Inti Haji Itu Dzikir

Ibadah haji adalah ibadah yang intinya dzikir. Dari awal manasik sampai akhirnya akan selalu dipenuhi dzikir. Ciri orang yang lulus haji pun adalah orang yang sudah lekat dengan dzikir. Maka siapapun yang sudah beribadah haji tetapi masih susah dan malas dzikir berarti hajinya tidak mabrur. Sebaliknya, mereka yang belum mampu ibadah haji tetapi sudah bagus dalam amalan dzikir pada hakikatnya mereka sudah beribadah haji.

Dalam surat al-Hajj Allah swt sudah memaklumatkan bahwa salah satu tujuan pokok ibadah haji adalah untuk berdzikir kepada Allah swt:

وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ  ٢٧ لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ  ٢٨

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS. al-Hajj [22] : 27-28).

Maka dari itu rangkaian manasik haji pun selalu penuh dengan perintah dzikir kepada Allah swt:

فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَٰتٖ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِۖ وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ وَإِن كُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ  ١٩٨

Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat (QS. al-Baqarah [2] : 198).

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنۡ حَيۡثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  ١٩٩

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Baqarah [2] : 199).

فَإِذَا قَضَيۡتُم مَّنَٰسِكَكُمۡ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَذِكۡرِكُمۡ ءَابَآءَكُمۡ أَوۡ أَشَدَّ ذِكۡرٗاۗ … ٢٠٠

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu (QS. al-Baqarah [2] : 200).

Terkait ayat 200 ini, Ibn ‘Abbas menjelaskan, orang-orang Arab jahiliyyah setelah manasik haji selesai punya tradisi menyebut-nyebut kehebatan leluhur mereka. Mereka berbangga-bangga dengan garis keturunan mereka. Di samping itu, mereka suka berdo’a tetapi dengan do’a yang hanya berorientasi duniawi. Yang mereka mohonkan hanya kesenangan dan keinginan duniawi, tidak ada permohonan untuk akhiratnya sama sekali. Orang-orang seperti inlah yang disebutkan Allah swt dalam kelanjutan ayat di atas: “Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.”

Maka Allah swt memerintahkan umat Islam untuk mengganti tradisi menyebut kehebatan leluhur mereka dengan menyebut-nyebut kemahakuasaan Allah swt. Au asyadda dzikran, bahkan harus lebih hebat, banyak, dan khusyu’ dibanding tradisi jahiliyyah dalam menyebut-nyebut leluhur mereka (lafazh au dalam ayat di atas bukan bermakna ‘ragu’, tetapi li tahqiqil-khabar; untuk penekanan berita, sehingga diterjemahkan ‘atau bahkan harus lebih’).

Dalam do’a pun jangan meniru orang-orang jahiliyyah yang hanya memohon untuk urusan dunia saja, tetapi juga harus memohon untuk kebaikan di akhirat dan dijauhkan dari neraka. Orang-orang seperti inilah yang ibadahnya maqbul atau mabrur: “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan [ayat 202] (Tafsir Ibn Katsir).

 Selanjutnya Allah swt masih memerintahkan dzikir selepas manasik 10 Dzulhijjah:

۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ …  ٢٠٣

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang (QS. al-Baqarah [2] : 203).

Penyebutan ayyam ma’lumat dalam surat al-Hajj [22] : 28 dan ayyam ma’dudat dalam surat al-Baqarah [2] : 203 sebagai rangkaian dzikir dalam ibadah haji dijelaskan oleh Ibn ‘Abbas ra sebagaimana dituliskan oleh al-Bukhari secara ta’liq (kutipan) dalam kitab Shahihnya sebagai berikut:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ وَالْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ

Ibn ‘Abbas berkata: Maksud dari perintah berdzikir kepada Allah pada ayyam ma’lumat itu adalah ‘hari-hari yang 10’ (sepuluh hari pertama Dzulhijjah), sementara ayyam ma’dudat adalah ‘ayyam tasyriq’ (11-13 Dzulhijjah). Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar menuju pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah sambil bertakbir, orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti mereka berdua. Muhammad ibn ‘Ali (ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Thalib) juga bertakbir sesudah shalat sunat (tidak hanya sesudah shalat wajib) (Shahih al-Bukhari bab fadllil-‘amal fi ayyamit-tasyriq).

Atsar dari Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Abu Hurairah dan Muhammad ibn ‘Ali di atas menunjukkan bahwa rutinitas dzikir dalam rangkaian manasik haji (termasuk qurban) sudah diamalkan sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Bukan hanya selepas shalat wajib dan sunat tetapi juga bahkan di pasar atau tempat-tempat lainnya. Meski ini semua tidak sampai wajib, tetapi ini menunjukkan sunnah untuk memperbanyak dzikir dalam rangkaian manasik haji, termasuk qurban.

Orang yang lulus dari ibadah haji dan qurban, Allah swt beri gelar al-mukhbit. Ciri utamanya adalah ahli dzikir:

وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ  ٣٤ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ …  ٣٥

…Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka… (QS. al-Hajj [22] : 34-35)

Al-Mukhbit asal katanya khabt. Khabt, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur`an, makna asalnya adalah tanah yang rendah (al-muthma`innu minal-ardl). Kalau ada ungkapan akhbatar-rajul maka maksudnya ‘orang tersebut merendahkan tanah atau hendak menuju dataran yang rendah’. Dari makna ini maka ikhbat/mukhbit kemudian digunakan untuk makna lembut (lin) dan merendah (tawadlu’). Ciri utama dari orang yang lembut itu adalah mudah bergetar hatinya ketika disebutkan Allah atau merasakan dzikir sebagai kepuasan hatinya. Dalam ayat lain Allah swt menjelaskannya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ  ٢٨

(Orang yang akan mendapatkan hidayah itu adalah) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. ar-Ra’d [13] : 28).

Dzikir sebagaimana dijelaskan ‘Allamah ar-Raghib al-Ashfahani berarti ingat selalu atau ingat sesudah lupa. Praktiknya melibatkan hati dan lisan (Mu’jam Mufradat Alfazhil-Qur`an). Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa dzikir bisa bermakna mengucapkan ucapan yang dianjurkan syari’at seperti al-baqiyatus-shalihat (artinya amal-amalan yang kekal lagi baik, yakni subhanal-‘Llah, al-hamdu lil-‘Llah, la ilaha illal-‘Llah, Allahu Akbar), hauqalah (la haula wa la quwwata illa bil-‘Llah), basmalah, hasbalah (hasbiyal-‘Llah wa ni’mal-wakil), istighfar, dan do’a-do’a untuk kebaikan dunia dan akhirat. Selain itu sebenarnya, termasuk dzikir juga selalu menjaga amal-amal wajib dan sunat seperti membaca al-Qur`an, membaca hadits, mengkaji ilmu, dan mengamalkan shalat sunat (Fathul-Bari kitab ad-da’awat bab fadlli dzikril-‘Llah ‘azza wa jalla).

Imam an-Nawawi mengutip penjelasan dari Ibn ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha` dan Abu ‘Amr ibn as-Shalah, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dzikir adalah berdzikir sesudah shalat, di waktu pagi dan petang, ketika hendak tidur, bangun tidur, keluar masuk rumah, melaksanakan shalat lima waktu dengan sebenarnya, selalu ingat kepada Allah di setiap saat, dan dzikir-dzikir yang ma`tsur (ada landasan dalilnya) di setiap waktunya baik di waktu siang atau malam, itu semua termasuk dalam pengertian dzikir (al-Adzkar, hlm. 7).

Itu berarti bahwa dzikir bukan hanya dengan hati, tetapi juga melibatkan lisan dengan rutin mengucapkan lafazh-lafazh dzikir seperti telah diuraikan di atas, tentunya seperti yang telah diajarkan Nabi saw dalam sunnah. Dzikir juga melibatkan amal yang selalu ta’at kepada Allah swt sebagai bukti ia selalu mengingat Allah swt. Demikian juga, dzikir tidak hanya mengucapkan dengan lisan, tetapi juga melibatkan hati.

Semuanya itu ketika sudah mudah diamalkan oleh seseorang dan hatinya merasa tenang dengan amal-amal itu, berarti orang tersebut sudah meraih haji mabrur. Bahkan kalau seseorang belum ibadah haji sekalipun, pada hakikatnya ia sudah sampai derajat haji mabrur. Tetapi jika masih terasa berat mengamalkannya dan malas untuk merutinkannya, pertanda belum ada haji mabrur dalam dirinya. Masih dibutuhkan kerja keras dan cerdas untuk membiasakan diri dekat dengan dzikrul-‘Llah sehingga pantas mendapatkan titel al-mukhbit. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *