Akhlaq

Akhlaq Menghadapi Orang Bodoh

Akhlaq Menghadapi Orang Bodoh

Orang bodoh adalah orang yang bodoh dari ilmu; perangai dan perkataannya kasar, mudah mengumpat, menghujat, dan memusuhi siapa pun yang tidak sejalan dengannya tanpa ada tabayyun. Menghadapi orang seperti ini Islam mengajarkan agar selalu mampu mengucapkan salam kepada mereka dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan. Meski sesekali bisa dibalas dengan kejelekan yang serupa.

Di kalangan shahabat dikenal seseorang yang bernama ‘Uyainah ibn Hishn ibn Hudzaifah al-Fazari. Nama aslinya Hudzaifah, tetapi matanya mengalami kecelakaan sehingga matanya memelotot maka dipanggil ‘Uyainah. Ia adalah tokoh Arab dari Bani Fazar yang kejam perangainya dan termasuk muallaf. Masuk Islam sebelum fathu Makkah dan pernah ditugaskan oleh Nabi saw untuk memimpin pasukan perang ke Bani Tamim. Di masa Abu Bakar ia pernah murtad karena mengikuti Thalhah ibn Khuwailid menyanyikan Nabi palsu, lalu setelah menonton ia memilih bertaubat dan bersyahadat kembali.

Diriwayatkan bahwa ia pernah masuk ke rumah Rasulullah saw tanpa izin lalu berkata kasar tentang ‘Aisyah ra dan menyarankan Nabi saw mengganti istrinya tersebut. Ketika ditanya oleh ‘Aisyah ra, Nabi saw menyimpulkan: “Hadzal-ahmaqul-mutha’; Ini orang tolol yang ditaati/pemimpin.”

Diriwayatkan juga bahwa sifat kasar itu menurun dari ayahnya, Hishn ibn Hudzaifah. Ketika menjelang kematian ia mengumpulkan dan meminta salah satu dari mereka menusukkan pedang ke dada agar ia tidak merasakan sakit lagi. Ayahnya mengumumkan bahwa siapa pun yang berani menuruti permintaannya akan diangkat menjadi pemimpin kaumnya. Semuanya tidak ada yang mau, kecuali ‘Uyainah. Dengan demikian ia menjadi pemimpin Bani Fazarah.

Imam al-Bukhari dalam kitab at-Tarikhus-Shaghir meriwayatkan bahwa ‘Uyainah ibn Hishn dan al-Aqra’ ibn Habis pernah secara sengaja meminta lahan kosong kepada Abu Bakar. Setelah bermusyawarah dengan stafnya—kecuali ‘Umar karena sedang tidak ada—Abu Bakar pun menyetujuinya tetapi dengan memberikan syarat harus sepersetujuan ‘Umar ra juga. Ketika mereka berdua datang kepada ‘Umar ra untuk meminta kesaksiannya, ‘Umar malah mengambil surat penetapan itu dan menghapusnya. ‘Umar berkata:

إِنَّ رسولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَتَأَلَّفُكُمَا وَالْإِسْلاَمُ يَوْمَئِذٍ قَلِيْلٌ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعَزَّ الْإِسْلاَمَ اِذْهَبَا عَلَيَّ جُهْدَكُمَا

Sesungguhnya Rasulullah saw bermaksud lembut kepada kalian karena Islam saat itu sedikit. Sungguh Allah sekarang telah menguatkan Islam. Pergi kalian berdua dan silakan berusahakan tenaga untuk menyalahkanku.

Setelah diberitahukan kepada Abu Bakar, beliau pun mencabut keputusannya dan meralatnya menjadi untuk kaum muslimin secara umum (al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyizis-Shahabah ).

Kebijakan ‘Umar ra pada zaman Abu Bakar ra tersebut kemudian dilanjutkan pada masa kekhilafahannya. Atas kebijakan tersebut, ‘Uyainah memendam kekecewaan berat kepada ‘Umar ra. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra:

قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الْحُرِّ بْنِ قَيْسٍ وَكَانَ مِنْ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ كُهُولًا كَانُوا أَوْ شُبَّانًا فَقَالَ عُيَيْنَةُ لِابْنِ أَخِيهِ يَا ابْنَ أَخِي هَلْ لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الْأَمِيرِ فَاسْتَأْذِنْ لِي عَلَيْهِ قَالَ سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَاسْتَأْذَنَ الْحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ هِيْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ وَلَا تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالْعَدْلِ فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ أَنْ يُوقِعَ بِهِ فَقَالَ لَهُ الْحُرُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ ﷺ {خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنْ الْجَاهِلِينَ} وَإِنَّ هَذَا مِنْ الْجَاهِلِينَ وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلَاهَا عَلَيْهِ وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ

Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata: ‘Uyainah ibn Hishn ibn Hudzaifah (w. sekitar 23-35 H) datang bertamu kepada putra saudaranya; al-Hurr bin Qais (ibnu Hishn bin Hudzaifah—w. 74 H). Ia termasuk staf yang dekat dengan ‘Umar, karena ahli-ahli al-Qur`an menjadi orang-orang yang mengisi majelis musyawarah ‘Umar, baik kalangan tua atau muda. ‘Uyainah berkata kepada putra saudaranya: “Wahai putra saudaraku, karena kamu punya kedudukan di hadapan pemimpin ini, maka mintalah izin untuk bertemu dengannya.” Ia menjawab: “Baik saya akan meminta izin untuk paman.” Ibnu ‘Abbas berkata: Maka al-Hurr minta izin untuk ‘Uyainah dan ‘Umar memberi izin padanya. Ketika ia masuk kepada ‘Umar malah berkata: “Hai putra al-Khaththab, demi Allah, kamu tidak memberi banyak kepada kami dan tidak menegakkan hukum dengan adil.” ‘Umar lalu marah, hingga sudah bersiap-siap akan melawannya, tetapi al-Hurr berkata kepadanya: “Wahai Amirul-Mu`minin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: ‘Ambillah maaf, perintahkanlah dengan baik, dan disampaikanlah dari orang-orang bodoh’ (QS. 7 : 199). Dan sungguh orang ini (‘Uyainah) termasuk orang yang bodoh.” Demi Allah, ‘Umar tidak melewatkannya ketika al-Hurr membacanya, karena beliau seseorang yang sangat patuh dengan kitab Allah (Shahih al-Bukhari kitab tafsir al-Qur`an bab khudzil-‘afwa wa-`mur bil-‘urf no. 4642).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, ayat QS. al-A’raf [7] : 199 di atas mengajarkan agar Nabi saw dan umatnya selalu memaafkan kesalahan orang lain. Meski begitu, orang-orang tersebut tetap harus diarahkan untuk selalu berbuat ma’ruf. Jika tidak ada perubahan dan malah membangkang berarti mereka adalah orang-orang yang bodoh. Orang-orang seperti itu tinggalkan saja dan abaikan. Tidak perlu juga menghadapi sikap kasar dan bodoh.

‘Uyainah bin Hishn termasuk orang-orang yang seperti itu. Dari sejak zaman Nabi saw dan Abu Bakar ra sudah selalu dimaafkan dan diarahkan pada hal yang ma’ruf. Tetapi sampai zaman ‘Umar ibn al-Khaththab ra, sebagaimana diceritakan Ibnu ‘Abbas ra di atas, ia masih saja senang menghujat. Maka sikap ‘Umar ra sudah tepat dengan mengabaikannya saja.

Tuntunan serupa juga terdapat dalam QS. al-Furqan dan al-Qashash sebagai berikut:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (QS. al-Furqan [25] : 63).

وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ اَعْرَضُوْا عَنْهُ وَقَالُوْا لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ ۖسَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۖ لَا نَبْتَغِى الْجٰهِلِيْنَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka mengubahnya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil” (QS. al-Qashash [28] : 55) .

Dua ayat di atas malah mengajarkan bukan sebatas diubah dari orang-orang bodoh, tetapi juga mendo’akan keselamatan dan kebaikan untuk mereka, semoga mereka bisa berubah menjadi orang-orang yang lebih baik. Imam Ibnu Katsir mengutip riwayat Ahmad dari an-Nu’man bin Muqarrin ra:

وَسَبَّ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَهُ، قَالَ: فَجَعَلَ الرَّجُلُ الْمَسْبُوبُ يَقُولُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : أَمَا إِنَّ مَلَكًا بَيْنَكُمَا يَذُبُّ عَنْكَ كُلَّمَا يَشْتُمُكَ هَذَا، قَالَ لَهُ: بَلْ أَنْتَ وَأَنْتَ أَحَقُّ بِهِ، وَإِذَا قَالَ لَهُ: عَلَيْكَ السَّلَامُ، قَالَ: لَا بَلْ لَكَ أَنْتَ، أَنْتَ أَحَقُّ بِهِ

Ada seseorang yang mencaci orang lain di dekat Nabi saw, tetapi orang yang dicaci itu malah membalas: “Semoga keselamatan dianugerahkan Anda.” Rasulullah saw bersabda: “Sungguh tadi seorang malaikat di antara kalian membela kamu. Setiap kali orang itu mencacimu, malaikat berkata kepadanya: ‘Justru kamu, kamu yang pantas dicaci demikian’. Dan ketika dibalas: ‘Semoga keselamatan dianugerahkan kepadamu’, malaikat menimpali: ‘Tidak, justru untuk kamu saja. Kamu lebih berhak mendapatkan keselamatan itu’.” (Musnad Ahmad bab hadits an-Nu’man bin Muqarrin no. 23745)

Akhlaq di atas sesuai dengan Arah al-Qur`an dalam ayat lainnya untuk selalu mampu membalas keburukan dengan kebaikan, meski membalas dengan keburukan yang sama pun sebenarnya tidak menjadi dosa. Akan tetapi membalasnya dengan kebaikan, itu akhlaq yang lebih utama.

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (QS. Fushshilat [41] : 34).

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ  وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِّنْ سَبِيْلٍ 

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosa pun terhadap mereka (QS. as-Syura [42] : 40-41) .

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button