Haji bagi Yang Belum Haji

Tidak sedikit orang Islam yang mengelus dada ketika ia tahu bahwa ibadah haji tidak mungkin ia amalkan. Ia merasa bahwa Islamnya tidak sempurna karena rukun yang kelima tidak bisa ditunaikan. Padahal haji itu maknanya al-qashdu; niat yang bulat untuk kembali kepada Allah swt. Selama niat itu ditanamkan dalam hati dengan benar, maka siapapun orangnya pasti akan mendapatkan pahala haji. Sebaliknya, orang yang sudah ibadah haji tetapi hatinya belum kembali kepada Allah swt maka hajinya dipastikan tidak mabrur.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fathul-Bari menjelaskan:

وَأَصْل الْحَجّ فِي اللُّغَة الْقَصْد، وَقَالَ الْخَلِيل: كَثْرَة الْقَصْد إِلَى مُعَظَّم. وَفِي الشَّرْع الْقَصْد إِلَى الْبَيْت الْحَرَام بِأَعْمَالٍ مَخْصُوصَة

Asal makna haji secara bahasa adalah al-qashdu (niat, maksud, cita-cita, tujuan). Al-Khalil berkata: Memperbanyak niat/maksud pada sesuatu yang diagungkan. Secara syari’at bermakna menuju Baitul-Haram dengan amal-amal khusus (Shahih al-Bukhari bab fi udlhiyyatin-Nabi saw no. 5553).

Kedudukan ibadah haji sebagai rukun terakhir menggambarkan level paling tinggi dari rukun Islam. Rukun ini harus sudah didasari oleh syahadat, shalat, zakat, dan shaum yang sudah kuat, sehingga otomatis haji akan terlaksana dengan mabrur (bernilai kebaikan). Mengamalkan haji tanpa dasar yang kokoh dalam hal syahadat, shalat, zakat, dan shaum hanya akan memastikan haji yang diamalkan tidak mabrur. Haji yang mabrur adalah haji yang melahirkan akhlaq ikhbat (ketundukan kepada Allah). Akhlaq ikhbat terpancar dari syahadat, shalat, zakat, dan shaum yang sudah baik. Dalam surat al-Hajj Allah swt menyebut gelar orang-orang yang mengamalkan haji dan qurban sebagai berikut:

وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ  ٣٤ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ عَلَىٰ مَآ أَصَابَهُمۡ وَٱلۡمُقِيمِي ٱلصَّلَوٰةِ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ  ٣٥

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka (QS. al-Hajj [22] : 34-35).

Penamaan haji dengan “haji” juga menunjukkan harus adanya niat, maksud, cita-cita, dan tujuan yang jelas dalam pengamalannya, yakni bahwa betul-betul ia berhaji untuk menuju ke rumah Allah dan kembali pada keridlaan Allah. Ini menggambarkan totalitas yang menyeluruh dari seorang muslim untuk hanya mengarahkan hidupnya kepada Allah swt secara sempurna. Tanpa niat dan tujuan yang jelas seperti ini haji tidak mungkin mabrur. Maka dari itu dalam al-Qur`an Allah swt menyebutkan urgensi niat ini di bagian awal ayatnya:

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ

Dan karena Allah, wajib bagi manusia haji ke Baitullah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanannya (QS. Ali ‘Imran [4] : 97)

Terkait niat ini juga orang yang belum mampu melaksanakan haji tinggal fokus pada niat hajinya, maka pasti akan mendapatkan pahala senilai orang yang mengamalkan haji. Dan di sanalah terdapat rahasia dari penamaan ibadah ini dengan haji, sebab bisa dipastikan tidak mungkin semua orang mampu mengamalkan haji dan itu terlihat dari firman Allah swt: “Bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanannya,” sehingga setiap orang yang belum mampu tinggal fokus pada “haji” (niat) tersebut. Nabi saw sendiri dalam hadits lain sudah menjelaskan:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dunia itu milik empat orang: (1) Hamba yang Allah beri rizki harta dan ilmu, maka ia bertaqwa kepada Rabbnya dengan hartanya, menyambungkan kebaikan kepada kerabat dengannya, dan mengetahui hak Allah dalam harta tersebut. Maka ini kedudukan yang paling mulia. (2) Hamba yang Allah beri rizki ilmu tetapi tidak diberi rizki harta, maka ia berniat dengan benar berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta pasti akan beramal seperti amal orang itu.’ Maka ia dengan niatnya mendapatkan pahala yang sama. (3) Hamba yang Allah beri rizki harta tetapi tidak diberi rizki ilmu. Maka ia mengelola hartanya tanpa ilmu; tidak bertaqwa kepada Rabbnya dengan hartanya, tidak menyambungkan kebaikan kepada kerabat dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah dalam harta tersebut. Maka ini kedudukan yang paling hina. (4) Hamba yang Allah beri rizki harta tetapi tidak diberi rizki ilmu, maka ia berniat dengan benar berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta pasti akan beramal seperti amal orang itu.’ Maka ia dengan niatnya mendapatkan dosa yang sama.” (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a matsalud-dunya matsal arba’ah nafar no. 2325. Imam at-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan shahih.”)

Dalam hadits di atas, Nabi saw menyinggung hamba Allah di urutan kedua dan keempat orang yang shadiqun-niyyat (niatnya benar) tetapi belum mampu beramal. Orang seperti itu akan mendapatkan balasan yang sama dengan orang yang beramalnya. Hamba Allah yang kedua karena shadiqun-niyyat dalam amal kebaikan maka akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengamalkan kebaikan meski ia belum mampu mengamalkannya. Sementara hamba Allah yang keempat karena shadiqun-niyyat dalam amal keburukan maka akan mendapatkan dosa yang sama dengan orang yang mengamalkan keburukan meski ia belum mengamalkannya.

Dalam hal ini maka setiap orang yang yang belum haji harus benar-benar dalam shadiqun-niyyat ingin berhaji dan betul-betul meraih haji yang mabrur. Shadiqun-niyyat tersebut otomatis akan tercermin dalam akhlaq ikhbat-nya kepada Allah swt sebagaimana dijelaskan dalam ayat surat al-Hajj di atas. Yang kunci pokoknya terletak pada jiwa yang mampu merasakan getaran khas ketika berdzikir kepada Allah swt (alladzina idza dzukiral-‘Llah wajilat qulubuhum).

Ayat-ayat haji itu sendiri dipenuhi dengan perintah untuk berdzikir kepada Allah swt. Dalam QS. al-Baqarah [2] : 196-203 yang membahas haji ada enam perintah untuk menyertakan dzikir selama ibadah haji. Demikian juga dalam QS. al-Hajj [22] : 26-37 tidak kurang disebutkan lima perintah dzikir selama ibadah haji. Dalam praktiknya, sebagaimana diajarkan sunnah, sejak ihram dimulai sampai berakhirnya rangkaian ibadah haji dipenuhi dengan ibadah dzikir. Itu semua mengajarkan bahwa inti ibadah dalam haji adalah hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah swt dengan getaran-getaran khasnya.

Inilah al-qashdu yang ada dalam ibadah haji. Selama orang yang belum mampu haji shadiqun-niyyat ingin menjadi haji mabrur dan itu dibuktikan dengan hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah swt serta merasakan getaran-getaran khasnya, maka sebagaimana Nabi saw sabdakan dalam hadits di atas, pahalanya akan sama dengan yang ibadah haji. Meski tentunya, sebagaimana ditegaskan Imam an-Nawawi tidak persis sama, tergantung pada kadar amal masing-masingnya berdasarkan firman Allah swt:

وَلِكُلّٖ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۖ وَلِيُوَفِّيَهُمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ  ١٩

Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan (QS. al-Ahqaf [46] : 19).

Orang-orang yang sudah menikmati dzikir kepada Allah swt otomatis akan menjadi orang yang berkualitas dalam sabar, shalat, dan derma hartanya. Meski mereka belum mampu haji, tetapi hati mereka sudah benar-benar bulat dengan haji dan itu terbukti dalam amal-amal orang yang seyogianya menjadi akhlaq bagi orang yang berhaji. Inilah haji bagi orang yang belum haji. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *