Cita-cita Dunia Perusak Taqwa

Cita-cita Dunia Perusak Taqwa
Taqwa yang dibina melalui ibadah nyatanya rusak oleh cita-cita dunia yang ditanamkan para orang tua dan guru sejak usia dini. Cita-cita yang umumnya diarahkan untuk diraih anak-anak adalah menjadi pejabat, pengusaha, ahli dalam satu profesi, yang semuanya bermuara pada sukses dunia; hidup berkecukupan, kaya, dan sejahtera. Jika sampai hidup miskin tidak memiliki jabatan, usaha, atau keahlian profesi tertentu maka berarti tidak sukses. Di sinilah jebakan cita-cita dunia merusak taqwa.
Ukuran sukses yang diajarkan al-Qur`an itu terlepas dari hidupnya mapan atau miskin; pejabat atau rakyat; pengusaha atau buruh; memiliki keahlian profesional atau tidak; yang penting beriman dan beramal shalih serta aktif dalam menebarkan haq dan kesabaran (surat al-‘Ashr [103] : 1-3). Akan tetapi hari ini para orang tua dan guru mengarahkan anak-anak untuk beriman, beramal shalih, dan sukses dunia; yang tanpa disadari cita-cita “sukses dunia” itu kemudian merusak iman dan amal shalih, sebab obsesi sukses dunia sudah pasti mendegradasi iman dan amal shalih.
Dalam al-Qur`an setidaknya ada tiga ayat yang mengkritik keras cita-cita “sukses dunia” sebagai sebuah kesesatan dan berujung kecelakaan dalam kehidupan akhirat.
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٦
Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Hud [11] : 15-16).
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعَاجِلَةَ عَجَّلۡنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصۡلَىٰهَا مَذۡمُومٗا مَّدۡحُورٗا ١٨ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ١٩
Siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik (QS. al-Isra` [17] : 18-19).
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ٢٠
Siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat (QS. as-Syura [42] : 20).
Tentunya kembali ke dalil-dalil umum, sehingga bukan berarti dunia haram sama sekali. Dunia itu hanya tempat sementara untuk meraih akhirat. Jadi cita-citanya harus difokuskan ke akhirat, bukan ke dunia. Ketika cita-cita difokuskan ke dunia, akhirat otomatis akan dikorbankan. Tetapi ketika cita-cita difokuskan ke akhirat, maka dunia akan dijalani secara mengalir saja mengikuti aliran taqdir yang sudah digariskan. Jadi orang kaya siap, jadi orang miskin siap. Jadi pengusaha siap, jadi buruh juga siap. Jadi pejabat siap, jadi rakyat jelata juga siap. Yang jelas akhirat menjadi fokus utamanya.
Tuntunan dalam surat al-‘Ashr itu sudah benar; iman dan amal shalih dipadukan dengan tawashau bil-haq wa tawashau bis-shabr, yakni aktivisme dalam menebarkan kebenaran dan kesabaran. Dalam bahasa sederhananya dakwah dan jihad. Inilah cita-cita akhirat yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin yang beramal shalih, terlepas dari apapun profesi dunianya dan dari bagaimanapun status sosial di dunianya.
Faktanya sangat nyata terjadi di tengah-tengah masyarakat hari ini. Ketika pendidikan diarahkan untuk meraih kesuksesan di dunia kerja, maka yang terjadi banyaknya pengangguran. Tingginya tingkat pengangguran berdampak pada tingginya kriminalitas dan bencana sosial lainnya. Padahal di sisi lain “lahan pekerjaan” dakwah dan jihad selalu banyak lowongannya. Hal ini terjadi karena pendidikan sudah bukan lagi diarahkan pada cita-cita akhirat, melainkan pada cita-cita dunia. Ketika cita-cita dunia terkendala lahan pekerjaan yang terbatas, dampaknya fatal pada tingginya pengangguran. Padahal jika diarahkan pada iman, amal shalih, dan aktivisme dakwah serta jihad, tidak mungkin ada pengangguran.
Pendidikan yang diarahkan pada cita-cita dunia juga berdampak pada lahirnya pandangan bahwa sukses itu ketika cita-cita dunia berhasil diraih; karir sukses, usaha mapan, jabatan dimiliki. Tidak peduli apakah lahan dakwah dan jihad sudah dimasuki atau belum. Apakah dirinya sudah menyisihkan waktu untuk mengabdi di tengah-tengah masyarakat atau belum. Semua itu tidak ada dalam kamus kehidupan karena memang tidak menjadi cita-cita dalam hidupnya.
Berbagai ayat al-Qur`an yang menjelaskan taqwa banyak menyinggung jihad sebagai puncak pembuktiannya (QS. Ali ‘Imran [3] : 200, al-Ma`idah [5] : 35 dan 57, at-Taubah [9] : 119, dan al-Hasyr [59] : 18). Akan tetapi seringkali pembuktian ini gagal, karena sudah dirusak oleh obsesi dunia yang terlampau dimiliki lebih dahulu. Maka dari itu banyak ayat-ayat tentang jihad dan dakwah yang mengingatkan bahaya cita-cita dunia ini.
أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبۡتَ عَلَيۡنَا ٱلۡقِتَالَ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖۗ قُلۡ مَتَٰعُ ٱلدُّنۡيَا قَلِيلٞ وَٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظۡلَمُونَ فَتِيلًا ٧٧
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (QS. an-Nisa` [4] : 77).
قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ٢٤
Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya“. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (QS. At-Taubah [2] : 24).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (QS. At-Taubah [2] : 38).
ٱنفِرُواْ خِفَافٗا وَثِقَالٗا وَجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤١ لَوۡ كَانَ عَرَضٗا قَرِيبٗا وَسَفَرٗا قَاصِدٗا لَّٱتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنۢ بَعُدَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلشُّقَّةُۚ وَسَيَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ لَوِ ٱسۡتَطَعۡنَا لَخَرَجۡنَا مَعَكُمۡ يُهۡلِكُونَ أَنفُسَهُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ٤٢
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta (QS. At-Taubah [2] : 41-42).
Wujudnya nyata sekali hari ini. Ketika anak-anak memiliki cita-cita dunia, mereka sama sekali tidak memiliki cita-cita akhirat akan aktif jihad di mana, akan aktif berdakwah di mana, akan mengabdi di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk apa? Semuanya terabaikan karena terhalang tembok besar cita-cita dunia. Nyatalah cita-cita dunia merusak taqwa. Wal-‘iyadzu bil-‘Llah.