Shaum

Shaum Sya’ban Tidak Sebulan Penuh

Shaum Sya’ban Tidak Sebulan Penuh

Ustadz benarkah ada dalil shaum Sya’ban sebulan penuh? 0857-9417-xxxx

Ada memang dalil shaum Sya’ban sebulan penuh (kullahu) tetapi maksudnya hampir keseluruhannya (mu’zhamahu), bukan sebulan penuh tidak ada buka satu hari sekalipun. Jadi itu ungkapan mubalaghah (berlebihan) untuk menunjukkan hampir sebulan Sya’ban mengamalkan shaum.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ … وَلَمْ أَرَهُ صَائِمًا مِنْ شَهْرٍ قَطُّ أَكْثَرَ مِنْ صِيَامِهِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “…Aku tidak pernah melihat beliau shaum satu bulan pun yang lebih banyak daripada Sya’ban. Beliau shaum Sya’ban (hampir) keseluruhannya, hanya sedikit hari saja beliau tidak shaum.” (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shiyamin-Nabiy fi ghairi Ramadlan no. 2778).

Fadlilah dari shaum Sya’ban dijelaskan oleh hadits riwayat an-Nasa`i berikut ini:

قال أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَ رَمَضَانَ وهو شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah ibn Zaid bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa aku tidak melihat anda shaum pada satu bulan sebagaimana shaum anda pada bulan Sya’ban?” Nabi saw menjawab: “Itu adalah bulan yang dilupakan oleh orang-orang, ada di antara Rajab dan Ramadlan, padahal pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabbul-‘alamin, maka aku sangat ingin ketika amalku diangkat aku sedang dalam keadaan shaum.”  (Sunan an-Nasa`i kitab as-shiyam bab shaumin-Nabiy bi abi huwa wa ummi no. 2357).

Dalam Musnad Ahmad bab hadits Usamah ibn Zaid no. 20758; Sunan Abi Dawud no. 2436, Sunan at-Tirmidzi no. 747, dan Sunan an-Nasa`i 4 : 201-204, dijelaskan oleh Nabi saw bahwa Sya’ban ini sama halnya dengan Senin dan Kamis, di mana pada waktu itu amal-amal hamba diangkat dan Nabi saw ingin sedang dalam keadaan shaum.

Shaum Sya’ban ini lebih ditekankan lagi untuk diamalkan pada surar (tengah atau akhir) Sya’ban. Imam Muslim menulis tarjamah demikian dalam kitab Shahihnya. Hadits yang dijadikan rujukannya adalah:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ لَهُ أَوْ لآخَرَ أَصُمْتَ مِنْ سُرَرِ شَعْبَانَ. قَالَ لاَ. قَالَ فَإِذَا أَفْطَرْتَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ

Dari ‘Imran ibn Hushain—semoga Allah meridlai mereka berdua—bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadanya atau kepada orang lain (keraguan muncul dari perawi hadits. Dalam sanad lain disebut dengan tegas: kepada orang lain dan ‘Imran mendengarnya): “Apakah kamu shaum pada surar Sya’ban?” Ia menjawab: “Tidak.” Sabda Nabi saw: “Jika kamu sudah selesai (dari shaum Ramadlan), maka shaumlah dua hari (dalam sanad lain disebutkan dengan tegas ‘sebagai gantinya’).” (Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shaum surar Sya’ban no. 2808-2810).

Imam an-Nawawi ataupun Ibn Hajar, sama-sama berpendapat bahwa sabda Nabi saw di atas ditujukan kepada seseorang yang sudah terbiasa shaum sunat tetapi tidak melaksanakannya di pertengahan atau akhir Sya’ban karena takut terkena larangan shaum selepas tengah Sya’ban atau larangan shaum dua hari sebelum Ramadlan (Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim kitab as-shiyam bab shaum surar Sya’ban; Fathul-Bari kitab as-shaum bab as-shaum fi akhirs-syahr). Wal-‘Llahu a’lam

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button