Majelis Ilmu Barometer Keimanan

Kadar keimanan seorang muslim salah satunya terukur dari sejauh mana keaktifan dan adabnya dalam majelis ilmu. Jika malas bermajelis ilmu, baik itu karena langka di lingkungannya sehingga ia tidak memaksakan diri mencari ke luar lingkungannya, atau malah ada banyak tersedia tapi tidak mau aktif, pertanda bahwa keimanannya rendah. Kalaupun sudah aktif di majelis ilmu, tapi kurang beradab, itu pun pertanda bahwa keimanannya rendah. Di masa Nabi ﷺ, kemalasan dan ketiadaan adab di majelis ilmu itu identik dengan orang-orang munafiq.
Keimanan seseorang sangat bergantung pada kualitas ilmunya. Allah swt menegaskan: “Ketauhilah tidak ada tuhan selain Allah.” (QS. Muhammad [47] : 19). Sebelum meyakini dengan benar la ilaha illal-‘Llah, Allah swt menitahkan agar berilmu terlebih dahulu. Dalam surat al-Mulk dijelaskan bahwa penyebab orang-orang kafir masuk neraka lautan api (sa’ir) adalah karena mereka tidak mau mendengar dan mencerna ilmu: “Seandainya kami dahulu mendengar dan merenungkan pastilah kami tidak akan menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk [67] : 10)
Maka dari itu, orang-orang beriman selalu antusias mencari ilmu di majelis-majelis ilmu, bahkan sampai memenuhinya hingga berdesak-desakan. Terkait hal ini, Allah swt menerangkan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah,” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Mujadilah [58] : 11. Ayat ini menunjukkan orang-orang beriman sampai berdesak-desakan di majelis-majelis ilmu saking antusias dengan ilmu).
Kesadaran wajibnya aktif di majelis ilmu ini mendorong para shahabat untuk membagi kesibukan sehari-harinya antara bekerja dan bermajelis ilmu. Mereka tidak serta merta menjadi pembelajar ilmu yang meninggalkan pekerjaan mereka, ataupun sebaliknya fokus dalam dunia kerja mereka hingga mengabaikan keaktifan di majelis ilmu.
عَنْ عُمَرَ قَالَ كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِينَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ
Dari ‘Umar ia berkata: “Aku dan tetanggaku dari Anshar yang berada di desa Bani Umayyah ibn Zaid daerah dataran tinggi di Madinah, kami saling bergantian datang ke majelis Rasul saw. Satu hari ia yang datang dan hari lainnya aku yang datang. Jika giliranku datang, maka aku memberi tahu kepadanya seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku yang datang, ia pun melakukan hal yang sama.” (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab at-tanawub fil-‘ilm no. 89).
Meski lembaga pendidikan formal (seperti akademi di Yunani) tidak ada di satu abad pertama Hijriah, demikian juga karya-karya ilmiah tidak dibukukan, tetapi tidak berarti bahwa budaya ilmu tidak tumbuh di zaman itu. Budaya ilmu justru tumbuh pesat di zaman itu secara populis melalui majelis-majelis ilmu di masjid dan lingkungan sekitar, tidak elitis untuk kalangan yang memilih jalur pendidikan formal saja. Ini menjadi pertanda bahwa tuntunan sunnah dalam majelis ilmu itu adalah majelis ilmu yang informal. Mereka yang bergelut di dunia pendidikan formal, tetapi masih abai dari majelis ilmu yang informal pertanda belum sepenuhnya mengikuti sunnah Nabi saw.
Bahkan para shahabat yang tinggal jauh dari Madinah dan tidak bisa pulang pergi dalam hari yang sama ke masjid Nabawi, mereka menyempatkan diri untuk sengaja menginap beberapa hari di masjid Nabawi demi memenuhi tuntutan bermajelis ilmu ini.
قَالَ مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ أَتَيْنَا النَّبِيَّ ﷺ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدِ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لَا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ
Malik bin Al Huwairits berkata: Kami pernah datang berkunjung kepada Nabi saw ketika masih muda sebaya dan bermukim di Madinah selama dua puluh malam. Rasulullah saw adalah seorang pribadi yang lembut. Maka ketika beliau mengetahui bahwa kami sudah rindu terhadap keluarga kami, beliau bersabda: “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari dan suruhlah mereka,” dan beliau menyebut beberapa perkara yang sebagian kami ingat dan sebagiannya tidak, “dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling tua menjadi imam.” (Shahih al-Bukhari kitab akhbar al-ahad bab ma ja`a fi ijazah khabar al-wahid as-shaduq no. 7246).
Karena model majelis ilmunya informal sehingga tidak ada jadwal rutinnya, ketika ada shahabat yang tidak sengaja lewat majelis ilmu Rasul saw, mereka tetap menyempatkan masuk dan menyimak. Tentunya mereka yang kadar keimanannya tinggi. Bagi yang rendah keimanannya, hanya akan masuk lalu duduk paling belakang, atau bahkan memilih tidak bergabung sama sekali.
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ
Dari Abu Waqid Al-Laitsi: Ketika Rasulullah saw sedang duduk bermajelis di masjid bersama para shahabat, ada tiga orang yang datang terlambat. Yang dua orang menghadap Nabi saw (lalu salam) dan yang seorang lagi pergi. Yang dua orang ikut duduk bersama Nabi sawm tersebut salah seorangnya melihat tempat kosong di dalam riungan lalu ia pun duduk di sana. Sedang yang seorangnya lagi duduk di belakang mereka. Adapun orang yang ketiga ia berbalik pergi. Setelah Rasulullah saw selesai berbicara, beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang tiga orang? Seseorang di antara mereka berlindung kepada Allah, maka Allah pun memberinya perlindungan (dengan rahmat dan ridla-Nya). Orang yang kedua, ia malu kepada Allah (seandainya pulang lagi seperti orang ketiga), maka Allah pun malu kepadanya (tidak akan menyiksanya). Sedangkan orang yang ketiga, ia berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya (murka kepadanya).” (Shahih al-Bukhari kitab al-‘ilm bab man qa’ada haitsu yantahi bihil-majlis no. 66. Keterangan dalam kurung pada terjemah di atas dikutip dari Fathul-Bari)
Akhlaq orang ketiga di atas, dalam al-Qur`an sering disinggung sebagai akhlaq orang-orang munafiq. Mereka adakalanya hadir di majelis ilmu karena terpaksa dan riya (formalitas), tetapi tidak menyimak dengan baik. Bahkan kalau tidak ada yang memerhatikannya, ia pulang lebih dahulu dari majelis tanpa meminta izin. Atau sama sekali enggan masuk sebagaimana disampaikan Nabi saw dalam hadits di atas.
وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مَاذَا قَالَ ءَانِفًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَهۡوَآءَهُمۡ ١٦
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (shahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka (QS. Muhammad [47] : 16).
وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ١٢٧
Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” Sesudah itu mereka pun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti (QS. At-Taubah [9] : 127).
Dalam surat al-Anfal Allah swt menyebutkan mereka sebagai orang-orang yang mendengar tetapi sebenarnya tidak mendengar.
وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ قَالُواْ سَمِعۡنَا وَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ٢١ ۞إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan,” padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun (QS. Al-Anfal [8] : 21-22).
Perilaku mereka yang sering pulang sembunyi-sembunyi tanpa izin—termasuk juga tidak hadir tanpa izin, disebut al-Qur`an sebagai perilaku orang yang tidak beriman (dengan benar) kepada Allah dan Rasul-Nya.
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَإِذَا كَانُواْ مَعَهُۥ عَلَىٰٓ أَمۡرٖ جَامِعٖ لَّمۡ يَذۡهَبُواْ حَتَّىٰ يَسۡتَأْذِنُوهُۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَأْذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ … ٦٢
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya… (QS. An-Nur [24] : 62).
Wal-‘Llahu a’lam