Ramadlan Memerdekakan Hati

Ramadlan Memerdekakan Hati
Manusia bahagia adalah manusia yang merdeka; manusia yang terbebas dari belenggu penjajahan di dunia. Islam menyoroti penjajahan terbesar bagi manusia itu sendiri adalah dunia. Ketika seseorang masih terjajah oleh dunia maka selamanya ia akan menjadi manusia yang sengsara. Hari-harinya selalu diperbudak oleh syahwat dan kepentingan dunia. Hidupnya selalu terbelenggu oleh kesibukan dunia. Hatinya bahkan kesusahan untuk sejenak melepas rindu menghadap Sang Pencipta. Hati yang masih diperbudak seperti itu harus segera dimerdekakan. Ramadlan adalah salah satu jalan untuk memerdekakannya.
Manusia dari sejak penciptaannya mendapat mandat dari Sang Pencipta untuk menjadi khalifah di muka bumi. Maka ia harus selalu tunduk hanya kepada pemberi mandatnya yakni Sang Pencipta. Di muka bumi ia harus menjadi penguasanya dan pengendalinya, bukan malah dikuasai dan dikendalikan bumi. Maka manusia yang malah menghamba pada dunia, bukannya menaklukkannya, adalah manusia yang menyalahi fitrahnya. Manusia seperti ini malah durhaka menjadikan Allah swt dan akhirat sebagai budaknya yang akan selalu direndahkan olehnya hanya karena tunduk pada kehendak dunia. Jadinya ia menuhankan dunia dan memperbudak Allah swt. Padahal seharusnya ia menuhankan Allah swt dan memperbudak dunia.
Manusia-manusia seperti ini bahagianya hanya ketika meraih dunia, tetapi pasti sesaat saja, sebab dunia tidak mungkin selalu ada sesuai kehendaknya. Ketika dunia tiada, maka ia selalu terjebak dalam sengsara, dan nafsunya kemudian terjajah untuk selalu meraihnya kembali. Hatinya selamanya berada dalam kelelahan tak berujung. Mengejar-ngejar dunia tetapi yang dikejar selalu menjauh dan tidak pernah mau mendekat lama apalagi selamanya. Bukannya menguasai dunia, hatinya malah tertawan di penjara dunia.
Semestinya hatinya hanya menunduk kepada Allah swt dan memperbudak dunia. Allah swt senantiasa ada dan hadir menenteramkan hati orang-orang yang selalu merunduk kepada-Nya. Ada atau tiada dunia tidak akan jadi masalah bagi hati yang selalu bergantung kepada Sang Mahaada. Hatinya tidak perlu mengejar-ngejar Allah swt karena Allah swt akan selalu ada dan hadir lebih cepat daripada hati yang hendak menghadap kepada-Nya. Orang-orang yang selalu mendekat kepada Allah swt akan merdeka dari penjajahan dunia sehingga tidak akan pernah sengsara.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Nabi saw bersabda: Allah ta’ala berfirman: “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam satu kelompok, Aku pun akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya selengan. Jika ia mendekat kepada-Ku selengan, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan menjemputnya dengan berlari.” (Shahih al-Bukhari bab wa qaulil-‘Llah ta’ala wa yuhadzdzirukumul-‘Llah nafsahu no. 7405; Shahih Muslim bab al-hatsts ‘ala dzikril-‘Llah no. 6981).
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh hebat urusan hidup seorang mukmin itu, karena semua urusan hidupnya pasti selalu baik. Jika bahagia datang kepadanya, ia syukur, dan itu baik untuknya. Jika kesusahan datang kepadanya, ia sabar, dan itu baik untuknya (Shahih Muslim bab al-mu`min amruhu kulluhu khair no. 7692).
Catatan: Syukur dan sabar itu amal ketundukan kepada Allah swt; kesadaran tingkat tinggi bahwa Allah swt senantiasa ada membersamai hamba-Nya.
الدُّنْيَا مُدْبِرَة وَالْآخِرَة مُقْبِلَة فَعَجَب لِمَنْ يُقْبِل عَلَى الْمُدْبِرَة وَيُدْبِر عَلَى الْمُقْبِلَة
Dunia itu senantiasa pergi sedangkan akhirat pasti datang. Sungguh aneh orang yang menghadap kepada sesuatu yang senantiasa pergi dan membelakangi sesuatu yang pasti datang (ajaran para ulama sebagaimana dikutip dalam Fathul-Bari bab fil-amal wa thulihi).
Dunia tidak sama sekali untuk dijauhi dan dimusuhi, melainkan untuk ditinggali dan dikendalikan di bawah ketundukan kepada Sang Pencipta. Bekerja, menyambung hidup, dan meraih cita-cita duniawi dipersilahkan. Tetapi semuanya itu hanya sekadarnya saja untuk mencapai tujuan utama yakni kehidupan akhirat meraih keridlaan Sang Pencipta (rujuk QS. Al-Qashash [28] : 77).
Dua ayat dalam surat an-Nur menegaskan cahaya Allah swt (yang diuraikan di ayat ke-35-nya) akan diberikan kepada mereka yang rutin bertasbih di masjid-masjid Allah swt di setiap harinya. Mereka bukan orang-orang yang meninggalkan dunia sama sekali atau bahkan pengangguran. Mereka aktif berbisnis dan berdagang, tetapi tidak terjajah oleh aktivitas duniawinya tersebut. Di saat datang waktunya dzikir, shalat, dan zakat, mereka selalu bergegas mendahulukannya dengan mengenyampingkan dunia.
فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْـَٔاصَالِ ٣٦ رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِ ۙيَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُ ۙ
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (QS. An-Nur [24] : 36-37).
Dalam tiga ayat terakhir surat al-Jumu’ah, mereka digambarkan sebagai orang-orang yang selalu siap meninggalkan aktivitas bekerjanya untuk bergegas (fa-s’au) dzikrul-‘Llah. Selepas shalat mereka kembali bekerja mencari karunia Allah swt di dunia, tetapi tetap mendawamkan dzikir kepada Allah swt. Tidak pernah sekalipun mereka mendahulukan bisnis dan pekerjaannya (tijarah) termasuk hiburan duniawinya (lahwan) dengan mengorbankan rizki yang ada di sisi Allah swt (negeri akhirat). Mereka sadar betul firman Allah swt:
قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ ࣖ
Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan“, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki (QS. Al-Jumu’ah [62] : 11).
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa (harta) yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10] : 58).
Manusia pada umumnya terjajah oleh syahwat duniawi; ingin kaya, ingin selalu makan enak, ingin berpakaian bagus, ingin memiliki rumah mewah, ingin kendaraan yang bagus, ingin berkuasa, ingin jabatan tinggi, ingin status sosial tinggi, ingin terkenal, yang kesemuanya hanya pernak-pernik duniawi. Di saat yang sama ia abai dari istighfar di waktu sahur; selalu terlambat shalat berjama’ah; selalu terlewat shalat tahajjud, dluha, tahiyyatul-masjid, rawatib, dan syukrul-wudlu; nyaris tidak pernah dzikir khusyu ba’da shalat atau di waktu pagi dan petang; tidak mementingkan shaum sunat; tidak menyantuni kebutuhan pendidikan anak-anak yatim; tidak memenuhi kebutuhan makan orang-orang miskin; meminjamkan uang malah kepada orang-orang kaya dalam bentuk tabungan di bank bukan kepada orang-orang miskin yang membutuhkan; berinvestasi di emas, tanah, atau rumah, bukan di wakaf dan segenap kegiatan fi sabilillah; abai dari memakmurkan masjid dan majelis ta’lim karena sibuk memakmurkan bisnis dan pekerjaan; waktu senggang disesaki dengan hiburan yang menjenuhkan, bukan diisi dengan dzikir, menimba ilmu, dan membaca al-Qur`an; waktu malam hanya untuk tidur dan hiburan, tidak ada sama sekali untuk berkegiatan ilmu dan sujud dalam shalat malam. Nyata sekali menuhankan dunia dan memperbudak Allah swt. Bukannya menuhankan Allah swt dan memperbudak dunia.
Agar manusia tidak terlena dalam keterjajahan oleh dunia, Allah swt menyediakan ibadah shaum Ramadlan untuk mengembalikan lagi niat imanan wa-htisaban dalam hati. Shaum Ramadlan selama satu bulan penuh penting untuk diamalkan guna mewujudkan taqwa dalam hati. Kekayaan tak terhingga yang selalu terhalang masuk oleh nafsu dan syahwat duniawi yang berakar pada nafsu makan. Meski faktanya seringkali menyedihkan. Umat Islam hanya menjadikan shaum di siang harinya sebagai “ngawahan” untuk melampiaskan nafsu secara lebih besar lagi di waktu berbuka malamnya atau berbuka selepas lebarannya. Jika fakta menyedihkan ini yang selalu ada maka selamanya shaum Ramadlan tidak pernah mencapai tujuannya. Selamanya hati dibiarkan terjajah oleh dunia dan tidak pernah bisa merdeka darinya.
Malam harinya didisiplinkan shalat malam untuk menikmati bacaan tartil al-Qur`an. Meski faktanya juga seringkali menyedihkan; shalat malam hanya diamalkan di pekan pertama Ramadlan saja, itu pun tidak rela jika imamnya membaca surat yang panjang secara tartil. Hati yang seharusnya merdeka dari dunia untuk sepenuhnya bebas menikmati bacaan tartil al-Qur`an di setiap malam Ramadlan, selalu gagal diwujudkan.
Masih di malam harinya juga, Nabi saw meneladankan tadarus al-Qur`an agar hati senantiasa kaya dengan al-Qur`an. Hati sepenuhnya bebas merdeka menikmati hidangan al-Qur`an tanpa terganggu oleh penjajah syahwat makan, jajan, dan hiburan. Tetapi faktanya juga seringkali membuat patah hati. Mayoritas malah terjajah oleh syahwat makan, jajan, dan hiburan, bukannya bebas merdeka menikmati hidangan al-Qur`an setiap malam.
Wujud hati yang kaya dengan al-Qur`an melalui tadarus tersebut adalah hati yang merdeka dari belenggu syahwat ingin memiliki harta berlebih, melainkan bebas sepenuhnya berbagi kebahagiaan kepada anak yatim, faqir miskin, dan segenap aktivitas fi sabilillah.
Puncaknya libur dari kesibukan duniawi yang melelahkan selama 10 hari 10 malam, atau setidaknya di 10 malam harinya, atau malam-malam ganjilnya, atau minimalnya di tiga malam ganjil pekan terakhir Ramadlan (baca: https://attaubah-institute.com/minimal-tiga-malam/) untuk bebas merdeka memanjatkan dzikir dan do’a di masjid sekehendak hati.
Semua rangkaian ibadah ini merupakan anugerah Allah swt yang tidak pantas diabaikan demi memerdekakan hati dari penjajahan dunia. Hanya orang-orang yang merdeka dari syahwat dunia yang akan berbahagia dan itulah wujud taqwa sebenarnya. Wal-‘Llahu a’lam.



