Adab dalam Ibadah Qurban

Adab dalam Ibadah Qurban
Selain persyaratan taqwa yang harus tertanam dalam hati, terdapat juga adab-adab yang harus diamalkan agar ibadah qurban diterima dan dengan nilai yang sempurna. Baik terkait penyembelihan hewan qurbannya, takbirannya, sampai shalat ‘Idul-Adlhanya.
Adab yang pertama dan paling utama adalah niat untuk Allah swt dan itu dengan menghadirkan taqwa dalam hati. Ketaqwaan ini mewujud dalam pemilihan hewan qurban yang istimewa sebagaimana sudah dibahas dalam edisi sebelumnya (silahkan rujuk edisi: Agar Ibadah Qurban Diterima dalam website: https://attaubah-institute.com/agar-ibadah-qurban-diterima/). Termasuk dalam poin ini, bagi yang mampu dianjurkan berqurban minimal dua ekor kambing atau dua saham untuk hewan sapi (silahkan rujuk edisi: Anas Selalu Berqurban Dua Kambing dalam website: https://attaubah-institute.com/anas-selalu-berqurban-dua-kambing/)
Adab kedua tidak memotong kuku dan mencukur rambut dari awal Dzulhijjah untuk nanti dipotong setelah qurban disembelih. Mengingat ibadah qurban berlaku untuk seluruh keluarga, berarti adab ini berlaku untuk seluruh anggota keluarga.
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Apabila kalian melihat hilal Dzul-hijjah, dan salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya (Shahih Muslim kitab al-adlahi bab man dakhala ‘alaihi ‘asyru dzil-hijjah wa huwa muridut-tadlhiyah no. 5232-5234).
Adab ketiga menyembelih dengan cara terbaik; mengasah pisau sampai tajam, menenangkan hewan qurban dan tidak membuatnya panik, membaringkan hewan qurban, dan menahannya dengan kaki. Menenangkan hewan qurban di antaranya dengan tidak mengasah atau memperlihatkan pisau di hadapannya, jangan banyak kerumunan orang-orang, tidak sampai mencederai ketika mengikat dan membaringkannya, dan sering mengusap-usapnya.
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan (berbuat baik maksimal) dalam setiap hal. Jika kalian membunuh (dalam perang/hukuman) maka membunuhlah dengan ihsan. Jika kalian menyembelih, maka menyembelihlah dengan ihsan. Hendaklah ditajamkan mata pisaunya dan hiburlah sembelihannya (Shahih Muslim kitab as-shaid wadz-dzaba`ihh bab al-amr bi ihsanidz-dzbh no. 5167).
عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ (وَيَقُولُ بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ) فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
Dari Anas ra, ia berkata: “Nabi saw menyembelih dua kambing yang berbulu putih hitam. Aku melihatnya meletakkan kakinya pada belahan lehernya, membaca basmalah dan takbir (mengucapkan bismil-‘Llah wal-‘Llahu akbar), lalu menyembelih keduanya dengan tangannya.” (Shahih al-Bukhari bab man dzabahal-adlahi bi yadihi no. 5558. Keterangan bacaan basmalah dan takbir dalam kurung dari Shahih Muslim bab istihbabid-dlahiyyah no. 5202)
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ … قَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّى الْمُدْيَةَ. ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ. فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ. ثُمَّ ضَحَّى بِهِ
Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw… bersabda kepadanya: “Hai ‘Aisyah, ambillah golok lalu asahlah dengan batu.” ‘Aisyah pun mengerjakannya lalu beliau mengambil golok tersebut, lalu mengambil kambing dan membaringkannya, kemudian ketika hendak menyembelihnya berdo’a: “Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” Kemudian beliau menyembelihnya (Shahih Muslim bab istihbabid-dlahiyyah no. 5203).
Adab keempat membaca do’a ketika menyembelih. Bacaan yang dimaksud sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas ra di atas bismil-‘Llah wal-‘Llahu akbar. Ini senada dengan perintah Allah swt dalam al-Qur`an surat al-Hajj [22] ayat 34 dan 37. Di samping itu do’a memohon agar qurbannya diterima sebagaimana diajarkan hadits ‘Aisyah ra di atas; baik dengan disebutkan namanya dan nama keluarganya ataupun tidak. Penyebutan nama ini tidak menjadi syarat, hanya dibolehkan, sebagaimana halnya dalam do’a untuk muzakki ketika amil menerima zakatnya. Ketika Nabi saw menerima zakat dari Abu Aufa beliau mendo’akan: Allahumma shalli ‘ala ali Abi Aufa. Akan tetapi Nabi saw tidak memerintahkan kepada setiap pemungut zakat untuk berdo’a seperti itu. Berdasarkan hadits ‘Aisyah ra di atas, do’a memohon diterima qurban itu redaksinya:
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ … وَآلِ … مِ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي وَآلِي
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا وَآلِنَا
Keterangan: Titik-titik di atas bisa diganti dengan nama pequrban sebagaimana penyebutan nama Muhammad saw dalam kutipan di atasnya. Sementara yang menyebutkan umat, itu khusus bagi Nabi saw untuk umatnya. Bagi umatnya sendiri cukup berdo’a untuk dirinya dan keluarganya saja, mengingat syari’at qurban berlaku untuk seseorang dan keluarganya, tidak untuk mewakili seluruh umat (Tuhfatul-Ahwadzi bab ma ja`a annas-syatal-wahidah tajzi ‘an ahlil-bait). Penyebutan nama itu bisa diganti juga dengan dlamir/kata ganti seperti contoh di bawahnya.
Sementara itu membaca do’a wajjahtu wajhiya sampai muslimin sebelum penyembelihan ketika hewan sudah dibaringkan yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dalam hadits Jabir ra statusnya diragukan (Musnad Ahmad bab musnad Jabir ibn ‘Abdillah no. 15022; Sunan Abi Dawud bab ma yustahabbu minad-dlahaya no. 2795). Itu disebabkan semua jalur periwayatannya melalui Abu ‘Ayyasy al-Mu’afiri al-Mishri. Al-Hafizh Ibn Hajar menilainya la yu’rafu (tidak dikenal). Oleh karena itu Syaikh al-Albani menilai haditsnya dla’if. Syaikh Syu’aib al-Arnauth sendiri menilainya muhtamal lit-tahsin; mungkin dinilai hasan, hanya karena ada tiga rawi yang meriwayatkan hadits dari Abu ‘Ayyasy. Tidak sampai memastikannya hasan. Maka dari itu statusnya meragukan.
Adab ini menuntun untuk berdo’a saja, tidak sampai harus hadir menyaksikannya. Terlebih mengingat adab menenangkan hewan qurban yang harus diperhatikan juga. Jika seluruh pequrban dan keluarganya harus hadir, maka ini tidak akan ihsan dalam proses penyembelihan. Terkait hadits yang mengharuskan hadir ketika proses penyembelihan statusnya dla’if sehingga tidak perlu dihiraukan.
قُومِي إلَى أُضْحِيَّتِك فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّهُ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهَا يُغْفَرُ لَك مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِك
Berdirilah di depan hewan qurbanmu dan saksikanlah, karena sungguh dengan tetesan darah pertamanya dosa-dosamu yang telah lalu akan diampuni (al-Mustadrak al-Hakim kitab al-adlahi no. 7633. Riwayat semakna terdapat juga pada no. 7632).
Hadits di atas diriwayatkan dari Abu Sa’id, ‘Imran ibn Hushain, dan ‘Ali ra. Dalam riwayat Abu Sa’id terdapat rawi bernama ‘Athiyyah yang haditsnya dinyatakan munkar oleh Ibn Abi Hatim. Dalam riwayat ‘Imran ibn Hushain terdapat rawi Abu Hamzah ats-Tsumali seorang dla’if jiddan (dla’if sekali). Dalam riwayat ‘Ali ada rawi ‘Amr ibn Khalid al-Wasithi seorang yang matruk [pendusta meski tidak ada indikator langsung hadits ini produk dustanya] (at-Talkhishul-Habir 5 : 367).
Adab kelima, mencukur rambut, kumis, bulu kemaluan, dan memotong kuku setelah qurban disembelih. Adab ini bahkan berlaku bagi yang sudah bulat akan berqurban tetapi tidak jadi karena tidak mendapatkan hewan qurbannya sampai habis waktu berqurban. Adab ini sesuai dengan arahan Allah swt dalam surat al-Hajj:
ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ وَلۡيُوفُواْ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُواْ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ ٢٩
Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah) (QS. al-Hajj [22] : 29).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ أُمِرْتُ بِيَوْمِ الْأَضْحَى عِيدًا جَعَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلَّا مَنِيحَةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّي بِهَا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَتُقَلِّمُ أَظْفَارَكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَذَلِكَ تَمَامُ أُضْحِيَّتِكَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn Al-‘Ash bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada seseorang: “Aku diperintah untuk menjadikan hari qurban sebagai hari raya yang Allah Azza wa jalla jadikan untuk umat ini.” Lalu orang itu bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika aku tidak mendapatkan kecuali manihah (hewan betina yang sedang dipinjamkan untuk diambil susunya), apakah aku harus menyembelihnya?” Beliau menjawab: “Jangan, tapi tetap potonglah rambutmu, kukumu, kumismu, dan bulu kemaluanmu maka itu adalah kesempurnaan qurbanmu di sisi Allah Azza wa jalla.” (Sunan an-Nasa`i kitab ad-dlahaya bab man lam yajid udlhiyyah no. 4365).
Menurut Imam as-Sindi, hadits ini jelas menunjukkan bahwa hewan yang sedang diambil manfaatnya dan itu satu-satunya, juga dikhawatirkan berhenti kemanfaatan tersebut jika hewan tersebut diqurbankan, maka sebaiknya tidak diqurbankan. Cukup dengan memotong rambut, kuku, kumis dan bulu kemaluan pemiliknya/yang semula akan qurban sebagai penggantinya (Sunan an-Nasa`i hasyiyah as-Sindi). Tentunya hadits di atas tidak hanya berlaku bagi yang tidak jadi qurban. Pernyataan Nabi saw: “Kesempurnaan qurban” menunjukkan bahwa tuntunan di atas berlaku bagi yang berqurban. Bagi yang tidak jadi qurbannya saja tetap dianjurkan, apalagi bagi yang jelas jadi qurbannya.
Adab keenam, memprioritaskan pembagian daging qurban untuk faqir miskin. Berbeda dengan zakat di mana muzakki tidak boleh memakan harta zakat tersebut kecuali karena merangkap sebagai amil zakat atau mendapatkan hadiah dari mustahiq, maka dalam qurban ini ada kelonggaran bagi yang berqurban untuk mengambil dan mengonsumsi daging qurban yang diqurbankannya. Meski demikian tetap harus memerhatikan bagian faqir miskin dengan tetap mengutamakan mereka.
فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ
Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir (QS. al-Hajj [22] : 28).
فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ
Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta (QS. al-Hajj [22] : 36).
قالت عَائِشَةُ دَفَّ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الْأَضْحَى زَمَنَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ادَّخِرُوا ثَلَاثًا ثُمَّ تَصَدَّقُوا بِمَا بَقِيَ فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ يَتَّخِذُونَ الْأَسْقِيَةَ مِنْ ضَحَايَاهُمْ وَيَجْمُلُونَ مِنْهَا الْوَدَكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَمَا ذَاكَ قَالُوا نَهَيْتَ أَنْ تُؤْكَلَ لُحُومُ الضَّحَايَا بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا
‘Aisyah berkata: Para penduduk kampung datang berduyun-duyun menghadiri ‘Idul Adlha di zaman Rasulullah saw, maka Rasulullah saw bersabda: “Simpanlah daging qurban untuk tiga hari, kemudian sedekahkanlah selebihnya dari itu.” Setelah hal itu berlalu, orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang membuat wadah air dari daging qurban mereka dan mereka mencairkan lemaknya.” Beliau bersabda: “Ada apa?” Mereka berkata: “Engkau telah melarang memakan daging qurban setelah lewat tiga hari.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya saya melarang karena banyak orang yang datang terburu-buru (faqir miskin), tetapi sekarang silahkan makan, simpan, dan bersedekahlah.” (Shahih Muslim kitab al-adlahi bab bayan ma kana minan-nahyi ‘an akli luhumil-adlahi ba’da tsalats no. 5215).
Berdasarkan hadits terakhir ini ada keleluasaan bagi pequrban untuk mengambil bagian daging qurbannya, tetapi tetap harus dengan mempertimbangkan bagian faqir miskin. Jika faqir miskin banyak maka pequrban membatasi diri mengambil daging qurban bagiannya.
Adab ketujuh melantunkan takbiran dari sejak tanggal 1 Dzulhijjah dan lebih massif lagi pada tanggal 9-13 Dzulhijjah berdasarkan atsar-atsar yang ditulis Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya.
بَاب فَضْلِ الْعَمَلِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ وَالْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ
Bab: Keutamaan Amal pada Hari-hari Tasyriq
Ibn ‘Abbas berkata: Maksud dari perintah berdzikir kepada Allah pada ayyam ma’lumat adalah ‘hari-hari yang 10’ (QS. 22 : 28), sementara ayyam ma’dudat adalah ‘ayyam tasyriq’ (QS. 2 : 203). Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar menuju pasar pada hari 10 Dzulhijjah sambil bertakbir, orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti mereka berdua. Muhammad ibn ‘Ali (ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Thalib) juga bertakbir sesudah shalat sunat (tidak hanya sesudah shalat wajib).
بَاب التَّكْبِيرِ أَيَّامَ مِنًى وَإِذَا غَدَا إِلَى عَرَفَةَ
وَكَانَ عُمَرُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ بِمِنًى تِلْكَ الْأَيَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِي فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ تِلْكَ الْأَيَّامَ جَمِيعًا وَكَانَتْ مَيْمُونَةُ تُكَبِّرُ يَوْمَ النَّحْرِ وَكُنَّ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ خَلْفَ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَيَالِيَ التَّشْرِيقِ مَعَ الرِّجَالِ فِي الْمَسْجِدِ
Bab: Takbir pada Ayyam Mina dan Apabila Berangkat Pagi Hari Menuju ‘Arafah.
‘Umar ra bertakbir di kubahnya di Mina. Jama’ah masjid mendengarnya, lalu mereka pun bertakbir. Demikian juga orang-orang yang ada di luar masjid bertakbir. Sehingga Mina terasa bergetar oleh suara takbir. Sementara Ibn ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu (Tasyriq), di setiap penghujung shalat, di atas kasurnya, di tendanya, di tempat duduknya, di tempat berjalannya, pada hari-hari itu (Tasyriq) semuanya. Adapun Maimunah takbir pada hari Nahar (penyembelihan; 10 Dzulhijjah). Para wanita juga bertakbir di belakang Aban ibn ‘Utsman dan ‘Umar ibn ‘Abdil-‘Aziz pada malam-malam Tasyriq bersama kaum lelaki di masjid.
Penyebutan “dan apabila berangkat pagi hari menuju ‘Arafah” ini, menurut al-Hafizh menandakan bahwa takbiran ini tidak hanya pada ayyam Mina saja, tetapi dari sejak pagi ‘Arafah. Dan itu berdasarkan data-data riwayat yang paling shahih dari ‘Ali dan Ibn Mas’ud. Al-Hafizh menjelaskan:
وَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيهِ عَنْ الصَّحَابَةِ قَوْلُ عَلِيٍّ وَابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ مِنْ صُبْحِ يَوْمِ عَرَفَةَ إلى آخِرِ أَيَّامِ مِنًى أَخْرَجَهُ اِبْنُ الْمُنْذِرِ وَغَيْرُهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
Riwayat dari shahabat yang paling shahih adalah pernyataan ‘Ali dan Ibn Mas’ud, yakni bahwa takbir itu dari shubuh hari ‘Arafah sampai hari terakhir ayyam Mina. Meriwayatkannya Ibnul-Mundzir dan yang lainnya. Wal-‘Llahu a’lam (Fathul-Bari kitab abwab al-‘idain bab at-takbir ayyam Minan).
Dari semua data riwayat shahih yang ada, tidak ada satu pun yang mengkhususkan takbiran semalam suntuk pada 10 Dzulhijjah. Ini menunjukkan bahwa takbiran dengan cara seperti ini tidak disyari’atkan. Yang disyari’atkan seperti dijelaskan di atas, di setiap akhir shalat dan di setiap kesempatan lainnya, tanpa harus dikhususkan pada satu malam tertentu saja. Kalaupun ada hadits yang menganjurkan takbiran semalam suntuk pada malam ‘Id, itu statusnya dla’if. Terlebih Nabi saw sudah melarang umatnya untuk menghidupkan malam untuk beribadah semalam suntuk, selain i’tikaf (dalil-dalilnya bisa dirujuk pada buku Menuju Islam Kaffah, hlm. 79-80, 98).
Adab kedelapan tidak makan sebelum shalat ‘idul-adlha hingga selesai shalat ‘idul-adlha; shalat ‘idul-adlha dilaksanakan lebih pagi daripada shalat ‘idul-fithri; semua orang dikerahkan untuk hadir ke lapang mengikuti shalat ‘id bahkan bagi perempuan yang haidl sekalipun, tentunya dengan posisi duduk yang tidak mengganggu shaf shalat. Bagi yang tidak memiliki pakaian yang layak harus diberi pinjam agar bisa hadir ke tempat shalat ‘id menyaksikan syi’ar hari raya; memilih jalan yang berbeda antara pergi dan pulang; dianjurkan berjalan kaki dan tidak naik kendaraan; tidak ada shalat sunat qabla dan ba’da kecuali dua raka’at setelah pulang ke rumah; dan melantunkan takbir sejak keluar rumah menuju lapang shalat ‘id hingga shalat ‘id dimulai. Semua adab ini sudah dibahas dalam edisi: Tuntunan Sunnah Shalat Hari Raya. (rujuk website: https://attaubah-institute.com/tuntunan-sunnah-shalat-hari-raya/).



