Qadla plus Fidyah bagi Yang Qadla di Tahun Berikutnya

Bismillah, Ustadz benarkah bagi yang belum lunas qadla shaum Ramadlan tahun yang lalu, dan sekarang sudah Ramadlan lagi, ketika akan dilunasi ba’da Ramadlan yang ini harus ditambah fidyah?
Dalam hal yang anda tanyakan ada dua madzhab: Pertama, madzhab Ibrahim an-Nakha’i dan al-Bukhari, yakni cukup qadla saja berdasarkan ayat al-Qur`an. Kedua, madzhab jumhur yang menyatakan harus qadla ditambah fidyah berdasarkan ayat al-Qur`an dan sunnah, tepatnya berupa ijma’/atsar-atsar shahabat. Berikut kami sajikan dua dalil dari kedua madzhab tersebut.

قال البخاري) وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ إِذَا فَرَّطَ حَتَّى جَاءَ رَمَضَانُ آخَرُ يَصُومُهُمَا وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ طَعَامًا وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مُرْسَلًا وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يُطْعِمُ وَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهُ الْإِطْعَامَ إِنَّمَا قَالَ {فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

(al-Bukhari berkata) Ibrahim berkata: “Jika seseorang mengabaikan qadla sampai datang Ramadlan berikutnya, maka ia cukup shaum saja. Tidak perlu ditambah dengan memberi makan.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara mursal dan Ibn ‘Abbas: “Harus ditambah memberi makan.” Tetapi Allah tidak menyebut harus memberi makan, hanya berfirman: “Gantilah di hari yang lain” (Shahih al-Bukhari bab mata yuqdla qadla Ramadlan).
Jadi madzhab pertama ini hanya cukup berlandaskan pada al-Qur`an (QS. al-Baqarah [2] : 184 dan 185) yang hanya menyebutkan qadla tanpa fidyah/ith’am (memberi makan).
Sementara itu madzhab kedua adalah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar sebagai berikut:

هَذَا مِنْ كَلَام الْمُصَنِّفِ قَالَهُ تَفَقُّهًا … لَكِنْ إِنَّمَا يَقْوَى مَا اِحْتَجَّ بِهِ إِذَا لَمْ يَصِحّ فِي السُّنَّة دَلِيل الْإِطْعَام إِذْ لَا يَلْزَم مِنْ عَدَم ذِكْرِهِ فِي الْكِتَاب أَنْ لَا يَثْبُتَ بِالسُّنَّةِ، وَلَمْ يَثْبُت فِيهِ شَيْء مَرْفُوع وَإِنَّمَا جَاءَ فِيهِ عَنْ جَمَاعَة مِنْ الصَّحَابَة مِنْهُمْ مَنْ ذُكِرَ وَمِنْهُمْ عُمَر عِنْد عَبْد الرَّزَّاق، وَنَقَلَ الطَّحَاوِيُّ عَنْ يَحْيَى بْن أَكْثَمَ قَالَ : وَجَدْته عَنْ سِتَّةٍ مِنْ الصَّحَابَة لَا أَعْلَم لَهُمْ فِيهِ مُخَالِفًا. اِنْتَهَى . وَهُوَ قَوْل الْجُمْهُور

Al-Hafizh Ibn Hajar menjelaskan: “Ini adalah pernyataan Imam al-Bukhari dari pemahamannya… Hujjah beliau kuat jika memang tidak ada dalam sunnah dalil harus memberi makan, sebab tidak otomatis yang tidak disebutkan dalam al-Qur`an, tidak ada juga dalam sunnah. Memang dalam sunnah yang marfu’ tidak ada, yang ada dari sekelompok shahabat, di antaranya yang sudah disebutkan (Abu Hurairah dan Ibn ‘Abbas), juga ‘Umar dalam riwayat ‘Abdurrazzaq. At-Thahawi meriwayatkan dari Yahya ibn Aktsam: “Aku menemukan enam orang shahabat yang kesemuanya tidak berbeda pendapat dalam hal ini.” Demikianlah. Dan ini adalah pendapat jumhur (Fathul-Bari).
Hemat kami lebih selamat mengikuti madzhab jumhur yang memberlakukan qadla dan fidyah/ith’am karena lebih kuat hujjahnya. Kalaupun anda memilih madzhab yang pertama kami tidak bisa menghalangi karena memang bukan sebuah kesesatan. Lalu seandainya tidak mampu, maka cukup dengan qadla saja. Sebab fidyah/ith’am bisa gugur jika memang tidak mampu, sebagaimana kebijakan Nabi saw kepada shahabat yang tidur dengan istrinya ketika shaum Ramadlan dan diharuskan kifarat memberi makan kepada 60 miskin, tetapi ia tidak mampu. Malah ia sendiri yang diberi shadaqah oleh Nabi saw (Shahih al-Bukhari bab at-tabassum wad-dlahik no. 6087).
Wal-‘Llahu a’lam.