Tauhid

Sakit sebagai Muhasabah Cinta

Sakit sebagai Muhasabah Cinta

Dua belas tahun silam, sang penggubah lagu Muhasabah Cinta, telah menghembuskan nafas terakhirnya. Vokalis Edcoustic, Aden Supriadi, dalam sakitnya mengingatkan siapa saja yang sedang sakit untuk tidak mengeluh, melainkan harus memanjatkan muhasabah sudah sejauh mana cintanya kepada Sang Pemilik Nyawa. Bahkan, tulisnya, “Jika ku harus mati. Pertemukan aku dengan-Mu.”

Sakit sebagai ketentuan taqdir Ilahi ditimpakan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya untuk dijadikan muhasabah; ajang evaluasi diri, sudah sejauh mana amal-amalnya diperbaiki dari kotoran dosa dan atau sudah sejauh mana dirinya merindukan pahala berlimpah dari Allah swt. Yang pertama berlaku untuk semua hamba-hamba-Nya dikecualikan Nabi-Nya yang pasti terlindung dari dosa. Yang kedua, berlaku untuk Nabi saw dan semua orang-orang shalih yang meneruskan jejak-jejak amal Nabi saw.

Nabi Muhammad saw yang wafat di usia yang tidak terlalu tua; 63 tahun, mengalami sakit yang parah sebelum kewafatannya dari sejak pulang haji wada’. Shahabat Ibn Mas’ud ra menceritakan:

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَهُوَ يُوعَكُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قُلْتُ ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ قَالَ أَجَلْ ذَلِكَ كَذَلِكَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Aku masuk ke rumah Rasulullah saw ketika beliau sakit parah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh anda sakit parah sekali.” Beliau menjawab: “Benar, aku sakit parah dua kali lipat seperti sakitnya dua orang dari kalian.” Aku berkata: “Itu karena anda akan mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab: “Benar. Demikianlah, tidak ada seorang muslim pun yang terkena sakit baik itu tertusuk duri atau yang lebih kecil dari itu melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya sebagai pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (Shahih al-Bukhari bab asyaddun-nas bala`an al-anbiya no. 5648).

Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, ini sesuai dengan status beliau sendiri sebagai Nabi yang pasti akan mendapatkan cobaan lebih berat daripada manusia biasa:

إِنَّا مَعَاشِر الْأَنْبِيَاء يُضَاعَف لَنَا الْبَلَاء كَمَا يُضَاعَف لَنَا الْأَجْر

Kami sekalian para Nabi dilipatgandakan cobaan bagi kami sebagaimana dilipatgandakan pahala bagi kami (Fathul-Bari mengutip riwayat Abu Ya’la dari Abu Sa’id).

Dalam hadits Ibn Mas’ud ra di atas, Nabi saw mengajarkan bahwa hadirnya pahala dari sakit itu selaras dengan hilangnya dosa-dosa. Ketika seseorang bersabar dengan sakitnya dan muhasabah atas amal-amalnya maka ia akan mendapatkan pahala atas hal itu sekaligus menggugurkan dosa-dosanya. Sebaliknya, orang yang tidak mampu bersabar dan muhasabah atas amal-amalnya malah semakin menambah dosanya serta jauh dari pahala. Nabi saw sendiri karena tidak memiliki dosa dan hanya akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda daripada siapapun maka dilipatgandakan sakitnya untuk memperbesar pahalanya tersebut.

Menjelang wafatnya, Nabi saw juga mengalami sakaratul-maut yang berat. ‘Aisyah ra menjelaskan:

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَتْ تَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ يَشُكُّ عُمَرُ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Sungguh Rasulullah saw di depan beliau ada wadah dari kulit atau wadah dari kayu—‘Umar ibn Sa’id, salah seorang perawi, ragu—berisi air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam air tersebut lalu mengusapkannya pada wajahnya sambil bersabda: “La ilaha illal-‘Llah, sungguh kematian itu memiliki sakarat.” Kemudian beliau mengeraskan genggaman tangannya sambil bersabda: “Pada tempat yang dekat dan tinggi,” sehingga dicabut ruhnya dan lemaslah tangan beliau (Shahih al-Bukhari bab sakaratil-maut no. 6510).

Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi disebutkan bahwa saat itu Nabi saw berdo’a:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَات الْمَوْت

Wahai Allah, tolonglah aku dalam sakaratul-maut (Musnad Ahmad musnad as-shiddiqah ‘Aisyah no. 24356; Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fit-tasydid ‘indal-maut no. 978).

Atas hal ini, ‘Aisyah ra sendiri menyatakan:

مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

Saya tidak iri lagi kepada seseorang yang ringan meninggal dunianya setelah saya lihat sendiri bagaimana beratnya kewafatan Rasulullah saw (Sunan at-Tirmidzi bab ma ja`a fit-tasydid ‘indal-maut no. 979).

Hal yang sama dikemukakan oleh Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz yang dikenal keshalihan dan kebijaksanaannya:

مَا أُحِبُّ أَنْ يُهَوَّن عَلَيَّ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ إِنَّهُ لَآخِرُ مَا يُكَفَّر بِهِ عَنْ الْمُؤْمِنِ

Aku tidak ingin diringankan dalam sakaratul-maut karena sungguh itu adalah hal terakhir yang bisa menghapuskan dosa seorang mu`min (Fathul-Bari bab sakaratul-maut).

Pada saat-saat puncak sakit itulah justru muhasabah cinta menjadi pertaruhan. Bagi yang merindukan bertemu Allah swt—meski siapapun orangnya pasti takut kematian—maka itu pertanda Allah swt akan memberinya kebahagiaan paripurna. Sementara jika sebaliknya, itu pertanda Allah swt benci dan murka bertemu dengannya dan sudah menyiapkan siksa yang paripurna juga. Meski pastinya siapapun orangnya, tegas Nabi saw, sangat tidak menginginkan kematian, tetapi kerinduan bertemu dengan Allah swt harus senantiasa terselip di kala sakit yang semakin parah menyerang dirinya.

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.” ‘Aisyah atau salah seorang istrinya berkata: “Sesungguhnya kami semua pasti tidak ingin mati.” Beliau menjawab: “Bukan demikian maksudnya. Akan tetapi seorang mu`min itu apabila datang kepadanya kematian, ia akan digembirakan dengan keridlaan Allah dan anugerah-Nya. Maka tidak ada lagi yang lebih ia cintai daripada apa yang ada di hadapannya itu. Ia pun ingin bertemu Allah dan Allah pun ingin bertemu dengannya. Sementara orang kafir, apabila dihadirkan kematian kepadanya ia digembirakan dengan adzab Allah dan siksa-Nya. Maka tidak ada sesuatu pun yang paling ia benci daripada apa yang ada di hadapannya itu. Ia pun benci bertemu Allah dan Allah pun benci bertemu dengan-Nya.” (Shahih al-Bukhari bab man ahabba liqa`al-‘Llah ahhabbal-‘Llah liqa`ahu no. 6507 dari hadits ‘Ubadah ibn as-Shamit)

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah ra menjelaskan:

عَنْ شُرَيْحِ بْنِ هَانِئٍ قَالَ فَأَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَذْكُرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَدِيثًا إِنْ كَانَ كَذَلِكَ فَقَدْ هَلَكْنَا. فَقَالَتْ إِنَّ الْهَالِكَ مَنْ هَلَكَ بِقَوْلِ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَمَا ذَاكَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. وَلَيْسَ مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ وَهُوَ يَكْرَهُ الْمَوْتَ. فَقَالَتْ قَدْ قَالَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَلَيْسَ بِالَّذِى تَذْهَبُ إِلَيْهِ وَلَكِنْ إِذَا شَخَصَ الْبَصَرُ وَحَشْرَجَ الصَّدْرُ وَاقْشَعَرَّ الْجِلْدُ وَتَشَنَّجَتِ الأَصَابِعُ فَعِنْدَ ذَلِكَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ

Dari Syuraih ibn Hani` ia berkata: Aku datang kepada ‘Aisyah dan berkata: “Wahai ummul-mu`minin, aku mendengar Abu Hurairah menyampaikan satu hadits dari Rasulullah saw yang jika memang benar demikian, tentu kita semua binasa.” ‘Aisyah menimpali: “Orang yang binasa itu adalah orang yang binasa dengan sabda Rasulullah saw. Apa hadits yang dimaksud?” Syuraih menjawab: “Ia menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.’ Padahal tidak ada seorang pun di antara kita melainkan ia tidak ingin mati.” ‘Aisyah menjawab: “Sungguh Rasulullah saw memang pernah bersabda demikian, tetapi maknanya bukan seperti yang kamu maksud. Maksud hadits itu adalah apabila telah terbelalak mata (orang yang akan meninggal sehingga tidak mengedip), ruh sudah naik ke dada, kulit gemetar, dan jari jemari menutup, maka ketika itulah siapa yang senang bertemu Allah maka Allah pun senang bertemu dengannya, dan siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.” (Shahih Muslim bab man ahabba liqa`al-‘Llah no. 7002).

Menanamkan kesadaran “muhasabah cinta’ ketika sakit sampai menjelang kematian tentu tidak bisa dadakan, melainkan harus melalui didikan. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Sallam, at-Thibi, Ibnul-Atsir, al-Khaththabi, dan an-Nawawi adalah dengan mendidik diri berani memprioritaskan akhirat di atas dunia. Imam al-Khaththabi misalnya menegaskan:

مَعْنَى مَحَبَّةِ الْعَبْد لِلِقَاءِ الله إِيثَارُهُ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا فَلَا يُحِبُّ اِسْتِمْرَارَ الْإِقَامَة فِيهَا بَلْ يَسْتَعِدُّ لِلِارْتِحَالِ عَنْهَا وَالْكَرَاهَة بِضِدِّ ذَلِكَ

Makna seorang hamba ingin bertemu Allah adalah sikapnya yang mementingkan akhirat di atas dunia. Ia tidak senang terus-menerus tinggal di dunia, tetapi ia sudah bersiap-siap dari sekarang untuk pindah ke negeri akhirat. Sementara orang yang benci bertemu Allah adalah yang sebaliknya (dikutip oleh al-Hafizh dalam Fathul-Bari bab man ahabba liqa`al-‘Llah).

Wal-‘Llahul-Musta’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button