Bukti Kenabian Muhammad ﷺ Bagian Ketiga

Petunjuk kenabian Muhammad ﷺ sudah disampaikan oleh beberapa orang Ahli Kitab kepada keluarga ‘Abdul-Muththallib sejak kelahiran Muhammad ﷺ. Tetapi karena keummian (ketidakpahaman pada ajaran kitab Allah, tidak sebagaimana halnya Yahudi dan Kristen), mereka semua tidak memahaminya. Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan riwayat-riwayat tersebut dalam kitabnya, Fathul-Bari, pada pengantar bab ‘alamatin-nubuwwah dari kitab Shahih al-Bukhari.

Ya’qub ibn Hasan meriwayatkan hadits ‘Aisyah ra dengan sanad hasan. ‘Aisyah ra berkata:

كَانَ يَهُودِيّ قَدْ سَكَنَ مَكَّة، فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَة الَّتِي وُلِدَ فِيهَا النَّبِيّ ﷺ قَالَ: يَا مَعْشَر قُرَيْش هَلْ وُلِدَ فِيكُمْ اللَّيْلَة مَوْلُود؟ قَالُوا: لَا نَعْلَم. قَالَ: فَإِنَّهُ وُلِدَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَة نَبِيّ هَذِهِ الْأُمَّة بَيْن كَتِفَيْهِ عَلَامَة لَا يَرْضَع لَيْلَتَيْنِ لِأَنَّ عِفْرِيتًا مِنْ الْجِنّ وَضَعَ يَده عَلَى فَمه. فَانْصَرَفُوا فَسَالُوا فَقِيلَ لَهُمْ: قَدْ وُلِدَ لِعَبْدِ اللَّه بْن عَبْد الْمُطَّلِب غُلَام، فَذَهَبَ الْيَهُودِيّ مَعَهُمْ إِلَى أُمّه فَأَخْرَجَتْهُ لَهُمْ، فَلَمَّا رَأَى الْيَهُودِيّ الْعَلَامَة خَرَّ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ وَقَالَ: ذَهَبَتْ النُّبُوَّة مِنْ بَنِي إِسْرَائِيل، يَا مَعْشَر قُرَيْش أَمَا وَاَللَّه لَيَسْطُوَنَّ بِكُمْ سَطْوَة يَخْرُج خَبَرهَا مِنْ الْمَشْرِق وَالْمَغْرِب

Ada seorang Yahudi yang dahulu tinggal di Makkah. Pada malam hari dilahirkan Nabi saw, ia berkata: “Wahai bangsa Quraisy, apakah ada seorang bayi yang dilahirkan malam ini?” Mereka menjawab: “Kami tidak tahu.” Ia berkata: “Sungguh telah dilahirkan malam ini Nabi umat ini, di antara dua bahunya ada tanda (kenabian). Ia tidak akan menyusu dua malam karena jin ‘Ifrit meletakkan tangannya di mulutnya.” Maka mereka pun pergi mencari dan bertanya-tanya. Lalu diberitahukan kepada mereka bahwa putra ‘Abdullah ibn ‘Abdil-Muththalib telah dilahirkan. Orang Yahudi itu pergi bersama mereka kepada ibunya, dan ibunya pun memperlihatkan bayi itu kepada mereka. Ketika orang Yahudi itu melihat tanda (kenabian) ia langsung jatuh pingsan. Sesudah siuman ia berkata: “Telah hilang kenabian dari Bani Isra`il. Wahai bangsa Quraisy, sungguh demi Allah, pasti akan ditimpakan sesuatu yang dahsyat kepada kalian yang beritanya sampai ke timur dan barat.” (Fathul-Bari bab ‘alamatin-nubuwwah).

Tanda kenabian di antara dua bahu Nabi saw yang dimaksud ‘Aisyah ra di atas diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَقَعَ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ وَتَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتِمٍ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ

Dari as-Sa`ib ibn Yazid, ia berkata: Bibiku membawaku kepada Rasulullah saw dan berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh anak saudaraku ini sakit.” Beliau lalu mengusap kepalaku dan mendo’akan berkah untukku. Beliau lalu wudlu dan aku minum dari air wudlunya. Kemudian aku berdiri di belakang punggungnya dan aku melihat cap/tanda di antara dua bahunya seperti telur burung hajalah [partridge] (Shahih al-Bukhari bab khatamun-nubuwwah no. 3541; Shahih Muslim bab itsbat khatamin-nubuwwah no. 6233).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ ﷺ وَأَكَلْتُ مَعَهُ خُبْزًا وَلَحْمًا … ثُمَّ دُرْتُ خَلْفَهُ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِ النُّبُوَّةِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ عِنْدَ نَاغِضِ كَتِفِهِ الْيُسْرَى جُمْعًا عَلَيْهِ خِيلاَنٌ كَأَمْثَالِ الثَّآلِيلِ

Dari ‘Abdullah ibn Sirjis, ia berkata: “Aku pernah melihat Nabi saw dan makan roti dan daging bersama beliau… Kemudian aku berputar ke belakang beliau dan aku melihat cap/tanda kenabian di antara dua bahunya dekat tulang atas bahu kirinya berbentuk gumpalan tahi lalat seperti kutil.” (Shahih Muslim bab itsbat khatamin-nubuwwah no. 6234).

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Salamah ibn Salamah dengan sanad hasan bahwa dahulu di Madinah sebelum Nabi saw diutus ada tetangga Yahudi yang sering mengingatkan tentang hari kiamat dan kebangkitan. Tetangga-tetangganya dari bangsa Arab tentu keheranan dan menanyakan apa tanda-tandanya. Orang Yahudi itu menjawab:

نَبِيٌّ يُبْعَثُ مِنْ نَحْوِ هَذِهِ الْبِلَادِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ مَكَّةَ وَالْيَمَنِ، قَالُوا: وَمَتَى تَرَاهُ؟ قَالَ: فَنَظَرَ إِلَيَّ وَأَنَا مِنْ أَحْدَثِهِمْ سِنًّا، فَقَالَ: إِنْ يَسْتَنْفِدْ هَذَا الْغُلَامُ عُمُرَهُ يُدْرِكْهُ، قَالَ سَلَمَةُ: فَوَاللهِ مَا ذَهَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى بَعَثَ اللهُ تَعَالَى رَسُولَهُ ﷺ وَهُوَ حَيٌّ بَيْنَ أَظْهُرِنَا، فَآمَنَّا بِهِ وَكَفَرَ بِهِ بَغْيًا وَحَسَدًا، فَقُلْنَا: وَيْلَكَ يَا فُلَانُ أَلَسْتَ بِالَّذِي قُلْتَ لَنَا فِيهِ مَا قُلْتَ؟ قَالَ: بَلَى وَلَيْسَ بِهِ

“Seorang Nabi akan diutus dari negeri itu.” Ia menunjuk dengan tangannya ke arah Makkah dan Yaman (keduanya satu arah di sebelah selatan Madinah). Tetangga-tetangganya bertanya: “Kapan kamu akan melihatnya?” Ia lalu melihat kepadaku dan aku yang paling kecil usianya saat itu. Ia berkata: “Jika anak ini panjang umurnya pasti akan mengalaminya.” Salamah berkata: “Demi Allah tidak hilang malam dan siang hingga Allah mengutus Rasul-Nya. Ia juga masih hidup dan ada di tengah-tengah kami. Kami beriman kepada Rasul itu sedangkan ia malah kufur dengan sewenang-wenang dan hasud.” Kami bertanya kepadanya: “Celaka kamu hai fulan. Bukankah yang kamu katakan kepada kami dahulu ada padanya seperti yang kamu katakan?” Ia menjawab: “Bukan, ia bukan Nabi itu.” (Musnad Ahmad bab hadits Salamah ibn Salamah no. 15841).

Shahabat ‘Utsman ibn Abil-‘Ash meriwayatkan dari ibunya bahwa ia hadir ketika Aminah hendak melahirkan Nabi Muhammad saw. Pada saat menjelang melahirkan, ibu ‘Utsman menjelaskan:

فَجَعَلْت أَنْظُر إِلَى النُّجُوم تَدَلَّى حَتَّى أَقُول لَتَقَعْنَ عَلَيَّ، فَلَمَّا وَلَدَتْ خَرَجَ مِنْهَا نُور أَضَاءَ لَهُ الْبَيْت وَالدَّار

Aku melihat bintang-bintang mendekat hingga aku berkata: ‘Semuanya akan jatuh kepadaku.’ Ketika Aminah sudah melahirkan keluar darinya cahaya yang menerangi rumah dan lingkungan sekitarnya (Fathul-Bari bab ‘alamatin-nubuwwah mengutip riwayat dari at-Thabrani).

Dikuatkan oleh hadits al-‘Irbadl ibn Sariyah ra, bahwa Nabi saw sendiri pernah bersabda:

إِنِّي عِنْدَ اللهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِ ذَلِكَ، دَعْوَةِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةِ عِيسَى قَوْمَهُ، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ

Sungguh aku di sisi Allah sudah ada dalam induk kitab (kitab taqdir) sebagai penutup para Nabi dan sungguh Adam masih terselubung dalam tanahnya. Aku akan beritahukan kalian penjelasannya; do’a ayahku, Ibrahim; kabar gembira ‘Isa untuk kaumnya, dan mimpi ibuku melihat cahaya keluar darinya yang menyinari istana-istana di Syam (Musnad Ahmad bab hadits al-‘Irbadl ibn Sariyah no. 17163).

Bukti kenabian sudah terlihat sejak Nabi saw kecil diceritakan juga oleh Anas ibn Malik ra berdasarkan pengakuan dari Nabi saw sendiri:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَتَاهُ جِبْرِيلُ  وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ. ثُمَّ غَسَلَهُ فِى طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِى مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ – يَعْنِى ظِئْرَهُ – فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ. فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقَعُ اللَّوْنِ. قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِى صَدْرِهِ

Dari Anas ibn Malik ra, Rasulullah saw didatangi oleh Jibril as ketika beliau kecil dan sedang bermain bersama anak-anak kecil sebayanya. Jibril menariknya, membaringkannya, dan membelah dadanya, lalu mengeluarkan hati dan mengeluarkan sebagian organnya sambil berkata: “Ini adalah bagian setan darimu.” Kemudian Jibril mencucinya dalam mangkuk air zamzam yang terbuat dari emas, lalu memasukkannya dan mengembalikannya lagi ke tempatnya semula. Anak-anak kemudian berlarian kepada ibu susunya dan berkata: “Sungguh Muhammad telah dibunuh.” Mereka kemudian mencarinya dan ternyata menemukannya sudah cerah warna kulitnya. Anas berkata: “Sungguh aku melihat bekas jahitan tersebut di dada beliau.” (Shahih Muslim bab al-isra bi Rasulillah saw no. 631).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *