Kisah Nabi

Ketika Nabi ﷺ Sangat Berlapar

Ketika Nabi ﷺ Sangat Berlapar

Nabi ﷺ akrab dengan berlapar dalam menjalani hidupnya. Berbeda jauh dengan mayoritas umatnya hari ini yang akrab dengan kenyang dan bersenang-senang makan. Beliau shaum hampir setiap hari. Ketika makan berbuka shaum pun tidak sampai kenyang. Bahkan sering tidak makan dan membiarkan dirinya menahan lapar karena mementingkan shadaqah. Ketika lapar tidak pernah mengeluh apalagi berani meminta. Hanya pernah sekali ketika beliau sangat berlapar memberanikan diri bertamu kepada seorang shahabat untuk mendapatkan jamuan makan. Itu pun tidak dengan meminta ingin diberi.

Istri Nabi saw, ‘Aisyah ra, menceritakan:

كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ صَامَ قَدْ صَامَ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ قَدْ أَفْطَرَ قَدْ أَفْطَرَ – قَالَتْ – وَمَا رَأَيْتُهُ صَامَ شَهْرًا كَامِلاً مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَمَضَانَ.

Beliau itu suka shaum, sehingga kami berkata: “Sungguh beliau shaum lagi, shaum lagi.” Tapi beliau juga ada bukanya (tidak shaum), sampai kami berkata: “Sungguh beliau tidak shaum lagi, tidak shaum lagi.” Aku tidak pernah melihatnya shaum satu bulan penuh sejak beliau datang ke Madinah kecuali pada bulan Ramadlan. (Shahih Muslim bab shiyamin-Nabi saw fi ghairi Ramadlan wa-istihbabi an la yukhliya syahran ‘an shaum; shaum Nabi saw pada bulan selain Ramadllan dan dianjurkan untuk tidak mengosongkan satu bulan pun dari shaum no. 2775).

Terkait hadits di atas dan hadits-hadits lainnya yang semakna dalam bab yang sama di Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan:

فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَلَّا يُخْلِيَ شَهْرًا مِنْ صِيَام، وَفِيهَا: أَنَّ صَوْم النَّفْل غَيْر مُخْتَصٍّ بِزَمَانٍ مُعَيَّنٍ بَلْ كُلّ السَّنَة صَالِحَة لَهُ إِلَّا رَمَضَانَ وَالْعِيدَ وَالتَّشْرِيقَ

“Hadits-hadits ini menunjukkan anjuran untuk tidak mengosongkan satu bulan dari shaum sunat, dan bahwasanya shaum sunat tidak dikhususkan pada waktu tertentu, sepanjang tahun boleh shaum sunat kecuali Ramadlan, hari ‘Id, dan hari tasyriq.”

Tentunya shaum Senin, Kamis, 13-14-15 setiap bulannya, shaum Dawud, Sya’ban, Muharram khususnya ‘Asyura, dan sembilan hari Dzulhijjah khususnya ‘Arafah, sudah jelas itu semua shaum-shaum yang disunnahkan oleh Nabi saw. Akan tetapi Nabi saw sendiri shaumnya tidak terpaku pada waktu-waktu di atas, bahkan melebihi itu hingga setiap hari, tetapi tetap ada libur shaumnya di setiap bulannya.

Di samping itu Nabi saw tidak pernah makan hingga kenyang apalagi bersenang-senang ketika berbuka shaum. Bahkan sering beliau menyengajakan diri berlapar dan menahannya tanpa berkeluh kesah dan curhat.

عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  أَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ فَدَعَوْهُ فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَ وَقَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ الدُّنْيَا وَلَمْ يَشْبَعْ مِنْ خُبْزِ الشَّعِيرِ

Dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia pernah lewat ke sekumpulan orang-orang yang hendak makan kambing bakar. Mereka pun mengajak Abu Hurairah untuk ikut makan, tetapi ia tidak mau dan malah berkata: “Rasulullah saw meninggalkan dunia dalam keadaan tidak pernah kenyang meski dari makan roti gandum sekalipun.” (Shahih al-Bukhari kitab al-ath’imah bab ma kanan-Nabiy saw wa ashhabuhu ya`kulun no. 5414).

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لَحَّامٌ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَعَرَفَ فِى وَجْهِهِ الْجُوعَ فَقَالَ لِغُلاَمِهِ وَيْحَكَ اصْنَعْ لَنَا طَعَامًا لِخَمْسَةِ نَفَرٍ فَإِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَدْعُوَ النَّبِىَّ ﷺ خَامِسَ خَمْسَةٍ. قَالَ فَصَنَعَ ثُمَّ أَتَى النَّبِىَّ ﷺ فَدَعَاهُ خَامِسَ خَمْسَةٍ وَاتَّبَعَهُمْ رَجُلٌ فَلَمَّا بَلَغَ الْبَابَ قَالَ النَّبِىُّ ﷺ إِنَّ هَذَا اتَّبَعَنَا فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَأْذَنَ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ رَجَعَ . قَالَ لاَ بَلْ آذَنُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ.

Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra ia berkata: Ada seorang Anshar panggilannya Abu Syu’aib memiliki pembantu tukang daging. Ia melihat Rasulullah saw dan mengenali dari wajahnya bahwa beliau berlapar. Ia berkata kepada pembantunya itu: “Hai kamu, buatkan untuk kami makanan untuk lima orang, aku ingin mengundang Nabi saw makan berlima orang.” Ia lalu membuatkan makan, kemudian orang Anshar itu datang kepada Nabi saw dan mengundangnya berlima. Tetapi ada seorang shahabat lain yang ikut. Ketika sampai di pintu, Nabi saw bertanya: “Orang ini kebetulan ikut. Jika kamu berkenan ia ikut masuk, jika tidak berkenan ia akan diminta pulang.” Ia menjawab: “Tidak apa-apa, aku izinkan ia masuk wahai Rasulullah.” (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana ‘aisyun-Nabiy saw wa ashhabuhu wa takhallihim minad-dunya no. 6454).

Dalam satu kesempatan Nabi saw pernah merasakan sangat berlapar, dan berikut ini yang beliau lakukan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ فَإِذَا هُوَ بِأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ. قَالاَ الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: وَأَنَا وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لأَخْرَجَنِى الَّذِى أَخْرَجَكُمَا قُومُوا. فَقَامُوا مَعَهُ فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِى بَيْتِهِ فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ قَالَتْ مَرْحَبًا وَأَهْلاً. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : أَيْنَ فُلاَنٌ؟ قَالَتْ ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ. إِذْ جَاءَ الأَنْصَارِىُّ فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَصَاحِبَيْهِ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّى – قَالَ – فَانْطَلَقَ فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ فَقَالَ كُلُوا مِنْ هَذِهِ. وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِيَّاكَ وَالْحَلُوبَ. فَذَبَحَ لَهُمْ فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوا فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوا وَرَوُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah saw keluar pada satu hari atau malam, lalu ternyata berpapasan dengan Abu Bakar dan ‘Umar. Beliau bertanya: “Apa yang mendorong kalian keluar dari rumah pada waktu seperti ini?” Mereka menjawab: “Lapar wahai Rasulullah.” Beliau menjawab: “Saya pun demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh yang mendorongku keluar rasa lapar, sama dengan kalian. Ayo ikuti.” Mereka pun berangkat bersama beliau hingga datang ke rumah seorang Anshar, tetapi ia tidak sedang ada di rumahnya. Ketika istrinya melihat Nabi ia berkata: “Selamat datang, silahkan masuk.” Rasulullah saw bertanya: “Ke mana Bapak?” Ia menjawab: “Sedang pergi mencari air bersih.” Tidak lama orang Anshar itu kemudian datang. Ketika melihat Rasulullah saw dan dua orang shahabatnya, ia berkata: “Alhamdulillah, tidak ada seorang pun pada hari ini yang lebih mulia tamunya daripada aku.” Ia lalu pergi dan kembali membawa tangkai kurma yang ada kurma yang belum matang, yang matang, dan sangat matang, lalu berkata: “Silahkan makan dahulu ini.” Ia lalu mengambil golok dan Rasul saw bersabda kepadanya: “Jangan menyembelih yang sedang diperah susunya.” Ia lalu menyembelih dan mereka kemudian makan kambing dan kurma itu lalu minum. Setelah kenyang makan dan minum Rasulullah saw bersabda kepada Abu Bakar dan ‘Umar: “Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan ini pada hari kiamat. Lapar mengeluarkan kalian dari rumah kemudian kalian tidak pulang hingga merasakan nikmat ini.” (Shahih Muslim bab jawazi-stitba’ihi ghairahu ila dar man yatsiqu bi ridlahu no. 5434).

Imam an-Nawawi menyebutkan nama shahabat yang dikunjungi oleh Nabi saw di atas adalah Abul-Haitsam Malik ibn at-Taihan halif (semacam naturalisasi) Bani Abdil-Asyhal dari Aus, Madinah. Ia dan As’ad ibn Zurarah sudah meyakini tauhid sejak zaman Jahiliyyah di Madinah. Ia bersama enam orang Anshar lainnya adalah yang pertama menyatakan masuk Islam ketika Nabi saw masih di Makkah, sebelum bai’at ‘Aqabah I dan II pada tahun 11 dan 12 kenabian. Pada awal hijrah ia dipersaudarakan dengan ‘Utsman ibn Mazh’un ra. Di masa Rasul saw ia bertugas sebagai kharish (penaksir) dan penagih zakat perkebunan. Wafat pada tahun 20 H di masa khilafah ‘Umar ibn al-Khaththab ra.

Terkait hadits di atas, Imam Muslim memberikan tarjamah sebagai berikut:

باب جَوَازِ اسْتِتْبَاعِهِ غَيْرَهُ إِلَى دَارِ مَنْ يَثِقُ بِرِضَاهُ بِذَلِكَ وَيَتَحَقَّقُهُ تَحَقُّقًا تَامًّا وَاسْتِحْبَابِ الاِجْتِمَاعِ عَلَى الطَّعَامِ

Bab boleh mengajak orang lain ke rumah yang diyakini akan ridla atas hal itu dan memastikannya sebenar-benarnya serta anjuran makan bersama-sama.

Artinya boleh bertamu kepada seseorang yang “benar-benar dipastikan” tidak akan keberatan ketika dikunjungi dengan niatan ingin dijamu makan. Tetapi tanpa meminta ingin diberi. Bahkan dengan mengajak orang lain untuk ikut bertamu asal dengan syarat “benar-benar bisa dipastikan” tuan rumah yang dikunjungi tidak akan keberatan. Orang tersebut harus orang yang seperti Abul-Haitsam di atas. Senior dalam hal keberagamaan dan orang yang secara ekonomi dikategorikan berada sehingga mampu menjamu makanan kepada tamu.

Imam an-Nawawi menjelaskan, Nabi saw sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya adakalanya lancar ekonominya dan adakalanya sulit. Hadits-hadits yang menjelaskan laparnya Rasulullah saw di atas tentu itu dalam situasi tertentu ketika ekonominya sulit. Tetapi di sisi lain sering diriwayatkan bahwa beliau sangat dermawan dan banyak memberi bahkan sampai habis hartanya. Itu menunjukkan ekonomi beliau sedang bagus. Tetapi justru karena kedermawanan itulah Nabi saw cukup sering mengalami keterbatasan dalam ekonominya dan beliau kuat bersabar menjalaninya tanpa berkeluh kesah. Maka bagi siapa pun yang menjunjung tinggi sunnah Nabi saw sudah selayaknya belajar untuk meneladani kehidupan Nabi saw seperti ini.

Wal-‘Llahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button