Haji dan Qurban

Haji dan Qurban Mengorbankan Dunia

Haji dan Qurban Mengorbankan Dunia

Ibadah haji dan qurban mengajarkan manusia keberanian untuk mengorbankan dunia. Maka bukti haji mabrur dan qurban maqbul akan terlihat dalam hal sejauh mana keberanian seseorang mengorbankan dunia. Sebab dunia memang harus dikorbankan untuk akhirat. Sebab akhiratlah kehidupan sebenarnya untuk seluruh manusia. Dunia hanya tempat untuk menguji saja sejauh mana seseorang berani mengorbankan dunia untuk akhiratnya.

Kriteria orang-orang bahagia yang disebut al-Qur`an al-muflihun, di kedua belas ayatnya disebutkan sebagai orang-orang yang rela mengorbankan dunianya untuk akhiratnya (QS. Al-Baqarah [2] : 5, Ali ‘Imran [3] : 104, al-A’raf [7] : 8, 157, at-Taubah [9] : 88, al-Mu`minun [23] : 102, an-Nur [24] : 51, ar-Rum [30] : 38, Luqman [31] : 5, al-Mujadilah [58] : 22, al-Hasyr [59] : 9, dan at-Taghabun [64] : 16). Sementara mereka yang malah memprioritaskan dunia sehingga mengorbankan akhirat disebut oleh Allah swt sebagai kriteria orang-orang kafir dan munafiq.

…وَوَيۡلٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ مِنۡ عَذَابٖ شَدِيدٍ  ٢ ٱلَّذِينَ يَسۡتَحِبُّونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا عَلَى ٱلۡأٓخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجًاۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلِۢ بَعِيدٖ  ٣

… dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (QS. Ibrahim [14] : 2-3. Ayat semakna terdapat dalam QS. An-Nahl [16] : 107).

Orang-orang beriman diajarkan Allah swt untuk tidak silau terhadap kesuksesan duniawi oang-orang munafiq dan orang-orang kafir karena semua itu hanya akan menambah besar adzab mereka saja.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيۡنَيۡكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعۡنَا بِهِۦٓ أَزۡوَٰجٗا مِّنۡهُمۡ زَهۡرَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا لِنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ وَرِزۡقُ رَبِّكَ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰ  ١٣١

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal (QS. Thaha [20] : 131).

فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ  ٥٥

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka (orang-orang munafiq) menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (QS. At-Taubah [9] : 55. Ayat semakna terdapat dalam ayat 85).

وَلَا يَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ خَيۡرٞ لِّأَنفُسِهِمۡۚ إِنَّمَا نُمۡلِي لَهُمۡ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِثۡمٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ  ١٧٨

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan (QS. Ali ‘Imran [4] : 178).

Tentunya bukan berarti dunia ditinggalkan dan diabaikan sama sekali. Teorinya ketika akhirat diprioritaskan otomatis dunia akan dijalani, karena tidak mungkin akhirat diraih tanpa dunia. Hanya ketika akhirat diprioritaskan, dunia pasti akan mengikuti tuntunan akhirat. Sebaliknya jika dunia diprioritaskan, maka akhirat akan dikorbankan dan berujung kesengsaraan.

Sejak manusia pertama, Adam ‘alahis-salam, diciptakan, Allah swt sudah memakmulmatkan bahwa ia dan keturunannya akan hidup di dunia tetapi hanya untuk sementara.

قَالَ ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ  ٢٤ قَالَ فِيهَا تَحۡيَوۡنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنۡهَا تُخۡرَجُونَ  ٢٥

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan“. Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al-A’raf [7] : 24-25).

Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, bukan kehidupan dunia.

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ  ٦٤

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (QS. Al-‘Ankabut [29] : 64).

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ  ٣٢

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am [6] : 32)

Kehidupan dunia diadakan sebelum kehidupan berikutnya di akhirat untuk menguji siapa yang beriman dan beramal shalih sehingga layak diberikan balasan yang adil. Sebaliknya mereka yang kafir dan beramal buruk pun agar mendapatkan balasan yang setimpal pula. Orang-orang beriman dan beramal shalih adalah yang memprioritaskan akhirat di atas dunia, sementara mereka yang akan dibalas dengan balasan buruk adalah orang-orang yang mendahulukan dunia dengan mengorbankan akhirat.

إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗاۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقًّاۚ إِنَّهُۥ يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ بِٱلۡقِسۡطِۚ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ شَرَابٞ مِّنۡ حَمِيمٖ وَعَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡفُرُونَ  ٤

Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka (QS. Yunus [10] : 4).

وَلِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى  ٣١

Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga) (QS. An-Najm [53] : 31).

Karena nafsu kekuasaan yang tinggi, para pejabat memilih mengeluarkan kebijakan yang akan menguntungkan dirinya dan kroni-kroninya saja meski nyatanya semakin mencekik kehidupan rakyatnya. Kepada rakyat yang menjadi konstituennya cukup dihibur dengan proyek Makan Bergizi Gratis, Bantuan Langsung Tunai, dan sejumlah santunan-santunan instan lainnya. Mereka pun tidak segan mengangkangi konstitusi, regulasi, dan etika demi melanggengkan kekuasaannya. Jika perlu menggunakan kekerasan di samping ancaman-ancaman verbal yang merendahkan rakyatnya.

Para aparatur negara yang orientasinya nafsu duniawi bukannya melayani rakyat, malah selalu ingin dilayani rakyat. Bukannya mengabdi pada rakyat dengan maksimal karena mereka sudah diberi gaji oleh pajak rakyat, tetapi malah mereka yang menuntut rakyat untuk mengabdi kepada mereka. Jika perlu rakyat diperas lagi dengan pungutan-pungutan liar yang semakin membebani mereka untuk memperlancar urusan mereka. Jadi lancar dan tidaknya urusan rakyat bukan murni karena ketulusan aparat, melainkan tergantung gelontoran uang rakyat.

Kalangan ulama, ilmuwan, dan aktivis yang seharusnya lantang menyuarakan kebenaran pun jika orientasinya ingin mendapatkan dunia; kuasa dan harta, maka bibirnya akan terdiam seribu bahasa dari menyuarakan kebenaran. Mereka malah akan menjadi orang-orang yang mencari-cari dalih ilmiah untuk memberikan stempel terhadap penguasa yang terbukti menyengsarakan rakyat. Mereka bukannya lagi mengabdi kepada rakyat, melainkan mengabdi kepada pejabat. Bukannya mengabdi kepada negeri, malah mengabdi kepada para pembabat negeri.

Guru, dosen, ustadz yang kesehariannya seharusnya akrab dengan pengabdian pada ilmu, umat, bangsa, dan negara, malah menjadi tenaga-tenaga honorer yang penuh perhitungan duniawi. Jika menguntungkan diri dan keluarganya, siap mengabdi. Jika tidak menguntungkan diri dan keluarganya, maka tidak ada pengabdian. Mereka bukannya lagi menjadi tenaga-tenaga ulet yang mengabdi untuk masyarakat, malah menjadi tenaga-tenaga ahli yang mencari-cari tunjangan dan tambahan penghasilan. Tugas mendidik dan meneliti pun tidak pernah digarap dengan ikhlas selain sebatas mengajar seraya acuh tak acuh muridnya terdidik atau tidak, demikian juga sebatas meneliti dengan mendompleng pada penelitian pihak lain.

Dalam lingkup yang lebih kecil, seseorang akan selalu terjebak malas shalat berjama’ah di masjid, mengikuti majelis ta’lim, dan merutinkan zakat dan shadaqah, selama hatinya masih saja terpenjara oleh obsesi duniawi ingin bertambah kaya atau naik jabatan. Ilmu dan ibadah yang orientasinya akhirat hanya jadi suplemen saja ketika hati stress. Setelah stress hilang, kembali lagi mengejar-ngejar dunia dengan mengorbankan shalat, zakat, shadaqah, dan thalabul-ilmi.

Mereka-mereka yang masih saja berkutat hidupnya dalam kubangan obsesi duniawi yang mengorbankan akhirat seperti di atas, berarti belum mabrur hajinya dan belum maqbul qurbannya. Bukan harus dijauhi atau dibatalkan sama sekali haji dan qurbannya, melainkan sempurnakan dengan keberanian hati untuk mengorbankan dunia. Wal-‘Llahu a’lam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button