dan jauh dari perkampungan masyarakat, tetap dianjurkan adzan sebelum shalat dan tetap dikeraskan kumandang adzannya.
Teladan Nabi saw yang selalu mengupayakan adzan dan shalat berjama’ah ketika safar tercatat dalam beberapa riwayat di antaranya:
عَنْ أَبِى جُحَيْفَةَ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ ﷺ بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالأَبْطَحِ فِى قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ قَالَ فَخَرَجَ بِلاَلٌ بِوَضُوئِهِ فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ قَالَ فَخَرَجَ النَّبِىُّ ﷺ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ قَالَ فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلاَلٌ قَالَ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَا هُنَا وَهَا هُنَا يَقُولُ يَمِينًا وَشِمَالاً يَقُولُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ قَالَ ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ يَمُرُّ بَيْنْ يَدَيْهِ الْحِمَارُ وَالْكَلْبُ لاَ يُمْنَعُ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَدِينَةِ
Dari Abu Juhaifah ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi saw ketika beliau berada di Makkah, tepatnya di Abthah, di tenda merah dari kulit. Bilal lalu keluar membawa air bekas wudlu beliau, ada yang bisa mendapatkan sisanya dan ada juga yang hanya mendapatkan percikannya saja. Nabi saw lalu keluar memakai mantel merah. Masih terbayang putih ketiak beliau. Beliau lalu wudlu dan Bilal adzan. Abu Juhaifah berkata: “Aku mulai memperhatikan mulutnya (Bilal) ke arah sana dan sini. Ia mengumandangkan ke arah kanan dan kiri: hayya ‘alas-shalah, hayya ‘alal-falah.” Setelah itu ditancapkan tongkat bayonet (sebagai sutrah). Beliau saw lalu maju untuk mengimami. Beliau shalat zhuhur dua raka’at. Lewat di luar area sutrahnya keledai dan anjing, tidak ada yang menghalangi. Kemudian beliau shalat ‘ashar dua raka’at. Kemudian beliau terus menerus shalat dua raka’at hingga pulang ke Madinah (Shahih Muslim bab sutratil-mushalli no. 1147).
Abthah itu ujung kota Makkah tempat Nabi saw selalu melaluinya jika hendak pulang dari Makkah menuju Madinah. Artinya kejadian dalam hadits di atas itu ketika sedang dalam perjalanan pulang ke Madinah. Nabi saw masih mengupayakan wudlu (bukan tayammum), adzan, dan shalat berjama’ah meski sedang dalam perjalanan safar. Shalat zhuhur dan ‘ashar yang diamalkan dua raka’at-dua raka’at dijama’ juga menunjukkan bahwa kejadian dalam hadits di atas ketika Nabi saw sedang dalam perjalanan safar.
عَنْ أَبِي ذَرٍّ I قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُؤَذِّنَ فَقَالَ لَهُ أَبْرِدْ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُؤَذِّنَ فَقَالَ لَهُ أَبْرِدْ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُؤَذِّنَ فَقَالَ لَهُ أَبْرِدْ حَتَّى سَاوَى الظِّلُّ التُّلُولَ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
Dari Abu Dzar ra, ia berkata: Dahulu ketika kami safar bersama Nabi saw, lalu muadzdzin hendak mengumandangkan adzan, beliau bersabda kepadanya: “Tunggu sampai dingin.” Kemudian ketika muadzdzin hendak mengumandangkan adzan lagi, beliau bersabda lagi kepadanya: “Tunggu sampai dingin.” Kemudian ketika muadzdzin hendak mengumandangkan adzan lagi, beliau bersabda lagi kepadanya: “Tunggu sampai dingin.” Sehingga ketika bayang-bayang sejajar anak bukit, Nabi saw bersabda: “Panas yang menyengat itu dari hembusan neraka jahannam.” (Shahih al-Bukhari bab al-adzan lil-musafir idza kanu jama’ah wal-iqamah wa kadzalika bi ‘Arafah wa jam’ no. 629).
Hadits ini juga menunjukkan bahwa ketika panas menyengat, shalat zhuhur boleh diakhirkan hingga ada bayang-bayang yang bisa dijadikan tempat berteduh. Saking sunnahnya melaksanakan shalat berjama’ah dan dengan dikumandangkan adzan maka Nabi saw mengarahkan agar semua rombongan safar menangguhkan adzan dan shalatnya agar bisa diamalkan berjama’ah, tidak dijalankan masing-masing.
عن نَافِعٍ قَالَ أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ثُمَّ قَالَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ فِي اللَّيْلَةِ الْبَارِدَةِ أَوْ الْمَطِيرَةِ فِي السَّفَرِ
Dari Nafi’, ia berkata: Ibn ‘Umar ra adzan pada satu malam yang dingin (di musim dingin) di Dlajnan (gunung berjarak sekitar 1 barid/20 km dari Makkah di jalur perjalanan Makkah-Madinah). Ia mengumandangkan: “Shalatlah kalian di tempat berteduh kalian.” Ia memberitahukan kepada kami bahwa Rasulullah saw dahulu pernah memerintah muadzdzin yang sedang mengumandangkan adzan untuk mengumandangkan di akhirnya: “Perhatikan, shalatlah di tempat berteduh,” pada malam yang dingin dan sedang turun hujan lebat ketika safar (Shahih al-Bukhari bab al-adzan lil-musafir idza kanu jama’ah wal-iqamah wa kadzalika bi ‘Arafah wa jam’ no. 629).
Hadits terakhir ini menunjukkan bahwa meskipun shalat berjama’ahnya tidak jadi diamalkan karena hujan lebat, adzan dan pengamalan shalat di awal waktu dalam perjalanan safar, tetap diamalkan sebagaimana diteladankan Nabi saw.
Dalam hal seperti yang diuraikan di atas berlaku juga sabda Nabi saw: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” Wal-‘Llahu a’lam



