Salafi Yang Tidak Insaf Diri

Salafi Yang Tidak Insaf Diri
Penolakan sekelompok orang yang mengklaim Salafi terhadap dakwah seorang Ustadz anggota Muhammadiyah meski sang Ustadz sering merujuk fatwa ulama-ulama Saudi atau madzhab Hanbali, untuk kesekian saat membuka aib mereka yang berbangga dengan klaim Salafi. Mereka menuduh pihak yang berorganisasi sebagai hizbiyyah (memecah Islam dalam kelompok-kelompok) tetapi sebenarnya mereka sendiri sang penganjur hizbiyyah itu sendiri; menyatukan perpecahan umat Islam karena terjebak dalam paham sempit madzhab Islam dan menyukai kelompok Islam lainnya. Sungguh mengerikan, Salafi yang tidak kunjung insaf diri.
Salafi adalah identitas mulia karena dipersembahkan kepada generasi Salaf yang sudah dijamin kemuliaan mereka oleh Nabi saw dalam hadits:
خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik kalian adalah generasiku (shahabat), lalu generasi berikutnya (tabi’in), lalu generasi berikutnya (atba’ tabi’in)— Hadits ‘Imran ibn Hushain ra muttafaq ‘alaih.
Imam al-Bukhari menuliskan hadits di atas dalam berbagai bab di kitabnya Shahih al-Bukhari, di antaranya dalam kitab al-manaqib (biografi) bab fadla`il ashhabin-Nabiy saw (keutamaan shahabat Nabi saw) no. 3650. Sementara Imam Muslim menuliskannya dalam Shahih Muslim kitab fadla`ilis-shahabah (keutamaan shahabat) bab fadllis-shahabah tsummal-ladzina yalunahum tsummal-ladzina yalunahum (keutamaan shahabat, lalu generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya lagi) no. 6638. Ini di antara data yang jelas bahwa para ulama hadits mengakui kedudukan hadits di atas sebagai pengukuhan akan keutamaan shahabat dan dua generasi berikutnya yakni tabi’in dan atba’ tabi’in atau biasa disebut dengan salaf.
Akan tetapi ini tidak berarti bahwa generasi setelah Salaf sama buruknya sekali dan tidak ada yang baik. Al-Qur`an sendiri menyebutkan mereka sebagai wal-ladzinat-taba’uhum bi ihsan; orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshar dengan baik, yang dijamin akan mendapatkan keridlaan Allah swt dan surga (QS. At-Taubah [9] : 100). Atau disebutkan dalam surat al-Hasyr sebagai wal-ladzina ja`u min ba’dihim; generasi yang datang sesudah Muhajirin dan Anshar yang selalu mendo’akan memaafkan untuk mereka dan sesamanya, juga selalu berusaha keras menghilangkan ghill (kedengkian) terhadap sesama mereka (QS. al-Hasyr [59] : 10).
Generasi sesudah Muhajirin dan Anshar tersebut tentunya tidak dibatasi sampai generasi ketiga saja ( atba’ tabi’in ) melainkan sampai akhir zaman. menyusul dengan “ihsan” tersebut tentunya dalam hal-hal yang sesuai tuntunan al-Qur`an dan sunnah sebagaimana diajarkan QS. an-Nisa` [4] : 59, tidak menjiplak sama sekali bahkan sampai urusan ijtihadnya, sebab sejak zaman Nabi saw ijtihad selalu berbeda dan tidak diwajibkan harus seragam. Dalam beberapa kasus, Nabi saw membolehkan ijtihad yang diamalkan berbeda-beda tanpa perlu saling menyalahkan. Contohnya sebagian shahabat yang shalat ‘ashar di perjalanan sebelum sampai Bani Quraizhah dan sebagiannya lagi yang tetap shalat ‘ashar di Bani Quraizhah sesuai perintah Nabi saw meski sudah masuk waktu maghrib; Nabi saw dan para shahabat yang selalu qashar shalat dalam safar, tetapi ‘Aisyah ra juga ‘Utsman ra selalu tam shalat ketika safar; Nabi saw dan sebagian shahabat yang tetap shaum ketika safar sementara sebagian lainnya memilih berbuka; shalat lagi ketika menemukan air padahal sudah shalat sebelumnya dengan tayammum dan yang tidak shalat lagi. Pilihan-pilihan ijtihad yang beragam tersebut tidak ada yang dipersalahkan oleh Nabi saw.
Maka ketika sebagian besar generasi Khalaf (pasca atba’ tabi’in ) lebih memilih terbuka pada pilihan bid’ah karena pertimbangan kemaslahatan seperti mengadakan ta’lim setiap hari bahkan terjadwal, membukukan kitab-kitab di luar al-Qur`an, dan memilih memahami sifat Allah swt dengan pendekatan ilmu kalam (Fathul-Bari bab al-iqtida bi sunan Rasulillah saw syarah hadits wa syarral-umur muhdatsatuha ), itu tidak berarti bahwa mereka sudah keluar dari jalan Islam yang benar. Mereka hanya sekedar menempuh ijtihad yang berbeda dengan generasi Salaf. Sesuatu yang sebenarnya mereka klaim Salafi pun melakukan kegiatan ta’lim rutin terjadwal dan menerbitkan buku-buku di luar al-Qur`an; doa hal yang dicantumkan bid’ah oleh Salaf. Sampai di sini boleh ditanyakan; mereka yang mengklaim Salafi itu benar Salafi atau sebenarnya sudah Khalafi juga. Biasanya mereka kemudian menjelaskan definisi bid’ah yang mereka kembangkan sendiri dan faktanya berbeda dengan pemahaman bid’ah generasi Salaf. Dalam hal ini terbukti jelas bahwa pemahaman mereka sudah berbeda dengan Salaf itu sendiri.
Sampai di sini perlu ditegaskan bahwa tulisan ini tidak sedang mendiskreditkan Salafi. Sebagai sebuah kelompok yang mengembangkan model ijtihadnya sendiri, mereka sah untuk berada di tengah-tengah umat Islam, selama rujukan al-Qur`an dan Sunnah dijunjung tinggi dan generasi Salaf dijadikan teladan utama. Akan tetapi yang dipersoalkan tulisan ini mereka yang mengklaim Salafi lalu mengategorikan sesat kelompok Islam lainnya yang tidak identik dengan mereka. Padahal kelompok yang mereka sesatkan itu faktanya masih menjunjung tinggi al-Qur`an dan Sunnah dan menjadikan Salaf sebagai teladan utama. Tentu saja tentunya tidak akan memilih untuk identik sepenuhnya dengan ijtihad generasi Salaf. Dalam hal-hal tertentu yang terkait kemaslahatan kontemporer mereka memilih ijtihad yang berbeda dengan generasi Salaf. Tetapi dalam hal-hal tertentu saja. Dalam sebagian besar urusan keagamaan lainnya mereka masih menjadikan Salaf sebagai teladan utama. Kelompok yang diidentikkan dengan Khalaf ini tidak bisa seenaknya Salafi saja disesatkan hanya karena tidak sama bertahan dengan mereka.
Termasuk dalam hal tuduhan hizbiyyah terhadap kaum muslimin yang memilih berdakwah melalui organisasi dakwah. Paham hizbiyyah dirujukkan pada ayat yang melarang memecah belah agama ke dalam berbagai kelompok lalu masing-masingnya merasa benar sendiri:
وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ ٣١ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا ۗ كُلُّ حِزْبٍۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ ٣٢
…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang mencampur-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (QS. ar-Rum [30] : 31-32) .
Apakah benar organisasi-organisasi dakwah itu memecah belah agama? Lalu mereka merasa bangga dengan kelompok mereka sendiri dan mendukung kelompok lain?
Jawabannya tentu saja tidak. Organisasi-organisasi dakwah itu justru bergerak karena kesadaran akan keterbatasan diri sendiri yang jika tidak bersatu dalam ikatan yang kuat maka Islam akan terpecah belah. Maka dari itu mereka selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi-organisasi dakwah lainnya untuk melakukan gerakan dakwah bersama, yang hari ini terafiliasi dalam MUI di seluruh pelosok negeri. Indonesia yang merdeka dan bersatu adalah salah satu buah nyata dari perjuangan organisasi-organisasi dakwah itu sendiri. Intrik-intrik perpecahan merupakan bumbu perjuangan saja yang tidak boleh divonis hizbiyyah, sebagaimana dulu sudah ada sejak zaman ‘Utsman, ‘Ali, ‘Aisyah, Mu’awiyah, dan generasi berikutnya radliyal-‘Llahu ‘ahum . Apakah Salafi juga akan mengategorikan para shahabat itu sebagai kelompok hizbiyyah ?
Kenyataannya justru sebaliknya, mereka yang mengklaim Salafi itulah yang memecah belah agama karena merasa dirinya paling benar dan menilai kelompok lain sesat. Mereka tidak mau berkolaborasi dengan organisasi dakwah lainnya, malah menebar fitnah dan perpecahbelahan di tengah-tengah umat dengan mengajak mereka untuk “memusuhi” organisasi-organisasi dakwah beserta seluruh da’i yang terafiliasi organisasi-organisasi tersebut.
Padahal sejatinya mereka yang mengklaim Salafi tersebut pastinya membuat badan hukum juga apakah itu Yayasan atau Perkumpulan lainnya. Status Persatuan Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan organisasi lainnya adalah badan hukum legal sebagaimana Yayasan-yayasan yang dimiliki oleh kelompok Salafi. Jika organisasi dakwah dinyatakan hizbiyyah lalu mengapa mereka mendirikan Yayasan-yayasan yang banyak juga tidak dinyatakan hizbiyyah juga? Jika organisasi-organisasi dakwah dinyatakan hizbiyyah karena selalu merasa berbangga dengan kelompoknya, memangnya kelompok mana yang secara alami tidak merasa bangga dengan kelompoknya? Itu merupakan sesuatu yang alami dan wajar. Yayasan-yayasan yang membentuk Salafi pun pastinya merasa bangga dengan yayasannya. Tidak bisa tidak. Sepanjang kebanggaan terhadap diri sendiri itu tidak sampai maklumi kelompok lainnya apalagi sampai klaim sering dilakukan kelompok Salafi kepada kelompok lainnya, maka itu tidak bisa diklasifikasikan sebagai hizbiyyah yang menyimpang dari ayat dalam surat ar-Rum di atas.
Faktanya, sejak zaman Nabi saw juga para shahabat terdiri dua kelompok “hizbiyyah” besar yakni Muhajirin dan Anshar. Kedua kelompok itu berbeda secara alami dan tidak bisa disatukan. Sepanjang mereka tetap bersatu dalam Islam, maka tidak ada yang salah dengan pembagian kelompok masyarakat menjadi Muhajirin dan Anshar. Intrik-intrik perpecahan di antara keduanya tidak bisa dihilangkan dan selalu ada, terutama melibatkan aktor-aktor munafiq. Akan tetapi itu tidak menjadi dalih untuk menyebutkan bahwa Muhajirin dan Anshar adalah hizbiyyah yang sesat karena intrik-intrik yang adakalanya muncul tersebut.
Tentunya, tidak semua yang diklaim Salafi sebagaimana dikritik dalam tulisan ini. Ada banyak mereka yang bangga dengan identitas Salafi karena memilih berijtihad dengan manhaj Salaf dan tidak memilih Khalaf tetapi tidak terjebak pada pemahaman hizbiyyah sesat sebagaimana diulas di atas. Mereka tetap menghormati organisasi-organisasi dakwah yang sudah terlebih dahulu berkiprah dalam dakwah di Indonesia serta siap berkolaborasi dalam dakwah seraya menghindari perpecahbelahan.
Tentunya juga, organisasi-organisasi dakwah masih harus terus berbenah diri, sebab di level akar rumput masyarakat masih ditemukan para aktivisnya yang gagal fokus; berdakwah bukan pada Islam dan kebaikan, melainkan berdakwah pada kelompoknya sendiri dengan tekad kelompok lainnya. Wujudnya organisasi dakwah, namun wujudnya seperti partai politik yang mengajak masyarakat untuk mengembangkan dirinya sendiri dengan dukungan kelompok lainnya. Mungkin sampel salah inilah yang selalu dikalahkan rata-rata oleh mereka yang mengklaim Salafi tersebut.
Sebagai pelanjut dari generasi shahabat, umat Islam diajarkan oleh Allah swt untuk selalu berdo’a agar tidak ada kedengkian di antara sesama umat Islam. Agar keberadaan kelompok yang banyak di tengah-tengah masyarakat dan merupakan sunnatullah sebagaimana Allah swt ajarkan dalam QS. al-Hujurat [49] : 13, fokusnya tetap berkumpul untuk menjadi orang yang paling bertaqwa; tidak terjebak konflik, selalu islah, tidak menghina, menghina, memanggil dengan sebutan buruk, berprasangka buruk, mencari-cari kejelekan, dan senang menggunjing.
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “ Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hasyr [59] : 10)