Berqurban Jangan Setahun Sekali

Nilai shadaqah qurban di setiap masjid bisa mencapai ratusan juta. Dengan standar harga sapi Rp. 25.000.000,- berarti masjid yang berqurban empat ekor sapi nilai shadaqahnya Rp. 100.000.000,-. Dari 10 masjid berarti nilai shadaqahnya sampai 1 milyar. Seandainya spirit qurban diamalkan sepanjang tahun pasti banyak faqir miskin yang susah bayar biaya sekolah, kontrakan, atau membeli rumah akan terbantu. Masjid dan pesantren akan lebih berdaya dalam menyejahterakan jama’ah dan asatidzahnya. Tidak akan ada lagi pembangunan sarana wakaf yang tidak tuntas atau tidak kunjung dilaksanakan akibat terkendala dana.

Inti ajaran ibadah qurban itu untuk menumbuhkan jiwa al-mukhbitin di setiap sanubari kaum muslimin, khususnya para pequrban. Bukan sebatas pamer kemampuan bahwa saya bisa berqurban, selepas itu jiwa berqurbannya kemudian hilang ditelan bumi. Hal ini tentu patut dikhawatirkan karena ibadah shadaqah jadinya hanya bisa diamalkan pada momentum-momentum tertentu saja, bukan sepanjang tahun. Kekhawatirannya ada sifat riya dari setiap qurban yang dijalankan. Mengapa ibadah qurban bisa diamalkan sementara shadaqah dengan nilai yang sama tidak bisa diamalkan? Apakah itu karena qurban ibadah yang terlihat oleh orang banyak sementara shadaqah sesudahnya dengan nilai sama tidak terlihat oleh orang banyak? Bahkan bagi yang bisa berqurban dengan memaksakan diri sampai payah pun harus berani bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa untuk berqurban bisa memaksakan sementara untuk shadaqah lainnya tidak bisa memaksakan? Bukankah orang-orang bertaqwa itu selalu bisa bershadaqah dengan memaksakan diri meski dalam keadaan susah sekalipun? Kekhawatiran ini sudah sepantasnya dipupuk dalam jiwa setiap muslim agar senantiasa mampu mengamalkan syari’at Allah swt dengan sesempurna mungkin.

Imam al-Bukhari menuliskan satu bab khusus dalam kitab Shahih al-Bukhari kitab al-iman:

بَاب خَوْفِ الْمُؤْمِنِ مِنْ أَنْ يَحْبَطَ عَمَلُهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

Bab: Seorang mukmin harus takut amalnya hancur sedang ia tidak menyadarinya.

Ada beberapa atsar yang beliau jadikan hujjahnya, yaitu:

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

Ibrahim at-Taimi berkata: “Tidaklah aku hadapkan perkataanku atas amalku melainkan karena aku takut menjadi seorang pendusta.”

وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ

Ibn Abi Mulaikah berkata: “Aku bertemu 30 shahabat Nabi saw, semuanya takut sifat munafiq ada dalam dirinya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa ia ada dalam keimanan Jibril dan Mikail.”

وَيُذْكَرُ عَنْ الْحَسَنِ مَا خَافَهُ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا أَمِنَهُ إِلَّا مُنَافِقٌ

Diriwayatkan dari al-Hasan: “Tidak ada yang merasa takut darinya melainkan mu`min dan tidak merasa aman darinya melainkan munafiq.” (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab khaufil-mu`min min an yahbatha ‘amaluhu wa huwa la yusy’ir).

Dalam surat al-Mu`minun, Allah swt juga menyebutkan secara khusus sifat orang-orang shalih adalah orang-orang yang rajin berinfaq tetapi ada ketakutan dalam dirinya, yakni takut infaqnya belum maksimal dan belum diterima oleh Allah swt.

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ  ٦٠ أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ  ٦١

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya (QS. al-Mu`minun [23] : 60-61).

‘Aisyah ra pernah bertanya langsung kepada Nabi saw tentang maksud ayat di atas:

عَنْ عَائِشَة قُلْت: يَا رَسُول الله الَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبهمْ وَجِلَة أَهُوَ الَّذِي يَسْرِق وَيَزْنِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَصُوم وَيَتَصَدَّق وَيُصَلِّي وَيَخَاف أَنْ لاَ يَقْبَلهُ مِنْهُ

Dari ‘Aisyah, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut itu apakah orang yang mencuri dan berzina?” Beliau menjawab: “Bukan, melainkan orang yang shaum, shadaqah, dan shalat seraya takut Allah tidak akan menerimanya.” (riwayat Ibn Majah, Fathul-Bari).

Kekhawatiran yang patut ditanamkan adalah masih bersemayamnya sifat kemunafiqan dalam hati. Dalam konteks shadaqah, sifat munafiq tersebut adalah hanya bershadaqah pada saat momentum terlihat oleh orang banyak saja (riya).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS. al-Baqarah [2] : 264).

Allah swt sudah sering mengingatkan bahwa ibadah qurban itu nilainya terletak pada sejauh mana tertanamnya nilai ketaqwaan dalam diri.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Ma`idah [5] : 27).

وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ

Dan siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah (hewan qurban), maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al-Hajj [22] : 32)

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS. Al-Hajj [22] : 37).

Sifat taqwa dari dalam diri itu sendiri wujudnya adalah selalu berinfaq kapan pun sepanjang tahun, bahkan ketika susah sekalipun, bukan hanya ketika momentum qurban saja.

أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ

(Surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit. (QS. Ali ‘Imran [3] : 133-134).

Dalam ayat lain Allah swt menyebutkan para pequrban sejati itu dengan gelar al-mukhbitin. Salah satu kriterianya adalah senantiasa mampu berinfaq sepanjang tahun, bukan hanya ketika momentum qurban saja.

وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ  ٣٤ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ عَلَىٰ مَآ أَصَابَهُمۡ وَٱلۡمُقِيمِي ٱلصَّلَوٰةِ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ  ٣٥

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah (mukhbitin), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang (selalu mampu) menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka (QS. Al-Hajj [22] : 34-35).

Maka PR selanjutnya bagi para pequrban adalah membuktikan sifat taqwa dan ikhbat dalam diri sebagai pertanda qurban tidak diamalkan dengan riya semata. Ciri yang jelasnya mampu mengamalkan spirit qurban di sepanjang tahunnya. Senantiasa sigap untuk bershadaqah maksimal bahkan dengan memaksakan diri untuk berbagi kepada sesama dan fi sabilillah. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *