Tadarus al-Qur`an Melahirkan Sifat Dermawan

Tadarus al-Qur`an Melahirkan Sifat Dermawan

Tadarus al-Qur`an yang rutin dilaksanakan Nabi saw bersama Jibril di setiap malam Ramadlan, sebagaimana dinyatakan oleh Ibn ‘Abbas, meningkatkan sifat kedermawanan Nabi saw. al-Hafizh Ibn Hajar sampai memberikan catatan khusus terkait fadlilah dari tadarus al-Qur`an ini. Sebuah pertanda yang jelas bahwa kedermawanan hati sangat tergantung juga dari sejauh mana seseorang berinteraksi dengan al-Qur`an.


Keterkaitan antara tadarus al-Qur`an dengan kedermawanan, dijelaskan oleh Ibn ‘Abbas dalam beberapa variasi matan hadits sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللهِ ﷺ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ  

Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah saw itu orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadlan untuk memudarasah al-Qur`an kepadanya. Dan sungguh Rasulullah saw itu ketika Jibril menemuinya lebih dermawan lagi dalam hal kebaikan daripada angin yang bertiup.” (Shahih al-Bukhari kitab bad’il-wahyi bab kaifa kana bad’u al-wahyi ila Rasulillah no. 6).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  ﷺ  أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ سَنَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ   الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.  

Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah saw itu orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan. Sesungguhnya Jibril menemuinya pada setiap tahun di bulan Ramadlan sampai berlalu (bulan Ramadlan itu). Rasulullah saw menyetorkan (bacaan) al-Qur`an kepadanya (Jibril). Dan apabila Jibril menemuinya Rasulullah saw itu lebih luas lagi dalam hal kebaikan daripada angin yang bertiup.” (Shahih Muslim kitab al-fadla`il bab kana an-nabiy ajwada an-nas bi al-khair min ar-rih al-mursalah no. 6149).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قال كان رسولُ اللهِ ﷺ يَعْرِضُ الْكِتَابَ على جِبْرِيلَ  في كُلِّ رَمَضَانَ فإذا أَصْبَحَ رسولُ اللهِ ﷺ مِنَ اللَّيْلَةِ الَّتي يَعْرِضُ فِيْهَا مَا يَعْرِضُ أَصْبَحَ وَهُوَ أَجْوَدُ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ لاَ يُسْئَلُ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ

Dari Ibn ‘Abbas ia berkata: “Rasulullah saw menyetorkan (bacaan) al-kitab (al-Qur`an) kepada Jibril pada setiap bulan Ramadlan. Di keesokan hari dari malam yang beliau menyetor al-Qur`an, beliau menjadi orang yang lebih dermawan daripada angin yang bertiup. Beliau tidak diminta dari sesuatu apapun kecuali akan memberinya.” (Musnad Ahmad musnad ‘Abdullah ibn ‘Abbas no. 2042).
Terkait hadits di atas, al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari memberikan salah satu analisa:

قِيلَ الْحِكْمَة فِيهِ أَنَّ مُدَارَسَة الْقُرْآن تُجَدِّد لَهُ الْعَهْد بِمَزِيدِ غِنَى النَّفْس وَالْغِنَى سَبَب الْجُود

Ada pendapat tentang hikmahnya adalah karena mudarasah al-Qur`an akan senantiasa memperbarui perjanjian primordial (ajaran yang bersemayam di hati) dengan bertambahnya kaya hati, dan kekayaan yang ini menjadi sebab adanya kedermawanan (Fathul-Bari bab kaifa kana bad’u al-wahyi ila Rasulillah).
 
Menyingkap Kaya Hati
Tentang kaya hati yang disebutkan al-Hafizh dalam pernyataannya di atas, sering diungkapkan Nabi saw dalam hadits, di antaranya:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah kaya itu dengan banyak harta, tetapi kaya yang sebenarnya adalah kaya hati/jiwa (Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-ghina ghinan-nafs no. 6446; Shahih Muslim bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl no. 2467).
Shahabat Abu Sa’id al-Khudri menceritakan: Ada beberapa orang Anshar yang meminta kepada Rasulullah saw, lalu beliau pun memberinya. Kemudian mereka meminta lagi, lalu beliau memberinya lagi. Kemudian mereka meminta lagi, dan beliau pun memberinya lagi, sampai habis apa yang dimiliki beliau. Waktu itu beliau pun bersabda:

مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

 “Harta yang ada padaku tidak mungkin aku sisakan dan sembunyikan dari kalian. Hanya siapa yang menahan diri, pasti Allah menjadikannya mampu bertahan. Siapa yang meyakinkan dirinya kaya (mencukupkan diri), pasti Allah memberinya kekayaan (kecukupan). Dan siapa yang bersabar, pasti Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab al-isti’faf ‘anil-mas`alah no. 1469; Shahih Muslim kitab az-zakat bab fadllit-ta’affuf was-shabr no. 2471).
Terkait konsep kaya hati sebagaimana Nabi saw sabdakan di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَمَعْنَى الْحَدِيث : الْغِنَى الْمَحْمُود غِنَى النَّفْس وَشِبَعُهَا وَقِلَّة حِرْصهَا، لَا كَثْرَة الْمَال مَعَ الْحِرْص عَلَى الزِّيَادَة ؛ لِأَنَّ مَنْ كَانَ طَالِبًا لِلزِّيَادَةِ لَمْ يَسْتَغْنِ بِمَا مَعَهُ فَلَيْسَ لَهُ غِنًى

Maksud hadits di atas: Kaya yang terpuji itu adalah hati yang kaya, kenyang dan tidak rakus, bukan banyak harta yang disertai dengan keinginan yang besar untuk selalu menambah harta, karena orang yang senantiasa berusaha untuk menambah harta tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang ia miliki, jadinya ia tidak pernah merasakan kaya (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl).
Al-Hafizh Ibn Hajar menambahkan, kaya hati ini tidak terbatas pada harta yang sedikit atau banyak. Patokan utamanya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak ada kerakusan untuk senantiasa banyak harta (Fathul-Bari).
Dalam hal ini, Imam al-Bukhari sendiri menyajikan dalil ayat al-Qur`an untuk konsep kaya hati ini, sebagaimana dituliskannya sendiri dalam Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq:

بَاب الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ وَقَوْلُ اللهِ تَعَالَى {أَيَحْسِبُونَ أَنَّ مَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ إِلَى قَوْلِهِ تَعَالَى مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ}

Bab: Kaya itu kaya hati, dan firman Allah ta’ala: ‘Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu…’ sampai firman-Nya ta’ala: ‘Selain dari itu, mereka tetap mengerjakannya.’
Yang dimaksud oleh Imam al-Bukhari adalah ayat dalam QS. al-Mu`minun [23] : 55-63.

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ ٥٥ نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ ٥٦ اِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ ۙ ٥٧ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ ۙ ٥٨ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُوْنَ ۙ ٥٩ وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ ٦٠ اُولٰۤىِٕكَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ ٦١ وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ وَلَدَيْنَا كِتٰبٌ يَّنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٦٢ بَلْ قُلُوْبُهُمْ فِيْ غَمْرَةٍ مِّنْ هٰذَا وَلَهُمْ اَعْمَالٌ مِّنْ دُوْنِ ذٰلِكَ هُمْ لَهَا عٰمِلُوْنَ ٦٣

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya. Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kenyataan) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain daripada itu, mereka tetap mengerjakannya.
Terkait maksud dari ayat-ayat di atas sebagai dalil untuk kaya hati, al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan:

مُنَاسَبَة الْآيَة لِلْحَدِيثِ أَنَّ خَيْرِيَّة الْمَال لَيْسَتْ لِذَاتِهِ بَلْ بِحَسَبِ مَا يَتَعَلَّق بِهِ وَإِنْ كَانَ يُسَمَّى خَيْرًا فِي الْجُمْلَة، وَكَذَلِكَ صَاحِب الْمَال الْكَثِير لَيْسَ غَنِيًّا لِذَاتِهِ بَلْ بِحَسَبِ تَصَرُّفه فِيهِ. فَإِنْ كَانَ فِي نَفْسه غَنِيًّا لَمْ يَتَوَقَّف فِي صَرْفه فِي الْوَاجِبَات وَالْمُسْتَحَبَّات مِنْ وُجُوه الْبِرّ وَالْقُرُبَات ، وَإِنْ كَانَ فِي نَفْسه فَقِيرًا أَمْسَكَهُ وَامْتَنَعَ مِنْ بَذْله فِيمَا أُمِرَ بِهِ خَشْيَة مِنْ نَفَاده ، فَهُوَ فِي الْحَقِيقَة فَقِير صُورَة وَمَعْنًى وَإِنْ كَانَ الْمَال تَحْت يَده ، لِكَوْنِهِ لَا يَنْتَفِع بِهِ لَا فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْأُخْرَى ، بَلْ رُبَّمَا كَانَ وَبَالًا عَلَيْهِ

Keterkaitan ayat tersebut dengan hadits ini (tentang kaya hati) adalah sungguh bahwa nilai kebaikan harta itu tidak terletak pada zat hartanya itu sendiri, melainkan tergantung pada sesuatu yang berkaitan dengannya, meski kedua-duanya disebut dengan khair (sesuatu yang baik, yakni pada ayat 56 dan 61, atau QS. al-‘Adiyat [100] : 8). Demikian halnya dengan orang yang memiliki harta yang banyak, ia tidak kaya dengan sebab banyak hartanya, tetapi tergantung pada hal-hal apa saja harta itu ia keluarkan. Jika hatinya kaya, ia tidak akan bisa menahan dirinya untuk mengeluarkannya dalam perkara-perkara yang wajib dan sunat, pada berbagai jenis kebaikan dan ibadah. Tetapi jika hatinya fakir maka ia akan menahannya dan enggan untuk mengeluarkannya pada hal-hal yang telah diperintahkan, karena ia takut hartanya habis. Maka ia pada hakikatnya fakir secara lahir dan batin, meski harta yang ia miliki banyak. Itu disebabkan harta tersebut tidak bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, bahkan sangat mungkin harta itu menjadi bencana bagi dirinya sendiri (Fathul-Bari bab laisal-ghina ‘an katsratil-‘aradl).
Jelas terlihat pengajaran Allah swt melalui ayat-ayat di atas, bahwa orang yang diberi banyak harta dan anak, tidak berarti orang itu memperoleh kebaikan di dunia. Justru yang memperoleh kebaikan dari sejak di dunia itu adalah orang-orang yang kaya hati dan ditandakan dengan kegesitan mereka dalam amal kebaikan, termasuk dalam mendermakan harta karena ingat bahwa ia tidak akan selamanya hidup di dunia; harta yang dimiliki harus menjadi tabungannya kelak ketika ia kembali kepada Allah swt.
Maka dari itu, orang-orang yang tidak kaya hatinya disebutkan oleh Allah swt dalam ayat lain sebagai orang yang berpenyakit hatinya. Penyakit tersebut Allah swt namakan sendiri dengan bakhil; pelit. Gejala kronis dari penyakit ini adalah takut hartanya berkurang, takut tidak mendapatkan bagian, takut tidak mendapatkan banyak, takut sengsara, yang berujung pada dengki; takut orang lain yang mengambil bagian duniawi.

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ اَنْ لَّنْ يُّخْرِجَ اللّٰهُ اَضْغَانَهُمْ ٢٩ … اِنْ يَّسْـَٔلْكُمُوْهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوْا وَيُخْرِجْ اَضْغَانَكُمْ ٣٧

Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?… Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu (QS. Muhammad [47] : 29-37).
Sifat bakhil ini akan menjadikan seseorang rakus dan akibatnya akan selalu terjebak pada konflik yang tidak berujung disebabkan selalu tersinggung dan bersinggungan dengan orang lain ketika ia merasa ada orang lain yang akan mengurangi harta yang dimilikinya. Allah swt dalam hal ini mengingatkan:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ١ ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ ٢ يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ ٣

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (humazah lumazah). Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya (QS. al-Humazah [104] : 1-3).
 
Menyingkap Tadarus
Jika sifat fakir hati merupakan penyakit, maka obatnya hanyalah obat yang bisa menyembuhkan hati yang sakit. Obat yang dimaksud tiada lain hanyalah al-Qur`an.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ٥٧

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Yunus [10] : 57).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ٨٢

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian (QS. al-Isra` [17] : 82).
Dengan obat al-Qur`an, orang yang sakit hatinya akan sembuh. Orang yang sudah sembuh akan semakin sembuh, sembuh, dan bertambah segar bugar. Di sinilah terletaknya kedahsyatan al-Qur`an terhadap jiwa. Meski ia tetap adanya 30 juz dari sejak dahulu sampai sekarang, tetapi selalu mampu menambahkan energi baru pada jiwa untuk semakin kaya dan kaya. Tentunya bagi mereka yang senantiasa mudarasah/tadarus terhadap al-Qur`an. Maka dari itu tidak heran, jika Nabi saw yang sudah sangat dermawan, ketika ada jadwal mudarasah al-Qur`an rutin dengan Jibril, maka kedermawanan beliau itu semakin menjadi-jadi lagi.
Tadarus/mudarasah, sebagaimana dijelaskan ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mu’jam Mufradat Alfazhil-Qur`an bermakna menghafal dan banyak membaca al-Qur`an. Kedua amal ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Menghafal al-Qur`an akan bisa tercapai dengan banyak membaca al-Qur`an. Banyak membaca al-Qur`an pasti akan berdampak pada hafal al-Qur`an. Jika al-Qur`an tidak kunjung terhafalkan, maka itu pertanda kegiatan membacanya al-Qur`annya masih minim. Tadarus/mudarasah-nya masih sangat minimal. Penjelasan yang sama dikemukakan juga oleh al-Hafizh Ibn Hajar ketika membahas hadits tadarus/mudarasah sebagaimana telah dikutip di atas:

وَاسْتِحْبَاب الْإِكْثَار مِنْ الْقِرَاءَة فِي رَمَضَان وَكَوْنهَا أَفْضَل مِنْ سَائِر الْأَذْكَار، إِذْ لَوْ كَانَ الذِّكْر أَفْضَل أَوْ مُسَاوِيًا لَفَعَلاَهُ. فَإِنْ قِيلَ: الْمَقْصُود تَجْوِيد الْحِفْظ، قُلْنَا الْحِفْظ كَانَ حَاصِلاً

(Pelajaran yang dikandung oleh hadits ini adalah)…dan dianjurkannya memperbanyak membaca al-Qur`an pada bulan Ramadlan. Membaca al-Qur`an ini juga lebih utama dibandingkan semua dzikir yang ada. Sebab jika dzikir lebih utama atau sederajat dengan membaca al-Qur`an, pasti Nabi saw dan Jibril akan melakukannya. Jika ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud tadarus itu adalah memperbarui hafalan, menurut pendapat kami: Hafalan itu secara otomatis akan dihasilkan (dengan memperbanyak membaca). (Fathul-Bari bab kaifa kana bad’u al-wahyi ila Rasulillah).
Maka dari itu sudah bukan zamannya lagi ada dikotomi antara membaca, menghafal dan mengkaji al-Qur`an. Semestinya mengkaji al-Qur`an dinilai penting untuk menambah ilmu; banyak membaca sampai hafal al-Qur`an juga penting untuk semakin melembutkan hati sehingga melahirkan sifat dermawan. Jika hati tidak kunjung juga dermawan; bahkan untuk urusan zakat dan infaq yang wajib saja selalu sengaja abai, pertanda kegiatan interaksi dengan al-Qur`an masih sangat minim. Ibarat pisau yang tumpul, maka hati yang seperti ini masih harus terus diasah lagi dengan semakin merutinkan tadarus/mudarasah.
Tentu tidak hanya sebatas di bulan Ramadlan, sebab kegiatan tadarus/mudarasah Nabi saw anjurkan juga di luar bulan Ramadlan.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ اِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهِ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah suatu  kaum berkumpul dalam ruamh-rumah Allah (masjid) untuk membaca al-Qur’an dan mempelajarinya, kecuali ketenangan pasti akan turun kepada mereka, rahmat Allah melingkupi mereka, malaikat-malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di dekat-Nya (para malaikat) (Shahih Muslim kitab adz-dzikr wad-du’a wat-taubah bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an no. 7028).
Terkait maksud hadits di atas, Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَفِي هَذَا دَلِيل لِفَضْلِ الِاجْتِمَاع عَلَى تِلَاوَة الْقُرْآن فِي الْمَسْجِد، وَهُوَ مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْجُمْهُور

Ini menjadi dalil yang jelas atas keutamaan berjama’ah dalam membaca al-Qur`an di masjid. Ini adalah madzhab kami (Syafi’i) dan madzhab jumhur/mayoritas (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim bab fadllil-ijtima’ ‘ala tilawatil-qur`an).
Hanya memang, bulan Ramadlan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan kegiatan tadarus/mudarasah al-Qur`an ini, sebagaimana halnya Nabi saw yang sampai setiap malam Ramadlan dan sebulan penuh merutinkan tadarus/mudarasah al-Qur`an dengan Jibril.
Wal-‘Llahu a’lam